Indonesia
NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Bayangan di Balik Pagar Vila

Kirana menunggu sampai Rendra meninggalkan rumah sebelum mengunci pintu kamarnya.

Perutnya terasa berat. Dokter sudah meminta ia beristirahat, tetapi kabar dari Puncak membuatnya tidak bisa tidur. Sekar bukan hanya bertahan di Vila Reksonegoro. Ia berhasil mengusir Wida, mengacaukan rencana pertemuan Ratna, dan mulai mengelola Astarasa.

Selama Sekar masih berdiri, Kirana tetap hanya istri siri yang menunggu tanda tangan perempuan lain.

Yanti meletakkan ponsel sekali pakai di meja.

"Orang dari Pak Wardhani sudah mengatur pertemuan," katanya. "Tapi Mbak harus yakin. Setelah uang dikirim, kita tidak bisa membatalkan."

Kirana mengusap perut. "Aku hanya ingin dia berhenti mengganggu hidup anakku."

"Maksud Mbak, menakutinya?"

Kirana menatap Yanti. "Aku bilang, buat dia tidak pernah kembali."

Malam itu Yanti pergi ke sebuah kafe kecil yang tidak memakai kamera di area belakang. Kirana mengikuti melalui panggilan suara yang disembunyikan di dalam tas.

Perempuan yang duduk di meja sudut memperkenalkan diri sebagai Yulia. Rambutnya diikat rendah, jaketnya polos, dan tidak ada ciri yang mudah diingat.

"Target tinggal di vila dengan petugas keamanan," kata Yanti. "Jangan membuat keributan yang mengarah kepada kami."

"Kecelakaan di jalan gunung sering terjadi," jawab Yulia.

"Berapa lama?"

"Saya perlu melihat kebiasaannya. Bayaran pertama malam ini, sisanya setelah selesai."

Yanti mendorong amplop, tetapi Yulia tidak menyentuhnya.

"Transfer melalui rekening yang saya kirim. Jangan tulis nama atau tujuan."

Di kamar Danuwijaya, Kirana mematikan panggilan. Jarinya dingin meski pendingin udara tidak menyala.

"Semua ini demi kamu," bisiknya kepada perutnya.

Kalimat itu tidak membuat napasnya lebih ringan.

***

Tiga hari kemudian, Bening menemukan jejak ban motor di jalan tanah atas vila. Polanya sama dengan yang terlihat malam Ratna datang.

Pada pagi yang sama, sebuah akun baru mengikuti seluruh media sosial Astarasa cabang Puncak. Akun itu tidak memiliki foto, teman, atau unggahan. Namun setiap pengumuman pengiriman dilihat dalam hitungan menit.

Ningsih mencetak daftar akses dan menandai waktunya. "Orang ini lebih tertarik pada jadwal gudang daripada menu restoran."

"Hentikan unggahan jadwal langsung," kata Sekar. "Semua publikasi kegiatan ditunda sampai acara selesai."

Bening memeriksa rekaman kamera. Seorang pengendara motor muncul tiga kali dalam sepekan, selalu berganti jaket, tetapi posisi tubuh dan helmnya sama. Ia tidak pernah melewati gerbang dua kali dari arah yang sama.

"Dia menguji kamera," ujar Bening. "Pertama melihat sudut timur, lalu jalan atas, tadi malam sisi gudang."

Pak Djoyo mengusulkan Sekar pindah sementara ke hotel di Bogor. Sekar menolak setelah Bening menjelaskan perpindahan mendadak justru membuka rute baru yang belum diamankan.

"Kita tidak panik," putus Sekar. "Kita ubah kebiasaan, simpan semua rekaman, dan laporkan pola ini."

Di jalan atas, jauh dari jangkauan kamera, Yulia menghapus akun tersebut. Ia sudah mendapat informasi yang diperlukan: Sekar selalu turun sendiri ketika ada masalah pengiriman, dan lampu gudang kecil vila memiliki satu sakelar luar.

"Saya ingin menambah kamera di sisi utara," katanya kepada Sekar. "Dan mulai sekarang, jangan keluar hanya dengan satu orang."

"Malam ini ada pengiriman bahan ke gudang Astarasa. Aku harus memeriksa segel karena nomor surat jalannya berbeda."

"Saya ikut."

"Tentu. Ningsih juga ikut."

Ratna memilih tinggal bersama Pak Djoyo. Sebelum Sekar berangkat, ia menyerahkan ponsel lamanya yang pernah dipakai mengirim pesan kepada Bambang.

"Nomor tak dikenal menelepon tiga kali," katanya. "Tidak ada suara, hanya bunyi kendaraan."

Bening mencatat nomor itu. "Matikan kartu sementara. Jangan jawab pesan apa pun."

Mereka berangkat setelah pukul sembilan. Jalan menuju gudang sempit dan sebagian lampunya mati. Truk pengiriman menunggu di area bongkar, tetapi sopir membawa surat jalan dengan nomor yang tidak sama dengan sistem.

"Segel jangan dibuka," kata Sekar. "Hubungi pemasok dan cek nomor kendaraan."

Ningsih masuk ke kantor gudang untuk mengakses komputer. Bening berjalan mengelilingi truk, memeriksa bagian bawah dan kunci pintu belakang.

Sekar menerima telepon dari nomor pemasok yang tersimpan. Suaranya putus-putus sehingga ia menjauh beberapa meter mencari sinyal.

"Kami tidak mengirim truk malam ini, Bu," kata petugas di seberang. "Jadwalnya besok pagi."

Sekar berhenti.

"Ulangi."

"Tidak ada pengiriman dari kami malam ini."

Ia menoleh ke arah gudang. Sopir truk sudah tidak berada di kabin.

"Bening!"

Suara logam jatuh dari sisi belakang. Bening berlari ke sana, tetapi seorang pria tiba-tiba keluar dari balik truk dan melempar kotak ke arah berlawanan. Bening mengejarnya beberapa langkah sebelum menyadari itu pengalih perhatian.

"Bu Sekar, masuk kantor!"

Sekar mundur. Ponselnya kehilangan sinyal. Lampu area bongkar mati serentak.

Ningsih memanggil dari dalam gedung, suaranya terhalang pintu otomatis yang mendadak terkunci.

Hanya lampu jalan redup di ujung pagar yang tersisa.

Sekar berlari ke arah kantor. Bayangan bergerak di antara pohon. Ia mengubah arah menuju pos keamanan, tetapi seseorang sudah berdiri di sana.

Seorang perempuan.

Jaket polos. Rambut terikat rendah. Wajahnya separuh tertutup masker.

"Siapa kamu?" tanya Sekar.

Perempuan itu tidak menjawab. Tangannya tetap di dalam saku jaket.

Bening muncul dari belakang truk. "Jauh dari dia!"

Perempuan tersebut mundur ke sisi pagar, lalu menghilang ke kegelapan sebelum Bening mencapai tempatnya. Beberapa detik kemudian mesin motor terdengar dari jalan atas.

Tidak ada yang terluka malam itu.

Namun truk palsu, listrik yang diputus, dan telepon pemasok yang memancing Sekar menjauh membuktikan bahwa pengawasan di jalan vila bukan kebetulan.

Bening memeriksa pagar. Di salah satu tiangnya terikat sepotong tali hitam dengan simpul khusus.

"Tanda jalur," katanya. "Seseorang sedang memetakan akses masuk dan waktu respons kita."

Sekar menatap kegelapan di luar gudang. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

"Kita lapor polisi."

"Dan malam ini kita kembali dengan pengawalan tambahan."

Mereka menyimpan surat jalan palsu, nomor truk, tali, dan rekaman kamera yang sempat menangkap siluet. Truk ditahan sampai petugas datang, tetapi sopir palsu berhasil melarikan diri melalui kebun belakang.

Dua malam setelah itu, patroli tambahan berjalan di sekitar vila. Tidak ada motor yang kembali. Sekar mulai mengira pelaku mundur karena rencananya terbongkar.

Pada malam ketiga, salah satu pendingin Astarasa bermasalah. Sekar keluar ke gudang kecil vila untuk mengecek stok obat dan bahan mudah rusak. Bening menerima telepon dari pos depan pada saat yang sama. Ningsih berada di ruang kerja.

Jarak antara teras dan gudang hanya dua puluh meter.

Sekar tidak melihat bayangan yang turun dari pohon di sisi pagar.

Ia baru menyadarinya ketika udara di belakangnya berubah.

Bening berteriak dari kejauhan.

"Sekar, tiarap!"

Sebuah sosok menerjang dari kegelapan.

Sekar berbalik tepat ketika benda keras mengayun ke arah kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!