Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.
Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.
Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Cantik
Laluna menatap cincin di jari Selena dengan tatapan dingin. Tidak ada rasa terkejut ataupun terluka seperti yang Selena harapkan. Justru ketenangan wanita itu membuat Selena merasa sedikit kesal.
"Jadi hanya karena sebuah cincin kau berpikir bisa menghancurkan hidupku?mimpi sekali," ujar Laluna.
Selena tersenyum miring. Ia melangkah sedikit mendekat, meskipun masih menjaga jarak karena keberadaan penjaga Nathan yang terus mengawasinya.
"Bukan hanya karena cincin ini, Luna. Kevin adalah pria yang dulu bersamamu. Semua orang akan melihat bahwa setelah meninggalkanmu, dia memilihku. Dan kau, kau akan dianggap wanita murahan yang ditinggalkan seorang pria."
Laluna menghela nafas kecil. Ia tidak menyangka Selena masih membawa nama Kevin untuk menyakitinya. Padahal sejak pengkhianatan itu ia sudah tidak peduli dengan pria brengsek itu.
"Selena, aku tidak peduli siapa yang dipilih Kevin."
Senyum Selena perlahan menghilang. "Kau bohong. Kau pasti masih tidak rela melihat Kevin bersamaku!"
"Aku tidak bohong," jawab Laluna tenang. "Orang yang meninggalkanku sudah bukan tanggung jawabku lagi. Lagi pula aku tidak menerima orang sampah seperti kevin, jika kau suka sampahku silahkan ambil saja," ujarnya, santai.
Kalimat sederhana itu membuat Selena terdiam sesaat. Ia menggigit bibirnya, berusaha menyembunyikan rasa kesal.
"Kau memang selalu berpura-pura kuat."
"Tidak. Aku hanya sudah tidak punya alasan untuk peduli dengan pria itu, jika kau suka ambil saja."
Rina yang berdiri di samping Laluna hanya diam memperhatikan. Ia tahu sahabatnya itu memang sudah berubah. Dulu, Laluna mungkin akan menangis mendengar nama Kevin disebut. Namun sekarang, wanita itu bahkan tidak terlihat terganggu.
Selena mengepalkan tangannya.
"Kau pikir karena sekarang ada Nathan di sisimu, kau bisa menang?"
Laluna mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
"Kau terkenal karena dia melindungimu. Semua orang tahu Nathan Adikara memiliki kekuasaan besar. Tanpa dia, apakah kau masih bisa bertahan?"
Tatapan Laluna berubah lebih tajam. "Itu bukan urusanmu, lebih baik kau pergi dari hadapanku," tegasnya.
Laluna segera berjalan mendorong bahu Selena dengan bahunya,ia benar benar muak dengan ocehan gadis itu yang baru ia ketahui, gadis yang selalu iri dengan hidupnya. Padahal dulu saja ia lah yang membantu gadis itu, tapi ya seperti itu air susu di balas air tuba mungkin peribahasa itu yang cocok untuk menggambarkan gadis tidak tahu malu bernama Selena.
"Kamu tidak apa apa Luna?" tanya Rina.
Luna hanya mengangguk, ia tidak ada energi untuk mengurusi wanita murahan seperti itu. Laluna yang baru sampai di tempat syuting, segera di sambut oleh pak Rangga.
"Laluna, tuan Nathan bilang kalau kamu sedang sakit. Jika misal kamu perlu istirahat saya akan menghentikan syuting ini," jelasnya.
Laluna yang mendengar itu sontak terkejut, ia tidak menyangka Nathan bahkan meminta pak Rangga untuk memperhatikannya selama berada di lokasi syuting. Pria itu benar-benar selalu memikirkan kondisinya bahkan ketika dirinya sedang sibuk bekerja.
"Tidak perlu, Pak Rangga. Aku masih bisa melanjutkan syuting," jawab Laluna sambil tersenyum kecil.
Pak Rangga memperhatikan wajah Laluna yang masih terlihat sedikit pucat. Ia menghela napas pelan.
"Tapi jangan memaksakan diri. Tuan Nathan sudah berpesan kepada saya untuk tidak membiarkan kamu terlalu lelah."
Laluna terdiam sejenak mendengar nama Nathan disebut lagi. Pria itu memang menyebalkan dengan sifat dinginnya, tetapi perhatian kecil yang selalu diberikan Nathan sering kali membuat hatinya terasa hangat.
"Dia benar-benar berlebihan," gumam Laluna pelan.
Rina yang mendengar itu langsung tersenyum menggoda. "Berlebihan? Menurutku itu namanya perhatian. So Sweet sekali suami kontrakmu itu."
Laluna langsung melirik Rina. "Jangan mulai."
Rina terkekeh kecil. "Aku hanya mengatakan fakta. Tuan Nathan bahkan sampai mengirim penjaga khusus untukmu. Sekarang dia juga meminta Pak Rangga memperhatikan kondisimu."
Laluna mengalihkan pandangannya. "Dia hanya takut aku membuat masalah."
"Ya, ya. Percaya saja kalau itu alasannya," balas Rina sambil menahan tawa.
Sebelum Laluna sempat menjawab, suara asisten sutradara terdengar memanggil para pemain untuk bersiap.
"Laluna, adegan berikutnya sudah siap!"
Laluna segera mengangguk. "Aku pergi dulu, Pak, Rin. "
Pak Rangga hanya tersenyum dan mengangguk. "Jangan lupa makan setelah adegan ini selesai. Kalau kamu kenapa napa nanti saya akan diomeli bapak Nathan."
Laluna tersenyum kecil. "Baik, Pak."
Di sisi lain, Nathan sedang berada di ruang kerjanya. Beberapa dokumen tergeletak di atas meja, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya tertuju pada pekerjaan. Tatapannya berhenti pada layar ponsel yang menampilkan pesan dari pengawalnya.
"Tuan, Selena baru saja menemui Nona Laluna."
Jordi yang sedari tadi mengamati bosnya itu hanya mengernyit.
"Ada apa sebenarnya tuan Nathan?" tanyanya, penasaran.
Nathan segera mendongakkan kepalanya, ia menatap Jordi lekat lekat.
"Urusi Kevin dan gadis bernama Selena itu, saya tidak mau istri saya kenapa napa. Apalagi tadi penjaga Laluna bilang gadis itu kembali membuat ulah dengan Laluna," jelasnya.
Istri saya? Jordi yang mendengar itu rasanya ingin tertawa. Ia tidak menyangka bosnya yang dingin itu memanggil nona Laluna dengan istri saya.
"Bukannya itu hanya istri kontrak tuan?" ujarnya.
"Diam kamu Jordi, gaji kamu saya kurangi 5 persen," ancamnya.
Jordi langsung terdiam. Ia menatap Nathan yang kembali fokus pada dokumen di depannya, seolah ancaman pengurangan gaji tadi benar-benar serius.
"Baik, Tuan. Saya akan mengurusnya," jawab Jordi sambil menahan rasa kesalnya karena gajinya tiba tiba di potong.
Namun sebelum ia beranjak pergi, Nathan kembali bersuara.
"Jordi."
"Ya, Tuan?"
"Pastikan tidak ada yang mengganggu Laluna selama syuting. Tambahkan dua penjaga lagi."
Jordi mengangkat alisnya. "Dua lagi? Bukankah sudah ada satu penjaga yang menjaga Nona Laluna?Jika nona Laluna tidak nyaman bagaimana tuan?"
Nathan menatapnya dingin. "Kau keberatan?"
"Tidak, Tuan. Saya hanya heran."
"Heran dengan apa?Ini sudah saya pertimbangkan, lagi pula penjaga yang dia sewa tidak berguna untuk melindunginya dan satu penjaga yang saya kirim juga tidak bisa menjaganya."
Jordi tersenyum kecil. "Saya hanya tidak menyangka seseorang seperti Tuan Nathan yang biasanya tidak peduli dengan siapa pun sekarang begitu memperhatikan seorang wanita."
Tatapan Nathan berubah tajam. "Dia istriku. Sudah sepatutnya saya melindunginya."
Jawaban singkat itu membuat Jordi kembali terdiam. Meski Nathan mengatakannya dengan nada datar, ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya. Pria itu benar-benar menganggap Laluna sebagai seseorang yang penting.
Jordi mengangguk pelan. "Saya mengerti, Tuan."
Setelah Jordi keluar dari ruangan, Nathan kembali melihat layar ponselnya. Ada foto yang baru saja dikirimkan pengawalnya. Foto Laluna yang tampak cantik sedang beradu akting, entah kenapa melihat gadis itu membuatnya ingin mengangkat bibirnya.
" Cantik," gumamnya.