PESTA YANG TERLALU TERANG

Delapan bulan sebelumnya, aku masih punya seragam perusahaan, kartu identitas yang tergantung di dada, dan keyakinan bahwa semua aturan dibuat untuk orang yang tidak cukup pintar mencari jalan singkat.

CV Cahaya Indah menugaskanku ke pesta pernikahan sepupuku di sebuah gedung serbaguna dekat Jalan Halat. Secara resmi aku datang sebagai teknisi lapangan. Secara tidak resmi, Mak Mina sudah memberi tahu seluruh keluarga bahwa aku “orang listrik” dan karena itu harus bisa membereskan apa pun yang memakai kabel, termasuk blender katering dan lampu hias berbentuk angsa.

Gedung itu sudah terang sejak sore. Terlalu terang, malah. Pelaminan dipenuhi lampu kecil berwarna emas. Dua pendingin ruangan tambahan dipasang di sisi kiri. Organ tunggal membawa pengeras suara yang ukurannya seperti lemari dua pintu. Di dekat pintu masuk, seorang penyedia dekorasi menyalakan mesin kabut untuk membuat pengantin terlihat turun dari awan.

Masalahnya, tidak seorang pun merasa perlu menghitung daya.

Aku berdiri di depan panel cabang bersama Rinso, rekan kerjaku. Seragamnya masih rapi walau kami sudah mengangkat kabel sejak siang. Seragamku sudah terbuka dua kancing dan memiliki noda kuah kari dari makan sore.

Rinso membaca angka pada clamp meter. “Beban jalur kiri sudah tinggi.”

“Masih hidup, kan?”

“Sekarang.”

“Berarti tinggi, bukan mati.”

Ia menatapku seperti dokter melihat pasien yang menolak percaya hasil rontgen. “Itu bukan ukuran aman.”

Dari aula terdengar suara panitia memanggil teknisi. Lampu dekorasi di sisi pelaminan berkedip tiga kali. Seorang tante berlari ke arah kami sambil membawa kipas tangan.

“Jefri, lampu bunga sebelah kanan mati. Nanti di foto nampak pincang.”

“Bukan jalur kami, Tante. Tunggu teknisi gedung.”

“Teknisi gedung entah di mana. Kau kan sekolah listrik.”

“Aku kerja listrik, Tante.”

“Lebih bagus lagi. Cepatlah.”

Bos kami, Pak Gunawan, muncul dari balik tumpukan kotak kabel. Ia mengangkat telapak tangan sebelum aku menjawab.

“Jangan ubah sambungan gedung,” katanya. “Teknisi gedung sedang dihubungi. Kita hanya bertanggung jawab pada jalur peralatan yang kita pasang.”

“Tapi pesta mulai setengah jam lagi.”

“Makanya jangan tambah masalah.”

Pak Gunawan pergi untuk memeriksa genset cadangan. Rinso kembali menulis angka pada lembar pemeriksaan. Ia bahkan memakai papan alas tulis, seolah kami sedang audit nasional, bukan mengurus pesta yang panitianya baru sadar stopkontak tidak tumbuh sendiri dari dinding.

Fadli muncul membawa dua gelas kopi dan satu piring mi goreng. Ia bukan bagian tim teknis. Ia datang sebagai teman keluarga, tetapi sejak siang sudah lebih sering berada di area kerja karena katanya di sana makanan lebih cepat sampai.

“Lek,” katanya kepadaku, “biasanya kau punya lelucon. Wajahmu cem orang baru tahu utang warung ada bunganya.”

“Aku sedang berpikir.”

“Bahaya kali.”

Rinso menerima satu gelas kopi tanpa mengalihkan pandangan dari meter. “Kalau dia berpikir, biasanya orang lain yang membayar.”

“Aku dengar itu.”

“Memang untuk didengar.”

Di dekat pelaminan, sepupuku sempat menangkap lenganku. Wajahnya sudah tertutup riasan, tetapi kepanikannya tidak bisa disamarkan.

“Bang, jangan sampai mati lampu, ya.”

Kalimat itu sederhana. Namun, di dalam kepalaku berubah menjadi perintah untuk membuktikan bahwa aku berguna. Aku menepuk bahunya dan berkata, “Tenang. Selama aku di sini, lampu ini tidak akan mati.”

Rinso mendengar dari belakang.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandangku, lalu memandang panel, seperti seseorang yang baru melihat dua kecelakaan berdiri bersebelahan.

Lampu bunga di pelaminan padam lagi. Tante tadi berteriak dari jauh sambil menunjuk-nunjuk. Di belakangnya, pengantin perempuan sedang dirias ulang karena keringat. Pendingin tambahan belum boleh dimatikan. Penyedia organ tunggal meminta satu stopkontak lagi untuk lampu panggung. Kru dokumentasi datang membawa dua lampu sorot. Mesin kabut masih menyembur setiap beberapa menit seperti naga masuk angin.

Aku menatap panel. Jalur utama gedung masih punya ruang sedikit. Sedikit sekali, memang, tetapi ruang tetap ruang.

“Kalau kita tarik satu jalur darurat dari panel servis, lampu dekorasi bisa hidup,” kataku.

Rinso menutup papan tulisnya. “Tidak.”

“Aku belum selesai.”

“Aku sudah tahu akhir kalimatmu.”

“Pala susah kali. Sambung sikit, hidup semua.”

“Ukuran kabel yang ada tidak cukup untuk beban tambahan.”

“Lampu bunga itu kecil.”

“Lampu bunga, dua sorot dokumentasi, dan entah apa lagi yang akan mereka colok setelah kau bilang boleh.”

Aku membuka kotak alat dan mengambil gulungan kabel. “Kita pasang sementara. Setelah acara mulai, beban bisa dibagi.”

“Dibagi ke mana?”

“Nanti kita lihat.”

“Itu bukan rencana.”

“Itu fleksibilitas.”

Fadli menyesap kopi. “Aku tidak paham listrik, tapi kalau orang bilang ‘nanti kita lihat’, biasanya motorku pulang didorong.”

Aku mengabaikannya. Harga diriku sudah terlanjur berdiri di tengah aula bersama semua saudara yang yakin aku bisa menyelamatkan pesta. Menunggu teknisi gedung terasa seperti mengakui bahwa kartu identitasku hanya hiasan dada.

Rinso berdiri di depanku. “Pak Gunawan sudah melarang.”

“Pak Gunawan tidak lihat keadaan.”

“Dia lihat. Makanya dia melarang.”

“Geser, lek.”

Ia tidak bergeser. Kami saling tatap beberapa detik. Rinso lebih tinggi sedikit, tetapi aku lebih keras kepala banyak.

Dari aula, Mak Mina berteriak, “Jefri! Jangan buat malu keluarga. Lampu itu dari tadi mati!”

Kalimat pertama dan kedua ibuku sering tidak bekerja sama.

Aku mengangkat gulungan kabel. “Dengar sendiri. Ini darurat keluarga.”

“Listrik tidak kenal hubungan keluarga,” kata Rinso.

“Kalau listrik kenal tagihan, pasti kenal keluarga.”

Fadli berbisik, “Itu leluconmu sudah kembali.”

Aku menatap mesin kabut yang baru saja menyemburkan asap tebal ke pelaminan. “Kali ini jangan kasih aku alasan.”

Kami menarik kabel melalui sisi panggung. Aku memilih jalur tercepat, melewati belakang tirai dan mengikatnya pada rangka dekorasi. Rinso tetap ikut, bukan karena setuju, melainkan karena ia tahu meninggalkanku sendirian akan membuat laporan kecelakaan lebih panjang.

“Jangan sambungkan dulu,” katanya. “Kita ukur lagi.”

“Sudah kuhitung.”

“Kau menghitung dengan apa?”

“Pengalaman.”

“Pengalamanmu tidak punya angka.”

Aku menghubungkan ujung kabel ke terminal cabang. Lampu bunga menyala. Tanteku bertepuk tangan seolah aku baru mengembalikan matahari. Kru dokumentasi langsung menancapkan lampu sorot tambahan tanpa bertanya. Penyedia organ tunggal melihat stopkontak kosong dan ikut menyambungkan kipas amplifier.

Rinso menunjuk meter. Angkanya naik.

“Cabut sorot itu,” katanya.

“Nanti foto gelap.”

“Lebih baik foto gelap daripada satu gedung gelap.”

Musik pembuka dimulai. Pintu utama dibuka. Pengantin berjalan masuk diiringi tepuk tangan, kabut, dan cahaya emas yang memang tampak bagus sekali. Aku berdiri di samping panel dengan dada mengembang.

“Nampak?” kataku. “Aman, bah.”

Pengantin menaiki pelaminan. Kedua keluarga berdiri untuk menyambut. Pada saat yang sama, mesin kabut menyala, pendingin menarik daya, dan lampu sorot berpindah ke mode penuh.

Dari dalam panel terdengar bunyi keras, pendek, seperti pistol mainan ditembakkan tepat di dekat telingaku.

Tak.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

mau ketawa takut karma🫣

2026-07-31

1

lihat semua
Episodes
1 SATU LAPANGAN GELAP
2 PESTA YANG TERLALU TERANG
3 SALAMAN DALAM GELAP
4 BANG JEPOT MASUK BERANDA
5 DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6 PULANG KE BENGKEL BAPAK
7 LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8 BUKU UTANG PAK TOR
9 MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10 MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11 SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12 TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13 PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14 KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15 MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16 DINDING YANG BERASAP
17 LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18 PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19 RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20 BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21 KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22 SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23 VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24 RINSO ELECTRIC SOLUTION
25 BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26 PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27 KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28 LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29 KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30 SATU GANG MULAI BERGOSIP
31 ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32 MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33 TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34 PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35 EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36 CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37 MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38 SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39 KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40 KONTRAK DENGAN MANTAN
41 LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42 BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43 IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44 LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45 TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46 RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47 UTANG LAMA, MALU BARU
48 NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49 UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50 KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51 PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52 KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53 API KECIL, KERUGIAN BESAR
54 INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55 BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56 KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57 ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58 KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59 MALAM BENGKEL TERBAKAR
60 PAGI SETELAH API
61 LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62 MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63 AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64 RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65 BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66 SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67 PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68 RINSO MEMILIH BICARA
69 RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70 RAPAT WARGA PALING RIBUT
71 KOPERASI KONSLET BERSAMA
72 BELAJAR LAGI DARI NOL
Episodes

Updated 72 Episodes

1
SATU LAPANGAN GELAP
2
PESTA YANG TERLALU TERANG
3
SALAMAN DALAM GELAP
4
BANG JEPOT MASUK BERANDA
5
DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6
PULANG KE BENGKEL BAPAK
7
LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8
BUKU UTANG PAK TOR
9
MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10
MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11
SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12
TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13
PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14
KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15
MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16
DINDING YANG BERASAP
17
LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18
PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19
RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20
BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21
KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22
SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23
VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24
RINSO ELECTRIC SOLUTION
25
BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26
PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27
KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28
LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29
KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30
SATU GANG MULAI BERGOSIP
31
ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32
MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33
TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34
PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35
EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36
CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37
MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38
SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39
KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40
KONTRAK DENGAN MANTAN
41
LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42
BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43
IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44
LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45
TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46
RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47
UTANG LAMA, MALU BARU
48
NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49
UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50
KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51
PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52
KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53
API KECIL, KERUGIAN BESAR
54
INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55
BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56
KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57
ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58
KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59
MALAM BENGKEL TERBAKAR
60
PAGI SETELAH API
61
LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62
MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63
AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64
RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65
BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66
SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67
PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68
RINSO MEMILIH BICARA
69
RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70
RAPAT WARGA PALING RIBUT
71
KOPERASI KONSLET BERSAMA
72
BELAJAR LAGI DARI NOL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!