Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 : Menagih Hakku.

‎Celine menatapnya terbelalak, napasnya tercekat di kerongkongan. Wajahnya seketika memerah padam, panas merambat naik hingga ke telinga.

‎‎"M‑Malam pertama?!" suaranya nyaris berbisik, bercampur takut dan malu. Tubuhnya mundur sejauh mungkin hingga punggungnya menekan sandaran ranjang. "Kau... kau bercanda kan?!"

‎‎Damian tidak menjawab dengan kata‑kata. Ia hanya perlahan berdiri tegak, bayangannya yang besar menjulang menutupi separuh cahaya remang di ruangan itu. Matanya tak lepas dari wajah Celine. Gelap, berat, dan penuh kepastian yang tak bisa ditolak.

‎‎"Apakah aku terlihat sedang bercanda?" tanyanya rendah, lembut namun menekan.

‎‎Satu per satu, jari‑jarinya mulai membuka kancing kemeja hitamnya. Gerakannya lambat, terukur, tenang sekali, seolah waktu kini berjalan hanya untuk momen ini. Setiap kancing yang terbuka memperlihatkan lebih banyak kulit dadanya yang lebar, keras, dan penuh goresan lama serta bekas memar yang mulai menghitam.

‎‎Celine menelan ludah, matanya tak sengaja terpaku pada gerakan tangan pria itu. Jantungnya berdegup kencang, tak tahu harus mundur ke mana karena sudah terpojok.

‎‎"Damian..." nama itu keluar gemetar. "Kita... ini cuma perjanjian, kan?"

‎‎Damian berhenti sejenak saat kancing terakhir terbuka, kemejanya kini terbuka lebar menampakkan seluruh tubuh atasnya yang kokoh. Ia membiarkan kain itu meluncur jatuh perlahan dari bahunya, tergeletak di lantai tanpa suara.

‎‎"Benar," ucapnya pelan sambil melangkah maju satu langkah mendekati tepi ranjang, matanya terkunci pada mata Celine. "Tapi perjanjian itu juga menyatakan kau istriku sepenuhnya, Celine."

‎‎Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatapnya begitu dekat hingga napasnya yang hangat menyentuh dahi Celine.

‎‎"Dan sekarang... aku menagih hakku."

‎‎Celine menelan ludah, tubuhnya gemetar halus, antara separuh takut dan separuh terhanyut oleh kehadiran Damian yang begitu kuat dan mendominasi. Ia tidak bisa mundur lagi, tak bisa ke mana‑mana.

‎‎Damian merentangkan selimut perlahan, lalu naik ke atas ranjang. Berat tubuhnya menekan kasur di sisinya, membuat Celine terasa semakin kecil dan terkurung di bawah bayangannya. Namun tangannya tidak kasar, ia menopang tubuhnya dengan satu lengan agar tidak menindihnya sepenuhnya.

‎‎"Damian..." namanya terucap lemah, napas Celine memburu.

‎‎"Lihat aku," perintah Damian rendah, suaranya mendesak namun lembut. Saat Celine menatapnya dengan mata berkaca‑kaca, ia menambahkan pelan, "Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah padaku, sekali ini saja."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, bibirnya turun dan menyambut bibir Celine dengan lembut namun menuntut. Bukan ciuman kasar seperti yang ia bayangkan. Ini penuh rasa lapar yang tertahan lama, perlahan melebur segala ketegangan di antara mereka. Tangan kekarnya menyisir rambut Celine, lalu turun menyentuh bahunya dengan kehati‑hatian yang tak disangka.

‎‎Celine menutup matanya rapat, napasnya tersangkut, lalu perlahan mulai merespons dan akhirnya menyerah sepenuhnya pada kehangatan yang melingkupinya. Ia merasakan tangan Damian yang membimbingnya, memberi waktu, tak mendesak. Setiap sentuhan penuh kepemilikan, namun juga penuh perhatian yang membuat dinding pertahanan di hati Celine perlahan runtuh, hingga terlepas satu desahan halus dari bibirnya.

‎‎"Mmm..."

‎‎"Celine..." bisiknya di sela‑sela, suaranya yang serak dan berat, menekan kata itu di kulit leher Celine yang terasa panas. "Kau satu‑satunya yang berhak menerima ini dariku."

‎‎Damian tidak mendesak, ia melangkah masuk perlahan, memberi waktu bagi Celine untuk mengenali setiap sentuhan, setiap detak jantung yang kini menyatu. Gerakannya penuh kepemilikan namun lembut. Tak kasar, tak terburu‑buru, seakan ia tahu betapa rapuhnya wanita ini.

‎‎Saat akhirnya mereka menyatu sepenuhnya, ia berhenti sejenak, membiarkan mereka berdua merasakan keutuhan yang tadi terasa mustahil. Celine mendesah panjang, bergetar di seluruh tubuhnya.

‎‎"Aah..."

‎‎Matanya menatap lekat ke dalam mata Celine yang terbuka sedikit, penuh keraguan namun kini mulai terisi cahaya lain.

‎‎"Bernapaslah bersamaku," bisiknya di bibirnya, lalu mulai bergerak perlahan, berirama, penuh perhatian.

‎‎Gerakannya lembut namun mendalam, mengisi setiap ruang kosong yang selama ini terasa hampa. Celine memejamkan mata, napasnya menyatu dengan irama pria di atasnya, sesekali desahan halus terlepas tak tertahan. Awalnya canggung dan ragu, namun perlahan ketegangannya luruh digantikan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Di setiap sentuhan, di setiap hembusan napas yang saling bertemu, tak ada lagi rasa terpaksa atau kewajiban. Hanya keinginan untuk saling memiliki, untuk saling melupakan segala luka di luar sana.

‎‎"Ah... Damian..."

‎‎Damian memeluknya erat, satu tangannya menopang kepalanya, sementara tangan lainnya saling merapatkan tubuh mereka seakan tak ingin ada jarak sekecil apa pun. Ia menciumnya dengan lembut di pelipis, di kelopak mata, lalu kembali ke bibirnya.

‎‎"Kau milikku..." bisiknya lembut namun tegas di sela irama yang semakin hangat dan menyatu. "Dan aku... milikmu."

‎‎Gerakannya makin mendalam namun tetap penuh perhatian, mengisi setiap ruang kosong di hati dan tubuhnya. Celine melingkarkan kedua lengannya di leher Damian, tak lagi menahan, tak lagi ragu. Setiap sentuhan, setiap desahan yang saling bertaut menyadarkan mereka jika ini bukan sekedar kewajiban.

‎‎"Damian..." desahnya bergetar, tenggelam dalam rasa hangat yang menjalar membara. "Aku... aku tak sanggup..."

‎‎"Pegang aku," bisiknya serak, menopang keningnya menyentuh kening Celine. "Ikutlah bersamaku."

‎‎Irama mereka makin menyatu, cepat perlahan, naik turun seirama dengan detak jantung yang kini berdegup sebagai satu. Celine merasakan gelombang kehangatan makin memuncak, mendesak keluar, hingga akhirnya ia melengkungkan punggungnya, napasnya tertahan sejenak sebelum terlepas. Satu erangan panjang, jernih dan penuh, mengguncang seluruh tubuhnya.

‎‎"Aaaaaahhhh..."

‎‎Damian membiarkannya meluruh sepenuhnya dalam kenikmatan itu, lalu menyusul sesaat kemudian, gerakannya makin dalam satu kali terakhir sebelum akhirnya berhenti, terengah namun tetap tak beranjak menjauh. Ia membiarkan mereka berdua tetap menyatu, bergetar perlahan sambil perlahan turun kembali ke bumi.

‎‎Di bawah selimut, napas mereka terengah dan menyatu. Damian memeluknya erat, menyandarkan kepalanya di ceruk lehernya, membiarkan jantungnya yang kuat berdetak menenangkan jantung Celine yang masih berpacu cepat.

‎‎"Tenanglah..." bisiknya lembut mengusap punggungnya pelan‑pelan. "Kau aman bersamaku."

‎Celine memejamkan mata, rasa hangat menyelimuti. Untuk pertama kalinya sejak semuanya berubah, ia merasa tak perlu lagi was‑was.

‎‎Ddrddtt… Dddtrd…

‎Getaran kasar ponsel di atas nakas membelah keheningan lembut itu begitu tajam, seakan menyadarkan mereka kembali ke dunia nyata yang keras.

‎‎Tubuh Damian menegang seketika. Segala kelembutan lenyap seketika, digantikan ketegangan yang akrab dan menakutkan. Rahangnya kembali mengeras, garis wajahnya menajam dingin. Tanpa sedikit pun melepas lengan yang memeluk istrinya, satu tangannya meraih ponsel itu.

‎LUCA 

‎‎"Ada apa?" suaranya kembali datar, dingin, dan tajam. Tak ada sisa kehangatan sedetik tadi.

‎‎"Tuan… maaf mengganggu. Gudang di pelabuhan diserang. Anak buah Romano." suara Luca terdengar tegang dari seberang sana.

‎‎Damian memejamkan mata sejenak, napasnya ditarik berat dan panjang. Bahunya merosot sedikit, bukan takut, melainkan beban yang tak pernah benar‑benar pergi.

‎‎"Aku ke sana. Dua puluh menit."

‎‎Telepon ditutup. Suara ketukan halus layar mati terdengar nyaring di ruangan hening.

‎‎Ia menoleh perlahan ke arah Celine. Matanya masih gelap pekat, namun kali ini di baliknya terbayang sesuatu yang baru. Penyesalan? Atau rasa bersalah?

‎‎Damian mengecup keningnya sekali, cepat namun lembut, seakan takut kalau terlalu lama ia takkan sanggup pergi.

‎‎"Tetap di sini," perintahnya rendah, tegas namun tak kasar. "Jangan keluar kamar. Aku akan menyuruh pelayan membawakan makan malam untukmu."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, ia bangkit. Mengambil kembali pakaiannya yang tergeletak di lantai, mengenakannya dengan gerakan cepat. Pintu terbuka pelan, lalu tertutup, meninggalkan Celine sendirian, hangat di sampingnya masih terasa, namun dinginnya dunia luar sudah kembali mengetuk pintu.

-

-

-

‎Ruangan kerja Matteo hanya diterangi satu lampu meja yang menyorot tajam, membiarkan sisa ruangan tenggelam dalam bayang‑bayang gelap.

‎‎Di atas meja, map tebal terbuka lebar. Di sana terpasang foto pertama. Celine, tersenyum lelah namun tulus mengenakan celemek kafe. Tertulis jelas di bawahnya:

‎‎NAMA: CELINE ATHARAYA

‎PEKERJAAN: BARISTA

‎PENGHASILAN: Rp 3.200.000 / BULAN

‎‎Beralih ke foto kedua: Jason, berdiri tegak dengan balutan jas mahal yang pas di tubuhnya.

‎‎NAMA: JASON PRADANA

‎JABATAN: CEO PRADANA GROUP

KEKAYAAN: 800 MILYAR LEBIH

‎Jari‑jemari Matteo mengetuk pelan meja kayu itu,  bunyinya berirama, dingin, penuh perhitungan.

‎‎"Menarik sekali..." gumamnya pelan, matanya menyipit tak percaya sekaligus penuh niat licik. "Istri Damian Salvatore hanyalah mantan pelayan kafe. Dan ternyata dulu hatinya milik pewaris kaya raya ini."

‎‎Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, senyum miring muncul di bibirnya.

‎‎"Oma Rosalina terus mendesaknya untuk menikah. Bisa jadi Damian menikahinya karena kasihan sekaligus memenuhi permintaan Oma."

‎‎Matteo mengambil foto Jason dari sana, lalu menutup map itu perlahan.

‎‎"Jason..." bisiknya penuh janji manis yang beracun. "Kau pasti masih menginginkannya, bukan?"

‎‎Ia tersenyum makin lebar, penuh rencana gelap yang mulai tersusun rapi.

‎"Tenang... aku bisa membantumu. Kita akan mengambilnya kembali dari cengkeraman Damian Salvatore."

-

-

-

Bersambung...

1
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
🍓ADIRA🍓
main peran jadi ceo dulu y Dam 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!