Konslet

Konslet

SATU LAPANGAN GELAP

Seluruh lapangan padam tepat setelah Kepling NATO menyebut namaku.

Satu detik sebelumnya, lampu-lampu tenda masih menyala terang, organ tunggal sedang mencoba lagu dangdut yang nadanya terlalu tinggi, dan Rahmat Syahputra Nasution berdiri di atas panggung dengan mikrofon di tangan. Ia baru saja mengatakan bahwa acara malam itu berjalan lancar berkat “kolaborasi seluruh unsur masyarakat, khususnya saudara Jefri selaku penanggung jawab teknis kelistrikan.”

Lalu bunyi MCB jatuh terdengar dari belakang panggung.

Tak.

Gelap.

Orang-orang menjerit seperti ada harimau masuk lapangan. Anak-anak yang tadi berebut balon langsung menangis. Seseorang menjatuhkan piring plastik. Organ tunggal mati di tengah nada panjang, menyisakan suara penyanyinya yang masih meneruskan satu suku kata sebelum sadar pengeras suara sudah tidak bekerja.

Dari arah kursi warga, seorang laki-laki berteriak, “Jepot! Kau bikin konslet lagi, ya?”

Tawa pecah di beberapa sudut. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat tengkukku panas.

“Aku belum pegang apa-apa!” balasku.

“Justru itu yang kami takutkan!” sahut orang lain.

Sore tadi aku sendiri yang memeriksa pembagian beban. Liza berdiri di belakangku dengan daftar yang lebih panjang daripada pidato Kepling. Jalur panggung, tenda warga, lampu lapangan, warung, dan satu stopkontak khusus untuk dispenser semuanya sudah diberi label. Kami bahkan berdebat sepuluh menit karena panitia ingin menambah dua lampu sorot tanpa biaya.

“Acaranya untuk warga,” kata Kepling waktu itu.

“Listrik juga untuk warga,” jawab Liza. “Tagihannya tidak dibayar dengan semangat gotong royong.”

Akhirnya ia membayar—bukan dari kas panitia, tentu saja, melainkan menyuruh bendahara mencatatnya sebagai “penyesuaian teknis.” Aku masih ingat panel itu bersih ketika kututup menjelang magrib. Tidak ada kabel merah. Tidak ada terminal tambahan. Tidak ada lubang baru di sisi belakang.

Karena itu, saat seluruh lapangan menertawakanku, bagian paling keras dalam kepalaku bukan rasa malu. Melainkan keyakinan bahwa kali ini aku tidak menyebabkannya.

Aku meraih senter dari kantong rompi dan melangkah menuju panel utama. Di belakangku, Kepling NATO masih memukul-mukul mikrofon seolah listrik bisa kembali karena tersinggung.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon tetap tenang,” katanya tanpa suara. Baru setelah dua kali berbicara ia sadar mikrofon mati. Ia lalu mengulang kalimat itu dengan berteriak. “MOHON TETAP TENANG!”

“Kalau Bapak yang teriak, orang makin tidak tenang,” kata Liza di sampingku.

Aku menoleh. Dalam gelap, wajahnya hanya terlihat dari cahaya layar ponsel. Keningnya sudah berkerut—wajah standar Liza Cemberut setiap kali aku berada kurang dari lima meter dari instalasi listrik.

“Pegang senter,” kataku.

Ia tidak mengambilnya. “Jangan sentuh panel dulu.”

“Aku teknisinya.”

“Makanya aku bilang jangan sentuh sebelum dicek.”

Aku mendecakkan lidah. Delapan bulan bekerja bersama belum membuatnya paham bahwa seorang teknisi kadang perlu bergerak cepat. Delapan bulan bekerja bersama juga belum membuatku paham bahwa setiap kali aku berpikir begitu, biasanya ada tagihan baru.

Kami tiba di depan kotak panel yang dipasang pada tiang besi dekat panggung. Pintu panel sedikit terbuka. Bau plastik panas menyusup di antara aroma sate, tanah lembap, dan kopi terlalu manis dari warung Mak Sendok.

Aku berhenti.

Bau itu tipis, tetapi aku mengenalnya. Kabel yang terlalu panas memiliki cara sendiri untuk memberi tahu bahwa manusia sudah berbuat bodoh. Sayangnya, kabel biasanya memberi tahu setelah manusia selesai berbuat bodoh.

Liza menarik bagian belakang rompi kerjaku.

“Kenapa berhenti?”

“Bau terbakar.”

“Dari panel?”

“Belum tahu.”

“Berarti jangan bilang aman.”

“Aku belum bilang.”

Ia menatapku.

Aku mengusap tengkuk. “Belum sempat.”

Dari belakang, langkah sepatu mendekat. Dua petugas keamanan lingkungan datang membawa tongkat dan satu senter yang cahayanya berkedip-kedip. Di belakang mereka, Kepling NATO berjalan tergesa-gesa sambil tetap mempertahankan gaya orang yang ingin terlihat memimpin.

“Saudara Jefri,” katanya, “ini bagaimana? Acara sudah mendapat perhatian masyarakat. Kita tidak ingin terjadi kepanikan yang tidak perlu.”

“Yang membuat orang panik itu listrik mati dan Bapak pidato dalam gelap.”

Liza menyikut lenganku.

Kepling tersenyum tipis. Senyum itu tidak pernah sampai ke mata. “Saya percaya saudara dapat mengambil inisiatif teknis.”

Kalimatnya terdengar seperti pujian, tetapi aku tahu bentuk lain dari perangkap. Kalau listrik menyala, itu keberhasilan panitia. Kalau lapangan terbakar, itu inisiatif teknis Jefri.

“Siapa terakhir buka panel?” tanya Liza.

Kepling mengusap ujung mikrofon yang masih dipegangnya. “Panel berada dalam pengawasan panitia.”

“Itu bukan jawaban,” kata Liza.

“Saudari Liza, dalam kegiatan masyarakat seperti ini, kita harus mengutamakan penyelesaian, bukan mencari siapa yang—”

“Siapa terakhir buka panel?”

Aku hampir tersenyum. Liza bisa memotong pidato Kepling seperti memotong angka nol yang tidak perlu di kuitansi.

Sebelum Kepling menjawab, cahaya putih menyambar wajahku. Seorang pemuda berdiri sekitar tiga meter dari panel, memegang ponsel secara horizontal.

“Bang Jepot, coba lihat sini,” katanya. “Biar jelas dokumentasinya.”

“Matikan kameramu.”

“Ini untuk keamanan, Bang.”

“Keamanan apa? Kalau meledak, videomu cuma lebih terang.”

Beberapa orang tertawa. Pemuda itu tidak menurunkan ponsel.

Aku berjongkok di depan panel. Pintu besinya terasa hangat ketika kusentuh dengan punggung jari. Liza mengarahkan senter ke bawah, bukan ke wajahku seperti biasanya. Aku memasang sarung tangan, lalu mengambil tespen merah yang terselip di kantong dada.

Kepling berdeham. “Berapa lama kira-kira?”

“Kalau Bapak diam, lebih cepat.”

“Jefri,” tegur Liza.

“Apa? Aku sedang menghitung gangguan suara.”

Aku memeriksa sisi luar panel. Tidak ada bekas benturan. Kabel utama masuk dari bawah, sesuai jalur yang kami pasang sore tadi. Aku masih ingat tiap sambungan karena Liza memaksaku memotret semuanya sebelum panel ditutup.

“Aku masih bisa memperbaiki panel,” kataku, lebih kepada orang-orang di belakang daripada kepada Liza.

“Perbaiki dulu,” jawabnya datar. “Harga dirimu belakangan.”

Petugas keamanan yang paling dekat menahan tawa. Aku pura-pura tidak mendengar.

Bau plastik terbakar semakin jelas. Bukan dari terminal utama. Aku menyorot sisi kiri panel, tempat kabel distribusi menuju panggung dan deretan tenda. Semua label kami masih ada. Jalur panggung kuning. Tenda biru. Warung hijau. Lampu lapangan putih.

Namun, ada satu ikatan kabel baru di belakangnya.

Aku menahan napas.

“Liza, cahaya ke sini.”

Ia menggeser senter. Bayangan kabel-kabel menempel di dinding panel seperti akar hitam. Di antara jalur yang kami susun rapi, ada kabel lain yang masuk melalui lubang kecil pada sisi belakang. Isolasinya merah. Ujungnya terjepit pada terminal tambahan yang tidak kupasang.

Aku menyentuhnya dengan tespen tanpa menempelkan tangan ke konduktor.

Lampu kecil di dalam tespen menyala.

Liza melihat perubahan wajahku. “Apa?”

Aku tidak menjawab. Kabel itu masih bertegangan meskipun MCB utama sudah jatuh.

Dari belakang, Kepling bertanya, “Ada masalah?”

Aku menyorot kabel merah itu lebih jelas. Isolasinya mengilap, masih baru, dan mengarah keluar panel menuju tanah gelap di belakang panggung.

Kabel itu seharusnya tidak berada di sana.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

penasaran ama bang J✌(lbh keren)

2026-07-31

1

lihat semua
Episodes
1 SATU LAPANGAN GELAP
2 PESTA YANG TERLALU TERANG
3 SALAMAN DALAM GELAP
4 BANG JEPOT MASUK BERANDA
5 DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6 PULANG KE BENGKEL BAPAK
7 LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8 BUKU UTANG PAK TOR
9 MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10 MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11 SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12 TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13 PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14 KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15 MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16 DINDING YANG BERASAP
17 LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18 PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19 RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20 BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21 KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22 SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23 VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24 RINSO ELECTRIC SOLUTION
25 BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26 PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27 KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28 LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29 KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30 SATU GANG MULAI BERGOSIP
31 ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32 MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33 TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34 PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35 EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36 CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37 MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38 SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39 KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40 KONTRAK DENGAN MANTAN
41 LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42 BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43 IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44 LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45 TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46 RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47 UTANG LAMA, MALU BARU
48 NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49 UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50 KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51 PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52 KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53 API KECIL, KERUGIAN BESAR
54 INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55 BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56 KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57 ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58 KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59 MALAM BENGKEL TERBAKAR
60 PAGI SETELAH API
61 LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62 MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63 AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64 RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65 BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66 SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67 PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68 RINSO MEMILIH BICARA
69 RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70 RAPAT WARGA PALING RIBUT
71 KOPERASI KONSLET BERSAMA
72 BELAJAR LAGI DARI NOL
Episodes

Updated 72 Episodes

1
SATU LAPANGAN GELAP
2
PESTA YANG TERLALU TERANG
3
SALAMAN DALAM GELAP
4
BANG JEPOT MASUK BERANDA
5
DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6
PULANG KE BENGKEL BAPAK
7
LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8
BUKU UTANG PAK TOR
9
MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10
MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11
SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12
TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13
PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14
KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15
MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16
DINDING YANG BERASAP
17
LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18
PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19
RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20
BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21
KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22
SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23
VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24
RINSO ELECTRIC SOLUTION
25
BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26
PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27
KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28
LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29
KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30
SATU GANG MULAI BERGOSIP
31
ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32
MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33
TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34
PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35
EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36
CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37
MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38
SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39
KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40
KONTRAK DENGAN MANTAN
41
LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42
BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43
IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44
LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45
TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46
RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47
UTANG LAMA, MALU BARU
48
NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49
UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50
KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51
PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52
KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53
API KECIL, KERUGIAN BESAR
54
INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55
BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56
KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57
ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58
KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59
MALAM BENGKEL TERBAKAR
60
PAGI SETELAH API
61
LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62
MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63
AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64
RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65
BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66
SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67
PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68
RINSO MEMILIH BICARA
69
RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70
RAPAT WARGA PALING RIBUT
71
KOPERASI KONSLET BERSAMA
72
BELAJAR LAGI DARI NOL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!