Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Darah di Halaman Klan
Suara Xioutian mendadak berdentum di dalam kesadaran Su Yu, nyaring seperti lonceng peringatan yang dipukul tanpa henti.
"Tuan, cepat lari! Serangan mereka sudah terlalu dekat! Apa kau sungguh ingin mencari mati di tempat ini?!"
Su Yu tidak bergerak dari posisinya. Matanya tetap menatap lurus ke arah puluhan anggota klan yang berlari mendekat, sementara jawabannya mengalir tenang di dalam batin.
"Aku tidak akan mati."
"Bagaimana bisa bertahan?!" suara Xioutian meninggi, nadanya bergetar oleh kepanikan. "Di antara mereka, yang terendah berada di Pendekar Besi tahap menengah, sedangkan mayoritas sudah mencapai tahap akhir! Dari apa yang kulihat, kau baru saja melangkah ke tahap menengah!"
Su Yu menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat. "Selama kau masih bersamaku, bukankah harapan untuk hidup masih ada?"
"Sial!" hanya itu yang terdengar sebagai balasan dari dalam kesadarannya. Xioutian terdengar seperti sedang menggertakkan gigi, tetapi tidak punya waktu untuk melanjutkan perdebatan.
Serangan pertama datang dari arah kiri.
Sebuah tendangan meluncur deras, mengarah tepat ke rusuk Su Yu. Angin dari gerakan itu menyapu sisi tubuhnya, tetapi pemuda itu sudah lebih dulu melompat ke belakang. Tubuhnya berputar ringan di udara, mendarat dengan kedua kaki menapak tanah.
Belum sempat ia mengatur napas, sebilah tombak menusuk dari arah depan. Ujung logamnya berkilat memantulkan cahaya sore yang mulai meredup.
WUSSS!
Su Yu memiringkan tubuhnya, membiarkan mata tombak itu meleset melewati sisi lengan kirinya. Bersamaan dengan itu, tebasan pedang datang dari kanan, mengincar lehernya.
SWISHH!
Su Yu menjatuhkan tubuhnya ke bawah, lalu berguling cepat ke samping.
Namun ancaman belum berakhir. Dari atas, sebilah pedang spiritual biru telah meluncur turun, mengiris udara dengan suara mendesis panjang.
WUSSS!
Su Yu mendongak sepersekian detik, lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Tubuhnya melesat maju, bukan mundur, tepat ke arah Su Jao yang berdiri beberapa langkah di depannya.
Pemuda itu sedang mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, tetapi gerakannya terhenti ketika melihat Su Yu justru berlari ke arahnya. Kedua mata Su Jao membelalak, campuran antara terkejut dan tidak percaya.
"Kau berani mendekat?!" Su Jao membentak sambil mengubah arah tebasannya, membawa pedangnya turun dari atas ke bawah dengan seluruh tenaga.
Su Yu melompat ke samping, menghindari tebasan itu dengan jarak yang sangat tipis. Begitu kakinya menapak tanah, ia langsung mendorong tubuhnya maju, mendekat ke sisi kanan Su Jao.
Tanpa memberi kesempatan bagi pemuda itu untuk menarik pedangnya kembali, Su Yu mengangkat kaki kanannya dan menghantamkannya keras ke punggung Su Jao.
BRAK!
Tendangan itu mendarat telak. Tubuh Su Jao langsung terlempar ke depan seperti boneka kain yang dilempar dengan kasar. Suara retakan tulang belakang terdengar jelas di tengah riuh kerumunan, disusul oleh jeritan yang memecah langit.
"ARRRGGGHHH!"
Teriakan Su Jao menggema ke seluruh penjuru halaman. Tubuhnya jatuh berguling-guling sebelum terhenti di atas tanah, wajahnya meringis menahan sakit yang luar biasa.
Seluruh anggota klan berhenti di tempat masing-masing. Puluhan pasang mata memandang Su Yu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Beberapa orang mundur selangkah, sementara yang lain hanya berdiri membeku dengan mulut terbuka.
"Dia memiliki kultivasi?!"
Suara Tetua Ketiga memecah keheningan. Nada bicaranya bergetar, bercampur antara marah dan tidak percaya.
"Bagaimana bisa?! Selama bertahun-tahun dia tidak memiliki meridian! Tidak mungkin!"
Su Yu tidak menghiraukan teriakan itu. Pandangannya sudah terkunci pada tubuh Su Jao yang masih menggeliat di tanah. Ia melompat maju, menutup jarak dalam dua langkah cepat.
Saat tubuhnya berada di sisi Su Jao, teriakan pemuda itu meledak dengan kemarahan yang selama bertahun-tahun tertahan.
"Dasar sampah! Dulu kau meludahi makananku! Melemparkan kotoran kuda saat aku makan dan tidur! Kalau begitu... matilah dengan cara yang paling buruk!"
"Berhenti, sialan!"
Raungan Tetua Keempat terdengar dari samping. Tubuh pria itu melesat cepat ke arah Su Yu, telapak tangannya telah mengumpulkan energi spiritual berwarna hijau.
Namun mata Su Yu sama sekali tidak beralih. Ia segera menginjak punggung Su Jao dengan kaki kanannya, menekannya keras.
"A... apa yang kau lakukan, sampah?!" Su Jao meronta di bawah telapak kaki Su Yu, suaranya pecah oleh rasa takut dan sakit.
Su Yu tidak menjawab. Ia membungkuk, lalu meraih kedua lengan Su Jao dan menariknya ke belakang dengan kekuatan penuh.
"Heeeyaaakkk...!"
Tarikan itu semakin kuat. Otot-otot di lengan Su Jao menegang, sendi-sendinya meregang dengan suara yang mengerikan.
CRASH!
Kedua lengan Su Jao terlepas dari tubuhnya, robek dari bahu dengan suara patah yang membuat banyak orang memalingkan wajah. Darah menyembur deras, membasahi tanah di bawah mereka.
"ARRRGGGHHH!"
Jeritan Su Jao kali ini terdengar seperti lolongan binatang yang terluka. Suaranya memenuhi seluruh sudut halaman, membuat bulu kuduk orang-orang yang mendengarnya berdiri.
Su Yu memutar tubuhnya, lalu melemparkan kedua lengan yang terpisah itu ke arah Tetua Keempat yang sedang melesat mendekat.
Kedua anggota tubuh itu meluncur di udara dengan kecepatan tinggi.
BRAK!
BRAK!
Keduanya menghantam dada Tetua Keempat, membuat pria berusia tiga puluhan itu terpaksa menghentikan langkahnya. Wajahnya memucat, bukan karena rasa sakit, melainkan karena keterkejutan yang luar biasa.
Hening.
Seluruh halaman mendadak senyap seperti kuburan.
Puluhan pasang mata tertuju pada Su Yu, pemuda yang selama bertahun-tahun mereka hinakan dan lecehkan. Pemuda yang selalu menunduk ketakutan ketika dipanggil. Pemuda yang menerima setiap ludahan dan lemparan kotoran tanpa perlawanan.
Kini pemuda itu berdiri di tengah halaman dengan kedua tangan berlumuran darah, sementara di bawah kakinya Su Jao tergeletak tak sadarkan diri.
Su Yu menyeringai, tetapi air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"Aku tidak ingin melukai keluargaku..." bisiknya dengan suara yang nyaris tenggelam oleh isak tangis. "Tapi kalian sudah menghancurkan segalanya..."
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar.
"Ayah dan ibuku kalian bunuh... hanya untuk membantu Su Gaochang menjadi pemimpin Klan. Kalian mempengaruhi adikku untuk membenciku... meyakinkannya bahwa aku penyebab kematian orang tuaku. Kalian..." Su Yu menatap satu per satu wajah di hadapannya, "...lebih mengerikan daripada aku."
Kemudian Su Yu mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu menghantamkannya ke punggung Su Jao dengan seluruh tenaga.
BAM!
Tubuh Su Jao memantul ke atas sejenak sebelum jatuh kembali dengan posisi yang tidak wajar. Dadanya tampak remuk, sementara napasnya terhenti sepenuhnya.
Bersamaan dengan itu, suara Tetua Pertama membelah keheningan.
"Bunuh dia secepatnya!"
Perintah itu seperti pemicu yang meledakkan sisa keraguan. Tetua Kedua, Tetua Ketiga, dan Tetua Keempat bergerak bersamaan, tubuh mereka menghilang dari posisi awal dalam sekejap mata.
Dalam waktu kurang dari satu tarikan napas, ketiganya sudah muncul di sekitar Su Yu, membentuk segitiga yang memenjarakan pemuda itu dari tiga arah.
Su Yu baru hendak bergerak, tetapi telapak tangan Tetua Ketiga sudah lebih dulu mendarat di punggungnya.
BUM!
Dentuman kecil terdengar, namun kekuatan di baliknya luar biasa besar. Tubuh Su Yu langsung terlempar ke depan seperti daun kering yang diterjang badai, meluncur tanpa kendali ke arah Tetua Kedua.
Di sana, Tetua Kedua sudah bersiap dengan tongkatnya yang terangkat tinggi. Begitu tubuh Su Yu mendekat, ia mengayunkan tongkat itu dengan kekuatan penuh ke arah wajah pemuda tersebut.
BRAK!
"UGHHH!"
Su Yu merasakan tulang pipinya seakan hancur. Tubuhnya terpental jauh ke belakang, melintasi halaman dalam sekejap, sebelum akhirnya menghantam tembok batu di sisi kanan dengan kekuatan yang mengerikan.
BRAK!
Tembok itu retak dan ambruk sebagian, sementara tubuh Su Yu menancap di antara puing-puing batu.
"Uhuk!" Su Yu terbatuk keras, memuntahkan banyak darah.
Belum sempat ia menarik napas, Tetua Keempat sudah muncul di hadapannya. Di tangan pria itu, sebilah pedang hijau berkilat menebas turun dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat.
JLEB!
Pedang itu menancap sempurna di dada Su Yu, tepat di lokasi jantung seharusnya berada.
Melihat seorangnya berhasil, Tetua Keempat melepaskan genggamannya dan mundur selangkah. Senyum kemenangan tersungging di wajahnya, sementara seluruh anggota klan yang menyaksikan menarik napas lega.
Su Yu tergantung di tembok dengan pedang hijau menembus dadanya. Darah mengalir dari luka itu, menetes ke tanah di bawahnya, membentuk genangan kecil yang semakin melebar.
Kedua matanya terpejam.
Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui apa yang terjadi dalam sepersekian detik sebelum pedang itu menembus. Jantung Su Yu telah bergeser beberapa sentimeter ke samping, menghindari tusukan fatal tersebut. Luka yang dideritanya tetap parah, tetapi tidak mematikan.
Di dalam kesadarannya, suara Xioutian terdengar mendesak.
"Tuan, bertahanlah sebentar lagi! Aku hampir selesai mengumpulkan energi spiritual untuk membawamu pergi! Sepuluh napas lagi!"
Su Yu tersenyum pahit di dalam batinnya.
"Sepuluh napas..." bisiknya lirih. "Itu sudah cukup bagi mereka untuk mengirimku menuju kematian."
Darah terus mengalir dari tubuhnya, sementara para tetua dan anggota klan mulai mendekat untuk memastikan bahwa pemuda yang mereka benci itu benar-benar telah mati.
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔