Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama Sang Tuan Muda dan Gadis Desa
Dentang jam dinding di sudut penthouse lantai empat puluh berdentang pelan, menandakan tengah malam telah tiba. Di luar, gemerlap lampu kota metropolitan membentang bagai lautan bintang yang sunyi, sementara di dalam kamar tidur utama, udara terasa jauh lebih hangat dan pekat oleh antisipasi yang tertahan.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan, mengeluarkan kepulan uap hangat yang bercampur dengan aroma sabun mandi beraroma lavender dan mint. Jino West melangkah keluar dengan hanya mengenakan jubah mandi hitam berikat longgar di pinggangnya. Rambut hitamnya yang basah tampak berantakan, beberapa tetes air meluncur turun melewati rahang tegas dan leher bidangnya, menambah kesan maskulin yang begitu berbahaya.
Di atas ranjang berukuran king-size yang ditaburi kelopak mawar putih, Reina Lunox duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia mengenakan nightgown satin sutra putih berpotongan sederhana namun elegan, dengan tali bahu tipis yang kontras dengan kulit putih mulusnya. Jantung Reina berdegup kencang—jauh lebih kencang daripada saat ia harus menghadapi musuh-musuh bisnis Jino atau berdiri di hadapan ribuan tamu undangan di kapel tadi.
Jino menghentikan langkahnya di sisi tempat tidur. Manik mata kelamnya menatap lekat-lekat sosok wanita yang kini telah sah menjadi istrinya di hadapan hukum dan semesta. Tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi kontrak perjodohan, dan tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Yang ada hanyalah rasa memiliki yang membakar.
Pria itu naik ke atas tempat tidur, merangkak perlahan mendekati Reina hingga matras di bawah mereka sedikit terbenam.
Reina menelan ludahnya susah payah. Ia mendongak, mencoba mempertahankan ekspresi beraninya, meski manik mata cokelatnya tidak bisa menyembunyikan kilat kegugupan yang luar biasa. "K-kenapa menatapku seperti itu?" cicit Reina pelan, suaranya sedikit bergetar.
Jino tersenyum miring—sebuah seringai lembut yang penuh dengan rasa lapar yang tertahan. Ia mencondongkan tubuhnya, menempatkan kedua tangannya di sisi tubuh Reina, mengurung gadis itu dalam dekapan mutlak tubuh atletisnya. Aroma maskulin khas tubuh Jino yang bercampur dengan wangi sabun langsung memenuhi indra penciuman Reina.
"Bagaimana aku tidak menatapmu?" bisik Jino rendah, tepat di samping telinga Reina. Suara bariton pria itu terdengar serak, mengalirkan getaran listrik langsung ke tulang belakang gadis itu. "Aku sudah menunggu saat-saat ini sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di penthouse ini, gadis desa."
Sebelum Reina sempat membalas ucapan itu, Jino menundukkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka.
Ciuman itu dimulai dengan lembut, sebuah sapuan pelan seolah Jino sedang mencicipi hal paling berharga di dunia ini. Namun, perlahan-lahan, intensitasnya berubah. Ciuman itu menjadi semakin dalam, menuntut, dan penuh gairah yang lama dipendam. Reina terkesiap kecil, namun pertahanannya seketika lebur. Kedua tangan lentiknya terangkat dengan sendirinya, melingkar erat merangkul leher Jino, membalas ciuman suaminya dengan kepasrahan yang manis.
Jino menarik tubuh Reina semakin menempel padanya. Ciuman mereka terlepas sejenak, meninggalkan jejak napas yang memburu di udara malam. Manik mata kelam Jino menatap manik mata cokelat Reina dengan binar cinta yang begitu telanjang.
"Mulai malam ini, tidak ada lagi batasan di antara kita, Reina," bisik Jino serak, jemari besarnya meraba perlahan garis rahang istrinya, lalu turun menelusuri leher jenjang hingga tali tipis di bahu gaun tidur Reina. "Kau adalah milikku sepenuhnya... dan aku sepenuhnya milikmu."
Sentuhan hangat itu membuat sekujur tubuh Reina meremang hebat. Keberanian yang selama ini ia banggakan mendadak menguap, digantikan oleh gelombang kehangatan asing yang mendesak untuk disalurkan.
Jino menarik tali jubah mandinya, lalu menyingkirkannya ke sisi tempat tidur, sementara bibirnya kembali turun memberikan ciuman penuhujaan di sepanjang leher dan tulang selangka Reina. Setiap sentuhan tangan kokoh pria itu terasa begitu membakar kulit Reina, menghapus segala keraguan dan menyisakan debaran asmara yang tak terbendung.
Di bawah temaram lampu kamar yang hangat, diiringi oleh deheman angin malam kota yang memeluk gedung-gedung tinggi, lembaran baru kehidupan mereka resmi dimulai. Batas antara fiksi dan kenyataan lebur menjadi satu; membuktikan bahwa kisah cinta antara sang Tuan Muda yang angkuh dan gadis desa yang keras kepala kini telah menemukan rumah abadinya di dalam dekap pelukan satu sama lain.
Jemari kokoh Jino perlahan menelusuri punggung Reina, menarik tubuh gadis itu semakin erat hingga tidak ada lagi udara yang tersisa di antara mereka. Setiap sentuhan yang diberikan pria itu terasa begitu intens, seolah ia ingin menghapus seluruh jarak dan waktu yang pernah memisahkan mereka berdua di masa lalu. Reina, yang tadinya sempat dilanda gugup luar biasa, perlahan-lahan membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya ke dalam arus kehangatan yang diciptakan oleh suaminya.
Bibir Jino kembali membungkam bibir Reina dalam ciuman yang jauh lebih dalam dan menuntut, menuntut penyerahan diri secara mutlak dari sang istri. Napas mereka saling berkejaran, menciptakan melodi sunyi di tengah keheningan malam yang panjang di lantai empat puluh penthouse tersebut. Cahaya lampu kamar yang temaram memantulkan siluet tubuh mereka yang bersatu dalam dekap, membuktikan bahwa segala intrik, ancaman musuh, dan dunia luar tidak lagi memiliki kuasa di dalam ruangan ini.
"Jino..." panggil Reina pelan di sela-sela napasnya yang memburu, saat pria itu melonggarkan ciumannya sejenak untuk menatap manik mata cokelatnya dengan binar penuh cinta dan gairah.
"Sst... gadis desa," bisik Jino serak, ibu jarinya mengusap lembut bibir Reina yang sedikit membengkak akibat ciuman panjang mereka. "Jangan panggil aku dengan nama formal itu lagi. Panggil aku suamimu."
Senyuman tipis tersungging di bibir Reina. Dengan keberanian terakhirnya, ia mengangkat tangan dan menyentuh rahang tegas Jino yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Suamiku..." bisiknya manja.
Mendengar panggilan itu, pertahanan terakhir Jino runtuh sepenuhnya. Pria yang selama ini dikenal paling dingin, paling angkuh, dan paling ditakuti di dunia bisnis itu kini sepenuhnya bertekuk lutut di hadapan wanita pilihannya. Malam itu, di bawah naungan bintang-bintang kota metropolitan dan lembaran takdir yang telah mereka tulis bersama, keduanya menyatukan jiwa dan raga, mengukir babak paling sakral dalam kisah cinta mereka yang abadi.