Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 32: Terjebak di Ujung Pagi
...MENGULANG LUKA...
...Bab 32: Terjebak di Ujung Pagi...
Cahaya matahari pagi menerobos masuk secara halus di sela-sela tirai kamar utama yang sedikit terbuka, menyapu kehangatan di atas tempat tidur berukuran king-size tersebut. Kilatan sinar keemasan itu membias lembut, menandai dimulainya hari baru di mansion mewah milik keluarga Edgar.
Valencia menjadi orang pertama yang terbangun dari lelapnya. Kelopak matanya berkedip pelan beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan silau tipis yang menyapa wajahnya. Namun, begitu kesadarannya terkumpul secara utuh, Valencia mendadak membeku di tempat. Tubuhnya terasa terkunci rapat, tak sanggup bergerak walau hanya satu inci pun dari posisinya semula.
Sebuah lengan tegap milik Julian masih melingkar protektif di atas pinggangnya. Pria bertubuh tinggi besar itu menempel ketat dari arah belakang, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Valencia. Hembusan napas hangat dan teratur dari sang suami terasa mengelus permukaan kulit leher Valencia, menyalurkan sensasi sengatan listrik yang seketika membuat seluruh bulu kuduknya berdiri.
Desir hangat yang liar mendadak merayap naik ke dada Valencia, membuat detak jantungnya langsung berpacu tak beraturan—persis seperti apa yang terjadi semalam.
Kenapa aku bisa tertidur selelap ini di dalam pelukannya?! jerit Valencia dalam hati, panik luar biasa. Niat awalnya untuk membentengi diri dan menjaga jarak runtuh total hanya gara-gara dekapan hangat yang membuainya sepanjang malam.
Merasa bahaya mulai mengintai akal sehatnya, Valencia mencoba memberontak secara halus untuk melepaskan diri dari kungkungan itu. Jemari tangannya bergerak pelan memegang pergelangan tangan kekar Julian yang bertengger di pinggangnya. Dia berniat menggeser beban berat itu secara hati-hati tanpa perlu membangunkan si pemilik tubuh.
Namun, tepat saat Valencia sedikit menggerakkan pinggulnya demi melonggarkan himpitan dari belakang, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang keras mengganjal pas di bagian belakang tubuhnya.
Seluruh persendian Valencia seketika kaku. Kesadarannya tersentak penuh sewaktu menyadari dengan amat jelas benda keras apa yang tengah menekan punggung bawahnya di balik celana piyama tipis mereka. Pipinya langsung membara memanas seketika. Reaksi biologis suaminya di pagi hari itu memicu gelombang kepanikan baru yang jauh lebih besar.
"Jangan terus bergerak..." gumam Julian dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Nada bicaranya terdengar amat berat, dalam, dan penuh dengan usaha keras menahan gejolak naluriah di ceruk leher istrinya.
Valencia yang diserang rasa panik luar biasa berniat memutar tubuhnya demi mendorong dada Julian menjauh. Namun, saat Valencia hendak berbalik, tangan Julian dengan cepat menahan bahunya dari belakang, menghentikan pergerakan wanita itu sepenuhnya.
"Aku bilang diam... jangan banyak bergerak," potong Julian lagi. Suaranya kali ini terdengar jauh lebih ketat, sarat akan tahanan emosi dan kontrol diri yang nyaris patah.
Tanpa menunggu balasan atau protes dari Valencia, Julian langsung menarik tubuhnya ke belakang secara mendadak. Pelukannya terlepas seketika, membuat kasur di belakang Valencia terasa mengendur dan dingin. Pria itu menggeser tubuh besarnya membelakangi Valencia, menundukkan kepala seraya mengusap wajahnya yang gusar beberapa kali.
"Jangan menengok" gumam Julian cepat, berusaha keras menutupi rasa salah tingkah dan gejolak yang masih menegang di dalam dirinya.
Dengan langkah yang sedikit kaku dan terburu-buru, pria bertubuh tegap itu beranjak dari kasur lalu melangkah lebar memasuki kamar mandi utama. Suara pintu kayu yang tertutup rapat bersahut-sahutan dengan bunyi gemercik air shower yang mendadak menyala kencang di dalam sana.
Valencia tersisa terduduk kaku di atas tempat tidur yang kini terasa hampa. Otaknya benar-benar mati rasa oleh rasa malu yang memuncak. Wanita itu menangkup kedua pipinya yang sudah memerah padam dan terasa panas membakar, mengutuki situasi canggung tak terduga yang kian membuat batas-batas dingin di antara mereka semakin kabur dan buram.