SALAMAN DALAM GELAP

Lampu gedung mati tepat ketika kedua keluarga hendak bersalaman.

Tangan ayah pengantin laki-laki masih terulur di udara. Ibu pengantin perempuan membalas dengan telapak setengah terbuka. Dalam gelap, keduanya seperti sedang memainkan permainan anak-anak yang aturannya tidak jelas.

Organ tunggal berhenti pada nada tinggi. Penyanyinya masih meneruskan suara selama satu detik sebelum sadar mikrofon sudah mati. Pendingin ruangan mendadak senyap. Mesin kabut, entah karena memakai jalur berbeda atau karena memang dikirim dari neraka, masih mengeluarkan asap tipis di depan pelaminan.

Seseorang berteriak, “Kebakaran!”

“Bukan!” teriakku. “Kabut dekorasi!”

“Kenapa dekorasi macam kebakaran?”

“Itu pertanyaan untuk panitia!”

Aku menyalakan senter ponsel dan berlari ke panel. Tiga tante menghadangku dalam jarak lima meter.

“Jefri, hidupkan lampu pelaminan dulu.”

“Pendingin dulu, panas kali.”

“Musik dulu, pengantin belum salaman!”

Masing-masing berbicara seolah listrik datang dalam tiga keran terpisah yang bisa kubuka sesuai urutan keluarga paling keras.

“Geser, Tante. Aku cek panel.”

“Jangan lama-lama. Tamu sudah tengok semua.”

Aku ingin menjelaskan bahwa tamu memang datang untuk melihat, tetapi Rinso sudah menarik lenganku melewati mereka.

“MCB utama jatuh,” katanya.

“Aku nampak.”

“Jangan langsung dinaikkan.”

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, tanganmu jangan di tuas.”

Tanganku memang sudah berada di tuas.

Di belakang kami, suara kursi bergeser, anak-anak menangis, dan panitia mencoba menenangkan tamu tanpa pengeras suara. Seseorang menyalakan lampu ponsel, lalu puluhan orang mengikuti. Aula berubah seperti konser yang penontonnya kecewa.

Pak Gunawan datang sambil berlari. “Apa yang kau sambung?”

“Lampu dekorasi saja.”

Rinso menjawab lebih cepat. “Ditambah sorot dokumentasi dan kipas amplifier.”

“Itu orang lain yang colok.”

Pak Gunawan menatapku. “Karena kau menyediakan jalurnya.”

“Aku bisa hidupkan lagi.”

“Jangan—”

Aku menaikkan MCB.

Lampu menyala setengah detik. Pelaminan kembali emas, wajah para tamu terlihat, dan penyanyi organ tunggal sempat mengucapkan “nah” dengan lega.

Percikan muncul dari sisi terminal.

Tak.

Gelap lagi.

Di sisi aula, Fadli menyalakan lampu motornya dari luar dan mengarahkannya melalui pintu, seolah satu lampu depan yang redup dapat menggantikan instalasi gedung. Cahaya kuning itu hanya menerangi kaki para tamu.

“Lumayan!” teriaknya. “Bagian bawah pengantin nampak!”

“Matikan, bodat!” balasku.

“Ini bantuan darurat!”

“Motormu sendiri darurat!”

Tawa kecil muncul dari dekat pintu. Bahkan pengantin perempuan yang masih berdiri di pelaminan menutup mulut menahan senyum. Selama beberapa detik, suasana tidak terasa seperti bencana. Lalu seorang anak berlari menabrak kabel dekorasi, ibunya menjerit, dan semua orang kembali mengingat bahwa gedung masih gelap.

Pak Gunawan menyuruh panitia membuka pintu samping agar udara masuk. Tanpa pendingin, ruangan cepat panas. Bau parfum, makanan, dan plastik yang mulai meleleh bercampur menjadi satu. Keringat mengalir di punggungku dan masuk ke pinggang celana.

Suara orang-orang menjadi lebih keras. Pengantin laki-laki turun dari pelaminan. Bahkan dalam cahaya ponsel, aku bisa melihat rahangnya mengeras.

Rinso mendekatkan mulut ke telingaku. “Kabel daruratmu terlalu kecil. Isolasinya mungkin sudah panas.”

“Belum tentu.”

“Baunya sudah ada.”

Aku mencium udara. Plastik panas. Tipis, tetapi nyata.

Rasa malu sering punya cara aneh mengubah fakta. Ketika orang lain benar, otakku tidak langsung menerima. Ia lebih dulu mencari sepuluh alasan mengapa kebenaran itu disampaikan dengan cara yang menyebalkan.

“Aku cek sambungan,” kataku.

Pengantin laki-laki tiba di depan kami dan mencengkeram kerah seragamku. “Kau yang buat ini?”

“Aku yang sedang memperbaiki.”

“Itu bukan jawaban.”

“Kalau Abang lepas dulu, tanganku bisa kerja.”

“Acara kami rusak!”

“Belum rusak. Cuma gelap sebentar.”

Dari belakang terdengar suara Tia, jelas sekali meskipun tanpa mikrofon.

“Bang, senyum dulu. Viral ini!”

Cahaya kamera ponselnya menyala. Adikku berdiri di antara dua tante, merekam dengan posisi horizontal dan ekspresi orang yang baru menemukan rezeki.

“Tia, turunkan itu!”

“Angle-nya bagus, Bang. Ada asap.”

“Itu bukan alasan!”

“Justru itu alasannya.”

Pengantin laki-laki menoleh ke arah kamera. Cengkeramannya sedikit longgar. Aku melepaskan kerahku dan berjongkok di depan panel.

Pak Tor muncul dari sisi aula. Bapak memang datang sebagai keluarga, tetapi ia masih membawa kebiasaan teknisi seperti orang lain membawa dompet. Tespen merah terselip di saku kemejanya. Wajahnya tidak panik. Itu lebih buruk. Kalau Pak Tor diam, berarti ia sedang menghitung berapa banyak kebodohan yang harus dibongkar.

“Sudah diuji?” tanyanya.

Aku mengangguk terlalu cepat.

Ia mengulurkan alat ukur kecil. “Uji lagi.”

“Pak, aku kerja di perusahaan.”

“Arus tidak baca kartu pegawaimu.”

Beberapa orang di dekat kami tertawa. Aku menerima alat itu dengan rahang kaku.

Pak Tor menatap kabel darurat yang masuk dari sisi bawah. “Takut itu boleh,” katanya pelan. “Asal tanganmu tetap mengikuti prosedur.”

“Aku tidak takut.”

“Makanya suaramu naik.”

Aku ingin membalas, tetapi bau plastik panas semakin kuat. Aku memutus semua beban cabang, lalu memeriksa terminal. Kabel yang kupasang terasa hangat. Terlalu hangat. Rinso benar.

“Cabut semua tambahan,” kata Pak Gunawan.

“Kalau dicabut, lampu dekorasi mati.”

“Memang.”

“Tante-tante itu bisa membunuhku.”

Pak Tor melirik kerumunan. “Kalau kau lanjut begini, listrik duluan.”

Aku menarik napas dan mulai melepas jalur tambahan. Namun, kru dokumentasi sudah menarik kabel sorot mereka ke belakang tirai. Sambungannya tersangkut di antara rangka dekorasi. Saat kutarik, tidak bergerak.

“Rinso, matikan jalur servis.”

“Sudah.”

Aku memeriksa dengan alat ukur. Nol. Aman.

Dari belakang, pengantin laki-laki kembali mendesak. “Berapa lama?”

“Lima menit.”

“Kau bilang sebentar tadi.”

“Sebentar itu belum ada satuan resmi.”

“Jefri,” kata Pak Gunawan.

“Iya, Pak.”

Aku membuka penutup terminal untuk melihat titik yang menghitam. Tia bergerak mendekat, masih merekam. Pak Tor menyuruhnya mundur. Ia mundur satu langkah, tidak lebih.

“Bang, coba ulang waktu bilang aman tadi,” katanya. “Biar ada pembuka.”

“Pala kau.”

“Itu bisa jadi judul.”

Aku memasang kembali terminal setelah melepas jalur tambahan. Rinso berdiri di sampingku, memegang senter. Ia tidak mengejek. Itu membuatku semakin kesal.

“Naikkan bertahap,” katanya.

“Aku tahu.”

“Jalur utama dulu. Lalu penerangan. Jangan pendingin dan panggung bersamaan.”

Aku menaikkan MCB utama. Lampu indikator menyala. Tidak jatuh.

“Penerangan,” kata Pak Tor.

Aku mengaktifkan jalur aula. Sebagian lampu menyala. Tamu bertepuk tangan. Dada yang tadi sempit mulai longgar.

“Nampak?” kataku. “Aman, bah.”

Rinso mengangkat tangan. “Jangan jalur panggung dulu.”

Namun pengelola organ tunggal, yang tidak mendengar percakapan kami, menyalakan sakelar amplifier dari ujung aula. Beban masuk sekaligus. Dari terminal kabel darurat yang belum sepenuhnya lepas, terdengar desis.

Aku menoleh.

Percikan biru meledak di samping kepalaku.

Pada saat yang sama, kilatan kamera ponsel Tia menangkap wajahku dengan mata terbelalak, rambut berdiri, dan mulut masih membentuk sisa kata aman.

Episodes
1 SATU LAPANGAN GELAP
2 PESTA YANG TERLALU TERANG
3 SALAMAN DALAM GELAP
4 BANG JEPOT MASUK BERANDA
5 DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6 PULANG KE BENGKEL BAPAK
7 LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8 BUKU UTANG PAK TOR
9 MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10 MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11 SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12 TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13 PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14 KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15 MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16 DINDING YANG BERASAP
17 LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18 PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19 RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20 BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21 KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22 SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23 VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24 RINSO ELECTRIC SOLUTION
25 BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26 PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27 KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28 LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29 KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30 SATU GANG MULAI BERGOSIP
31 ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32 MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33 TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34 PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35 EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36 CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37 MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38 SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39 KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40 KONTRAK DENGAN MANTAN
41 LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42 BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43 IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44 LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45 TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46 RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47 UTANG LAMA, MALU BARU
48 NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49 UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50 KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51 PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52 KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53 API KECIL, KERUGIAN BESAR
54 INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55 BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56 KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57 ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58 KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59 MALAM BENGKEL TERBAKAR
60 PAGI SETELAH API
61 LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62 MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63 AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64 RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65 BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66 SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67 PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68 RINSO MEMILIH BICARA
69 RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70 RAPAT WARGA PALING RIBUT
71 KOPERASI KONSLET BERSAMA
72 BELAJAR LAGI DARI NOL
Episodes

Updated 72 Episodes

1
SATU LAPANGAN GELAP
2
PESTA YANG TERLALU TERANG
3
SALAMAN DALAM GELAP
4
BANG JEPOT MASUK BERANDA
5
DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6
PULANG KE BENGKEL BAPAK
7
LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8
BUKU UTANG PAK TOR
9
MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10
MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11
SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12
TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13
PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14
KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15
MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16
DINDING YANG BERASAP
17
LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18
PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19
RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20
BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21
KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22
SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23
VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24
RINSO ELECTRIC SOLUTION
25
BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26
PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27
KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28
LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29
KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30
SATU GANG MULAI BERGOSIP
31
ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32
MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33
TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34
PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35
EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36
CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37
MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38
SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39
KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40
KONTRAK DENGAN MANTAN
41
LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42
BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43
IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44
LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45
TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46
RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47
UTANG LAMA, MALU BARU
48
NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49
UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50
KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51
PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52
KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53
API KECIL, KERUGIAN BESAR
54
INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55
BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56
KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57
ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58
KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59
MALAM BENGKEL TERBAKAR
60
PAGI SETELAH API
61
LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62
MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63
AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64
RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65
BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66
SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67
PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68
RINSO MEMILIH BICARA
69
RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70
RAPAT WARGA PALING RIBUT
71
KOPERASI KONSLET BERSAMA
72
BELAJAR LAGI DARI NOL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!