Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Sistem Dewa Hoki : Aku Bukan Pembawa Sial

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Selama bertahun-tahun, Akbar dicap sebagai pembawa sial oleh seluruh warga kampung, bahkan disalahkan atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Kelelahan dengan hidup yang penuh penderitaan dan cemoohan, Akbar memutuskan untuk mengakhiri segalanya dengan melompat dari atas jembatan. Namun, tepat sebelum tubuhnya jatuh, sebuah layar hologram mendadak muncul dan memberinya "Sistem Dewa Hoki". Kini, berbekal keberuntungan absolut dari sistem tersebut, Akbar siap membalikkan keadaan, membungkam mulut orang-orang yang merendahkannya, dan membongkar rahasia kelam di balik kematian orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Terdengar suara helaan nafas kagum berjamaah dari puluhan kolektor barang antik di ruangan tersebut.

"Ya Tuhan, glasir putih susunya sangat sempurna tanpa cacat sedikit pun!" teriak seorang kakek tua botak dari kursi baris kedua saking takjubnya.

"Mangkok Porselen Putih Asli dari Era Kekaisaran Dinasti Ming Abad Kelima Belas!" umum sang juru lelang dengan suara lantang bergema.

"Barang ini adalah satu-satunya di Indonesia yang kondisinya seratus persen utuh sempurna bagaikan baru keluar dari tungku pembakaran."

"Harga pembukaan dimulai dari angka... lima ratus juta rupiah!"

Ruangan itu seketika meledak oleh hiruk-pikuk suara orang yang berebut mengangkat papan nomor lelang mereka.

"Enam ratus juta!"

"Tujuh ratus juta!"

"Satu miliar rupiah!" teriak sang kakek tua botak tadi sambil berdiri dari kursinya saking semangatnya ingin memiliki barang itu.

Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, harga mangkok itu sudah melonjak dua kali lipat dari harga awalnya.

Clara menatap Akbar yang duduk santai di sebelahnya dengan pandangan takjub dan merinding sekujur tubuhnya.

Pemuda ini benar-benar tidak berbohong saat mengatakan harga pasar mangkok kotor itu menyentuh miliaran rupiah di pasar kolektor elit.

Reyhan yang dari tadi diam akhirnya kembali mengangkat papannya dengan wajah berkeringat panas dingin menahan gengsi.

"Satu setengah miliar!" teriak Reyhan mempertaruhkan seluruh limit kartu kredit perusahaan ayahnya demi pamer kekayaan.

"Satu setengah miliar dari Tuan Reyhan! Ada yang berani lebih dari angka gila ini?" teriak juru lelang memanaskan suasana yang sudah mendidih.

Suasana ruangan mendadak hening sejenak karena angka satu setengah miliar itu sudah sangat menguras kantong mayoritas kolektor lokal.

Reyhan kembali tersenyum congkak menatap punggung Akbar dari belakang, merasa dirinya sudah menang mutlak malam ini di hadapan rivalnya.

Namun tiba-tiba, seorang pria paruh baya keturunan Tionghoa yang duduk tenang di sudut ruangan mengangkat papannya perlahan.

Pria itu adalah bos besar pemilik perusahaan properti multinasional pesaing ayah Reyhan di Jakarta.

"Dua setengah miliar rupiah tunai," ucap pria Tionghoa itu dengan suara pelan namun terdengar jelas oleh seluruh penjuru ruangan.

Brak.

Reyhan langsung menjatuhkan papan lelangnya ke lantai saking kagetnya mendengar angka yang sangat mustahil itu keluar dari mulut sang bos besar.

Dua setengah miliar rupiah hanya untuk sebuah mangkok putih kecil yang ukurannya tidak lebih besar dari mangkok bakso kaki lima.

"Dua setengah miliar rupiah! Sekali! Dua kali!" teriak sang juru lelang gemetar menahan histeria melihat komisi besar di depan matanya.

"Ada lagi yang mau menawar lebih tinggi? Tidak ada?"

Tok tok tok.

Tiga kali ketukan palu kayu berbunyi sangat keras mengunci takdir malam panjang itu.

"Sah! Mangkok Porselen Dinasti Ming resmi menjadi milik Tuan Hartono dengan harga rekor fantastis dua setengah miliar rupiah!"

Prok prok prok.

Tepuk tangan bergemuruh memekakkan telinga memenuhi seluruh penjuru ballroom hotel mewah tersebut merayakan transaksi gila itu.

Clara langsung memeluk lengan kanan Akbar tanpa sadar saking gembiranya melihat transaksi legendaris itu terjadi di bawah pengawasannya.

"Kita berhasil Mas Akbar, ini adalah rekor lelang tertinggi di cabang utama Jakarta selama lima tahun terakhir!" jerit Clara tertahan bercampur bahagia.

Akbar hanya tersenyum tipis dan melepaskan pelukan tangan Clara dari lengannya dengan gerakan yang sangat sopan namun tegas.

"Itu karena barangnya memang berhak mendapatkan harga segitu Clara, tidak ada yang perlu dilebih-lebihkan," balas Akbar sok rendah hati padahal jantungnya sedang disko ria di dalam dada.

Setelah acara lelang resmi ditutup, para petugas langsung mengarahkan pemenang dan penjual ke ruangan administrasi tertutup di belakang panggung.

Tuan Hartono si pemenang lelang langsung mentransfer uang tunai tersebut ke rekening bank perusahaan balai lelang lewat ponselnya.

Setelah dipotong pajak dan komisi balai lelang sebesar sepuluh persen, Clara mengurus surat pencairan dana langsung ke rekening pribadi Akbar malam itu juga.

"Total bersih yang masuk ke rekening Mas Akbar malam ini adalah dua miliar dua ratus lima puluh juta rupiah," ucap Clara sambil menyerahkan struk bukti transfer bank bertinta biru.

Akbar menerima kertas kecil itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya dengan gerakan santai seolah hanya menerima uang kembalian beli gorengan.

Ting.

Notifikasi SMS dari bank di ponsel retaknya berbunyi mengonfirmasi masuknya dana gila tersebut ke dalam saldo tabungannya.

Kini, uang tabungan si pemuda mantan pemulung ini telah resmi menembus angka dua miliar rupiah lebih dalam waktu kurang dari dua hari saja.

[Pemberitahuan Sistem: Misi Meraup Kekayaan Kelas Atas berhasil diselesaikan dengan hasil sangat mutlak!]

[Selamat! Status finansial Tuan telah berubah secara resmi dari golongan miskin ekstrem menjadi miliarder muda Indonesia.]

[Sistem memberikan penghargaan sebesar 100 Poin Hoki.]

[Fitur Baru Terbuka: Toko Sistem Kelas Perak kini bisa diakses secara bebas oleh Host mulai sekarang.]

Mata Akbar berbinar terang membaca rentetan kabar gembira yang melayang di depan matanya itu.

Malam ini adalah malam penebusan dendam bagi lima tahun hidupnya yang dihina habis-habisan karena kemiskinan di kampung halamannya.

Saat Akbar berjalan keluar dari ruang administrasi kembali menuju lobi hotel, Reyhan sengaja mencegatnya di depan pintu lift.

Wajah anak bos properti itu terlihat sangat pucat, kusam, dan putus asa.

"Heh gembel, beritahu aku rahasianya, bagaimana caramu bisa berteman dengan bos Hartono sampai bisa menitipkan barang mahal begitu padanya?" tanya Reyhan masih tidak percaya kalau mangkok itu asli milik Akbar.

Akbar berhenti melangkah dan menatap Reyhan dengan pandangan merendahkan dari ujung rambut sampai ke ujung sepatu mahalnya.

"Rahasia? Tidak ada rahasia apa-apa Reyhan yang malang," jawab Akbar dengan senyum mengejek yang sangat tajam.

"Mangkok dua setengah miliar itu murni milik pribadiku yang kubeli pakai uang recehan di pasar loak kumuh pinggiran Jakarta pagi ini."

"Dan tebak apa? Berkat mangkok itu, sekarang jumlah uang tunai di rekeningku jauh lebih banyak dari total harga dirimu dan jam tangan emas palsumu itu digabungkan."

Akbar melangkah masuk ke dalam lift yang sudah terbuka, meninggalkan Reyhan yang mematung kaku dengan mulut menganga lebar di lorong hotel.

Pintu lift perlahan menutup, memutus pandangan Reyhan dari sosok pemuda yang baru saja menghancurkan kesombongan absolutnya malam ini tanpa ampun.

Akbar menatap pantulan dirinya di dinding lift kaca yang sedang bergerak turun perlahan menuju lantai dasar lobi.

"Uang dua miliar sudah di tangan, poin hoki juga sudah terisi penuh lagi," gumam Akbar tertawa pelan penuh kepuasan membayangkan rencananya.

"Besok pagi, aku akan berkendara kembali ke kampung halaman untuk membeli sebagian besar tanah desa mereka."

"Biar kulihat bagaimana ekspresi wajah warga kampung saat tahu mantan anak pembawa sial mereka sekarang pulang sebagai tuan tanah baru yang berkuasa penuh."

Rencana Akbar ke depannya sudah tersusun sangat rapi dan brilian di dalam otaknya yang jenius berkat dukungan penuh sistem.

Dominasi Akbar di dunia nyata baru saja menyelesaikan pemanasan awalnya di ibu kota malam ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!