Jackly Ellesmere Zloty- dia adalah pamanku yang galak dan posesif. Tapi, dia selalu menuruti permintaanku. asal tidak bersangkutan dengan satu orang yang begitu di bencinya. yaitu.. Papa.
~BillbyImona
Tidak hanya kami.. semua orang pasti bertanya-tanya siapa sebenarnya Billby itu?
~tigabujangprancis
#family drama with romcom
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
¯\_(ツ)_/¯Shrug
Brak!
Vahan membanting pintu kamarnya dengan keras, lalu menguncinya rapat-rapat. Ia kembali menatap layar ponselnya yang masih dipenuhi makian dari para Billbers.
Lebih parah lagi, akun-akun menyeramkan seperti @xexe_, @lele_, dan @rerex_ sudah mulai menandai akun bernama @jeje_ untuk "membereskannya".
Tanpa memedulikan ratusan hujatan yang terus masuk, Vahan dengan cepat mencari kontak Instagram Billby.
Ia langsung menekan ikon mikrofon di kolom Direct Message (DM) untuk mengirimkan pesan suara (voice note). Ia tidak punya waktu untuk mengetik, ia harus meluruskan ini secepatnya
"Billby... Billby, ini gue, Vahan," ucap Vahan terengah-engah, suaranya terdengar sangat panik, frustrasi, dan dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat.
"Gue mau minta maaf yang sebesar-besarnya soal komentar di postingan lo tadi. Itu bukan gue, itu Afghan. Gue bener bener minta maaf ya"
Vahan melepas tombol rekam, mengirimkan voice note singkat tapi padat itu dengan perasaan waswas yang menyiksa. Ia menatap layar, menunggu dengan cemas apakah si Sleeping Queen akan mendengarkan penjelasannya atau justru langsung memblokir akunnya selamanya.
Vahan menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jantungnya berdegup kencang saat melihat tulisan 'baru dibaca'.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Billby untuk mendengarkan voice note panik darinya.
Sebuah ikon sedang mengetik muncul, lalu disusul oleh balasan dari si Sleeping Queen.
@billby_IZX: "Wkwk santai aja kali. Aku udah tebak itu bukan kamu. Ketikan kamu kan biasanya kan rapi pake subjek predikat, gak se-toxic itu. Gak usah panik."
Melihat balasan itu, Vahan bisa sedikit menghela napas lega.
Setidaknya, Billby tidak membencinya. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama ketika pesan berikutnya masuk.
@billby_IZX: "Tapi mending kamu hapus deh komentar itu sekarang. Soalnya Om-om sama Tante ku udah pada heboh di grup keluarga. Walaupun aku gak tahu mereka bakal ngapain ke kamu, tapi demi keselamatan, mending buruan hapus sebelum mereka beneran turun tangan."
Billby mengetik itu sambil merebahkan diri di kasur pinknya dengan santai. Dia tahu keluarganya sangat protektif, terutama Om Jack. Jika ada yang berani menyenggolnya, Om Jack pasti tidak akan tinggal diam. Tapi di sisi lain, karena identitasnya sebagai keluarga Zloty dan Xanzho masih disembunyikan rapat-rapat dari publik, para Om-nya tidak bisa membelanya secara terang-terangan di media sosial menggunakan akun utama mereka.
Menghapus komentar adalah jalan pintas terbaik yang terpikirkan oleh Billby saat ini—walaupun dia sendiri tidak yakin apakah itu bisa benar-benar menyelamatkan Vahan dari radar Om Jack.
Vahan membaca peringatan dari Billby. Alih-alih langsung menghapusnya, ego dan rasa gengsi seorang remaja laki-laki justru berontak di dalam diri Vahan.
@vahan: "Gak mau, ah. Gak bakal gue hapus."
@billby_IZX: "Loh? Kenapa? Tar kamu diamuk loh."
@vahan: "Kalau gue hapus sekarang, yang ada gue malah tambah malu. Netizen bakal mikir gue beneran pengecut yang kabur setelah ketahuan ngatain lo. Biarin aja di situ."
Billby hanya membalas dengan emoji mengangkat bahu (¯_(ツ)_/¯) lalu pamit untuk kembali tidur, meninggalkan Vahan yang kini terdampar sendirian di kamarnya.
Setelah menutup obrolan dengan Billby, Vahan kembali membuka kolom komentar postingan video pink tersebut. Dan di sinilah siksaan mentalnya yang sesungguhnya dimulai.
Vahan hanya bisa duduk di sudut kasur, memegangi kepalanya, sambil misuh-misuh sendiri membaca balasan-balasan sadis dari para Billbers yang semakin menggila.
"Sialan si Afghan... bener-bener pembawa petaka," umpat Vahan pelan saat membaca komentar yang menyebutnya 'cowok lemes'.
"Gila, ini lagi... gue dibilang numpang pansos? Akun sepi? Ya emang akun gue buat nyari tugas sekolah, bukan buat joget-joget!" dumal Vahan dengan wajah memerah menahan kesal.
Matanya kemudian tertuju pada balasan dari akun @xexe_ dan @rerex_ yang terus-menerus menandai akun bernama @jeje_ dengan kalimat 'beresin bang'. "Jeje ini siapa lagi? Akun bodong tapi kenapa aura komentarnya kayak mau ngirim pembunuh bayaran ke rumah gue?" Vahan bergidik ngeri, meremas rambutnya frustrasi.
Siang itu, si murid terpintar di sekolah sama sekali tidak bisa menyentuh buku matematikanya. Alih-alih belajar, kesehariannya yang tenang kini mendadak dipenuhi dengan ritual membaca ribuan hujatan netizen yang salah sasaran, sembari berdoa dalam hati semoga ia tetap bisa melihat matahari terbit di esok hari.
•••
Aroma manis coklat yang dilelehkan mulai memenuhi seisi dapur kediaman Zloty. Di balik meja konter marmer yang luas, dua wanita paruh baya yang masih terlihat sangat modis itu sedang sibuk dengan peralatan baking mereka.
"An... suami sama anak-anak kamu kapan pulang?" tanya Bolivia memecah keheningan. Tangannya bergerak lincah memotong-motong blok coklat hitam menjadi bagian-bagian kecil di atas talenan.
Angel yang saat itu sedang fokus menggoyangkan ayakan tepung terigu di atas mangkuk besar, seketika menghentikan gerakannya. Ia menatap Bolivia dengan dahi berkerut penasaran.
"Kenapa memangnya?"
Tumben-tumbenan Bolivia menanyakan jadwal kepulangan anak-anaknya yang saat ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Biasanya, obrolan mereka tidak jauh-jauh dari urusan salon, belanja, atau tingkah random cucu mereka, Billby.
Bolivia memasukkan potongan coklat ke dalam mangkuk antipanas, lalu menjawab dengan nada yang teramat santai, "Itu si Jack mau nikah."
Prak!
Angel nyaris saja menjatuhkan ayakan tepungnya ke lantai. Informasi yang keluar dari mulut Bolivia barusan bagaikan petir di siang bolong, memberikan efek shock tingkat tinggi bagi dirinya.
Tanpa memedulikan tepung yang sedikit berhamburan di meja, Angel meninggalkan pekerjaannya begitu saja dan langsung berjalan cepat menghampiri Bolivia. "Gimana gimana, Lip?! Kok aku enggak tahu apa-apa?!" tuntut Angel dengan mata membelalak, menagih penjelasan mendalam. Bagaimana bisa sahabatnya ini menyembunyikan berita sebesar ini darinya?
Bolivia malah terkekeh melihat reaksi heboh sahabat nya itu. Ya, Angel memang sahabat Bolivia. Bahkan sejak masa SMA "Jangankan kamu, An... si Jack aja sebenarnya belum tahu apa-apa. Yang tahu baru Austen," sahut Bolivia tanpa dosa sambil mengaduk coklat yang mulai meleleh di atas air mendidih.
Mendengar hal itu, ekspresi wajah Angel langsung berubah menjadi tidak suka. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Bolivia dengan pandangan menghakimi. "Loh? Kamu main jodoh-jodohan kayak zaman dulu? Lip, ini sudah abad ke-21, jangan maksa anak!"
"Ih, tenang aja! Ceweknya sudah kita kenal baik, kok. Si Jack juga sebenarnya kenal sama dia," bela Bolivia, mencoba meredakan kepanikan sahabatnya.
"Siapa emang? Jangan bikin aku penasaran deh!" desak Angel lagi, semakin tidak sabar.
"Ceylon," ucap Bolivia singkat dengan senyuman penuh arti.
Mendengar satu nama itu disebut, raut wajah Angel yang tadinya tegang seketika sirna. Matanya langsung berbinar-binar cerah, memancarkan binar persetujuan yang mutlak.
Respon Angel ini ternyata sama persis seperti respon Austen sebelumnya. Tadi, setelah Billby berlari ke lantai atas untuk mandi, Bolivia dan Austen memang sempat melanjutkan obrolan serius mereka mengenai perjodohan Jack. Awalnya, Austen sangat kurang setuju dan takut Jack akan mengamuk. Namun, begitu Bolivia membisikkan nama Ceylon, Austen langsung memberikan lampu hijau tanpa ragu sedikit pun.