Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
seleksi yg kejam
Langkah kaki Rama berpacu dengan detik-detik yang kian menipis. Deru mesin motor matic tua yang dipaksakan bekerja keras sejak pagi tadi akhirnya mengantarkannya ke depan sebuah kediaman megah yang pagarnya menjulang tinggi layaknya benteng kerajaan. Tepat sebelum gerbang ditutup, rama pun masuk... ia menyelip di antara celah besi raksasa yang mulai bergerak merapat, nyaris saja tertinggal oleh batas waktu yang ditentukan.
Setelah memarkirkan motornya di area luar, dia pun berlari menuju barisan. Napasnya agak terengah, namun pandangannya langsung menyapu pemandangan di hadapannya. Yah disana sudah banyak para kandidat... halaman luas yang dilapisi rumput hijau rapi itu kini dipenuhi oleh ratusan pria. Smuanya tersaji lengkap dengan berbagai model dan bentuk. Ada yang datang dengan setelan jas desainer ternama, ada yang berpenampilan perlente layaknya eksekutif muda, hingga mereka yang memiliki postur tubuh tegap bak pengawal pribadi.
Namun, terlepas dari perbedaan penampilan luar mereka, semuanya berkumpul di sini dengan 1 harapan; bisa masuk ke keluarga antasena... Sebuah klan tua yg dipimpin oleh seorang wanita berumur sekitar 45 tahun. Wanita itu duduk di sebuah kursi kehormatan di bawah pilar megah teras rumah, memancarkan aura otoritas yang sangat kuat, dingin, dan tak tersentuh. Tatapan matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan di halaman seolah sedang menilai sekumpulan barang dagangan.
"semuanya berbaris!"
Suara lantang itu menggelegar, berasal dari 1 orang yg ditunjuk oleh pemimpin itu.. Pria bertubuh tegap dengan pakaian safari hitam itu berdiri di depan barisan kandidat, memegang tumpukan lembaran kertas tebal di tangannya.
"kalian semua isi formulir lanjutan!" katanya, memecah bisik-bisik di antara para peserta.
Pria itu menjeda kalimatnya, tatapannya menyapu tajam ke seluruh penjuru lapangan sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih menekan. "ingat setelah tanda tangan kalian tak boleh mundur. jadi silahkan baca dan fikirkan baik baik dulu. jika kalian menyerah maka silahkan pulang.." kata orang itu dengan kerasnya. Peringatan itu tidak terdengar seperti gertakan sambal, melainkan sebuah maklumat bahwa apa pun yang tertulis di dalam lembaran kertas tersebut memiliki konsekuensi yang sangat nyata dan mengikat.
Para penjaga dengan cepat membagikan lembaran tersebut. Langsung saja mereka mengambil formulir dan terjadilah perbincangan diantara mereka.. Suasana yang awalnya tegang mendadak berubah menjadi riuh penuh kepanikan begitu mata para kandidat membaca poin demi poin yang tertera di sana.
"ahh.... syarat apa ini!" kata kandidat lain di sebelah kiri Rama, wajahnya mendadak pucat pasi menatap kertas di tangannya.
"g masuk akal!" kata yg lainnya dengan nada frustrasi, meremas pulpennya hingga buku-buku jarinya memutih.
"aku... aku... aku pulang saja..." kata yg lainnya lagi, tanpa berpikir panjang langsung membalikkan badan dan berjalan terburu-buru menuju pintu gerbang yang baru saja dibuka sedikit untuk mereka yang ingin menyerah.
Satu per satu, pria-pria yang tadinya datang dengan penuh percaya diri dan pakaian mewah mulai bertumbangan sebelum ujian fisik maupun mental bahkan dimulai.
Di atas teras, sang nyonya hanya tersenyum. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kepuasan dan kepintaran. Yah dengan ini saja dia berhasil menyeleksi kandidat yg diluar keinginan nya. Lembar formulir itu bukan sekadar formalitas administrasi, melainkan filter pertama yang sengaja diciptakan untuk menyaring mereka yang hanya modal nekat tanpa memiliki nyali dan kesiapan untuk mengorbankan segalanya demi Keluarga Antasena.
Rama masih berdiri tegak di posisinya. Rambut sebahunya yang diikat rapi seadanya sedikit bergoyang ditiup angin pagi. Matanya kini mulai turun, membaca baris demi baris persyaratan ekstrem yang tertulis di atas kertas formulir miliknya sendiri, bersiap menghadapi apa pun kegilaan yang menunggunya di lembar tersebut.
Angka keguguran massal itu benar-benar di luar dugaan. Dari sekitar 850 kandidat yang awalnya memadati halaman depan dengan segala kesombongan dan pakaian mewah mereka, kini tersisa hanya 150 orang saja. Hanya dalam hitungan menit, formulir maut itu telah mengikis habis tujuh ratus pria yang langsung ciut nyalinya. Yah 150 orang yg nekat... Mereka adalah orang-orang yang entah memiliki keberanian luar biasa, atau seperti Rama, sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan di dunia luar.
Diantara barisan itu, berdiri rama paling belakang... Postur tubuhnya yang tegap dan atletis tertutup oleh kesederhanaan pakaiannya, sementara rambut sebahunya yang diikat rapi tampak sedikit basah oleh sisa keringat. Tatapannya tetap tenang, mengamati sisa-sisa saingannya yang kini mulai menata kembali napas mereka.
Pria berpakaian safari hitam yang memimpin sejak awal kembali berdiri di depan barisan, menatap sisa kandidat dengan pandangan yang sedikit lebih menghargai, meski tetap terasa dingin.
"baik smuanya... ayo ikuti aku," kata orang tadi...
Merekapun berjalan menuju taman belakang. Namun, sebutan 'taman' rasanya terlalu meremehkan luasnya tanah milik Keluarga Antasena. Jalur yang mereka lewati bukan lagi paving blok halus, melainkan jalan setapak berbatu yang terus menanjak dan berliku di antara pepohonan rindang yang lebat.
Cukup lama perjalanan itu. Medan yang bervariasi dan kecepatan ritme berjalan yang ditentukan oleh sang pemandu mulai memakan korban baru. Kelelahan fisik mulai menggerogoti mereka yang terbiasa hidup nyaman di dalam ruangan ber-AC. Bahkan ada beberapa kandidat yg terhenti karna kelelahan...
Mereka terduduk di pinggir jalur sambil memegangi lutut, terengah-engah, dan terpaksa mengacungkan tangan tanda menyerah sebelum benar-benar sampai ke lokasi utama. Rama, yang terbiasa hidup keras dan mengandalkan kekuatan fisiknya, terus melangkah konstan tanpa banyak mengeluh.
Setelah smua itu ahirnya mereka berkumpul.. Langkah pemandu terhenti di sebuah area terbuka yang sangat luas, dikelilingi oleh pagar kawat berduri yang tinggi.
Namun kejutan masih ada. Harapan para peserta untuk mendapatkan tes wawancara formal di dalam ruangan mewah langsung runtuh seketika. Didepan mereka terpampang track latihan semi militer yang sangat masif dan mengerikan. Lapangan itu lengkap dengan kolam lumpur sedalam dada yang permukaannya tertutup jaring kawat, kuda kuda kayu setinggi dua meter untuk rintangan lompat, dan tebing besi vertikal yang harus dipanjat tanpa menggunakan tali pengaman. Tempat ini lebih mirip kamp pelatihan pasukan khusus daripada tempat seleksi mencari menantu sebuah klan kaya.
"ahhh apa ini" keluh salah satu kandidat di barisan depan dengan suara bergetar, menatap kolam lumpur yang mengeluarkan aroma tanah basah yang menyengat.
Tantangan di depan mereka tidak lagi menguji ketebalan dompet atau ketampanan wajah, melainkan ketahanan fisik, batas stamina, dan seberapa jauh mereka bersedia mengotori diri demi sebuah peluang di Keluarga Antasena. Rama hanya mengembuskan napas pendek, menatap tebing besi di kejauhan sambil mempererat ikat rambutnya. Saringan kedua telah dimulai, dan kali ini, otot serta nyali yang akan berbicara.