Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Bonus Lembur dan Kalkulasi Jantung Berdebar

Vane dan para pengawalnya lari terbirit-birit layaknya dikejar setan. Tersisalah Arthur yang berdiri dengan wajah merah padam karena malu dan marah.

"Arthur," panggil Aura santai dari bawah lindungan tangan Caden. "Daripada lo sibuk ngurusin dompet gue, mending lo urus itu saham pertanian di wilayah lo. Dari kemarin grafiknya nyungsep terus. Jangan modal tampang doang, Pangeran. Belajar baca grafik, gih!"

Arthur menggeram marah. Ia memutar tubuhnya dan membanting pintu ruangan itu keras-keras saat keluar.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Mia di sudut ruangan sudah pingsan dengan mulut terbuka sejak tadi.

Aura menepuk tangan Caden yang ada di bahunya. "Gimana, Bos? Argumen defense (pertahanan) gue tadi bernilai seratus ribu koin emas, kan? Keren, kan?"

Caden membalik tubuh Aura hingga menghadapnya. Matanya menatap gadis itu dengan campuran rasa takjub, posesif, dan hasrat yang tak lagi bisa disembunyikan.

"Kau tidak keren, Elara," bisik Caden, menarik pinggang Aura hingga menempel pada tubuhnya. "Kau benar-benar berbahaya. Dan sepertinya... rasio investasiku padamu baru saja naik jutaan persen hari ini."

Aura tersenyum miring, menatap mata perak itu tanpa gentar. "Kalau gitu, siap-siap bangkrut karena gue, ya, Bos."

"Dengan senang hati," jawab sang Antagonis, sebelum akhirnya menundukkan kepala. Alur cerita hancur lebur, tergantikan oleh komedi, uang, dan romansa gila di ruang departemen keuangan.

Wajah Pangeran Caden semakin mendekat. Jarak mereka kini hanya menyisakan beberapa milimeter. Aura bisa merasakan embusan napas hangat beraroma mint milik sang Antagonis menerpa wajahnya. Jantung Aura berdebar dengan kecepatan yang bisa menyaingi mesin Ferrari.

Namun, tepat sebelum bibir Caden menyentuh bibirnya, insting kapitalis Aura seketika meronta keras.

Tangan kanan Aura bergerak kilat. Ia mengambil sekeping kepingan koin emas dari atas mejanya dan menempelkannya tepat di bibir Caden.

Ting!

Langkah Caden terhenti. Ia menatap koin emas yang menghalangi bibirnya dengan pandangan tidak percaya. Mata peraknya menyorot tajam ke arah Aura.

"Bos," ucap Aura cepat, suaranya sedikit gemetar namun berusaha keras terdengar profesional. "Sebelum Bos nyosor dan bikin saham kewarasan gue anjlok, gue mau ngingetin sesuatu."

Caden menyingkirkan koin emas itu dari bibirnya dengan wajah datar. "Apa, Elara? Kau mau menetapkan tarif argo per detik untuk sebuah ciuman? Sebutkan harganya. Aku bisa membeli seluruh waktu bernapasmu."

"Bukan! Bukan soal tarif!" Aura mundur selangkah, menepuk-nepuk pipinya yang memanas. "Tadi Bos bilang, kalau tebakan gue soal saham tambang baja itu benar, Bos bakal ngabulin satu permintaan gue malam ini, kan?"

Caden menghela napas panjang, meraup wajahnya dengan tangan. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran gadis ini. Momen romantis yang bisa membuat wanita mana pun pingsan bahagia, baru saja dihancurkan oleh tagihan janji.

"Ya. Aku ingat," jawab Caden, suaranya terdengar sedikit frustrasi namun diiringi senyum miring yang menawan. "Jadi, apa permintaanmu, Gadis Serakah? Kau mau perhiasan? Kastil di pinggir laut? Atau kau mau aku membunuh Marquis Vane malam ini juga?"

"Duh, Bos, pembunuhan itu melanggar kode etik bisnis dan repot ngurus asuransinya!" Aura berkacak pinggang. Ia berbalik, mengetuk layar hologram yang menampilkan peta ekonomi kekaisaran. Jari telunjuknya berhenti di sebuah wilayah luas berwarna hijau di peta.

"Gue mau ini, Bos," kata Aura dengan mata berbinar licik. "Wilayah Pertanian Timur milik Pangeran Arthur. Gue mau kita lakukan hostile takeover (akuisisi paksa) malam ini juga."

Kening Caden berkerut. Ketertarikannya seketika terpancing. Hawa asmaranya memudar, digantikan oleh insting predator mematikan.

"Pertanian Timur? Itu adalah jantung pasokan pangan Fraksi Utama," kata Caden, berjalan mendekati layar. "Arthur sedang kelabakan karena krisis hama dan gagal panen. Valuasinya memang sedang turun, tapi Dewan Istana tidak akan membiarkan aset sepenting itu jatuh ke tanganku."

"Itu kalau Bos majunya pakai jalur politik!" bantah Aura penuh semangat. "Tapi kita maju pakai jalur kapitalisme murni! Arthur lagi butuh dana talangan super besar buat bayar utang ke bank pusat, kan? Kalau sampai besok pagi dia gagal bayar, wilayah itu bakal disita negara. Nah, di situlah kita masuk sebagai 'Malaikat Penyelamat' yang bawa surat kontrak mencekik leher!"

Caden menatap Aura lekat-lekat. "Kau ingin aku membeli kehancuran Arthur?"

"Lebih tepatnya, gue mau Bos memonopoli perut seluruh warga kekaisaran!" Aura menyeringai lebar. "Siapa yang pegang gandum, dia yang pegang kekuasaan. Modal kita dari cuan saham Wilmer kemarin udah cukup buat nutupin utang Arthur, dengan syarat, dia harus nyerahin 51% saham kepemilikan tanahnya ke Departemen Keuangan kita."

Sebuah tawa pelan yang sangat gelap keluar dari bibir Caden. Ia menatap gadis barbar di depannya dengan rasa kagum yang mutlak. Gadis ini tidak meminta gaun mahal. Ia meminta monopoli pangan nasional untuk menghancurkan musuh politiknya.

"Sempurna," bisik Caden. "Aku mencintai isi kepalamu, Elara. Sangat bengis."

"Cinta itu bonus, Bos! Yang penting cuan!" balas Aura riang. Ia lalu menoleh ke sudut ruangan. "Woy, Mia! Bangun! Jam kerja belum selesai! Air mata lo udah kering, kan?!"

Mia, yang sedari tadi pingsan di lantai, tergeragap bangun. Rambut merah mudanya berantakan. Ia menatap Aura dan Caden dengan mata melotot ketakutan.

"S-saya... s-saya masih hidup?" gumam Mia linglung.

"Masih! Dan lo punya tugas lembur!" perintah Aura sambil melemparkan setumpuk perkamen kosong ke meja Mia. "Ketik surat Perjanjian Akuisisi Aset. Pakai format draf standar. Kosongin bagian nominal, nanti gue yang isi manual. Cepetan, kita mau rapat pemegang saham dadakan sama si Hama Pirang!"

"B-baik, Bu Bos!" Mia langsung mengetik dengan gemetar, meski ia sama sekali tidak paham apa itu 'akuisisi aset'. Ia hanya tahu satu hal: Nona Elara adalah penguasa sebenarnya di ruangan ini.

Satu Jam Kemudian, di Ruang Sidang Dewan Istana.

Suasana di Ruang Sidang sangat tegang. Meja bundar raksasa dari kayu mahoni dipenuhi oleh para menteri tua yang berwajah suram. Di ujung meja, Pangeran Arthur berdiri dengan wajah lelah, menggebrak meja.

"Aku hanya meminta subsidi tiga ratus ribu koin emas! Ini untuk rakyat Timur! Jika hama ini tidak segera dibasmi, panen gandum bulan depan akan gagal total!" seru Arthur, suaranya menggema penuh keputusasaan.

Marquis Vane, yang duduk di sebelahnya, mengangguk setuju. "Yang Mulia Arthur benar. Dewan harus segera mengeluarkan dana darurat. Kita tidak bisa membiarkan rakyat kelaparan."

"Kas Negara bukan panti asuhan, Arthur."

Suara bariton yang sedingin es itu memotong perdebatan. Pintu ganda ruang sidang terbuka lebar. Pangeran Caden melangkah masuk, jubah hitamnya berkibar dengan elegan. Di belakangnya, mengekor seorang gadis mungil berseragam asisten yang memeluk sebuah tablet hologram dengan santai.

Seluruh menteri di ruangan itu seketika berdiri dan membungkuk hormat. Hanya Arthur yang menatap tajam penuh kebencian.

"Caden," desis Arthur. "Apa urusanmu di sini? Ini rapat komite pertanian, bukan urusan lintah darat departemen keuanganmu."

Caden tidak membalas. Ia dengan santai menarik kursi kosong di seberang Arthur dan duduk menyilangkan kakinya. "Aku ke mari bukan untuk mendengarkan rengekanmu, Arthur. Aku ke mari sebagai investor. Dan karena waktu adalah uang, asisten utamaku yang akan mempresentasikan penawaran kami."

Caden menunjuk Aura dengan dagunya. "Silahkan, Elara."

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!