Larasati dipaksa menikah demi menyelamatkan keluarganya, namun tiga tahun kesetiaannya dibalas dengan pengusiran saat wanita idaman suaminya kembali. Tanpa mereka tahu, Larasati bukan wanita lemah yang mereka kira. Saat identitas aslinya terbongkar, kini giliran mereka yang memohon belas kasihannya—tapi Larasati tak akan pernah kembali ke masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niclia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Kabar Bahagia yang Dinanti
Waktu berjalan begitu cepat, hingga hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Larasati merasakan tanda-tanda bahwa buah hatinya akan segera melihat dunia. Segala persiapan sudah dilakukan dengan matang oleh Bu Aminah, Bu Ratna, serta Ardan yang tak henti-hentinya memberi dukungan penuh.
Arga yang mendengar kabar itu datang dengan wajah pucat namun penuh harap. Ia berdiri di luar ruangan, gemetar menahan tangis, berdoa sekuat tenaga agar ibu dan anaknya selamat. Rasa takut bercampur bahagia menyelimuti hatinya, menyadari bahwa sebentar lagi ia akan memegang tanggung jawab terbesar dalam hidupnya.
Berjam-jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Hingga akhirnya terdengar tangisan bayi yang lantang memecah kesunyian. Seorang perawat keluar dengan senyum bahagia. "Selamat, bayinya sehat dan kuat. Seorang putri cantik."
Saat Larasati melihat wajah mungil itu untuk pertama kalinya, semua rasa sakit, kesedihan, dan air mata yang pernah ia alami seketika terbayar lunas. Bayi itu tersenyum dalam tidurnya, seolah tahu bahwa ia lahir dari rahim seorang ibu yang sangat tabah dan penuh kasih sayang.
Arga mendekat perlahan, menatap wajah putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Larasati... terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menjadi ayahnya," ucapnya lirih dengan suara tercekat.
Larasati mengangguk lembut. "Jadilah ayah yang ia banggakan, Arga. Itu saja yang aku minta."
Ardan pun ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan wanita yang ia sayangi. Ia tahu, kehadiran sang putri akan menjadi jembatan yang mempererat segala hal baik yang telah mereka bangun bersama.
Waktu berjalan begitu cepat, hingga hari yang ditunggu-tunggu dengan penuh harap dan cemas akhirnya tiba. Larasati merasakan tanda-tanda bahwa buah hatinya yang selama ini ia jaga dan sayangi akan segera melihat dunia. Segala persiapan sudah dilakukan dengan sangat matang oleh Bu Aminah yang sigap, Bu Ratna yang kini penuh kasih sayang, serta Ardan yang tak henti-hentinya memberi dukungan penuh dan ketenangan bagi Larasati.
Arga yang mendengar kabar itu seketika datang dengan wajah pucat namun dipenuhi harapan yang tak terlukiskan. Ia berdiri tegak di luar ruangan, tubuhnya gemetar hebat menahan tangis dan rasa takut, sambil berdoa sekuat tenaga agar ibu dan anaknya selamat serta sehat walafiat. Rasa takut bercampur bahagia yang meluap-luap menyelimuti hatinya, menyadari bahwa sebentar lagi ia akan memegang amanah dan tanggung jawab terbesar dalam seluruh hidupnya.
Berjam-jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan, setiap menit terasa seperti satu abad bagi mereka yang menunggu. Hingga akhirnya terdengar tangisan bayi yang lantang dan jernih memecah kesunyian rumah itu. Seorang perawat keluar dengan senyum bahagia yang merekah. "Selamat Ibu, selamat semuanya! Bayinya sehat, kuat, dan sempurna. Seorang putri cantik yang sangat mirip dengan Ibunya."
Saat Larasati melihat wajah mungil, merah jambu, dan mungil itu untuk pertama kalinya, semua rasa sakit, kesedihan, air mata, serta perlakuan kasar yang pernah ia alami seketika terbayar lunas seketika itu juga. Bayi itu tersenyum samar dalam tidurnya yang nyenyak, seolah tahu bahwa ia lahir dari rahim seorang ibu yang sangat tabah, sabar, dan penuh kasih sayang yang tak terbatas.
Arga mendekat perlahan dengan langkah yang gemetar, menatap wajah putrinya lekat-lekat dengan mata yang berkaca-kaca. "Terima kasih, Larasati... terima kasih telah memberiku kesempatan berharga ini untuk menjadi ayahnya," ucapnya lirih dengan suara yang tercekat karena haru.
Larasati mengangguk lembut sambil menatapnya dengan tatapan yang sudah tidak lagi penuh amarah, melainkan penuh harapan. "Jadilah ayah yang kelak ia banggakan, Arga. Jadilah ayah yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Itu saja yang aku minta darimu."
Ardan pun ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan wanita yang ia sayangi begitu tulus. Ia tahu, kehadiran sang putri mungil ini akan menjadi jembatan emas yang mempererat segala hal baik yang telah mereka bangun bersama-sama dengan penuh kesabaran.