"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Mobil sedan hitam itu dihantamkan ke lantai garasi dengan pengereman mendadak yang menimbulkan suara decitan ban yang nyaring. Bayu membanting pintu mobilnya hingga berguncang hebat. Wajahnya menggelap, matanya merah karena dendam, dan rahangnya mengeras rapat. Kekalahan menyakitkan di pelataran minimarket tadi dipermalukan warga sekitar, dihadang pria asing berwibawa, serta penolakan mentah-mentah dari Maya masih membakar setiap inci saraf di kepalanya.
Ia melangkah masuk ke dalam rumah dengan hentakan kaki yang berat. Rumah yang dulu terasa hangat saat Maya masih ada, kini bagaikan neraka kecil tempat kepalanya disesaki parasit yang hanya bisa menuntut.
Saat menjejakkan kaki di ruang tamu, pandangan Bayu langsung tertuju pada meja makan kecil yang menyatu dengan area tengah. Di sana, Rika dan Fery sedang duduk santai dengan tawa terbahak-bahak. Mereka menikmati sepiring besar lauk-pauk mewah yang dipesan secara online, lengkap dengan berbagai camilan dan es teh manis. Tidak ada raut merasa bersalah atau berniat mencari kerja sedikit pun seperti yang diancamkan Bayu tadi pagi. Bagi mereka, bentakan Bayu di pagi hari hanyalah amukan sesaat yang akan menguap begitu saja.
Ibu Sumiati duduk di sofa tak jauh dari sana, mengipas-ngipas tubuhnya sambil tersenyum melihat keakraban putri dan menantunya.
Satu detik setelah Bayu mengamati pemandangan itu, batas kesabarannya runtuh sepenuhnya.
PRAK!
Bayu menendang kursi kosong di sebelah meja makan hingga terlempar dan menghantam dinding. Rika menjerit kaget, Fery tersedak makanan yang sedang dikunyahnya, sementara Ibu Sumiati langsung melonjak berdiri dari sofa dengan wajah tegang.
"Mas Bayu?! Apa-apaan sih ini?!" jerit Rika sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Datang-datang malah main tendang barang! Mas punya masalah sama Mbak Maya, jangan dilampiaskan ke kami dong!"
"Cukup, Rika!" bentak Bayu dengan suara menggelegar yang membuat seisi rumah seketika hening mencekam. Bayu melangkah mendekat ke meja makan, menatap makanan berlimpah di atas meja dengan pandangan penuh jijik.
"Uang dari siapa yang kalian pakai buat beli semua makanan enak ini, hah?!" tanya Bayu dengan nada menekan, jarinya menunjuk tepat ke wajah Fery yang mendadak pucat pasi.
Fery menelan ludah dengan susah payah, berusaha menyembunyikan rasa takut di balik muka tebalnya. "Ya... ya pakai uang rumah tangga, Mas. Ibu yang belikan."
"Uang rumah tangga?" Bayu tertawa sinis, tawa yang terdengar mengerikan dan penuh kegilaan. "Itu uangku! Uang hasil keringatku yang setiap bulan aku kirimkan ke Ibu! Dan kalian berdua... dengan santainya menikmati uang itu tanpa sedikit pun merasa malu?"
Ibu Sumiati melangkah maju, berusaha membela putri kesayangannya. "Bayu! Jaga bicaramu! Kamu ini kenapa pulangnya malah marah-marah tak jelas? Mana Maya? Kamu berhasil bawa dia pulang tidak? Jangan cuma bisa melampiaskan kekesalanmu di rumah!"
Pertanyaan sang ibu seolah meneteskan cuka di atas luka terbuka ego Bayu. Bayu menoleh cepat ke arah ibunya, menatap wanita yang melahirkannya itu dengan pandangan dingin yang belum pernah Ibu Sumiati lihat sebelumnya.
"Maya tidak akan pulang, Bu," ucap Bayu, suaranya mendadak berubah menjadi lirih namun sarat akan ancaman. "Dan tahukah Ibu kenapa? Karena dia sekarang dilindungi oleh orang lain. Pria yang jauh lebih kaya, jauh lebih terpandang, dan jauh lebih kuat dari anak Ibu ini. Semua karena kalian! Karena rumah ini sudah seperti neraka buat dia!"
Rika memutar matanya dengan malas, mencoba menyela. "Ah, alibi saja itu, Mas. Paling Mbak Maya yang memang dasarnya gatal dan mau"
Brak!
Bayu menggebrak meja makan begitu keras hingga piring-piring di atasnya meloncat. "DIAM KAMU, RIKA!"
Rika terperanjat mundur, merapatkan tubuhnya ke lengan Fery yang juga sama gemetarnya.
"Dengar kalian berdua," kata Bayu dengan napas memburu, matanya menatap tajam Rika dan Fery bergantian. "Kalian bilang Maya tidak tahu diri? Kalian bilang Maya parasit? Salah! Parasit yang sebenarnya di rumah ini adalah kalian berdua! Fery, kamu laki-laki! Punya tangan, punya kaki, tapi cuma bisa numpang tidur dan makan dari uangku! Rika, kamu adikku, tapi jangankan bantu urus rumah, kamu cuma bisa memanasi keadaan!"
"Bayu! Keterlaluan kamu memaki adikmu sendiri di depan suaminya!" potong Ibu Sumiati dengan nada tinggi, mencoba mengembalikan otoritasnya sebagai orang tua. "Uang yang kamu berikan ke Ibu itu hak Ibu! Terserah Ibu mau pakai buat kasih makan Rika dan Fery atau buat apa!"
Bayu menatap ibunya dengan tatapan datar, penuh kekecewaan yang tertahan. Seringai tipis yang dingin terukir di bibirnya.
"Kalau begitu, mulai bulan depan, tidak ada lagi transferan uang dari gaji saya ke rekening Ibu," kata Bayu tegas, setiap kata diucapkannya dengan perlahan dan penuh penekanan.
Seketika itu juga, suasana ruang tamu terasa membeku. Ibu Sumiati terbelalak lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut putra kebanggaannya.
"Apa kamu bilang, Bayu?!" suara Ibu Sumiati bergetar hebat karena kaget dan marah. "Kamu mau durhaka sama Ibu? Kamu mau memotong nafkah buat ibumu sendiri?!"
"Bayu tidak memotong nafkah Ibu," jawab Bayu tenang namun membenteng. "Gaji Bayu bulan depan dan seterusnya akan Bayu kelola sendiri sepenuhnya. Bayu yang akan belanja kebutuhan dapur, Bayu yang akan bayar listrik, air, dan semua tagihan rumah ini secara langsung."
Bayu melirik sinis ke arah Rika dan Fery yang terpaku. "Bayu lakukan ini supaya para parasit di rumah ini tahu diri! Tidak akan ada lagi uang jajan gratis, tidak ada lagi makanan mewah hasil kiriman online, dan tidak ada lagi kemewahan dari uang keringat Bayu yang dinikmati oleh orang malas!"
"Mas Bayu! Mas tidak bisa seenaknya begini!" protest Rika dengan raut wajah kepanikan. "Fery kan masih cari kerja! Kenapa Mas jadi tega begini sama saudara sendiri?!"
"Cari kerja?" Bayu tertawa mengejek. "Sudah berapa bulan alasan itu kamu pakai, Rika? Kalau sampai minggu depan Fery tidak angkat kaki dari rumah ini untuk cari kerja atau pulang ke rumah orang tuanya sendiri, aku sendiri yang akan lempar semua barang-barang kalian keluar dari pintu depan!"
Fery mengepalkan tangannya di bawah meja, merasa sangat dipermalukan, namun nyalinya ciut sepenuhnya untuk membalas ucapan Bayu yang sedang kalap.
"Bayu! Ibu tidak izinkan kamu bertindak sewenang-wenang seperti ini!" tegas Ibu Sumiati dengan wajah memerah. "Ibu yang membesarkan kamu! Kamu tidak boleh memperlakukan Ibu dan adikmu seperti ini hanya karena kamu ditinggal oleh perempuan tidak berguna itu!"
Bayu memejamkan matanya sejenak, menarik napas panjang untuk menahan ledakan emosi yang lebih besar. Saat matanya kembali terbuka, yang tersisa hanyalah keputusan mutlak yang tak bisa diganggu gugat.
"Terserah Ibu mau bilang apa," ujar Bayu dingin. "Keputusan Bayu sudah bulat. Kalau Ibu mau menyalahkan seseorang atas perubahan ini, salahkan diri Ibu sendiri dan salahkan dua orang malas di sebelah Ibu itu. Karena selama ini, Bayu sudah terlalu bodoh membiarkan kalian memanfaatkan Bayu."
Tanpa memedulikan teriakan dipenuhi amarah dari ibunya dan tangisan histeris Rika yang kehilangan sumber keuangannya, Bayu berbalik arah. Ia melangkah menuju kamarnya di lantai atas dan membanting pintunya rapat-rapat, memutus seluruh akses interaksi dengan seisi rumah.
Di dalam kamar yang sepi dan gelap, Bayu melucuti jaket kulitnya dan melemparkannya ke sembarang tempat. Ia mengusap wajahnya yang terasa panas dengan kedua tangan.
Keuangan rumah tangga yang kini dipangkasnya adalah langkah awal untuk merebut kembali kendali atas hidupnya yang berantakan. Namun di balik dinding ketegasan itu, bayangan Maya dan pria berkharisma di minimarket tadi kembali berputar di pikirannya bagaikan mimpi buruk.
Ia duduk di tepi tempat tidur, mengambil ponselnya yang ada di saku, lalu membuka aplikasi pesan. Jemarinya menari di atas layar, mengetikkan satu nama pengacara yang pernah ia kenal.
"Aku tidak akan biarkan kamu menang begitu saja, Maya," batin Bayu dengan tatapan penuh dendam yang terpancar di dalam kegelapan kamar. Kalau aku harus hancur, maka kamu juga tidak boleh hidup tenang dengan pria itu.