Indonesia
NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Pendampingan Pertama

Permintaan itu berasal dari seorang pria berusia enam puluh delapan tahun bernama Han Siong Tio.

Ia tinggal sendiri dan membutuhkan pendamping untuk kontrol penyakit dalam di RSUD Serpong Utama dua hari lagi. Tugas yang tercantum sederhana: membantu registrasi BPJS, menemani konsultasi, mencatat penjelasan dokter, dan mengambil obat.

Nan Shin membaca waktu, lokasi, dan batas tugas tiga kali sebelum menekan terima.

Ia mengirim salam melalui aplikasi, memastikan Om Tio membawa dokumen asli, dan meminta satu nomor keluarga yang boleh dihubungi bila keadaan berubah.

Yi Chen sudah tidak demam selama lebih dari satu hari dan kembali aktif. Jadwal kontrol Om Tio juga selesai sebelum waktu menjemput anak. Nan Shin menyiapkan makan siang di kulkas, memberi tahu Ibu Kho bahwa ia mendapat pekerjaan pendampingan pagi hari, lalu mencetak ringkasan pesanan.

Ibu Kho hanya mengangkat alis. “Pekerjaan dari ponsel itu?”

“Iya. Saya akan pulang sebelum jemput Yi Ming.”

“Asal urusan rumah selesai.”

Nan Shin tidak menjawab. Ia tidak lagi memakai selesainya seluruh rumah sebagai syarat untuk bekerja. Pakaian kotor bisa menunggu beberapa jam. Pasien dengan jadwal kontrol tidak bisa.

Pukul enam lewat empat puluh lima pada hari pesanan, Nan Shin tiba di pintu utama RSUD. Ia mengenakan blus polos, celana panjang, sepatu tertutup, dan kartu mitra SehatTemani di tali hijau. Di dalam tas ada pulpen, buku catatan, map kosong, penyanitasi tangan, tisu, dan kantong kecil untuk memisahkan struk.

Seorang pria kurus berkemeja kotak-kotak berdiri dekat mesin antrean sambil melihat ponsel.

“Pak Han Siong Tio?”

Pria itu mengangkat kepala. “Kak Nan?”

“Betul. Saya Nan Shin dari SehatTemani.”

“Panggil Om Tio saja. Nama lengkap itu bikin saya merasa sedang dipanggil petugas pajak.”

Nan Shin tersenyum. “Baik, Om Tio. Sebelum mulai, saya cocokkan kode pesanan dan tujuan kontrol.”

Mereka memeriksa kode dari aplikasi. Nan Shin lalu meminta izin melihat KTP, kartu BPJS, surat rujukan, dan daftar obat yang dibawa. Semua diperiksa di hadapan Om Tio dan langsung dimasukkan kembali ke map.

“Anak saya biasanya yang urus,” kata Om Tio. “Dia sekarang kerja di Surabaya. Saya tidak mau merepotkan tetangga.”

“Hari ini saya bantu alurnya. Keputusan medis tetap Om dan dokter.”

“Jangan terlalu resmi. Saya cuma takut salah loket.”

“Kalau begitu kita mulai dari mesin antrean, lalu verifikasi di meja BPJS.”

“Kak Nan jalan cepat nggak?”

Nan Shin menyesuaikan tali tasnya. “Saya mengikuti langkah Om. Kalau Om perlu berhenti, bilang.”

“Saya nggak mau diperlakukan seperti orang rapuh.”

“Saya tidak akan menganggap Om rapuh. Saya hanya perlu tahu bantuan apa yang Om setujui.”

Om Tio mengangguk. “Nah, begitu lebih enak.”

Nan Shin membuka ringkasan pesanan. “Kontak daruratnya putra Om di Surabaya. Nomornya berakhir 418, betul?”

“Betul. Jangan telepon kalau cuma saya mengeluh antrean.”

“Saya menghubungi dia kalau ada perubahan penting, keputusan yang membutuhkan keluarga, atau keadaan darurat.”

“Kalau dokter memberi kabar jelek?”

“Saya tanya dulu apakah Om ingin mendengar sendiri atau ditemani menghubungi keluarga.”

Om Tio mengamati wajahnya. “Kak Nan tidak akan langsung lapor anak saya semua yang saya bilang?”

“Tidak. Informasi Om tetap milik Om, kecuali ada keadaan yang perlu segera ditangani atau Om menyetujui untuk dibagikan.”

“Bagus. Anak saya kadang panik lebih dulu daripada saya.”

“Kalau begitu setelah kontrol, Om pilih bagian mana yang perlu masuk ringkasan keluarga.”

Nomor rujukan Om Tio tidak langsung terbaca oleh mesin. Dahulu Nan Shin mungkin akan memanggil pegawai yang dikenalnya. Hari itu ia mengikuti jalur pasien: mengambil nomor bantuan, menunjukkan rujukan, dan meminta petugas memeriksa data tanpa meninggalkan Om Tio sendirian.

“Lama juga,” keluh Om Tio setelah sepuluh menit.

“Iya. Sambil menunggu, saya ingin memastikan pertanyaan untuk dokter. Ada keluhan baru sejak kontrol terakhir?”

Om Tio menggeleng. “Biasa saja.”

Nan Shin tidak berhenti pada jawaban itu. “Tidur, makan, berjalan, atau minum obat ada yang berubah?”

“Kalau berdiri cepat, kadang seperti mau jatuh. Tapi cuma sebentar.”

“Sejak kapan?”

“Mungkin dua minggu.”

“Apakah Om pernah benar-benar jatuh?”

“Belum.”

Nan Shin menuliskan keluhan dengan kata-kata Om Tio, bukan kesimpulannya sendiri. Ia juga mencatat bahwa satu obat hampir habis dan ada tablet yang kadang dilewatkan karena membuatnya sering ke kamar kecil.

“Ini perlu disampaikan kepada dokter. Jangan menghentikan atau mengubah sendiri sebelum diperiksa.”

Om Tio menatap catatan itu. “Kalau sendiri, saya pasti lupa bilang pusing.”

“Ada hal lain yang biasanya terlupa?”

Om Tio berpikir, lalu menggeleng. “Yang paling penting memang pusing itu.”

“Baik. Sampaikan dengan kata-kata Om sendiri. Saya hanya mengingatkan kalau terlewat.”

“Kak Nan tidak akan menebak itu efek obat?”

“Tidak. Dokter yang menilai penyebab dan kaitannya dengan obat.”

Masalah rujukan selesai setelah petugas memperbarui data. Mereka menuju poli, menjalani pemeriksaan awal, lalu menunggu panggilan. Nan Shin memberi kabar singkat melalui aplikasi kepada kontak keluarga yang terdaftar: pasien sudah terdaftar, sedang menunggu konsultasi, kondisi stabil.

Di dalam ruang dokter, ia duduk sedikit di belakang Om Tio. Ia tidak menjawab pertanyaan yang bisa dijawab pasien sendiri. Ketika Om Tio lupa sejak kapan pusing terjadi, Nan Shin menunjukkan catatan setelah mendapat anggukan.

Dokter memeriksa, meninjau obat, lalu menjelaskan perubahan waktu minum dan pemeriksaan lanjutan. Nan Shin menulis instruksi persis seperti yang disampaikan. Sebelum keluar, ia membacakan kembali poin penting dan meminta dokter mengoreksi jika ada yang salah.

“Sudah benar,” kata dokter. “Kalau pusing memburuk atau sampai jatuh, jangan tunggu kontrol berikutnya.”

Di luar ruangan, Om Tio menarik napas panjang. “Biasanya saya keluar lalu bingung dokter bilang apa.”

“Kita periksa lagi setelah obat diambil.”

Mereka menuju farmasi. Antrean obat berlangsung hampir satu jam. Om Tio mulai gelisah dan ingin pulang sebelum obat selesai.

“Nanti saya ambil besok saja.”

“Boleh kalau Om memilih begitu, tetapi salah satu obat Om hanya tersisa untuk malam ini. Kita bisa tanya petugas perkiraan waktunya dulu.”

Om Tio melihat nomor antrean. “Kalau masih satu jam, saya pulang.”

“Kita tanyakan dulu apakah semua obat tersedia dan apakah ada yang bisa diambil sebagian.”

“Kalau tidak tersedia?”

“Minta petugas menjelaskan pilihan resmi. Jangan membeli pengganti dengan nama mirip tanpa konfirmasi.”

“Saya pernah hampir begitu. Bungkusnya sama-sama biru.”

“Itu sebabnya kita cocokkan nama, dosis, dan aturan pakai dari resep.”

Nan Shin berbicara kepada petugas farmasi, mendapatkan perkiraan dua puluh menit, lalu menyampaikan pilihan itu kepada Om Tio. Pria tersebut akhirnya duduk kembali.

Ketika obat diterima, Nan Shin mencocokkan nama pada etiket dengan daftar dari dokter tanpa membuka kemasan. Ia meminta petugas menjelaskan satu aturan yang tulisannya kurang jelas, kemudian mencatatnya di ringkasan.

“Ini milik Om. Saya kirim salinannya ke kontak keluarga setelah Om setuju.”

Om Tio membaca halaman yang rapi: hasil kontrol, perubahan instruksi, waktu pemeriksaan berikutnya, tanda bahaya, dan pertanyaan yang belum terjawab.

“Kirim saja ke anak saya. Biar dia tidak telepon lima kali.”

Di depan pintu keluar, Nan Shin menandai semua tugas selesai. Om Tio memeriksa ringkasan pada aplikasi, lalu menekan konfirmasi pembayaran.

“Sudah masuk?”

“Pembayaran sudah tercatat di platform. Dana akan diteruskan setelah proses selesai.”

“Saya kasih nilai bagaimana?”

Nan Shin menunjukkan tombol ulasan tanpa menyentuh layar pasien. Om Tio menekan lima bintang, lalu mengetik perlahan.

Pendamping tepat waktu, sabar, dan catatannya jelas. Saya tidak bingung lagi setelah bertemu dokter.

Sebelum berpisah, Om Tio mengangkat ponselnya. “Saya kirim profil Kak Nan ke grup teman gereja, ya? Banyak yang anaknya kerja di luar kota.”

“Boleh, Om, selama tidak membagikan data kontrol hari ini.”

“Pasti tidak. Saya cuma bilang ada orang yang kerjanya benar.”

Kalimat sederhana itu mengikuti Nan Shin sepanjang perjalanan pulang. Bukan istri dokter, bukan mantan karyawan kontrak, bukan ibu rumah tangga yang dianggap tersedia. Seseorang membayar waktunya, menerima keahliannya, lalu mengatakan pekerjaannya benar.

Nan Shin ingin memberi tahu Yi Ming bahwa pekerjaan pertama Mama selesai. Ia bahkan ingin menunjukkan ulasan itu kepada Cheng An, meski belum tahu apakah suaminya akan membaca sampai akhir.

Ketika pintu rumah dibuka, suara Ibu Kho terdengar dari ruang makan. Cheng An rupanya pulang lebih awal.

“Kamu tahu istrimu sekarang dibayar untuk mengurus orang sakit?”

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!