Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Satu minggu berlalu begitu cepat, meninggalkan jejak kehancuran yang begitu nyata bagi keluarga Andreas. Rencana yang disusun oleh Kyra bersama Yolla, yang didukung secara diam-diam oleh Brian, berjalan jauh lebih sempurna dari yang ia bayangkan.
Kini, kepercayaan masyarakat, relasi bisnis, hingga para elit sosialita ibu kota telah sepenuhnya terpecah belah. Berita-berita miring mengenai skandal keuangan masa lalu perusahaan keluarga Andreas, penyalahgunaan wewenang, hingga aib-aib keluarga yang selama ini ditutupi rapat-rapat, mendadak menjadi topik utama di berbagai media berita digital dan forum gosip kalangan atas.
Di ruang kerja pribadinya yang megah, Papa Freddy tampak terduduk lemas di balik meja kerjanya yang berantakan. Tumpukan dokumen kebangkrutan, surat peringatan dari bank, serta surat pengunduran diri dari para direktur senior berserakan di hadapannya.
Wajah Papa Freddy tampak kusam, kantung mata yang menghitam menegaskan betapa ia tidak tidur selama beberapa malam terakhir memikirkan bagaimana cara menyelamatkan sisa-sisa harga diri perusahaannya.
Sementara itu, di lantai bawah, Mama Dania mondar-mandir dengan cemas sambil menggenggam ponselnya yang terus-menerus berdering. Namun, alih-alih panggilan dari rekan bisnis atau teman-teman sosialita yang biasa menjilatnya, dering itu sebagian besar datang dari para penagih hutang dan bank yang menuntut pelunasan aset.
"Mereka semua benar-benar pengecut, Pa!" teriak Mama Dania frustrasi begitu Papa Freddy melangkah masuk ke ruang keluarga dengan langkah berat.
"Semua orang yang dulu menjilat kita, sekarang pura-pura tidak kenal saat ditelepon. Bahkan arisan sosialita kemarin, nama aku sengaja dihapus dari daftar anggota! Rasanya aku ingin mati saja menanggung malu ini!" isak Mama Dania sambil menjatuhkan diri ke atas sofa dan meratapi nasibnya yang kini jatuh miskin secara sosial maupun finansial.
Papa Freddy hanya bisa mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan penyesalan bergemuruh di dadanya, namun tidak ada lagi yang bisa ia perbuat. Badai yang menghancurkan keluarga mereka bukanlah musibah biasa, melainkan sebuah pembalasan terencana yang dilakukan dengan kepala dingin.
Di tengah situasi keluarga Andreas yang kian di ambang kehancuran total, Sherly, yang tengah berbadan dua hanya bisa duduk di sudut kamar sambil menatap kosong ke luar jendela. Hamil di luar nikah tanpa kejelasan masa depan, ditambah keluarga besarnya kini jatuh miskin dan menjadi bahan cemoohan publik dan membuat dunianya benar-benar runtuh seketika.
Setiap kali Sherly melihat bayang-bayang kesuksesan Kyra yang kini hidup bergelimang kemewahan sebagai Nyonya Raymond, rasa iri dan kebencian di dadanya semakin membakar habis kewarasannya.
Ditengah situasi perusahaan yang sedang tidak stabil, Papa Freddy, Mama Dania, Tante Thania dan Nenek Fia pun berusaha untuk mencari cara terbaik. Mereka saat ini berada di ruang tamu, untuk mencari cara tersebut.
Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar begitu keras dan tidak sabaran. Dengan langkah gontai dan wajah yang menyisakan kelelahan luar biasa akibat kurang tidur, Papa Freddy pun berjalan menyeret kaki menuju pintu depan. Ia menduga tamu tersebut adalah kurir dari bank atau mungkin salah satu dari sedikit relasi yang datang untuk menagih janji.
Namun, begitu pintu terbuka, napas Papa Freddy mendadak tertahan di tenggorokan. Di ambang pintu, berdiri tiga orang aparat kepolisian berpakaian dinas lengkap dengan ekspresi wajah yang tegas dan tidak bersahabat.
Seketika, rasa lelah yang dirasakan Papa Freddy lenyap. Ia mencoba memasang senyuman kaku dan gestur sok ramah, kebiasaan lama seorang pengusaha yang terbiasa menjilat atau merendah di hadapan pihak berwenang.
"Pak Polisi? Ada yang bisa saya bantu? Silakan masuk, mari kita bicarakan di dalam," ujar Papa Freddy dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha menutupi kepanikan yang mulai merayap di dadanya.
Petugas polisi tersebut sama sekali tidak bergeming. Ia bahkan tidak melangkah maju, melainkan langsung menyodorkan selembar surat resmi berlogo kepolisian tepat di depan wajah Papa Freddy.
"Selamat sore, Tuan Freddy Andreas. Kami datang atas surat perintah penangkapan dan penggeledahan," ucap sang petugas dengan suara bariton yang berat dan mengintimidasi.
Papa Freddy membeku, senyuman kaku di bibirnya seketika luntur dan digantikan oleh kerutan dahi penuh kebingungan. "Penangkapan? Tunggu dulu, Pak! Anda pasti salah alamat atau salah orang. Perusahaan saya memang sedang mengalami sedikit masalah keuangan, tapi saya tidak pernah melakukan pelanggaran hukum apa pun!" sangkal Papa Freddy cepat, jemarinya bergetar hebat saat menatap kertas di hadapannya.
"Kami tidak salah orang! Anda dipanggil atas dugaan keterlibatan langsung sebagai kaki tangan dan pencucian uang dalam kasus korupsi pengadaan proyek fiktif yang melibatkan Burhan Wijaya," tegas petugas polisi itu.
Deg!
Nama itu seketika menghantam dada Papa Freddy bagaikan palu godam, seluruh darah di tubuhnya mendadak terasa surut dan membuat wajahnya sepucat mayat. Burhan Wijaya merupakan direktur utama sebuah perusahaan milik negara dalam bidang konstruksi yang selama ini menjadi mitra gelap dalam proyek-proyek bernilai miliaran milik keluarga Andreas, baru saja diringkus dua hari lalu dan Papa Freddy tidak tahu hal itu karena sibuk mengurus masalah yang ia hadapi.
Papa Freddy mengira rahasia hitam itu tertutup rapat di balik meja birokrasi dan aliran dana fiktif yang rumit. ia tidak pernah menyangka badai hukum itu akan menghantam pintu rumahnya secepat ini, tanpa memberinya kesempatan untuk bernapas.
"Ta-tapi... itu tidak benar! Itu fitnah! Saya hanya rekan bisnis biasa!" teriak Papa Freddy histeris, pertahanannya runtuh seketika.
Di dalam rumah, Mama Dania, Tante Tante dan Nenek Fia yang mendengar keributan langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ruang tamu, disusul oleh Sherly yang memegang perutnya dengan wajah panik.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berani membuat keributan di rumah kami?" geram Mama Dania dengan nada tinggi, namun seketika teredam saat melihat suaminya sudah dikepung oleh polisi.
"Pa! Ada apa ini?" panggil Mama Dania histeris sambil berlari mendekat, hendak mencengkram lengan suaminya.
"Ibu, mohon mundur. Suami Anda harus ikut kami ke kantor polisi sekarang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut terkait kasus korupsi Burhan Wijaya," ujar petugas, dengan sigap menahan Mama Dania agar tidak mendekat.
"Tidak! Kalian tidak boleh membawa suami saya! Suami saya tidak bersalah!" tangis Mama Dania pecah seketika dan menjerit histeris di ruang tamu yang megah namun kini terasa hampa.
Tanpa mendengarkan ratapan dan permohonan ampun dari Mama Danian, petugas kepolisian langsung memborgol pergelangan tangan Papa Freddy yang sudah lemas tak berdaya. Pria itu digiring keluar melewati pintu utama, disaksikan oleh beberapa tetangga sekitar yang mulai berkerumun di luar gerbang dengan tatapan penuh cemoohan dan rasa ingin tahu.
Di dalam mobil tahanan yang melaju meninggalkan kawasan perumahan, Papa Freddy hanya bisa menundukkan kepala dalam tangis penyesalan yang terlambat.
.
.
.
Bersambung.....
semangat balas dendam
salah sendiri ngapain doyan ngangkang sama orang yang tidak jelas 🤣🤣🤣🤭🤭🤭