Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Keluarga Mulai Terpisah

Keesokan paginya, udara di kawasan Nglanggeran terasa sejuk dan segar. Matahari baru saja naik perlahan, menyinari puncak bukit batu dengan cahaya keemasan yang lembut. Namun di ruang tengah penginapan, suasana tidaklah secerah pagi itu. Raka, Laras, Dimas, dan anggota kru lainnya duduk melingkar di meja kayu, di atasnya tergeletak buku harian Ardita yang terbuka di halaman-halaman baru. Semalam mereka membaca tentang tanda-tanda pertama langkah kaki, bayangan, sosok di halaman. Dan pagi itu, mereka siap membaca apa yang terjadi selanjutnya ketika tanda-tanda itu berubah menjadi sesuatu yang mulai merenggut kebersamaan keluarga itu.

Raka membuka halaman berikutnya perlahan. Jari telunjuknya menyentuh tulisan tangan Ardita yang mulai terlihat berbeda tidak serapi awalnya, ada goresan-goresan kecil seakan tangan gadis itu gemetar saat menulis.

"Ketenangan itu tidak hanya hilang," bisik Raka pelan, suaranya berat. "Tapi juga kepercayaan satu sama lain."

Ia mulai membaca, dan keheningan pagi itu kembali menyelimuti ruangan.

Halaman 10 — 28 Agustus 1996

Semuanya mulai berubah minggu ini. Bukan karena hal yang datang dari luar tapi karena hal yang tumbuh di antara kami sendiri.

Ayah berubah. Beliau yang dulu selalu lembut, selalu sabar, kini sering marah tanpa alasan yang jelas. Kadang saat kami sedang makan bersama, beliau tiba-tiba menatap Ibu dengan tatapan tajam, seakan Ibu telah melakukan kesalahan besar. Kadang beliau berdiri tiba-tiba, berjalan ke jendela, menatap ke luar dengan wajah yang keras dan dingin.

"Siapa yang datang ke sini?" tanyanya kemarin sore, padahal tidak ada siapa-siapa. "Aku melihat seseorang berdiri di halaman. Orang asing. Dia menatap rumah ini."

Ibu mencoba menenangkan. "Tidak ada siapa-siapa, Mas. Hanya pohon yang bergerak ditiup angin. Mari kita duduk lagi."

Tapi Ayah menoleh dengan tatapan yang membuat kami berdua diam. "Kamu selalu membela mereka. Sejak dulu. Sejak kita pertama kali datang ke sini. Kamu tidak pernah percaya padaku. Kamu lebih percaya pada tempat ini daripada pada suamimu sendiri."

Kata-kata itu terasa seperti pukulan keras. Ibu diam, menunduk, air matanya jatuh perlahan ke piring makanannya. Aku tidak berani berbicara. Kak Arlan juga diam, menunduk dalam. Di rumah yang luas ini... kami tiba-tiba terasa begitu jauh satu sama lain.

Malam itu, aku mendengar suara pertengkaran dari kamar Ayah dan Ibu. Bukan pertengkaran biasa suaranya rendah, penuh amarah yang tertahan, penuh tuduhan-tuduhan yang tidak jelas. Aku mendengar Ayah berkata Ibu menyembunyikan sesuatu, Ibu berkata Ayah telah berubah menjadi orang lain. Dan di tengah suara itu... ada suara lain. Suara bisikan yang pelan, tidak berasal dari salah satu dari mereka. Suara yang seakan ikut berbicara di antara jeda kata-kata mereka.

Sejak malam itu, Ayah jarang keluar dari kamar kecuali saat makan. Beliau menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Kadang beliau berbicara sendiri di dalam sana, dengan suara yang rendah dan terus-menerus. Saat kami mengetuk, beliau tidak menjawab. Saat kami bertanya, beliau hanya berkata "Jangan ganggu aku. Aku sedang berbicara dengan tuan rumah ini. Dia mengerti aku. Dia tidak seperti kalian."

Ardita

Halaman 12 — 3 September 1996

Sekarang giliran Ibu yang berubah.

Beliau yang dulu selalu hangat, selalu tersenyum, kini sering duduk diam di sudut ruangan, menatap kosong ke arah dinding. Kadang beliau berbicara pelan dengan seseorang yang tidak ada di sana. Kadang beliau tersenyum sendiri senyum yang membuat bulu kuduk merinding, karena senyum itu tidak ditujukan kepada kami.

"Ibu, siapa yang Ibu ajak bicara?" tanyaku kemarin.

Ibu menoleh perlahan. Matanya kosong, tidak menatapku. "Teman, Dita. Teman lama. Dia sudah menunggu kami di sini sejak lama sekali. Dia bilang rumah ini miliknya dulu. Sebelum kami datang. Dan dia rindu dengan rumahnya."

"Siapa, Bu? Siapa teman itu?"

Ibu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah lorong belakang. "Dia ada di sana. Selalu ada di sana. Menunggu kami menyadari bahwa kami hanyalah tamu. Dan tamu harus tahu kapan waktunya untuk pulang."

Aku berlari pergi dari sana. Hatiku berdebar kencang. Aku mencari Kak Arlan, menceritakan semuanya. Kak Arlan terdiam lama, lalu memegang bahuku dengan tangan yang gemetar.

"Dita... kita tidak bisa lagi mempercayai apa pun di rumah ini. Termasuk diri kita sendiri."

Malam itu, Kak Arlan pindah tidur di kamarku. Kita berdua tidak berani tidur terpisah. Karena setiap kali salah satu dari kami menutup mata, kami merasa takut takut saat kami bangun, yang di samping kami bukan lagi saudara kami.

Ardita

Halaman 15 — 10 September 1996

Semuanya semakin buruk minggu ini. Kami seperti empat orang yang tinggal di rumah yang sama, namun hidup di dunia yang berbeda.

Ayah hampir tidak pernah keluar kamar. Kalau keluar, beliau menatap kami dengan tatapan curiga, seakan kami adalah musuh yang menyusup ke rumahnya. Beliau berbicara dengan orang yang tidak kami lihat, mendengarkan jawaban yang tidak kami dengar, lalu tertawa tawa yang kering dan tajam.

Ibu sering menghilang berjam-jam. Kadang beliau ada di lantai atas, berdiri diam di depan jendela, menatap ke luar tanpa berkedip. Kadang beliau ada di halaman belakang, berbicara pelan dengan pohon-pohon. Saat kami bertanya ke mana beliau pergi, beliau hanya berkata "Jalan-jalan saja. Rumah ini luas, Dita. Ada banyak ruangan yang belum kau ketahui."

Dan Kak Arlan... Kak Arlan berubah menjadi pendiam dan penuh ketakutan. Dia selalu berdiri di dekat pintu, selalu memeriksa kunci, selalu menatap ke belakang seakan ada sesuatu yang mengikuti setiap langkahnya.

Kemarin sore, saat kami berempat sempat berkumpul di ruang tengah pertama kali dalam berminggu-minggu Ayah tiba-tiba berdiri dan menunjuk Ibu dengan tangan gemetar.

"Kamu bukan istriku," kata Ayah dengan suara rendah namun penuh keyakinan yang mengerikan. "Istriku tidak pernah menatapku seperti itu. Kamu bukan dia. Kamu yang lain. Kamu yang datang dari tempat itu."

Ibu tersenyum senyum yang bukan milik Ibu. "Lalu siapa yang kau cari, Mas? Istrimu yang mana? Yang dulu bersamamu di Jakarta? Atau yang sekarang berdiri di depanmu?"

Mereka berdua menatap satu sama lain, dan di antara mereka... ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat ruangan itu terasa dingin, terasa penuh, seakan ada orang ketiga yang berdiri tepat di tengah-tengah mereka.

Kak Arlan menarik tanganku, membawaku mundur ke sudut ruangan. "Jangan lihat, Dita. Jangan ikut terjebak."

Tapi aku sudah melihat. Aku sudah melihat bagaimana rumah ini perlahan-lahan memakan kami satu per satu. Mengubah Ayah, mengubah Ibu, dan suatu hari... mungkin akan mengubah kami juga.

Ardita

Raka menutup buku itu perlahan. Tangannya bergetar. Ruangan itu hening, napas mereka terasa berat. Tidak ada yang berbicara untuk waktu yang lama.

"Mereka tidak diserang dari luar," kata Laras pelan, suaranya bergetar. "Mereka dihancurkan dari dalam. Rumah itu tidak perlu menghancurkan dinding atau pintu cukup mengubah mereka satu sama lain. Membuat suami mencurigai istri, istri menjauh dari suami, anak-anak takut pada orang tua sendiri. Itu jauh lebih kejam."

"Karena ketika kau tidak bisa mempercayai orang yang paling kau cintai," tambah Dimas pelan, "kau sendirian. Bahkan di tengah keluarga sendiri. Dan kesendirian itulah yang membuat mereka semakin mudah terjebak."

"Dan itu baru permulaan," kata Raka pelan, matanya menatap buku itu. "Kalau begini setelah sebulan lebih... aku takut membayangkan apa yang terjadi selanjutnya."

"Masih ada halaman berapa lagi?" tanya salah satu kru dengan suara pelan.

"Banyak," jawab Raka lembut. "Dan semakin lama... semakin dalam mereka terjebak."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!