Indonesia
NovelToon NovelToon
Salahkan Aku Mencintaimu

Salahkan Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

SALAHKAN AKU MENCINTAIMU

​Sinopsis

Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.

​Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

​Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: BAYANG-BAYANG YANG KEMBALI

Keheningan rumah berlantai dua itu terasa amat berbeda pagi ini. Sinar matahari menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela, memantulkan pendar keemasan di atas lantai granit yang bersih. Suara rintik hujan deras semalam telah berganti dengan kicauan burung liar di halaman depan, namun kehangatan rahasia yang tercipta di antara Aluna dan Devan seolah masih tertinggal menempel di setiap sudut ruangan.

Aluna berdiri di depan cermin kamar mandi, merapikan kerah kemeja seragam sekolahnya. Ketika jemarinya mengusap leher dan bibirnya sendiri, bayangan keintiman mendalam di ruang penyimpanan sekolah kemarin sore—serta dekapan hangat Devan sepanjang malam—mendadak berputar ulang di kepalanya. Pipi Aluna seketika bersemu merah padam. Jantungnya berdegup kencang hanya karena mengingat bagaimana suara serak Devan membisikkan janji rahasia mereka.

Saat melangkah keluar menuju meja makan, Aluna menemukan Devan sudah duduk rapi di sana. Kakak tirinya itu mengenakan seragam SMA Garuda yang licin, menyeduh dua cangkir teh hangat. Sikap Devan terlihat begitu tenang dan terkontrol seperti biasa, namun tatapan matanya saat menyambut kehadiran Aluna menyiratkan binar kepemilikan yang teramat pekat.

"Pagi," panggil Devan pelan, suaranya bernada rendah dan hangat.

"Pagi, Kak Devan..." jawab Aluna canggung, menduduki kursi di samping Devan.

Devan mengulurkan cangkir teh ke dekat tangan Aluna. Saat jemari mereka bersentuhan secara tak sengaja di gagang keramik, Devan tidak langsung menarik tangannya. Ia mengusap punggung tangan Aluna dengan ibu jarinya—sebuah sentuhan kecil, singkat, namun sanggup menyetrum seluruh saraf Aluna.

"Tidur kamu nyenyak semalam?" bisik Devan seraya menatap Aluna lurus-lurus.

Aluna mengangguk pelan, menundukkan wajahnya demi menyembunyikan rona merah di pipinya. "Nyenyak, Kak. Karena... ada Kak Devan."

Senyum tipis terukir di bibir Devan. Namun sebelum keheningan manis di antara mereka berlanjut lebih jauh, suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar berhenti tepat di depan pagar rumah.

Brak.

Suara pintu mobil ditutup, disusul bunyi gemerincing kunci pagar yang diputar dari luar.

Aluna tersentak kaget dari duduknya. Matanya membelalak lebar memantulkan kepanikan luar biasa. "Kak... Ayah sama Ibu! M-mereka bilang kan baru pulang lusa?"

Devan dengan sigap berdiri dari kursinya. Meski raut wajahnya tetap tenang, garis rahangnya terlihat mengeras. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menata kembali kendali dirinya.

"Tenang, Aluna. Jangan panik," tegur Devan tegas namun lembut. Tangannya menepuk bahu Aluna pelan untuk menenangkan adiknya. "Tarik napas. Rapikan sikap kamu. Jangan sampai ada raut bingung atau bersalah di wajahmu."

Belum sempat Aluna membalas, pintu utama rumah terdorong terbuka. Ibu dan Ayah Danu melangkah masuk sambil membawa tas koper kecil dan beberapa kantong oleh-oleh.

"Pagi, anak-anak!" sapa Ibu dengan senyum hangat khas seorang ibu rumah tangga. "Maaf ya, jadwal dinas Ayah mendadak selesai lebih cepat dari perkiraan, jadi kami langsung ambil penerbangan subuh tadi."

Ayah Danu menyusul dari belakang, melepaskan jas kerjanya dan tersenyum melihat Devan dan Aluna yang berdiri di dekat meja makan. "Gimana rumah? Aman kan selama Ayah dan Ibu tinggalkan?"

"Aman kok, Yah," jawab Devan lancar tanpa ragu sedikit pun. Suaranya terdengar sangat natural sebagai sosok putra sulung yang berdikari. "Aku sama Aluna jaga rumah sesuai pesan Ayah."

Ayah Danu mengangguk puas lalu merangkul bahu Devan penuh rasa bangga. "Bagus. Kamu memang bisa diandalkan, Devan. Jaga adikmu baik-baik."

Aluna terpaku di tempatnya. Kalimat 'Jaga adikmu baik-baik' yang diucapkan Ayah Danu terasa seperti hantaman beban berat yang menghantam dadanya. Mata Aluna refleks beradu dengan pandangan mata Devan.

Di depan kedua orang tua mereka, Devan kembali memasang topeng sebagai seorang kakak laki-laki yang berjarak, sopan, dan penuh tanggung jawab. Namun, saat Devan berjalan melewati Aluna untuk mengambilkan air minum untuk Ayah, jemari Devan sempat menyenggol pinggang Aluna secara sembunyi-sembunyi—memberikan tekanan lembut yang seolah menegaskan kembali janji rahasia mereka: di depan mereka kita berpura-pura, tapi di belakang mereka... kamu milikku.

Roda kehidupan baru di bawah satu atap itu kini resmi memasuki babak permainan rahasia yang makin berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!