Indonesia
NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peretas Menengah: 'Vane'

Tetesan air tanah berdetak lambat di lorong pembuangan, memecah senyap yang mendadak membeku usai pengakuan Kael.

Nora tersentak mundur satu langkah, menatap pemilik kedai tua itu dengan mata membelalak lebar.

"K-Kael... kamu bagian dari Tinta Mati?!" pekik Nora dengan vokal yang terputus-putus akibat guncangan batin.

"Dulu aku cuma arsitek jaringan netral, Nora," sahut Kael pelan seraya meletakkan lenteranya di atas pipa besi tua.

"Sebelum tempat ini dikuasai Zero, lorong ini adalah jalur pelarian bagi sosok nirnama yang terasing dari kota," lanjut Kael seraya menatap Nio.

Nio tetap berdiri tegak, meraba tekstur serat kertas kosong di sakunya demi menjaga ketenangan pikirannya.

"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," bisik Nio dalam batinnya.

"Lu yang merancang pintu belakang ke Sektor Utama, tapi Zero mengubahnya jadi perangkap," pangkas Nio dingin.

Kael mengangguk berat, raut wajahnya dipenuhi penyangkalan atas masa lalu yang berusaha ditutupinya rapat-rapat.

"Zero mencuri cetak biru arsitekturku setelah dia menghapus ingatanmu sepuluh tahun lalu, Nio," aku Kael dengan nada memelan.

BEEP! BEEP! BEEP!

Seketika itu juga, tablet kendali Tinta Mati di genggaman Nio bergetar hebat dan memancarkan pendar merah pekat.

Garis-garis kode asing merayap cepat di permukaan layar, menghapus seluruh folder rekonstruksi yang baru saja dibuka.

"Penyusup digital... ada yang sedang memotong protokol data kita secara paksa!" seru Nio seraya menggeser jemarinya menahan peretasan.

Di layar tablet, sebuah lambang ular bertengkorak kabel melilit angka digital muncul mengejek.

"Vane..." desis Kael saat mengenali ikonografi mematikan tersebut.

"Siapa Vane?!" cecar Nora panik melihat indikator baterai dan data tablet mereka merosot drastis.

"Dia peretas letal tangan kanan Zero di sektor regional," jawab Kael seraya mengepalkan tangannya.

"Vane tidak pernah menyerang sistem secara pasif; dia merusak infrastruktur fisik korbannya," tambah Kael cemas.

Dari konsol genggam Nio, suara ketikan papan ketik bernada cepat terdengar keluar dari pengeras suara internal.

"Aksesss ditolak, Pakar Data Mati..." sapa sebuah suara pemuda beraksen tajam dan dingin melalui saluran yang diretas.

"Lu pikir bisa merebut tablet Tinta Mati tanpa memicu sinyal umpan balikku?" cibir Vane seraya tertawa sumbang.

'Dia mengunci sistem dari luar menggunakan arsitektur pemeras regional,' batin Nio menganalisis jenis serangan lawan.

"Lu terlalu percaya diri untuk seorang peretas yang cuma berani bersembunyi di balik Zero," balas Nio datar.

"Sombong sekali untuk sosok tanpa identitas yang eksistensinya hampir tereliminasi!" bentak Vane dengan nada terancam.

"Aku sedang meluncurkan serangan Denial-of-Service massal ke seluruh infrastruktur kedai tua milik Kael!" seru Vane penuh dominasi.

Nora membelalakkan matanya saat melihat indikator koordinat di layar tablet menunjukkan pelacakan real-time ke Sektor Bawah.

"Kael! Dia melacak lokasi kedaimu!" teriak Nora panik seraya menoleh ke arah pria tua itu.

"Kedai itu memegang server cadangan yang menyimpan residu data masa lalumu, Nio!" seru Kael dengan vokal bergetar tegang.

"Kalau Vane menghancurkan server itu, peluangmu mengenali diri sendiri akan lenyap selamanya!" tambah Kael mendesak.

Garis pemanduan sinyal Vane mulai mengunci node jaringan Kedai Kael, mengubah status pelacakannya menjadi merah menyala.

"Dalam hitungan detik, kedai sampah itu akan terbakar oleh lonjakan arus listrik yang kukirim!" gelak Vane dari pengeras suara.

Nio menutup matanya rapat-rapat selama satu detik, mengabaikan kepanikan yang mengepung ruangan lorong tersebut.

Sebuah anomali memori melintas di kepala Nio—sebuah preseden algoritma pertahanan kuno yang pernah dia tulis sendiri.

"Kael, sambungkan kabel lenteramu ke port diagnostik tablet ini sekarang!" perintah Nio tegas tanpa celah keraguan.

"L-lentera ini? Ini cuma baterai lithium tua!" sahut Kael ragu namun tetap bergerak cepat menancapkan kabel penyambung.

Jemari Nio menari liar di atas layar yang retak, melakukan pengalihan arus muatan data secara ekstrem.

"Lu pikir serangan arus bisa menembus protokol tabula rasa milik gue, Vane?" gumam Nio seraya menekan instruksi balik.

VRRRRRR!

Gelombang elektromagnetik balik meluncur menelusuri jalur sinyal yang dipakai Vane untuk melacak mereka.

"A-APA INI?! BAGAIMANA BISA LU MEMBALIKKAN ARUS DATA-KU?!" jerit Vane panik dari pengeras suara yang kini berkeretak.

"Lu cuma menyalin kode Zero tanpa paham arsitektur dasarnya," pangkas Nio dingin seraya mengeksekusi perintah isolasi.

SPARK!

Pengeras suara tablet meletup kecil, mengeluarkan asap tipis seraya memutuskan sambungan Vane secara total.

Sinyal pelacakan ke Kedai Kael terputus seketika, mengembalikan pendar hijau stabil pada konsol genggam Nio.

Nora menghela napas lega yang panjang, menyandarkan tubuhnya yang lemas ke dinding pipa pembuangan.

"Kamu... kamu baru saja mematikan peretas terbaik Zero?" bisik Nora seolah tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.

"Gue cuma memutus node pemancar lokalnya," sahut Nio datar seraya mencabut kabel baterai Kael.

"Vane akan sadar dalam sepuluh menit dan melacak posisi fisik kita di lorong ini," lanjut Nio menegaskan situasi.

Kael melangkah mendekat, menatap Nio dengan tatapan menghormati yang mendalam.

"Kemampuanmu merekonstruksi logika peretasan tidak pernah pudar, Nio," puji Kael seraya mengambil kembali lenteranya.

"Kita tidak punya waktu untuk nostalgia, Kael. Di mana pintu rahasia ke Sektor Utama?" potong Nio tanpa membiarkan suasana melunak.

Kael berbalik, memutar katup tua di dinding beton hingga terdengar dentum mekanisme besi bergeser di balik dinding.

Sebuah celah sempit yang tembus ke lorong bawah tanah yang lebih dalam terbuka perlahan, mengembuskan udara dingin yang sangit.

"Jalur ini langsung tembus ke lantai bawah fasilitas pemrosesan Tinta Mati," terang Kael seraya menunjuk ke dalam kegelapan.

"Milo ada di ujung fasilitas itu, tetapi Zero pasti sudah menyiagakan eksekutor utamanya," tambah Kael mengingatkan.

Nora mengepalkan tangannya rapat-rapat, melangkah maju tanpa ragu melewati celah pintu besi tersebut.

"Aku tidak peduli berapa banyak eksekutor yang menyelesaki tempat itu, aku akan membawa Milo pulang," tekad Nora mantap.

Nio melangkah mengiringi Nora dari belakang, membiarkan Kael menjaga palka pintu dari luar.

"Jaga diri kalian... jangan biarkan Zero mencabut sejarah kalian dari dada manusia," pesan Kael sebelum menutup pintu pelan.

KLAK!

Suara pintu besi yang terkunci dari luar meninggalkan Nio dan Nora dalam kegelapan lorong bawah tanah yang memanjang.

Pendar lampu kilat dari tablet Nio menjadi satu-satunya penerang saat mereka berjalan menyusuri rel tua yang tak terawat.

"Nio... kalau kita berhasil menyelamatkan Milo, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Nora pelan di sela langkah mereka.

"Gue akan mencari tahu siapa yang menyimpan nama gue," sahut Nio singkat tanpa menoleh.

Tiba-tiba, suara tepuk tangan berirama lambat bergema nyaring dari balik tikungan rel di hadapan mereka.

Sesosok pemuda bermata merah dengan perban di kedua tangannya berdiri di atas tumpukan besi tua seraya tersenyum miring.

"Luar biasa... aksi pertahanan yang sangat manis, Nio," sapa pemuda itu seraya mengarungkan dua pisau lempar taktis.

Pendar dari layar lipat di lengannya menunjukkan logo ular bertengkorak—tanda bahwa dia telah menunggu secara fisik.

"Vane..." desis Nio menghentikan langkahnya secara mendadak.

"Di dunia digital lu mungkin menang, Pakar Data..." pangkas Vane seraya melompat turun dengan kecepatan membunuh.

"Tapi di dunia nyata, eksistensimu akan tereliminasi secara fisik malam ini!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!