"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
amblas
Malam perlahan-lahan mulai beranjak naik, menenggelamkan sisa-sisa hiruk-pikuk siang yang melelahkan. Di luar halaman rumah, lampu-lampu dekorasi panggung mulai dimatikan satu per satu. Yang tersisa hanyalah remah-remah makanan, sampah plastik yang berserakan, dan tenda hajatan yang melambai sepi ditiup angin malam pedesaan. Pesta pernikahan mewah yang melelahkan itu kini telah usai sepenuhnya.
Di dalam kamar pengantin yang luas, Ningsih sudah berganti pakaian. Kebaya pengantinnya yang megah kini telah ditinggalkan, digantikan oleh pakaian tidur sederhana. Ia duduk di tepi ranjang besar yang bertabur kelopak bunga mawar, menatap lantai dengan pandangan yang kosong dan layu. Jiwanya seolah sudah mati sejak janji suci diucapkan terpaksa tadi siang.
Joni yang baru saja masuk ke dalam kamar memperhatikan sosok istrinya dengan senyuman miring yang penuh arti. Tidak ada kehangatan atau rasa cinta di matanya, yang ada hanyalah ambisi kepemilikan yang murni didorong oleh rasa dendam dan harga diri yang terluka karena tahu hati Ningsih bukan miliknya.
Joni berbalik, melangkah dengan santai menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut. Di depan wastafel, ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi beberapa butir obat khusus yang memang sudah lama ia siapkan jauh-jauh hari demi malam ini.
Tanpa ragu, Joni menenggaknya sekaligus, dibantu dengan seteguk air keran. Obat itu mulai bekerja, membakar sirkulasi darahnya dan memicu luapan energi yang gelap di dalam kepalanya.
Setelah beberapa menit menanti reaksinya, Joni membuka pintu kamar mandi. Langkah kakinya terasa berat namun mantap saat berjalan kembali ke arah ranjang pengantin.
Di sana..., Ningsih masih duduk diam membisu, tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah pasrah menunggu takdir apa pun yang akan mendatangi dirinya malam itu.
Klek.
Joni berbalik, menutup pintu kayu tebal kamar pengantin itu dengan rapat, lalu memutar kunci ganda dari dalam.
Detik berikutnya, ia mulai melangkah mendekati istrinya yang masih menunduk.
Dan malam itu...
sejarah baru yang mengerikan di hidup Ningsih dimulai.
Suara yang menggema dari dalam kamar pengantin baru tersebut bukanlah suara kehangatan atau rintihan kasih sayang khas sepasang kekasih yang baru menyatu.
Melainkan suara benturan keras, robekan kain, dan teriakan histeris minta ampun yang keluar dari tenggorokan Ningsih yang dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat.
Joni meluapkan seluruh emosi terpendamnya tanpa ampun, membalas setiap tatapan dingin Ningsih selama masa perjodohan mereka dengan tindakan yang brutal.
Ningsih menangis, mencakar, dan menjerit sekencang mungkin ke arah pintu, berharap ada satu orang saja di luar sana.
entah siapa yang mendengar penderitaannya dan datang mendobrak pintu tersebut.
Namun, sekuat dan sejadi-jadinya Ningsih berteriak hingga tenggorokannya terasa sakit, jeritan itu sia-sia.
Malang bagi Ningsih, ia sama sekali tidak menyadari bahwa kamar utama di rumah mewah keluarga Joni ini telah dirancang khusus dengan dinding dan pintu yang berlapis bahan kedap suara.
Segala bentuk jeritan pilu, tangisan, dan pukulan frustrasi Ningsih malam itu terserap habis oleh beton dinding kamar, ambles tanpa pernah bisa terdengar sampai ke telinga dunia luar. Ningsih terperangkap dalam sangkar emas yang dingin, meratapi nasibnya yang kini hancur lebur di tangan pria yang telah sah menjadi suaminya. Tidak ada lagi harapan, yang tersisa hanyalah sisa malam kelam yang seakan berjalan tanpa akhir.