Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI YANG BERTAHAN DALAM HENING
Jika ada hal yang lebih menakutkan daripada kehilangan seseorang, itu adalah menyaksikan orang yang paling kamu sayangi perlahan-lahan menghancurkan dirinya sendiri demi kebahagiaanmu.
Hari-hari di bulan kedua ini terasa berjalan begitu lambat dan mengimpit. Penderitaan Kaito tidak berkurang sedikit pun; sebaliknya, rasa sakit yang ia paksakan pada dirinya sendiri kini makin nyata dan memprihatinkan.
Pagi itu, rintik hujan dingin kembali mengguyur area kampus. Dari balik jendela kaca koridor lantai tiga, aku tanpa sengaja melihat Kaito berjalan menyusuri lapangan. Ia tidak mengenakan payung, biarpun bajunya sudah basah kuyup. Langkah kakinya tampak kaku dan berat, seolah-olah seluruh tenaganya telah terkuras habis.
Wajah Kaito kian tirus, lingkar hitam menakutkan mengitari matanya yang memerah, dan kulitnya tampak pucat pasi. Ia terlihat seperti sosok yang tidak tidur dan tidak makan selama berhari-hari.
Saat berjalan, Kaito mendadak menghentikan langkahnya di tengah lapangan. Ia memegangi dadanya yang membusung menahan napas, lalu bertumpu pada lututnya yang gemetar hebat. Dari raut wajahnya yang meringis kesakitan, aku tahu ia sedang berada di titik terendah pertahanan batinnya. Kaito sedang gila menahan kerinduan dan kepedihan yang membakar di dalam dadanya.
Aku yang melihatnya dari atas koridor seketika panik. Tanpa berpikir panjang, aku berlari menyusuri tangga, berniat membawakannya payung dan memastikan ia baik-baik saja.
Namun, begitu aku berlari keluar gedung dan melangkah mendekatinya, Kaito yang mendengarkan langkah kakiku langsung mendongak.
Saat matanya yang sembap dan kusam menangkap keberadaanku, binar keputusasaan melintas cepat di wajahnya. Namun, alih-alih menerima bantuanku, Kaito justru mengepalkan tangannya begitu kuat—hingga jari-jarinya yang membeku tampak bergetar hebat.
Kaito menggerakkan jemarinya memberi bahasa isyarat yang amat kasar, patah-patah, dan penuh kepedihan:
[Jangan mendekat, Hana! Kubilang jangan pernah mendekatiku lagi!]
Aku mematung di tengah rintik hujan, memegangi payung dengan jemari yang bergetar.
[Kaito, kamu sakit! Kamu bisa pingsan kalau begini terus!] balasku cepat lewat jemari yang gemetar hebat, air mata mulai bercampur dengan titik-titik air hujan di pipiku.
Kaito mengusap wajahnya yang basah kuyup, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. Sorot matanya menatapku dengan kepedihan luar biasa—kepedihan dari seorang pria yang memilih menyiksa fisiknya sendiri hingga hancur, hanya agar ia memiliki alasan untuk tidak berlari memelukku.
[Ini hidupku, Hana! Kamu tidak perlu peduli lagi padaku!] isyarat Kaito pelan, tetapi setiap gerakannya terasa begitu berat dan menyakitkan. [Pergilah ke Haruto. Jangan pernah buang waktumu untuk orang seperti aku lagi!]
Kaito kemudian berbalik, memaksa kakinya yang gemetar untuk terus berjalan menembus hujan deras, meninggalkan aku yang berdiri mematung sendirian di tengah lapangan.
Melihat Kaito menyiksa dirinya sampai sejauh itu membuat hatiku teriris hingga tak bertekstur. Rasa bersalah yang teramat besar menghantam dadaku tanpa ampun. Aku merasa menjadi wanita paling jahat di dunia—seorang wanita yang telah menghancurkan hidup Kaito dan membuatnya hidup dalam neraka yang ia buat sendiri.
Sore harinya, dalam kondisi batin yang hancur dan kepala yang berat, aku bertemu dengan Haruto di sebuah kedai teh dekat stasiun.
Aku berharap bisa menemukan sedikit rasa aman dari sosok Haruto. Namun, kenyataan di hadapanku justru makin membuat perasaanku remuk.
Haruto duduk di hadapanku, tetapi pikirannya sama sekali tidak bersamaku. Pria yang dulu selalu menatap mataku dengan penuh kehangatan itu kini kian kaku. Ia terus-menerus melirik ke arah ponselnya yang diletakkan telungkup di atas meja. Setiap kali ponsel itu bergetar tipis, Haruto akan tersentak pelan dengan raut wajah panik.
Ia tidak lagi berusaha menggerakkan bibirnya secara perlahan agar aku bisa membaca gerak bibirnya (lip-reading). Bahkan saat menyodorkan cangkir teh padaku, tangannya bergerak terburu-buru dan tidak pernah menyentuh jemariku lagi.
Aroma parfum bunga manis yang asing itu kini tercium amat sangat jelas dari kerah kemejanya. Dan saat Haruto berbalik untuk mengambil jaketnya, aku sempat melihat sebuah stiker foto (purikura) kecil yang terselip di balik wadah transparan kartu mahasiswanya sebuah foto Haruto bersama seorang gadis berambut cokelat terang yang saling melempar senyum manis.
Haruto buru-buru membalikkan kartu itu begitu menyadari pandanganku tertuju ke sana. Wajahnya seketika pucat, dan ia berpura-pura batuk kaku sambil mengetik pesan singkat di ponselnya:
[Hana, maaf ya, sore ini aku harus pulang lebih awal. Ada urusan mendadak dengan kelompok kuliah.]
Aku menatap layar ponsel itu, lalu beralih menatap wajah Haruto yang menghindari kontak mata denganku.
Kepala dan hatiku benar-benar dipenuhi oleh kebingungan dan keputusasaan yang membendung.
Foto siapakah itu? Mengapa Haruto begitu takut menatap mataku? Mengapa kehangatan yang dulu menjadi tempatku bersandar kini menguap tanpa bekas?
Aku sama sekali belum mengerti. Aku belum paham kebohongan besar apa yang sedang dibangun Haruto di belakangku. Yang kurasakan hanyalah rasa asing, hampa, dan kebingungan yang amat menyakitkan—melihat pria yang menjadi kekasihku perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang penuh rahasia.
Perasaanku hancur dan kacau tak bertepi.
Aku terjebak di tengah-tengah dua pria yang kini membawa kehancuran dalam kehidupanku. Di satu sisi, aku merasa sangat berdosa dan hancur melihat Kaito yang terus-menerus menyiksa fisik dan batinnya sendiri dalam keheningan demi menjauh dariku. Di sisi lain, aku berdiri di samping Haruto dengan hati yang dipenuhi rasa bertanya-tanya, merasakan fondasi hubungan kami yang makin retak dan lapuk dari hari ke hari.
Duniaku memang sunyi tanpa suara, tetapi di dalam dada ini, rasa bingung, penyesalan, dan rasa sakit berkecamuk begitu hebat hingga rasanya aku tidak sanggup lagi untuk bertahan.
Sore itu, saat Haruto melangkah pergi meninggalkanku sendirian di meja kedai teh, aku menatap bayangan diriku sendiri di kaca jendela yang suram. Di tengah rintik hujan kota Tokyo yang tak kunjung usai, aku menyadari bahwa duniaku yang tenang kini telah sepenuhnya hancur berantakan.