Pada suatu malam minggu yang gerimis, hubungan asmara antara Rama dan Ratna resmi berakhir di sebuah kedai kopi yang sunyi. Ratna mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan mereka karena menyadari adanya standar hidup dan perbedaan kelas sosial yang tidak mampu dipenuhi oleh Rama. Meski hancur, Rama menerima keputusan tersebut dengan ketegaran yang dipaksakan. Perpisahan itu menjadi semakin kontras dan menyakitkan ketika Ratna dijemput oleh sebuah sedan Eropa putih mewah yang merepresentasikan dunia barunya yang penuh kenyamanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jamuan
"hari ini tes selesai..."
Pengumuman dari instruktur bersafari hitam itu bagaikan oase di tengah gurun bagi sepuluh pria yang tersisa. Ketegangan yang sejak pagi mencengkeram dada mereka perlahan mengendur, digantikan oleh helaan napas lega yang serentak terdengar di sekeliling lapangan.
"silahkan kalian bersihkan badan kalian dan pakaian ganti sudah kami siapkan disana," kata instruktur itu sambil menunjuk ke arah koridor samping yang terhubung dengan fasilitas bilas mewah di area paviliun belakang. "setelah itu kami akan adakan jamuan makan buat kalian semua.."
Para kandidat hanya bersorak senang karna hal ini... Kelelahan ekstrem setelah menerjang lumpur, memanjat tebing besi, dan dipaksa push-up seratus kali seolah menguap begitu saja mendengar kata 'jamuan makan'. Pikiran mereka langsung melompat pada bayangan makanan lezat khas konglomerat dan kesempatan untuk duduk lebih dekat dengan Nyonya Antasena beserta putri cantiknya yang berwajah dingin itu.
Satu per satu kandidat mulai melangkah terburu-buru menuju tempat bilas, tak sabar untuk menanggalkan kaos singlet mereka yang penuh noda tanah. Rama ikut bergerak di dalam barisan, berjalan dengan langkah yang tetap konstan dan tenang. Romansa kemewahan yang ditawarkan secara mendadak ini tidak lantas membuat kewaspadaannya turun.
Sambil berjalan, Rama mengikat kembali rambut sebahunya yang sempat melonggar. Otaknya yang dingin mulai menganalisis situasi. Ucapan sang putri yang sempat ia tangkap samar-samar tadi tentang "bagaimana dengan otaknya?" masih terngiang jelas. Jika tes fisik baru saja dinyatakan selesai, maka jamuan makan malam ini hampir pasti bukan sekadar hadiah gratis untuk merayakan keberhasilan mereka menembus sepuluh besar.
Di dunia orang-orang kelas atas seperti Keluarga Antasena, meja makan sering kali menjadi medan pertempuran yang jauh lebih kejam daripada trek latihan militer. Cara duduk, etika memegang garpu dan pisau, hingga bagaimana cara merespons obrolan di tengah kunyahan adalah saringan tak kasat mata yang bisa menelanjangi latar belakang sosial seseorang dalam sekejap. Pakaian ganti yang disiapkan pasti setelan formal yang seragam, memaksa mereka bertarung dengan otak dan tata krama setelah otot mereka habis diperas.
"Jamuan makan, ya..." batin Rama sambil memutar kran air di ruang bilas, membiarkan air dingin mengguyur sisa-sisa debu jalanan dan lumpur yang melekat di tubuh atletisnya.
Ia tahu, bagi seorang pemuda kos-kosan yang terbiasa makan mie instan di atas kasur tipis dan mengaduk kopi murah di kedai sunyi, tantangan berikutnya akan terasa sangat asing. Namun, KTP-nya sudah diserahkan, taruhan Iwan sudah berjalan, dan pintu gerbang besi di depan sana sudah dikunci rapat. Rama menarik napas dalam-dalam, bersiap mengenakan pakaian ganti yang disediakan, lalu melangkah menuju meja makan yang mungkin akan menjadi jebakan berikutnya dari Keluarga Antasena.
Malam telah tiba.. Atmosfer di dalam kediaman Keluarga Antasena berubah menjadi sangat megah dan formal. Sepuluh kandidat yang tersisa kini telah bertransformasi; tubuh mereka yang tadi berlumur lumpur telah bersih, dibalut pakaian ganti berupa setelan kemeja formal rapi yang disediakan oleh pihak rumah. Mereka smua berkumpul di meja makan yg luas itu. Meja kayu panjang berpolitur mahal yang di atasnya telah ditata dengan peralatan makan perak yang berkilau di bawah pendar lampu gantung kristal.
Tentu saja hidangan kelas atas disajikan tuan rumah... Berbagai menu kuliner premium yang aromanya menggugah selera tertata rapi di tengah meja, memancing air liur para pria yang energinya telah terkuras habis sejak pagi hari. Di ujung meja, Nyonya Antasena duduk dengan anggun, mengawasi sepuluh calon menantunya dengan tatapan yang sulit dibaca. Tanpa menunggu waktu lebih lama atau pidato yang bertele-tele, nyonya antasena mepersilahkan mereka untuk makan.
"Silakan dinikmati," ucapnya singkat dengan nada tenang.
Yah smuanya mulai makan... Kelaparan yang mendera membuat sebagian besar kandidat langsung menyantap hidangan tersebut dengan lahap. Beberapa di antara mereka tampak canggung memegang garpu dan pisau daging, sementara yang lain mencoba tampil seanggun mungkin untuk menarik simpati. Rama duduk di posisinya, memotong makanannya dengan gerakan yang efisien dan tenang, tidak terburu-buru namun tetap waspada terhadap lingkungan sekitarnya.
Tak lama setelah mereka menikmati beberapa suapan, nyonya anta sena berkata, memecah keheningan di ruang makan yang mewah itu.
"malam ini kalian menginap disini karna besok pagi tes masih akan dilanjutkan... silahkan saja kalian nikmati ini, aku pamit dulu."
Keputusan mendadak itu sempat membuat beberapa kandidat saling melirik penuh tanya. Namun, rasa lelah dan kenyang mengalahkan rasa penasaran mereka. Nyonya antasena pun langsung berjalan menuju suatu ruangan.. Langkah kakinya yang ketat terdengar menjauh dari ruang makan, meninggalkan para kandidat yang kembali melanjutkan santap malam mereka dengan lebih santai.
Namun, kenyamanan itu hanyalah fatamorgana. Nyonya Antasena tidak benar-benar pergi untuk tidur. Yah dia rupanya masuk ke ruang monitor yang terletak di bagian dalam rumah utama. Ruangan itu bernuansa gelap, hanya diterangi oleh puluhan layar televisi sirkuit tertutup (CCTV) yang menampilkan setiap sudut ruang makan dari berbagai sudut pandang (angle) secara mendetail. Disana sudah ada beberapa bawahannya.. termasuk sang instruktur bersafari hitam dan beberapa pengawal yang berdiri siaga di depan konsol kendali.
"kalian sudah lihat kan," kata nyonya sambil melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah layar yang menampilkan gerak-gerik sepuluh pria di meja makan.
Layar-layar itu merekam segalanya dengan sangat jelas: cara mereka mengunyah, kandidat yang bersikap serakah mengambil porsi berlebih, mereka yang tidak tahu etika menggunakan serbet, hingga kandidat yang tampak gelisah. Di dunia Antasena, meja makan adalah tes psikologi tanpa kertas. Karakter asli, tingkat kesabaran, kontrol diri, dan latar belakang seseorang akan langsung telanjang saat mereka dihadapkan pada makanan setelah kelaparan.
"ya nyonya..." jawab salah satu bawahan kepercayaannya sambil mencatat beberapa poin penting di komputer tabletnya. "dan nanti kalian pasti tau siapa saja yg perlu di eliminasi."
"siap nyonya," sahut bawahannya yang lain dengan tegas. Mereka sudah tahu parameter apa saja yang membuat seorang kandidat dianggap cacat karakter dan tidak layak melangkah ke babak berikutnya.
"baik aku mau istirahat dulu," kata nyonya antasena menutup pembicaraan. Ia berbalik dan melangkah keluar dari ruang monitor, menyerahkan sisa pengawasan malam itu kepada timnya.
Di layar monitor utama, kamera CCTV memperbesar (zoom in) ke arah Rama. Pemuda berambut sebahu itu tampak baru saja meletakkan garpu dan pisaunya secara rapi di atas piring yang telah bersih, lalu menyeka bibirnya dengan serbet tanpa menyadari bahwa mata-mata elektronik di dinding sedang merekam ketenangannya. Ujian otak dan mental telah berjalan di bawah selimut malam, dan esok pagi, kejutan baru telah menanti mereka yang lolos dari saringan tak kasat mata ini.