Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.
Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.
Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 BENANG MERAH YANG TERPUTUS
Malam yang semula tenang di ibu kota mendadak berubah mencekam. Angin malam musim gugur bertiup lebih kencang, menggoyangkan lampion-lampion yang tersisa hingga cahayanya berkedip-kedip gelisah di atas tanah.
Di balkon Paviliun Rembulan, keheningan yang berat menyelimuti Gu Rulan dan Long Junwei. Informasi bahwa Shen Meili berhasil kabur dan mengetahui identitas aslinya bagaikan belati yang siap menghujam jantung rencana mereka.
"Bagaimana bisa dia tahu?" desis Rulan, jemarinya mencengkeram pembatas kayu hingga buku jarinya memutih. Matanya yang biasa tenang kini memancarkan kilat ketegangan yang pekat. "Seluruh jejak masa laluku di Paviliun Anggrek telah dihapus. Seseorang di dalam istana pasti telah membantunya."
Long Junwei tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, berdiri tepat di samping Rulan, menatap ke arah kegelapan kota tempat kediaman Jenderal Li berada. Wajahnya yang tegas tampak mengeras, sedingin pahatan es di puncak gunung.
"Faksi Perdana Menteri telah berakar selama puluhan tahun di istana ini, Rulan," ucap Junwei, suara baritonnya terdengar rendah namun berwibawa. "Mereka memiliki mata dan telinga di setiap sudut.
Menjatuhkan Meili ke Istana Dingin justru membuat mereka menggunakan kartu as yang selama ini mereka simpan. Ini bukan lagi sekadar masalah cemburu buta seorang putri, ini adalah perang faksi."
"Jika Li Feng memercayainya, seluruh pasukan kavaleri di Lembah Tengkorak tidak akan pernah berangkat," Rulan membalikkan tubuhnya, menatap Junwei dengan tatapan menuntut. "Dia akan membalikkan pasukannya untuk mengepung kediaman ini. Kita harus bergerak sebelum Meili mencapai gerbang kediaman Li!"
"Mo Reng!" perintah Junwei tanpa menoleh.
"Hamba berada di sini, Yang Mulia," sesosok bayangan hitam melompat turun dari atap paviliun, berlutut dengan satu kaki di hadapan mereka.
"Kerahkan seluruh Pasukan Bayangan yang tersisa di ibu kota. Cegat setiap kereta atau penunggang kuda yang menuju kediaman Jenderal Li dari arah Istana Dingin.
Jika kau menemukan Shen Meili... bawa kepalanya kepadaku," ucap Junwei dengan nada datar tanpa emosi, seolah-olah memerintahkan pemotongan rumput liar.
"Baik, Yang Mulia!" Mo Reng menghilang kembali ke dalam kegelapan dalam sekejap mata.
Rulan menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
Topeng ketenangannya yang sempat retak perlahan menyatu kembali. Ia beralih menatap belati perak di lengan bajunya. "Aku tidak bisa hanya diam di sini menunggu laporan. Jika Li Feng mulai curiga, aku harus berada di sana untuk memastikan keserakahannya tetap membutakan logikanya."
Junwei menahan pundak Rulan, cengkeraman tangannya yang kokoh memberikan kehangatan sekaligus tekanan yang tidak bisa dibantah. "Kau adalah umpan utamanya, Rulan. Jika kau pergi ke kediaman Li sekarang sementara Meili sudah berada di sana, kau hanya akan berjalan masuk ke dalam sarang serigala. Tetaplah di sini bersama Xiaoyu. Aku yang akan pergi ke kediaman Li."
Rulan menatap mata elang pria di hadapannya. "Mengapa Anda begitu peduli pada keselamatan umpan Anda, Yang Mulia? Bukankah Anda mengatakan aku hanyalah senjata?"
Junwei menundukkan wajahnya, ia mendekat hingga napasnya yang hangat menerpa kening Rulan. "Aku sudah mengatakannya semalam, teratai kecilku. Senjata bisa diganti, namun sekutu yang bisa menggetarkan hatiku hanya ada satu.
Istana Han boleh runtuh, tapi kau harus tetap hidup untuk menyaksikannya bersamaku."
Sebelum Rulan sempat merespons perkataan yang sarat akan dominasi itu, Junwei sudah berbalik. Jubah hitam bersulam naga peraknya berkibar megah saat ia melompati pagar balkon, menghilang ke dalam kegelapan malam seperti asap yang tertiup angin.
Sementara itu, di dalam aula utama kediaman Jenderal Li, lilin-lilin besar menyala terang. Li Feng berdiri di depan sebuah peta militer besar, mengamati rute Lembah Tengkorak yang baru saja ia dapatkan dari Gu Rulan.
Senyum kepuasan belum lepas dari wajahnya yang gagah. Di bawah perintahnya, lima ribu prajurit kavaleri terbaiknya sedang mengemas barang-barang mereka di barak, siap berangkat saat fajar menyingsing.
“Dengan kekuatan ini, gelar Panglima Tertinggi akan segera berada di tanganku,” pikir Li Feng dengan ambisi yang membakar dada.
Brak!
Pintu aula utama tiba-tiba didobrak dari luar. Beberapa pengawal pribadi Li Feng terlempar masuk ke dalam ruangan dengan tubuh yang dipenuhi luka memar.
Li Feng tersentak, tangannya langsung menghunus pedang di pinggangnya. "Siapa yang berani membuat kekacauan di kediaman Jenderal?!"
Sesosok wanita dengan pakaian yang kotor dan compang-camping melangkah masuk. Rambutnya yang biasanya disanggul indah kini terurai berantakan, dipenuhi debu dan noda lumpur. Wajahnya yang pucat pasi tampak sangat kurus, namun sepasang matanya melotot lebar dengan kilat kegilaan yang mengerikan.
"Feng-ge... akhirnya... akhirnya aku berhasil menemuimu..." suara wanita itu serak, bergetar antara tangis dan tawa yang histeris.
Li Feng membelalakkan matanya, mundur selangkah karena terkejut. "Meili?! Bagaimana bisa kau berada di sini? Kau seharusnya berada di Istana Dingin!"
Wanita itu adalah Shen Meili. Ia tertawa ngeri, melangkah mendekati Li Feng tanpa memedulikan ujung pedang yang mengarah kepadanya. "Istana Dingin? Tempat terkutuk itu tidak akan bisa menahanku! Feng-ge, kau telah ditipu! Kita semua telah ditipu oleh jalang dari barat itu!"
"Cukup, Meili! Jangan mulai lagi dengan kecemburuan bodohmu!" bentak Li Feng, merasa muak melihat penampilan tunangannya yang sudah seperti orang gila. "Nona Gu Rulan adalah mitra bisnis penting bagi militer kita. Karena tindakan konyolmu di hutan bambu, pernikahan kita ditunda! Jika kau membuat masalah lagi, ayahku sendiri yang akan meminta Kaisar untuk menghapus namamu dari silsilah kekaisaran!"
"Dia bukan Gu Rulan!" teriak Meili, suaranya melengking tinggi memecah keheningan malam. Ia merogoh ke dalam jubah kotornya, mengeluarkan selembar kain sutra putih yang sudah kusam dan sebuah gulungan catatan medis tua yang ia curi dari arsip Paviliun Anggrek sebelum melarikan diri. "Lihat ini, Feng-ge! Lihat kain sulaman ini! Ini adalah sulaman teratai putih yang dibuat oleh Shen Xianle! Dan lihat bekas luka di pergelangan tangan Gu Rulan, bentuknya persis dengan catatan medis milik Xianle saat dia terjatuh di kolam waktu kecil!"
Meili melemparkan bukti-bukti itu ke atas meja giok di hadapan Li Feng. "Wanita yang kau puja, wanita yang kau mintai bantuan militer itu... dia adalah Shen Xianle! Putri cacat yang kita buang ke dasar jurang setahun lalu! Dia kembali untuk membunuh kita semua, Feng-ge!"
Jantung Li Feng rasanya berhenti berdetak sesaat. Ia menatap kain sulaman dan catatan medis di atas meja. Ingatan tentang kerlingan mata Gu Rulan yang terasa akrab, tatapan dinginnya yang tersembunyi di balik kipas, serta cara wanita itu menatapnya di Paviliun Angin Segar... semua potongan teka-teki itu mendadak menyatu di dalam kepalanya, membentuk sebuah kebenaran yang mengerikan.
"Tidak... tidak mungkin..." bisik Li Feng, wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi sepucat kain kafan. "Dia sudah mati... aku sendiri yang melihatnya jatuh ke dalam jurang..."
"Dia belum mati! Dia diselamatkan oleh seseorang, dan orang itu menggunakannya untuk menghancurkan kita!" Meili mencengkeram lengan baju Li Feng, air matanya bercampur dengan debu di pipinya. "Feng-ge, batalkan keberangkatan pasukan ke Lembah Tengkorak!
Itu adalah perangkap! Pimpin pasukanmu sekarang juga untuk mengepung kediaman Gu dan tebas leher jalang itu!"
Li Feng berdiri terpaku, pikirannya kacau balau. Keserakahan dan ambisinya berbenturan keras dengan rasa takut yang amat sangat. Jika Gu Rulan benar-benar Shen Xianle, maka seluruh kontrak militer dan peta rute barat yang ia pegang saat ini adalah surat kematian bagi lima ribu pasukan terbaiknya.
Tepat pada saat kritis itu, suara tawa rendah yang dingin terdengar dari arah langit-langit aula yang gelap.
"Sebuah deduksi yang sangat mengesankan untuk seorang putri yang sedang membusuk di Istana Dingin," ucap sebuah suara berwibawa yang membuat bulu kuduk Li Feng berdiri.
Dari balik bayang-bayang pilar atas, Long Junwei melompat turun dengan sangat anggun, mendarat tepat di antara Li Feng dan Shen Meili. Sebilah pedang kuno di genggamannya mulai memancarkan pendaran cahaya biru keperakan yang mistis, menerangi aula utama dengan aura kematian yang pekat.
"Long... Long Junwei?!" Li Feng berseru panik, langsung memasang kuda-kuda bertarung.
"Berani-beraninya kau menyusup ke kediamanku! Jadi... kau adalah dalang di balik semua ini?!"
Junwei tidak menjawab. Ia hanya menatap Li Feng dengan pandangan meremehkan, lalu beralih menatap Shen Meili. "Sayang sekali, Putri Ketiga. Kau tahu terlalu banyak, namun bergerak terlalu lambat."
Sret!
Tanpa peringatan, Junwei menggerakkan pedangnya dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata biasa. Cahaya biru keperakan memotong udara malam.
"Feng-ge..." suara Meili mendadak terputus. Matanya membelalak lebar menatap Li Feng, sebelum akhirnya tubuhnya tumbang ke lantai dengan darah segar yang mulai mengalir mengotori karpet sutra aula. Putri Ketiga Kekaisaran Han telah tewas di tangan sang Pangeran Bayangan sebelum sempat menyelesaikan kalimat peringatannya.
"Meili!" teriak Li Feng, ngeri melihat eksekusi yang begitu cepat di depan matanya. Ia langsung mengayunkan pedangnya, menyerang Junwei dengan seluruh kekuatan militernya. "Kau dan jalang itu... aku akan membunuh kalian semua!"
Dentingan nyaring besi yang saling beradu bergemas dahsyat di dalam aula. Pertarungan antara sang Jenderal Muda dan Pangeran Bayangan pecah dengan sengit, sementara di luar kediaman, suara terompet darurat militer mulai ditiup oleh para pengawal keluarga Li yang menyadari adanya penyusup.
Di sisi lain kota, di dalam Paviliun Rembulan, Rulan berdiri tegak menatap ke arah kediaman Li yang kini mulai diterangi oleh kobaran api yang membubung ke langit. Suara gaduh pasukan militer terdengar sayup-sayup dari kejauhan.
Xiaoyu berlari masuk dengan wajah panik. "Nona! Seluruh pasukan kavaleri di barak keluarga Li telah digerakkan! Mereka tidak pergi ke barat, melainkan sedang mengepung wilayah kediaman kita atas perintah wakil jenderal Li! Rahasia kita telah terbongkar sepenuhnya!"
Rulan menatap belati perak di tangannya, lalu beralih menatap kobaran api di kejauhan. Identitasnya telah runtuh, musuh-musuhnya kini telah mengetahui siapa dia sesungguhnya, dan sekutu terbesarnya Long Junwei saat ini sedang terjebak di dalam pusat sarang musuh.
Bunga teratai hitam yang ia tanam dengan penuh intrik kini telah memicu badai api yang siap membakar dirinya sendiri. Namun, alih-alih takut, sebuah tawa dingin yang penuh kegilaan justru lolos dari bibir Rulan.
"Mari kita lihat... siapa yang akan hangus terbakar di dalam neraka ini," bisik Rulan, sebelum melompat keluar jendela paviliun, melesat menembus malam yang dipenuhi kepulan asap dan dentingan senjata yang kian mendekat.