Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Rencana Tidak Sesuai Harapan
Hari Senin kembali datang.Almeera berdiri di depan cermin sambil merapikan hijabnya. Setelah merasa cukup rapi, ia langsung mengambil tas lalu keluar dari kamar.
“Mama,” panggil Almeera setengah berteriak mencari ibunya.
“Iya?” sahut Mama dari arah ruang makan.
“Meera berangkat kuliah ya, Ma,” pamit Almeera sambil melangkah mendekati meja makan.
Mama yang sedang berada di ruang makan langsung menoleh.
“Kamu sudah sarapan?” tanya Mama memastikan.
“Sudah, Ma,” jawab Almeera sambil tersenyum.
“Bekal makan siangmu sudah dibawa?” tanya Mama lagi sambil menunjuk sebuah kotak makan.
Almeera menghentikan langkahnya sebentar. Kemudian ia menoleh melihat ke arah meja makan.
“Oh iya, hampir aja ketinggalan,” ucap Almeera sambil menepuk jidatnya pelan.
Mama tersenyum kecil melihat keteledoran putrinya.
“Makanya, kalau pagi pagi itu jangan dibiasakan terburu buru,” nasihat Mama dengan lembut.
Almeera berjalan kembali untuk mengambil bekalnya.
“Iya, Mama sayang, maaf,” kata Almeera canggung sambil buru buru memasukkan kotak makan ke dalam tas.
Sebelum berangkat, ia menyalami dan mencium punggung tangan Mamanya dengan takzim.
“Meera berangkat ya, Ma. Assalamualaikum,” pamit Almeera sekali lagi.
“Waalaikumsalam. Hati.hati di jalan,” pesan Mama lembut.
Almeera mengangguk ramah lalu segera melangkah keluar rumah.
Perjalanan menuju ke kampus pagi itu sebenarnya terasa sangat biasa saja. Namun, hari itu Almeera sama sekali tidak tahu bahwa ada sesuatu yang akan membuatnya kembali belajar. Sebuah pelajaran penting tentang bagaimana cara menghadapi keadaan yang berjalan tidak sesuai dengan harapan pribadinya.
Sesampainya di kampus, Almeera langsung bertemu dengan Eliza di depan pintu gedung fakultas.
“Pagi, Meera!” sapa Eliza ramah sambil melambaikan tangan.
“Pagi juga, Liz,” jawab Almeera sambil tersenyum manis menghampiri sahabatnya.
Eliza mendadak menatap wajah Almeera dengan senyuman penuh selidik.
“Kamu hari ini beneran udah merasa siap?” tanya Eliza dengan nada menyindir.
Almeera mengernyitkan dahinya sedikit bingung.
“Siap dalam urusan apaan emangnya, Liz?” tanya Almeera balik.
“Ya siap buat maju tugas presentasi kelompok kita yang kemarin itu loh,” jelas Eliza mengingatkan.
Mendengar kalimat Eliza, ingatan Almeera langsung berdiri.
“Oh iya! Aku baru ingat sekarang,” seru Almeera panik.
Eliza langsung tertawa renyah melihat ekspresi panik sahabatnya.
“Hahaha! Jangan bilang kalau kamu sebenarnya sempat lupa ya sama jadwal kita hari ini, Meera,” goda Eliza jail.
Almeera langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat karena salah tingkah.
“Eh, enggak kok, aku nggak lupa. Aku cuma lagi nggak kepikiran aja sama tugas kita pagi ini,” kilat Almeera membela diri.
“Halah, alasan kamu aja itu mah. Lupa sama nggak kepikiran itu bedanya tipis banget tahu,” cibir Eliza terkekeh jail.
Mereka berdua pun akhirnya melangkah bersama memasuki ruang kelas pertama karena jam kuliah sudah mau dimulai.
Aktivitas perkuliahan hari itu awalnya berjalan normal seperti biasanya. Namun setelah selesai menjelaskan materi pengantar di papan tulis, dosen di depan kelas mendadak memberikan sebuah pengumuman mengejutkan.
Dosen memberitahukan bahwa jadwal urusan presentasi kelompok mahasiswa terpaksa harus dirubah total hari ini. Kelompok Almeera yang seharusnya mendapatkan jadwal maju pada minggu depan, mendadak dipotong posisinya untuk harus maju lebih cepat pada hari senin ini juga.
Almeera dan Eliza langsung kompak saling menatap wajah satu sama lain dengan tatapan mata yang membelalak tidak percaya.
“Liz, kamu seriusan dengar ucapan dosen tadi?” bisik Almeera panik ke arah telinga Eliza.
Eliza langsung menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang ikut pasrah.
“Iya, beneran serius, Meera. Nama kelompok kita barusan disebut,” sahut Eliza lemas.
Almeera langsung menarik napasnya dalam dalam secara pasrah untuk menenangkan dadanya. Jujur, secara materi draf sebenarnya mereka sudah selesai mengetik tugas tersebut dari jauh jauh hari. Namun masalahnya adalah, masih ada beberapa bagian paragraf yang belum sempat mereka periksa kembali isinya demi memastikan kesempurnaan tugas tersebut.
Begitu jam kelas pertama resmi dibubarkan oleh dosen, Almeera dan Eliza langsung bergerak cepat mengumpulkan seluruh anggota kelompok kerja mereka di sudut ruangan koridor.
“Teman teman, berhubung situasinya mendadak begini, kita terpaksa harus selesaikan revisi tugasnya hari ini juga ya,” ucap Eliza tegap memimpin jalannya diskusi kelompok.
Almeera langsung mengangguk menyetujui.
“Iya, bener banget, biar nanti pas maju nggak memalukan,” sahut Almeera mendukung ide Eliza.
Mereka pun mulai tampak sibuk membagi ulang porsi pekerjaan revisi dengan adil. Almeera mendapat bagian tanggung jawab untuk merapihkan dan memeriksa ulang seluruh materi file slide presentasi mereka di laptop. Ia segera membuka laptopnya, lalu membaca baris demi baris teks dokumen dengan sangat fokus dan teliti. Setelah menyisir selama beberapa menit, Almeera akhirnya berhasil menemukan adanya kekosongan data yang belum dimasukkan kemarin.
“Teman teman, bagian yang ini kayaknya harus segera kita perbaiki deh materinya,” ucap Almeera sambil menunjukkan layar monitornya ke arah teman teman sekelompok.
Salah satu anggota kelompoknya langsung condong melihat.
“Bagian paragraf yang mana emangnya yang salah, Meera?” tanya anggota tersebut penasaran.
“Yang bagian ini nih. Data persentase angka statistiknya ternyata masih kurang lengkap dan belum akurat,” jawab Almeera menjelaskan letak kekurangannya.
Mereka pun bersama sama mulai bergerak fokus memperbaiki tugas kelompok tersebut.
Siang harinya, Almeera dan Eliza memutuskan untuk memindahkan area kerja kelompok mereka menuju ke dalam gedung perpustakaan kampus. Mereka sengaja memilih mengambil posisi di sebuah meja belajar yang ukurannya cukup besar, agar seluruh anggota kelompok bisa ikut duduk berkumpul mengerjakan tugas bersama dengan nyaman.
Secara kebetulan, posisi Daffa dan Rafael hari ini ternyata juga sedang berada di dalam ruangan perpustakaan yang sama untuk menyelesaikan urusan kuliah mereka. Menyadari kehadiran adik tingkatnya yang tampak sedang sibuk grasak grusuk, Daffa yang gampang akrab dan suka bercanda langsung melangkah menghampiri meja mereka.
“Loh, halo kalian berdua. Wah, jam segini kok tumben anggotanya lengkap banget lagi sibuk ngerjain tugas?” tanya Daffa ramah membuka obrolan sambil berdiri di dekat meja.
Eliza mendongak dari laptopnya lalu mengangguk pasrah.
“Iya, nih, Ka. Jadwal urusan presentasi kelompok kita mendadak dimajuin hari ini sama dosen,” jawab Eliza lemas.
“Wah. Mendadak,” ucap Ka Daffa ikut terkejut mendengarnya.
“Banget,” sahut Eliza membenarkan kalimat tersebut.
Daffa melirik ke arah tumpukan buku referensi di atas meja mereka.
“Kalau butuh referensi tambahan bilang aja ya,” tawar Daffa memberikan solusi dengan ramah.
“Iya, siap, Ka. Terima kasih banyak ya atas bantuannya,” jawab Eliza ramah sambil tersenyum sopan.
Rafael yang sejak tadi sedang asyik membaca buku di meja belajar sebelah, tampak bergerak menutup lembaran bukunya dengan pelan, lalu ikut membuka suara memberikan saran bijaknya.
“Meera, Eliza, maaf. Kalau menurut aku, kalau bagian data sumber referensi kalian dirasa masih kurang lengkap, coba deh kalian cari lewat fitur katalog digital perpustakaan hari ini. Biasanya di dalam sistem itu tersimpan banyak banget draf jurnal ilmiah bagus yang topiknya sangat relevan dan bisa kalian pakai buat contoh tugas,” jelas Rafael panjang lebar dengan nada menyejukkan.
Almeera refleks mendongakkan wajahnya cepat menatap wajah Rafael tegap.
“Eh, iya bener! Alhamdulillah, kita dari tadi malah sama sekali belum mencoba mencari sumber data lewat fitur katalog digital itu, Ka Rafael,” seru Almeera tersadar dari keteledorannya.
“Iya, silakan langsung dicoba aja dicari sekarang sistemnya,” ucap Rafael ramah sambil mengangguk tegap dengan sorot mata yang hangat.
Almeera tersenyum manis merasa sangat terbantu atas navigasi tersebut.
“Oke, siap. Terima kasih banyak ya atas infonya, Ka Rafael,” ucap Almeera tulus.
“Sama sama,” balas Rafael singkat sambil tersenyum tipis.
Tidak lama setelah interaksi singkat itu selesai, Rafael dan Daffa pun kembali beralih fokus melanjutkan sisa kesibukan urusan belajar mereka sendiri dengan tenang di meja sebelah.
Almeera kembali memfokuskan pandangan matanya menatap layar laptop untuk mencari beberapa data sumber tambahan lewat sistem katalog digital. Namun setelah hampir satu jam penuh jarinya sibuk mengetik kata kunci di kolom pencarian, hasil artikel yang muncul di layar monitornya ternyata sama sekali tidak ada yang sesuai dengan topik materi presentasinya.
Lama kelamaan, rasa lelah dan rasa frustrasi mulai merayap menjalar di dalam dada Almeera.
“Aduh... kenapa sih mencari data begini aja rasanya susah dan rumit banget hari ini?” gumam Almeera pelan dengan nada suara yang sedikit kesal menahan pusing.
Eliza yang duduk di sampingnya langsung menolehkan wajahnya cepat.
“Belum ketemu?” tanya Eliza ikut cemas.
“Belum. Dari tadi link artikel yang muncul ngaco semua, nggak ada yang nyambung,” keluh Almeera lemas sambil bersandaran di kursi.
“Coba kamu ganti kombinasi kata kuncinya di kolom pencarian pake istilah lain deh, Meera,” saran Eliza memberikan ide baru.
Almeera menarik napas pendek lalu kembali bergerak mencoba saran Eliza di keyboard. Namun setelah beberapa kali mencoba, hasilnya tetap saja nihil dan zonk. Karena merasa lelah, Almeera memilih untuk menutup layar laptopnya sebentar, lalu mengembuskan napas panjangnya dalam dalam secara pasrah untuk menenangkan pikirannya yang stres.
Dulu, ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, ia biasanya langsung marah. Kadang ia menyalahkan keadaan, kadang ia menyalahkan orang lain. Namun kali ini ia hanya diam. Eliza yang sejak tadi diam diam memerhatikan perubahan sikap dewasa sahabatnya itu langsung tersenyum tulus kagum.
“Kamu nggak marah?” tanya Eliza heran dengan ketenangan sahabatnya.
Almeera menggelengkan kepalanya pelan.
“Kesel sih,” aku Almeera jujur tanpa gengsi.
“Terus?” kejar Eliza lagi ingin tahu.
“Ya mau gimana? Kalau marah juga data artikel yang aku butuhkan beneran nggak akan pernah bisa langsung muncul di laptop, kan? Jadi ya buat apa buang buang energi cuma karena tugas doang,” jawab Almeera santai sambil melempar senyuman manisnya yang tulus.
Eliza langsung tertawa renyah mendengar jawaban cerdas sahabatnya.
“Hahaha! Sumpah, Meera, aku ngerasa karakter kamu yang sekarang beneran sudah beda banget deh,” puji Eliza heboh.
Almeera ikut tertawa lepas mendengar pujian heboh Eliza.
“Hahaha! Iya, bener, kan aku sudah billing kalau aku sampai hari ini masih pemula yang lagi belajar berubah, Liz,” sahut Almeera bangga menceritakan proses hijrahnya.
Di tengah tawa renyah mereka, sosok Rafael tampak kembali melangkah berjalan santai menghampiri posisi meja belajar mereka untuk membantu.
“Masih belum ketemu?” tanya Rafael ramah memecah obrolan mereka.
Almeera menganggukkan kepalanya pasrah.
“Belum,” jawab Almeera pelan.
“Coba bagian ini,” saran Rafael sambil mendekat dan jarinya menunjuk ke arah di lapotp Almeera.
“Mungkin kata kunci pencarian yang kamu ketik ini rasanya kelihatan masih terlalu spesifik dan terlalu sempit bahasanya, Meera. Coba kata kuncinya dirubah dulu diganti menggunakan istilah kalimat yang maknanya jauh lebih umum dan luas. Nanti kalau artikel besarnya sudah muncul banyak di layar, baru deh tinggal kalian cari satu per satu isinya secara manual yang sesuai kebutuhan materi.”
Almeera langsung bergerak mempraktikkan trik dari Rafael tersebut di keyboard laptopnya. Ia mengetik beberapa kata kunci baru yang maknanya lebih luas, lalu menekan tombol enter. Detik itu juga, matanya langsung membelalak senang saat melihat ada puluhan daftar link jurnal ilmiah bagus yang langsung muncul berderet rapi di layar monitornya. Seulas senyum manis yang sangat gembira langsung merekah di wajah Almeera hari ini.
“Nah ini ada. Banyak banget datanya hari ini, Ka Rafael!” seru Almeera bersemangat dengan mata berbinar senang.
Eliza ikut condong melihat layar monitor lalu mengangguk puas.
“Cocok. Isi judul artikel yang ini rasanya kelihatan sangat cocok dan pas banget buat bahan presentasi kita nanti,” puji Eliza merasa lega.
Almeera memaku pandangan matanya menatap ke arah wajah Rafael hari ini.
“Berarti tadi cuma salah kata kunci,” gumam Almeera menertawakan keteledorannya sendiri.
“Iya, bener, kendalanya cuma di urusan itu aja kok,” sahut Rafael menenangkan sambil tersenyum tipis.
“Untung kamu bilang. Terima kasih banyak ya atas bantuannya, Ka Rafael,” ucap Almeera tulus merasa sangat bersyukur.
“Tidak apa apa,” jawab Rafael sopan sambil mengangguk.
Rafael kembali ke tempat duduknya. Almeera pun kembali memfokuskan pikirannya untuk melanjutkan sisa ketikan tugas kelompoknya hari ini dengan lancar. Kali ini, dia berkomitmen tegar untuk tidak mau lagi berjalan terburu buru mengikuti nafsu. Ia memeriksa isi data sumber artikel tersebut secara manual satu per satu dengan penuh porsi kesabaran yang ekstra.
Menjelang waktu sore hari tiba, seluruh urusan ketikan revisi tugas kelompok mereka akhirnya resmi dinyatakan selesai dan siap dipresentasikan. Almeera menyandarkan kembali punggungnya dengan lemas di sandaran kursi belajarnya.
“Capek,” ucap Almeera mengembusen napas panjangnya dengan sangat lega.
Eliza ikut mengangguk tegap merapikan alat tulisnya ke dalam kotak pensil.
“Aku juga. Pegal semua nih badan,” sahut Eliza sambil merenggangkan otot tangannya.
“Tapi selesai diketik dengan aman tugas kelompok kita hari ini, Liz,” ucap Almeera tersenyum manis.
“Belum seratus persen,” potong Eliza meluruskan tugasnya.
“Yang penting hampir mendekati kata beres, Meera,” tambah Eliza sambil tertawa pelan.
Mereka tertawa kecil menikmati kepuasan hasil kerja keras mereka. Setelah seluruh barang bawaan selesai dirapikan dimasukkan ke dalam tas ransel, Almeera bangkit berdiri dari kursi. Namun sebelum melangkah kaki berjalan keluar meninggalkan area ruangan perpustakaan, pandangan matanya sempat tertuju menatap kembali ke arah layar laptopnya yang sudah mati selama beberapa detik.
Hari itu sebenarnya tidak berjalan sesuai rencana. Jadwal presentasi berubah, tugas mereka belum siap sepenuhnya, mereka sempat kesulitan mencari sumber di rak perpustakaan. Namun semuanya tetap bisa dilewati dengan aman dan damai tanpa ada luapan emosi mengamuk marah sedikit pun.
Almeera tiba tiba tersadar akan satu ilmu prinsip kehidupan yang sangat mahal. Bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginannya agar semuanya tetap baik baik saja. Kadang rencana berubah, kadang keadaan tidak sesuai harapan, dan itu bukan berarti semuanya menjadi buruk.
Malam harinya, Almeera sudah duduk tenang di depan meja belajarnya yang sepi. Ia membuka buku catatan kecil kesayangannya, lalu menggoreskan tinta pulpen di atas halaman lembar baru yang masih bersih hari ini untuk mengukir kalimat renungan hatinya
“Hari ini rencanaku berubah.”
Almeera menahan gerakan pulpennya sejenak, menarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan tulisan tangannya
“Awalnya aku kesal karena semuanya terjadi lebih cepat dari yang kupikirkan. Tapi akhirnya aku sadar bahwa tidak semua perubahan harus ditakuti.”
Almeera menghentikan gerakan tangannya selama beberapa detik, matanya menatap dalam dalam ke arah tulisan tangannya sendiri, sebelum akhirnya mengukir kalimat penutup yang indah
“Mungkin aku memang tidak bisa mengatur semua yang terjadi dalam hidupku. Tapi aku masih bisa memilih bagaimana cara menghadapinya.”
Ia membaca kembali tulisannya. Ada rasa tenang yang perlahan muncul menghangatkan seluruh dadanya malam ini.
Dulu ia ingin mengendalikan semuanya. Ia ingin orang lain memahami dirinya, ia ingin hubungan berjalan sesuai harapannya, ia ingin hidup mengikuti rencana yang sudah dibuat. Namun kehidupan tidak pernah benar benar bekerja seperti itu. Ada hal yang bisa direncanakan, ada hal yang hanya bisa diterima, dan ada hal yang harus diserahkan kepada Allah.
Almeera menutup bukunya. Ia mengambil mukena dan bersiap menjalankan ibadahnya di atas sajadah dengan penuh rasa pasrah dan rendah hati. Malam itu ia berdoa agar diberi kekuatan untuk menghadapi apa pun yang ada di depannya. Bukan agar semua masalah hilang, bukan agar semua keinginannya dikabulkan, melainkan agar hatinya tetap kuat ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan.
Setelah selesai, Almeera duduk bersandar tenang di kasurnya, lalu memori di kepalanya kembali berputar lambat mengingat seluruh rentetan perjalanan panjang yang sudah berhasil dia lalui dari titik nol. Dulu ia merasa kehilangan satu orang berarti kehilangan seluruh dunianya. Sekarang ia mulai mengerti bahwa dunia tidak berhenti hanya karena seseorang pergi. Masih ada keluarga, masih ada sahabat, masih ada pendidikan, masih ada impian, dan yang paling penting, masih ada Allah yang selalu menjadi tempatnya kembali.
Almeera tersenyum kecil. Mungkin hidup memang tidak akan selalu berjalan seperti yang ia inginkan. Tapi ia tidak lagi ingin memaksa semuanya sesuai keinginannya. Ia hanya ingin belajar menerima, belajar bersabar, dan terus berjalan. Karena terkadang, jalan yang tidak sesuai dengan rencana justru membawa seseorang ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.