Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: ANCAMAN DARI MASA LALU

Senin pagi di SMA Garuda berjalan dengan hiruk-pikuk biasa bagi mayoritas siswa. Gelak tawa di koridor, derap langkah terburu-buru menuju kelas, dan kepulan asap tipis dari kantin menyambut dimulainya minggu yang baru. Namun bagi Aluna, atmosfer sekolah terasa sangat menghimpit. Setelah ketegangan yang membakar sepanjang akhir pekan di rumah dan kejaran rasa bersalah yang tak kunjung padam terhadap kedua orang tua mereka, ia melangkah di sepanjang lorong dengan pikiran yang melayang jauh.

Di ujung lorong lantai dua dekat perpustakaan yang relatif lengang, Aluna berniat mengembalikan beberapa buku teks Ekonomi yang baru selesai ia pelajari. Namun, langkah kakinya mendadak terhenti kaku ketika seorang siswa laki-laki tinggi berjaket mantel sekolah mendadak keluar dari balik sekat dinding dan menghalangi jalannya secara langsung.

"Aluna," sapa cowok itu dengan nada suara yang terdengar akrab, namun menyimpan nada dingin yang sudah sangat lama tidak Aluna dengar.

Aluna mendongak perlahan, dan seketika itu pula warna dari wajahnya menguap habis. Wajahnya pucat pasi. "Reno...?"

Reno adalah mantan kekasih Aluna dari masa sekolah menengah pertama—sosok dari masa lalu yang secara mengejutkan mendadak pindah ke SMA Garuda dua minggu lalu. Reno menatap Aluna dengan senyum tipis yang sarat akan intrik, lalu melangkah satu titik lebih dekat, memangkas jarak nyaman di antara mereka hingga membuat Aluna refleks mundur menyandar ke tembok koridor.

"Aku perhatikan beberapa hari ini kamu makin nempel saja sama kakak tiri barumu itu," ujar Reno pelan. Suaranya bernada sindiran halus yang begitu tajam dan menusuk ulu hati Aluna. "Devan, kan? Tapi aneh ya, Na... tatapan mata dia ke kamu tadi pagi di dekat gerbang sekolah sama sekali bukan tatapan seorang kakak laki-laki yang protektif ke adiknya."

Jantung Aluna berdegup kencang hingga serasa hendak menghantam remuk tulang dadanya. Tangannya yang memeluk erat buku-buku teks tebal gemetar hebat, menyalurkan rasa panik yang tak sanggup ia tahan. "M-maksud kamu apa bicara kayak gitu, Ren? Jangan sembarangan tuduh yang enggak-enggak."

"Aku nggak sembarangan bicara," bisik Reno seraya memajukan tubuhnya semakin mengintimidasi. Tangannya terulur santai, hendak menyentuh helai rambut hitam Aluna yang terurai di bahu. "Aku kenal kamu luar dalam, Aluna. Dan aku tahu persis raut wajah seorang cewek yang lagi menyimpan rahasia besar sama..."

Brak!

Sebelum ujung jemari Reno sempat menyentuh sehelai pun helai rambut Aluna, sebuah lengan tegap berseragam rapi merengkuh pergelangan tangan Reno dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga terdengar gemeretak halus. Tekanan itu membuat tubuh Reno tersentak dan meringis menahan sakit.

Devan berdiri di sana. Sosoknya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan dingin yang mengurung mereka bertiga. Iris mata cokelat gelap milik Devan memancarkan aura membunuh yang sangat berbahaya—jauh dari citra siswa teladan yang selalu ia tampilkan di depan para guru.

"Jaga tanganmu," ujar Devan dengan suara yang amat rendah, serak, namun penuh tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri. Tanpa ragu sedikit pun, ia secara terbuka menunjukkan batas wilayah kekuasaannya di depan koridor yang sepi itu.

Reno menghentakkan tangannya demi melepaskan cengkeraman Devan yang membakar kulitnya. Ia menatap Devan dengan pandangan menantang, meski binar cemas dan gentar di matanya tidak bisa disembunyikan saat berhadapan langsung dengan dominasi Devan. "Cuma bercanda, Kakak Tiri. Nggak usah kelewatan emosi begitu."

Reno melirik Aluna sekali lagi dengan senyum sinis yang mengancam, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah cepat menyusuri koridor menjauh dari tempat itu.

Keheningan yang pekat dan berat seketika menyergap di antara Aluna dan Devan. Devan menarik napas panjang dan dalam demi mengontrol amarah liar yang membakar seluruh dadanya. Pria itu menoleh ke arah Aluna, lalu tanpa memedulikan risiko jika ada siswa lain yang melintas, Devan menjangkau pinggang Aluna di balik bayangan pilar bangunan, menarik tubuh mungil gadis itu rapat ke dalam kungkungan dadanya yang keras.

"Dia sempat megang kamu?" tanya Devan serak dengan napas berburu. Matanya yang tajam dan intens menelusuri setiap jengkal bibir, wajah, dan leher Aluna, memastikan tidak ada sekecil pun tanda yang ditinggalkan orang lain pada milik mutlaknya.

"N-nggak, Kak... Reno nggak sempat nyentuh Aluna sama sekali," bisik Aluna cepat dengan suara bergetar panik. Tangannya meremas kuat seragam Devan demi mencari pegangan. "Tapi Kak... Reno beneran curiga sama hubungan kita. Gimana kalau dia nekad nyebar rumor atau hal buruk soal kita di sekolah?"

Devan menunduk sedikit, mengecup kening Aluna dengan tekanan mendalam yang sarat akan proteksi dan posesifitas tanpa batas. Ia lalu memajukan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan di balik celah pilar yang remang.

"Nggak akan ada yang berani menyebarkan rumor apa pun tentang kamu," bisik Devan tegas dengan intonasi dingin yang tak terbantahkan. Jemarinya meremas pelan pinggul Aluna di balik rok seragamnya, menenangkan saraf Aluna sekaligus menegaskan dominasi mutlak yang ia miliki atas diri adiknya. "Siapa pun yang coba-coba mengusik kamu atau berusaha mengambil kamu dari aku... dia bakal berurusan langsung sama aku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!