Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Siang hari yang panas di Universitas Mahkota terasa sedikit menyengat.

Mahasiswa berlalu-lalang di sekitar kampus mencari tempat teduh untuk beristirahat atau makan siang.

Arif dan Shinta berjalan bersisian meninggalkan gedung perkuliahan menuju tempat parkir mobil.

"Panas sekali hari ini, aku mau minum es krim rasa stroberi ya di jalan pulang nanti," pinta Shinta setengah merengek.

"Kemarin minta ditraktir es krim, sekarang minta lagi, dasar harimau betina rakus," goda Arif tersenyum geli.

"Biarkan saja! Daripada uangmu dihabiskan untuk membeli perhiasan seratus miliar mending buat beli es krimku!" balas Shinta menjulurkan lidahnya.

Mereka berdua berjalan santai melewati area belakang kampus yang cukup sepi dan banyak ditumbuhi pohon besar.

Jalan pintas ini memang sering mereka lewati untuk menuju area parkir VIP agar terhindar dari keramaian mahasiswa.

Namun, langkah Arif tiba-tiba melambat dan akhirnya berhenti sepenuhnya.

Shinta yang sedang berceloteh riang ikut menghentikan langkahnya dan menatap Arif bingung.

"Ada apa udik? Kenapa berhenti?" tanya Shinta mengerutkan kening.

Arif tidak menjawab, matanya menatap tajam ke arah bayangan pepohonan rindang di sekitar mereka.

Insting bertahannya yang setajam pisau bedah merasakan aura membunuh yang sangat pekat mengunci posisi mereka berdua.

"Mundur ke belakangku dan jangan lepaskan pegangan tanganmu," perintah Arif pelan namun sangat serius.

Mendengar nada suara Arif yang berubah dingin, Shinta langsung sadar ada bahaya mengintai.

Gadis itu buru-buru berlindung di balik punggung tegap Arif dan menggenggam erat telapak tangan kirinya dengan kedua tangannya.

Jantung Shinta mulai berdetak lebih cepat karena trauma penculikan kemarin masih membekas.

Srek. Srek.

Suara langkah kaki menginjak daun kering terdengar dari berbagai arah di balik pohon.

Sepuluh orang pria berpakaian serba hitam dan memakai masker penutup wajah keluar dari persembunyian mereka.

Masing-masing dari mereka memegang senjata tajam berupa pisau lipat taktis dan tongkat kejut listrik.

Ini bukan preman jalanan biasa seperti geng Naga Hitam, mereka bergerak dengan formasi teratur layaknya tentara bayaran elit.

"Serahkan gadis itu, dan kami akan memberikanmu kematian yang cepat tanpa rasa sakit," ancam salah satu pria yang sepertinya adalah pemimpin mereka.

Arif menyeringai sangat tipis dan meremehkan.

"Macan Putih ya? Ternyata kalian cuma mengirim kucing-kucing garong pengecut untuk mengantar nyawa siang ini," ejek Arif santai.

Pemimpin pembunuh bayaran itu menyipitkan matanya marah mendengar hinaan tersebut.

"Tutup mulutmu! Habisi dia dan seret gadis itu!" teriaknya memberi komando serangan.

Wusss!

Sepuluh orang itu langsung melesat menyerang Arif secara serentak dari segala arah dengan kecepatan tinggi.

Bagi orang biasa, serangan ini tidak mungkin bisa dihindari tanpa mengorbankan nyawa.

Tapi bagi Arif yang sudah puluhan tahun berlatih dengan Guru Langit, gerakan mereka terlihat seperti sekumpulan balita yang sedang belajar jalan.

"Jangan tutup matamu Nona cerewet, perhatikan baik-baik bagaimana aku membersihkan sampah kota ini," bisik Arif.

Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Shinta, Arif menggerakkan tangan kanannya dengan sangat cepat.

Duagh! Krak!

Pukulan pertama Arif mendarat tepat di wajah pembunuh yang menyerang dari sisi kanannya.

Suara tulang hidung yang remuk terdengar mengerikan, dan pria itu langsung terpental pingsan seketika.

Pembunuh lain mencoba menusukkan pisaunya ke arah pinggang Arif dari kiri.

Srak!

Arif hanya memiringkan pinggangnya sedikit, lalu kaki kanannya menendang lutut penyerang itu dengan sangat keras.

Krek!

"Arghhh!" jerit pria itu jatuh tersungkur memegangi lututnya yang patah berbalik arah.

Arif bergerak sangat lincah bagai tarian mematikan, menangkis, memukul, dan menendang tanpa sedikit pun melepaskan Shinta yang berlindung di belakangnya.

Shinta melotot takjub dan ngeri melihat kehebatan pria yang menggenggam tangannya ini.

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, delapan pembunuh bayaran elit itu sudah terkapar merintih kesakitan di atas tanah dengan berbagai tulang patah.

Kini hanya tersisa sang pemimpin kelompok dan satu anak buahnya yang berdiri gemetar memegang pisau mereka.

"M-monster macam apa kau ini?!" teriak pemimpin itu mundur dua langkah dengan keringat dingin bercucuran.

"Aku? Aku adalah mimpi buruk bagi orang-orang bodoh seperti bos kalian," jawab Arif melangkah maju satu langkah.

Melihat kengerian itu, anak buah yang tersisa langsung membuang pisaunya dan lari terbirit-birit berniat kabur.

Namun sebelum dia bisa berlari jauh, sebuah batu kerikil melesat dengan kecepatan peluru dari tangan Arif dan menghantam belakang kepala pria itu.

Tuk! Bruk!

Pria itu langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Pemimpin pembunuh itu kini berdiri sendirian dengan keputusasaan yang luar biasa.

Dia tahu dia tidak akan bisa lari atau menang melawan iblis di depannya ini.

Tiba-tiba, pria itu nekat melemparkan pisaunya dengan sekuat tenaga ke arah Shinta yang ada di belakang Arif.

"Mati kau!" teriaknya licik memanfaatkan kelengahan Arif.

Wush!

Pisau itu melesat cepat mengincar wajah Shinta.

Shinta memejamkan matanya rapat-rapat bersiap menerima rasa sakit, tapi rasa sakit itu tidak pernah datang.

Ting.

Arif hanya mengangkat dua jarinya, telunjuk dan jari tengah, lalu menangkap bilah pisau itu dengan sangat santai tepat di depan wajah Shinta.

Mata pemimpin pembunuh itu nyaris copot melihat aksi mustahil tersebut.

"Menyerang wanita dari belakang? Cara bertarung pengecut yang sangat memalukan," desis Arif penuh kemarahan.

Arif membalikkan pisau itu di tangannya dan melemparkannya kembali dengan kecepatan dua kali lipat lebih cepat.

Jleb!

"Arghhhhh!" jerit pria itu melengking tinggi.

Pisau miliknya sendiri kini menancap dalam di bahu kanannya, membuatnya jatuh berlutut memegangi lukanya yang bersimbah darah.

Arif berjalan pelan menghampiri pemimpin pembunuh yang sedang merintih kesakitan itu.

Dia mencengkeram kerah baju hitam pria itu dan mengangkat tubuhnya dengan satu tangan bagaikan mengangkat boneka kain.

"Katakan pada anjing tua majikanmu, Tuan Besar Biro Akasa akan mengiriminya hadiah istimewa malam ini," bisik Arif dengan suara bagai malaikat maut.

Bruk!

Arif melempar tubuh pria itu ke atas tanah dan menginjak dada pria itu hingga pingsan kehabisan nafas.

Suasana kembali sunyi menyisakan rintihan pelan dari beberapa preman yang masih sadar.

Arif berbalik dan menatap Shinta yang masih mematung dengan mata membulat sempurna.

"Kau tidak apa-apa Nona cerewet? Wajahmu pucat sekali," tanya Arif mengusap lembut kepala Shinta untuk menenangkannya.

Shinta langsung tersadar dari syoknya dan air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.

Bukan air mata ketakutan, melainkan air mata kelegaan karena dia selamat berkat pria luar biasa di depannya ini.

"U-udik... hiks... kau bodoh! Jangan menakutiku seperti itu lagi!" tangis Shinta tiba-tiba memeluk erat pinggang Arif.

Arif sedikit terkejut, namun senyum tulus langsung mengembang di wajahnya.

Dia membalas pelukan gadis tsundere itu dan mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

"Maafkan aku, aku janji ini yang terakhir kalinya kau melihat sampah-sampah ini," bisik Arif menenangkan.

Setelah Shinta sedikit lebih tenang, Arif mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Nana.

"Halo Nana, kirim tim pembersih ke area belakang kampus sekarang juga, ada sepuluh tikus mati yang harus diangkut," perintah Arif tegas.

"Baik Tuan Arif, tim sudah meluncur, dan informasi tentang markas utama Sindikat Macan Putih sudah kami kantongi," lapor Nana dari seberang telepon.

"Bagus, malam ini kita selesaikan semuanya sampai ke akar-akarnya," jawab Arif lalu mematikan sambungan telepon.

Arif menggandeng Shinta melanjutkan perjalanan menuju mobil seolah tidak pernah terjadi pembantaian barusan.

Di dalam mobil menuju rumah, Shinta masih sesekali mencuri pandang ke arah Arif dengan tatapan penuh rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan lagi.

Dia akhirnya menyadari bahwa hatinya sudah benar-benar jatuh pada pemuda kampung yang dulu sangat dibencinya ini.

Dan malam ini, dunia bawah tanah Jakarta akan menyaksikan murka sesungguhnya dari sang Tuan Besar Biro Akasa yang akan menyapu bersih Sindikat Macan Putih dari sejarah.

1
Was pray
Shinta itu tipe wanita keras kepala tapi ceroboh dan agak lambat berpikir
Was pray
pemimpin naga hitam jenis biji-bijian kah Thor?
Was pray
gak apa2 Shinta.. anggap aja rekreasi ke pelabuhan tanjung Priok , kamu kan wanita hebat yg gak butuh nasehat orang lain.. 🤭
Was pray
emang Arif dan Shinta kuliahnya di rumah sakit? waduh .. ambil fakultas apaan Arif nanti?
Was pray
kenapa bos preman kalau gak plontos ya botak? gak ada yg ganteng kah si bos preman Thor? 🤭🤭
Was pray
cek cek.... 👎 MC nya kuat sih... tapi mulutnya perlu dipemak ulang
Was pray
kurang didikan Budi pekerti kah Arif?
kayra lubna
Cerita yang sangat unik,ada percintaan,pengobatan,seni bela diri,sangat memuaskan hati untuk dibaca...mantaaaap👍
kiyoe: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!