DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR

Surat pemutusan kerja itu hanya satu lembar.

Aku selalu membayangkan kehilangan pekerjaan akan datang dengan rapat panjang, perdebatan, atau setidaknya map tebal yang menunjukkan bahwa perusahaan bersungguh-sungguh menghancurkan hidup seseorang. Ternyata nasib buruk bisa dicetak pada satu sisi kertas A4, diberi kop perusahaan, lalu diletakkan di meja di antara gelas kopi dan stapler.

Sebelum masuk ruangan, aku sempat berhenti di depan papan keselamatan kerja yang tergantung di lorong. Di sana tertulis bahwa setiap pekerja berhak menghentikan pekerjaan apabila kondisi tidak aman. Selama dua tahun bekerja, aku melewati kalimat itu ratusan kali tanpa membacanya sampai selesai. Pagi itu, huruf-hurufnya terasa seperti sengaja dicetak lebih besar.

Petugas administrasi yang biasanya menyapaku hanya menunjuk pintu Pak Gunawan. Di mejanya ada formulir pengembalian seragam dan kartu identitas. Semua sudah disiapkan. Rupanya keputusan tentang hidupku selesai dibuat sebelum aku datang, mandi, dan menyisir rambut hangusku sebaik mungkin agar tetap terlihat seperti orang yang masih punya pekerjaan.

Pak Gunawan duduk di belakang meja. Laptopnya menghadap kepadaku, tetapi layar kedua di dinding memutar video viral tanpa suara. Wajahku membeku pada detik sebelum percikan. Di bawah gambar itu, jumlah penonton terus bertambah.

Rinso duduk di kursi sudut. Seragamnya rapi. Tangannya bertumpu pada lutut. Ia tidak menatapku.

“Duduk,” kata Pak Gunawan.

“Aku lebih enak berdiri.”

“Bukan pertanyaan.”

Aku duduk.

Pak Gunawan mendorong surat itu ke arahku. “Manajemen memutuskan hubungan kerja efektif hari ini.”

Aku tidak menyentuh kertasnya. “Karena video?”

“Karena tindakanmu.”

“Video itu membuat perusahaan panik.”

“Video itu hanya membuat tindakanmu terlihat orang banyak.”

Aku menatap layar. Tanpa suara, mulutku mengucapkan aman, lalu ruangan gelap. Aku benci betapa jelasnya urutan itu.

“Gedung minta ganti rugi,” lanjut Pak Gunawan. “Terminal panel rusak, satu unit lampu sorot ikut terbakar, acara terlambat hampir dua jam, dan keluarga pengantin meminta permintaan maaf resmi. Klien kita juga mempertanyakan prosedur kerja.”

“Listrik akhirnya hidup.”

Pak Gunawan menyandarkan punggung. “Dua jam terlambat.”

“Tapi tidak ada yang terluka.”

“Itu bukan pembelaan. Itu keberuntungan.”

Aku merasakan panas naik ke wajah. “Semua alat tambahan dipasang panitia. Mesin kabut, sorot, pendingin. Bukan aku yang bawa.”

“Siapa yang membuat jalur tambahan?”

Aku diam.

“Siapa yang menaikkan MCB setelah jatuh tanpa memastikan semua beban terlepas?”

“Situasinya ramai.”

“Siapa?”

“Aku.”

“Siapa yang diberi instruksi menunggu teknisi gedung?”

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. “Aku.”

Pak Gunawan mengangguk sekali, seolah kami baru menyelesaikan soal sederhana. “Itu sebabnya.”

Aku menoleh kepada Rinso. “Kau senang?”

Ia akhirnya menatapku. “Tidak.”

“Wajahmu memang begitu kalau senang?”

“Wajahku begini kalau laporan yang kubuat dibaca.”

“Kau cepat kali buat laporan. Lampu belum hidup, kau sudah cari siapa yang disalahkan.”

Rinso tidak membalas. Pak Gunawan membuka sebuah map dan mengeluarkan lembar pemeriksaan.

“Rinto mencatat beban jalur dan menulis bahwa ia menolak sambungan tambahan,” katanya. “Ada tanda tangan saksi dari kru gedung.”

Aku mengambil kertas itu. Tulisan Rinso rapi seperti cetakan. Jam, angka, jenis beban, peringatan, instruksi. Bahkan kalimatku—pala susah kali, sambung sikit—ditulis di bagian catatan.

“Kau tulis ucapanku?”

“Itu bagian kejadian,” kata Rinso.

“Sekalian tulis waktu aku ke toilet.”

“Kalau berpengaruh pada beban, akan kutulis.”

Pak Gunawan mengetuk meja. “Cukup.”

Aku melempar kertas itu kembali. “Jadi dia aman karena pandai tulis laporan?”

“Dia aman karena mengikuti instruksi.”

Kalimat itu mengenai bagian diriku yang paling tidak suka disentuh. Aku berdiri.

“Perusahaan ini cuma butuh orang yang pandai tunduk.”

“Perusahaan ini butuh teknisi yang tidak menganggap prosedur sebagai penghinaan.”

“Aku menyelamatkan banyak pekerjaan di lapangan karena tidak menunggu aturan.”

“Dan selama ini orang lain membersihkan akibatnya.”

Ruangan mendadak terasa sempit. Aku ingin membanting sesuatu, tetapi semua barang di meja terlihat mahal dan kemungkinan dipotong dari gaji terakhir.

Pak Gunawan menggeser surat itu lebih dekat. “Gaji sampai hari ini dibayarkan. Uang pengganti cuti masuk sesuai aturan. Namun, perusahaan tidak menanggung kerusakan pribadi pada alatmu.”

“Tespenku baik-baik saja.”

“Syukurlah. Setidaknya ada satu benda yang selamat.”

Rinso menundukkan kepala, mungkin menahan senyum. Aku menatapnya tajam.

Pak Gunawan menyerahkan bolpoin. “Tanda tangani penerimaan surat.”

“Aku tidak setuju.”

“Tanda tangan hanya menyatakan kau menerima.”

“Aku bisa menolak.”

“Kau bisa. Suratnya tetap berlaku.”

Aku memegang bolpoin. Tanganku tidak gemetar, tetapi ujungnya menekan kertas terlalu kuat hingga meninggalkan titik tinta.

Nama lengkapku terlihat asing ketika kutulis di bawah kalimat pemutusan hubungan kerja.

Jefri Andalas Sinaga.

Selembar kertas mampu membuat nama itu terasa lebih kecil.

Aku berdiri tanpa pamit dan keluar. Di lorong, beberapa pegawai pura-pura sibuk. Seorang teknisi junior menatapku, lalu cepat-cepat menunduk. Ponsel seseorang memutar potongan video dengan suara pelan. Aku mendengar suaraku sendiri berkata aman, bah sebelum orang itu buru-buru mematikannya.

Tia menunggu di dekat tangga. Ia tadi memaksa ikut karena katanya aku tidak boleh mengendarai motor saat marah. Ponselnya ada di tangan, tetapi kameranya menghadap lantai.

“Sudah?” tanyanya.

Aku mengangkat surat.

Wajahnya berubah. “Bang…”

“Jangan bilang ini bisa jadi konten.”

Ia menurunkan ponsel sepenuhnya. “Tidak direkam?”

Aku menatapnya, curiga karena pertanyaannya terdengar terbalik.

Tia menggeleng. “Tidak semua yang penting harus jadi tontonan, Bang.”

Aku ingin marah. Anehnya, kalimat itu justru membuat tenggorokanku sakit.

“Pulanglah,” kataku.

“Kita pulang sama-sama.”

“Aku mau sendiri.”

“Mak bilang—”

“Pulang, Tia.”

Ia menggigit bibir, lalu mengangguk. Sebelum pergi, ia menyelipkan kunci motorku ke dalam saku celanaku. “Jangan ngebut.”

Aku turun ke parkiran beberapa menit kemudian. Udara siang panas dan berbau aspal. Rinso berdiri dekat motornya sambil memasukkan alat ke dalam kotak dengan rapi.

Aku berjalan mendekat. “Puas kau?”

“Tidak.”

“Kau dapat apa setelah aku keluar? Jabatan?”

“Aku juga akan keluar.”

Aku berhenti. “Apa?”

Ia menutup kotak alat. “Akhir bulan.”

“Kenapa?”

“Aku mau buka bengkel sendiri.”

Aku tertawa pendek. “Jadi laporan itu sekalian membersihkan saingan?”

Rinso merapikan manset seragamnya. “Kau selalu perlu orang lain menjadi penjahat supaya kau tidak perlu melihat kesalahanmu.”

“Jangan ceramah.”

“Bukan ceramah. Aku tidak punya waktu.”

Ia mengangkat kotak alat dan menatapku lurus.

“Aku akan membangun usaha yang rapi, punya prosedur, dan tidak hidup dari keberuntungan,” katanya. “Aku tidak membutuhkan orang yang otaknya pun pakai kabel kupas.”

Rinso menaiki motornya dan pergi sebelum aku menemukan balasan yang cukup menyakitkan.

Aku berdiri sendirian di parkiran dengan surat satu lembar di tangan. Untuk pertama kalinya sejak malam pesta, tidak ada kamera, tidak ada orang tertawa, dan tidak ada listrik mati yang bisa kusalahkan.

Terpopuler

Comments

Kustri

Kustri

ini cerita ttg apa thor✌

2026-07-31

1

lihat semua
Episodes
1 SATU LAPANGAN GELAP
2 PESTA YANG TERLALU TERANG
3 SALAMAN DALAM GELAP
4 BANG JEPOT MASUK BERANDA
5 DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6 PULANG KE BENGKEL BAPAK
7 LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8 BUKU UTANG PAK TOR
9 MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10 MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11 SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12 TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13 PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14 KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15 MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16 DINDING YANG BERASAP
17 LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18 PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19 RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20 BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21 KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22 SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23 VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24 RINSO ELECTRIC SOLUTION
25 BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26 PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27 KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28 LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29 KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30 SATU GANG MULAI BERGOSIP
31 ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32 MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33 TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34 PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35 EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36 CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37 MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38 SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39 KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40 KONTRAK DENGAN MANTAN
41 LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42 BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43 IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44 LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45 TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46 RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47 UTANG LAMA, MALU BARU
48 NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49 UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50 KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51 PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52 KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53 API KECIL, KERUGIAN BESAR
54 INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55 BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56 KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57 ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58 KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59 MALAM BENGKEL TERBAKAR
60 PAGI SETELAH API
61 LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62 MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63 AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64 RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65 BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66 SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67 PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68 RINSO MEMILIH BICARA
69 RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70 RAPAT WARGA PALING RIBUT
71 KOPERASI KONSLET BERSAMA
72 BELAJAR LAGI DARI NOL
Episodes

Updated 72 Episodes

1
SATU LAPANGAN GELAP
2
PESTA YANG TERLALU TERANG
3
SALAMAN DALAM GELAP
4
BANG JEPOT MASUK BERANDA
5
DIPECAT DENGAN SURAT SATU LEMBAR
6
PULANG KE BENGKEL BAPAK
7
LIZA CEMBERUT DATANG MEMBAWA KALKULATOR
8
BUKU UTANG PAK TOR
9
MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT
10
MOTOR DELI PATAH JADI MOBIL SERVIS
11
SETRIKA UNTUK SUAMI PEMALAS
12
TIA CEKREK MENJUAL MALU KELUARGA
13
PAPAN NAMA KONSLET MEDAN
14
KAFE KESAWAN TANPA KOPI
15
MANTAN DATANG DENGAN RING LIGHT
16
DINDING YANG BERASAP
17
LIZA MENAGIH SAMPAI LUNAS
18
PERJANJIAN DI KERTAS NASI
19
RICE COOKER PEMECAH KELUARGA
20
BIBIR EMBER IKUT BEKERJA
21
KABEL HILANG DAN MULUT PANJANG
22
SALON PENGANTIN MELEDAK SEBELAH
23
VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
24
RINSO ELECTRIC SOLUTION
25
BINTANG SATU DARI AKUN PALSU
26
PERANG MULUT DI WARUNG KOPI
27
KEPLING NATO MEMBAWA PROYEK
28
LAMPU GANG DAN PUNGUTAN GELAP
29
KUNCI YANG TIDAK BOLEH DICARI
30
SATU GANG MULAI BERGOSIP
31
ANGKA YANG TIDAK MASUK AKAL
32
MAK MINA TIDAK MAU DIJAGA
33
TIA CEKREK MEMBUAT SERIAL
34
PAK TOR JADI BAHAN KOMENTAR
35
EMAS HILANG DI RUMAH PELANGGAN
36
CCTV DAN ANAK PEMILIK RUMAH
37
MINTA MAAF DI DEPAN PAGAR
38
SERAGAM PERTAMA KONSLET MEDAN
39
KOPI DURIAN DAN SUARA YANG PELAN
40
KONTRAK DENGAN MANTAN
41
LIZA MENEMUKAN TANDA TANGANKU
42
BENGKEL TANPA ORANG YANG MENGHITUNG
43
IKAN BEKU DAN TAGIHAN BESAR
44
LIZA KEMBALI BUKAN UNTUK MENOLONG
45
TIGA PULUH HARI TANPA NEKAT
46
RINSO MEMINTA BANTUAN DIAM-DIAM
47
UTANG LAMA, MALU BARU
48
NAMA KEPLING DI KERTAS LAMA
49
UWAK KOTAK DAN KOTAK ROKOK
50
KOTAK DISTRIBUSI DIBUKA MALAM-MALAM
51
PERATURAN TIGA PULUH HARI GAGAL
52
KERJAAN MENUMPUK, OTAK MENYALA
53
API KECIL, KERUGIAN BESAR
54
INSPEKSI YANG MEMBUKA SEMUA LACI
55
BARANG BUKTI DI RAK SENDIRI
56
KECELAKAAN YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN
57
ABANG LIZA DI DALAM LAPORAN
58
KEMARAHAN LIZA TIDAK PAKAI MAKIAN
59
MALAM BENGKEL TERBAKAR
60
PAGI SETELAH API
61
LAPORAN YANG TIDAK DIANGGAP
62
MAK MINA MELARANG BALAS DENDAM
63
AUDIT DARI PINTU KE PINTU
64
RINSO DI ANTARA DUA PIHAK
65
BINSAR MENGAKU MEMINJAM KUNCI
66
SATU TAMPARAN TERLALU BANYAK
67
PEMERIKSAAN RESMI PERTAMA
68
RINSO MEMILIH BICARA
69
RUMAH PETAK TERANCAM DIGUSUR
70
RAPAT WARGA PALING RIBUT
71
KOPERASI KONSLET BERSAMA
72
BELAJAR LAGI DARI NOL

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!