Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
Jam lima pagi aku sudah duduk di depan pintu rumah dengan helm di kepala, jaket terpasang, dan sebatang kayu di tangan. Aku belum memutuskan kayu itu akan dipakai untuk apa. Kehadirannya saja membuatku merasa seperti penjaga keamanan yang dibayar dengan kopi.
Mak Mina keluar membawa dua tas besar berisi nasi bungkus. Ia berhenti ketika melihatku. “Kau mau jualan atau merampok orang jualan?”
“Aku antar Mak.”
“Tak usah.”
“Mulai hari ini Mak tidak boleh pergi sendiri.”
Ia meletakkan satu tas, mengambil lap dari atas meja, lalu melemparkannya tepat ke wajahku. “Anak bodat. Kau yang buat musuh, periukku yang mau kaututup.”
Pak Tor muncul dari belakang membawa lampu sensor bekas. Tangannya sedikit gemetar ketika memasang baterai, tetapi suaranya tetap datar. “Lampu depan kita tambah. Jalur belakang dicek lagi.”
“Bapak setuju Mak tetap pergi?” tanyaku.
“Ibumu kalau dilarang lebih berbahaya daripada orang yang mengancam.”
Mak Mina mengangkat tas kembali. “Dengar itu.”
Fadli datang dengan motor yang suaranya seperti seng dipukul dari dalam. Ia mengenakan rompi ojek dan kacamata hitam meski matahari belum muncul. “Pengawalan khusus siap.”
“Kau kenapa pakai kacamata?” tanya Mak Mina.
“Biar musuh tidak tahu aku mengantuk.”
“Musuh pun tahu dari motormu.”
Kami akhirnya berangkat bertiga. Mak Mina duduk di belakang Fadli sambil membawa tas, sedangkan aku mengikuti dengan motor pinjaman Binsar. Sepanjang jalan ia terus memaki karena kami membuat iring-iringan untuk dua puluh lima bungkus nasi ikan sambal.
Di tempat biasa dekat persimpangan, aku berdiri beberapa meter dari meja jualannya. Setiap orang yang membeli kuperhatikan terlalu lama. Seorang pegawai toko sampai mengembalikan sendok plastik karena merasa sedang diperiksa.
“Santai sikit wajahmu,” kata Mak Mina. “Orang mau beli nasi, bukan mengaku dosa.”
Seorang lelaki bertopi berhenti di seberang jalan. Aku langsung bergerak. Lelaki itu ikut bergerak. Aku mempercepat langkah. Ia menyeberang dan memasukkan tangan ke saku.
Aku sudah siap mencengkeram kerahnya ketika ia mengeluarkan uang dua puluh ribu. “Nasi telur dua, Bang.”
Mak Mina memukul lenganku dengan penjepit makanan. “Jangan kauusir pelanggan.”
Pagi berjalan tanpa kejadian. Justru itulah yang membuatku lebih tegang. Ancaman yang tidak diikuti serangan terasa seperti suara MCB yang belum jatuh: kita tahu beban ada, tetapi tidak tahu kapan gelap datang.
Saat dagangan hampir habis, Mak Mina menyuruh Fadli membeli teh. Setelah ia pergi, wajah Ibu berubah. Ia mengusap meja lebih lama daripada perlu.
“Dua minggu lalu ada dua orang datang ke bengkel,” katanya.
Aku menoleh. “Siapa?”
“Tak tahu. Bajunya rapi, pertanyaannya tak rapi. Mereka tanya kapan kontrak habis, apa bengkel mau pindah, siapa yang pegang kunci malam.”
“Kenapa Mak tidak bilang?”
“Karena aku kenal kau. Kabar belum selesai, kau sudah bawa tang.”
Aku menahan suara agar tidak naik. “Jadi semua orang sembunyikan hal dariku?”
“Bukan sembunyikan. Menunggu otakmu dingin.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada ancaman. Aku ingin dipercaya menjaga keluarga, tetapi keluarga sendiri menganggapku bagian dari risiko.
Ketika kami pulang, Pak Tor sudah memasang dua lampu tambahan. Binsar memasang bel sederhana dari tutup botol dan kawat. Setiap pintu bergerak, tutup botol itu berbunyi seperti pedagang es lewat.
“Ini sistem alarm,” katanya bangga.
“Ini sistem bikin orang rumah tak bisa tidur,” jawabku.
Liza datang membawa map dan daftar pelanggan. Ia membaca pesan ancaman tanpa mengubah ekspresi, lalu mengambil foto layar dan mencatat waktu. Aku kesal melihat ketenangannya.
“Kau tak marah?” tanyaku.
“Marah. Tapi marah tidak boleh menghapus bukti.”
Ia meminta Tia berhenti mengunggah lokasi langsung, menyuruh Fadli membuat jadwal antar Mak Mina, dan mengingatkan kami tidak menyimpan dokumen hanya di bengkel. Untuk pertama kalinya, ancaman itu berubah menjadi daftar tindakan, bukan sekadar panas di kepalaku.
Kami membuat jadwal penjagaan yang langsung kacau. Fadli bersedia mengantar Mak Mina, tetapi hanya pada hari ia tidak mendapat pesanan jauh. Binsar menawarkan tidur di bengkel, lalu Mak Mina menolak karena dengkurannya dianggap ancaman tambahan. Tia memasang kamera murah menghadap pintu, tetapi sudutnya lebih banyak merekam ayam tetangga daripada jalan.
Pak Tor memeriksa setiap kunci dan meminta aku menyimpan nomor darurat. Ia tidak mengatakan takut, namun malam sebelumnya ia tiga kali keluar untuk melihat lampu depan. Aku sadar masing-masing dari kami sedang menjaga dengan cara sendiri: Liza lewat catatan, Bapak lewat baut dan kunci, Mak Mina lewat tetap berjualan, dan aku lewat berdiri terlalu dekat dengan siapa pun yang memakai topi.
Menjelang siang, telepon masuk dari pengelola rumah kos tiga lantai. Pekerjaan itu sudah kami jadwalkan sejak seminggu lalu: memeriksa pompa, panel, dan dua belas kamar. Bayarannya cukup untuk membeli bahan dan mencicil sewa.
“Maaf, Bang Jefri,” kata pengelola itu. “Pekerjaan dibatalkan.”
“Kenapa? Kami sudah beli sebagian kabel.”
Ia berdeham. “Ada yang bilang bengkel Abang sedang bermasalah dengan aparat lingkungan. Kami tidak mau ikut urusan.”
“Siapa yang bilang?”
“Saya tak bisa sebut.”
Sambungan ditutup sebelum aku sempat menjawab. Liza menghitung ulang jadwal. Satu garis panjang ia tarik melewati nama pelanggan dan angka pembayaran.
Mak Mina meletakkan sisa nasi di meja. “Nah. Orang yang mengancam tak perlu pukul kita. Cukup bikin orang takut datang.”
Aku menatap papan Konslet Medan di depan bengkel. Papan itu masih miring, tetapi selama ini terasa seperti milik kami. Hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa seseorang sedang mencoba menghapusnya tanpa menyentuh satu paku pun.