Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Opsi Jawaban Tercepat

​Tulisan melayang di udara yang hanya bisa kulihat berubah warna menjadi merah berkedip, memberiku peringatan bahwa waktu tersisa lima menit lagi.

​Sepatu kasuralku yang basah kuyup menginjak genangan air di trotoar dengan kasar. Cipratan kotor mengenai ujung celana kain hitamku, namun aku tidak memedulikannya sama sekali.

​Langkah kakiku terus berpacu melewati kerumunan pejalan kaki di kawasan distrik bisnis. Hujan mengguyur pakaianku tanpa henti, membasahi kemeja putih murahanku hingga nyaris transparan.

​Pandanganku terfokus lurus ke depan, tepat pada sebuah bangunan pencakar langit berlapis kaca gelap yang menjulang angkuh menembus awan. Gedung Vanguard Corp.

​Teks merah itu bergeser ke sudut kanan mataku, menampilkan angka digital yang terus menghitung mundur tanpa ampun.

​[Jarak menuju target: 300 meter. Estimasi waktu kedatangan dengan kecepatan lari saat ini: 3 Menit 12 Detik.]

​Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat untuk mengalihkan rasa sakit yang meremas otot betisku. Sisa-sisa sengatan listrik semalam masih meninggalkan nyeri tumpul di setiap persendian tulangku.

​Aku mengabaikan rasa sakit itu. Nyawa Ibuku bergantung pada langkah kakiku hari ini.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Pintu kaca otomatis lobi utama Vanguard Corp bergeser membuka. Aku melangkah masuk, meninggalkan jejak air yang berantakan di atas lantai pualam mengkilap yang mencerminkan bayanganku sendiri.

​Beberapa karyawan berjas rapi menoleh ke arahku dengan tatapan menilai. Penampilanku yang basah kuyup dan berantakan jelas tidak pantas berada di gedung korporat raksasa ini.

​Seorang wanita penjaga meja resepsionis berpakaian seragam ketat melangkah keluar dari balik mejanya, mengangkat tangan untuk menghentikan langkahku.

​"Maaf, Nona. Area ini khusus karyawan dan tamu VIP terjadwal. Anda tidak bisa masuk dengan kondisi seperti itu," ucap resepsionis itu dengan nada merendahkan, matanya menyapu pakaian basahku.

​Aku membuka mulut untuk membela diri, namun antarmuka hijau menyala mendadak menutupi wajah wanita itu dalam pandanganku.

​[Analisis Subjek: Resepsionis. Tugas Utama: Menyaring pengunjung tanpa identitas. Saran Tindakan: Abaikan konfrontasi verbal. Tunjukkan kode QR undangan wawancara langsung ke pemindai di pintu putar.]

​Aku menutup mulutku rapat-rapat. Tanpa membuang waktu sedetik pun berdebat dengan wanita itu, aku merogoh ponsel dari saku celanaku dan setengah berlari menuju gerbang keamanan elektronik.

​Layar ponselku menampilkan kode batang surat undangan. Aku menempelkannya ke panel kaca pemindai.

​Bunyi bip bernada tinggi terdengar, disusul pintu putar elektronik yang terbuka otomatis untukku.

​Aku melesat masuk menuju deretan lift utama, meninggalkan resepsionis itu berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka di belakang palang keamanan.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Pintu lift berdenting terbuka di lantai lima puluh. Ruang tunggu departemen sumber daya manusia membentang luas di hadapanku.

​Teks di sudut mataku berhenti berkedip, berubah menjadi warna hijau stabil.

​[Tujuan Tercapai. Sisa Waktu Wawancara: 00:45 Detik.]

​Aku mengatur napas yang tersenggal, merapikan rambut basahku dengan jari seadanya, dan melangkah masuk.

​Sebuah pintu ganda dari kayu mahoni berukir terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu mahal berdiri di ambang pintu, memegang sebuah map berkas di tangannya.

​Namanya Dorko. Papan nama logam kecil tersemat di dada kirinya, menegaskan posisinya sebagai Kepala HRD Vanguard Corp.

​Mata kecil pria itu memicing di balik kacamata bacanya, menelusuri penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Garis wajahnya menegang, menampilkan gurat ketidaksukaan yang sangat jelas.

​"Tera?" panggilnya dengan nada suara berat yang sarat akan keraguan.

​"Benar, Pak. Saya Tera," jawabku lugas sembari melangkah maju mendekatinya.

​Dorko mendengus pelan, nyaris tak terdengar. Ia berbalik membelakangiku dan memberikan isyarat tangan yang meremehkan. "Masuk. Waktu saya tidak banyak untuk mengurus kandidat kualifikasi rendah."

​Aku mengepalkan tangan di sisi tubuh, menelan harga diriku bulat-bulat, lalu melangkah masuk mengikutinya ke dalam ruang wawancara yang luas dan sunyi.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Dorko melempar map berisi riwayat hidupku ke atas meja kaca panjang pembatas kami. Tumpukan kertas itu bergeser tak beraturan.

​Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, melipat kedua lengan di depan dada dengan postur arogan.

​"Saya sudah membaca berkas Anda berulang kali, dan saya masih tidak mengerti mengapa sistem penyaringan otomatis kami bisa meloloskan Anda ke tahap akhir ini," Dorko memulai serangannya tanpa basa-basi.

​Aku duduk tegak di seberangnya, menatap lurus ke mata pria itu. "Saya memenuhi semua kriteria analisis data yang dicantumkan dalam syarat perekrutan, Pak."

​"Kriteria di atas kertas tidak membuktikan apa-apa," potong Dorko cepat. Jari telunjuknya mengetuk kasar sampul riwayat hidupku. "Anda lulusan universitas swasta pinggiran yang tidak masuk dalam daftar seratus peringkat nasional. Pengalaman kerja Anda? Hanya staf administrasi rendahan di sebuah perusahaan ritel kecil yang bahkan nyaris bangkrut."

​Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menekan mental dan kepercayaan diriku.

​"Posisi yang Anda lamar ini adalah Asisten Khusus CEO. Posisi ini menangani data rahasia bernilai triliunan. Apa yang membuat Anda berpikir, seorang wanita dari latar belakang kumuh tanpa pengalaman korporat elit, pantas duduk di lantai tertinggi gedung ini?"

​Aku merasakan jantungku berdegup kencang menahan amarah. Pertanyaan itu dirancang khusus untuk menghancurkan pertahananku.

​Sebelum aku sempat merangkai kalimat pembelaan, sistem di dalam otakku mengambil alih.

​Garis-garis cahaya memindai wajah Dorko, membaca setiap kerutan kecil di sudut mata dan gerakan otot rahangnya.

​[Memindai Mikro Ekspresi Subjek: Dorko.]

[Status Emosi: Superioritas, Manipulatif, Meremehkan.]

[Analisis Taktik: Subjek menggunakan tekanan psikologis untuk menguji ketahanan mental dan mencari titik lemah kandidat.]

​Rentetan teks hijau bermunculan menjabarkan profil Dorko secara detail di hadapanku. Pria ini sangat membenci jawaban klise yang emosional. Ia hanya tunduk pada efisiensi dan angka.

​[Menyusun Opsi Respons Berbasis Analisis Profil Subjek.]

​Tiga buah kotak holografik melayang sejajar di depan mataku, menyajikan opsi jawaban beserta tingkat keberhasilannya.

​[Opsi A: Memohon kesempatan dengan argumen kerja keras. (Tingkat Keberhasilan: 12%)]

[Opsi B: Menyerang balik dengan sikap defensif. (Tingkat Keberhasilan: 5%)]

[Opsi C: Konfrontasi Logis Berbasis Data Kegagalan Perusahaan. (Tingkat Keberhasilan: 98%)]

​Aku tidak ragu sedikit pun. Mataku mengunci opsi ketiga, dan sistem langsung membentangkan skrip percakapan lengkap beserta data referensi di sudut retinaku.

​Aku menarik napas panjang, mengubah raut wajahku menjadi topeng ketenangan absolut.

​"Anda benar, Pak Dorko. Saya berasal dari perusahaan ritel kecil yang nyaris bangkrut," ujarku dengan volume suara yang sangat stabil, memecah kesunyian ruangan.

​Dorko mengangkat satu alisnya, bersiap mencibir.

​"Namun, justru dari sana saya belajar sesuatu yang tidak diajarkan di universitas elit mana pun. Saya belajar bertahan hidup di tengah krisis likuiditas," lanjutku cepat, memotong kesempatan pria itu untuk menyela.

​Aku menatap lurus ke arahnya, membaca baris data yang disuplai sistem tepat di samping wajahnya.

​"Enam bulan lalu, Vanguard Corp mengakuisisi jaringan ritel lokal, MegaMart, dengan nilai fantastis. Lulusan elit dari universitas top yang Anda banggakan itu menyusun proyeksi keuntungan sebesar dua puluh persen di kuartal pertama."

​Raut wajah meremehkan Dorko perlahan memudar. Otot rahangnya menegang kaku.

​"Faktanya, akuisisi itu membebani arus kas Vanguard sebesar lima belas persen karena tim elit Anda gagal memprediksi anomali rantai pasok di pasar bawah," ucapku tanpa ragu, menyebutkan angka-angka rahasia yang bahkan tidak pernah dirilis ke publik secara resmi. Sistem A.U.R.A berhasil menggali informasi itu entah dari mana.

​Aku menyondongkan tubuhku ke depan, membalikkan tekanan yang ia berikan sebelumnya.

​"Universitas bergengsi mengajarkan teori keberhasilan. Latar belakang 'kumuh' saya mengajarkan cara mendeteksi kebangkrutan sebelum itu terjadi. Itulah mengapa saya pantas duduk di lantai tertinggi gedung ini. Saya menawarkan intuisi krisis yang tidak dimiliki oleh barisan akademisi manja Anda."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Keheningan mutlak mencekik ruang wawancara itu.

​Dorko tertegun tanpa kata. Mulutnya sedikit terbuka, kehabisan seluruh amunisi kesombongannya.

​Pena mahal di tangannya terlepas, jatuh menghantam meja kaca dengan bunyi nyaring. Matanya menatapku seolah aku baru saja berubah wujud menjadi alien di hadapannya.

​Ia sama sekali tidak menyangka seorang gadis malang dengan pakaian basah kuyup mampu menguliti kegagalan internal perusahaannya menggunakan data analitik tingkat tinggi secara verbal.

​Aku mempertahankan tatapan dominanku, menunggunya memberikan respons kekalahan.

​Namun, sebelum Dorko sempat mengeluarkan sepatah kata pun, suara bantingan keras memecah ketegangan.

​Pintu kayu mahoni ruangan itu mendadak terdorong buka dengan paksa hingga menghantam dinding di belakangnya.

​Gemeretak langkah kaki teratur bergema di lantai. Seorang pria jangkung melangkah masuk melewati ambang pintu.

​Setelan jas gelap menempel sempurna di tubuh tegapnya. Sorot matanya setajam belati, menyapu seluruh isi ruangan dengan dominasi absolut.

​Pria itu membawa aura dingin yang mencekam, membekukan udara dan seketika menghentikan detak jantung siapa pun yang berada di dekatnya.

​Dorko melompat dari kursinya dengan wajah sepucat kertas.

​Sakti telah tiba.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!