Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Setelah melalui makan siang yang penuh drama namun berakhir dengan kehangatan dan ketenangan, Nadya dan Armand akhirnya memutuskan untuk kembali pulang.

Perjalanan menuju kediaman mereka dihabiskan dengan obrolan ringan dan genggaman tangan yang tak terlepas, seolah menegaskan bahwa badai apa pun tidak akan mampu menggoyahkan hubungan mereka lagi.

Begitu mobil mereka terparkir di halaman rumah, pintu utama terbuka lebar.

Bibi, pengurus rumah tangga yang sudah lama bekerja dengan penuh kesetiaan, menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramah di ambang pintu.

"Selamat datang kembali, Non Nadya, Tuan Armand," sapa Bibi hangat sambil membawakan tas kerja kecil milik Armand.

Nadya tersenyum ramah sambil melepas sepatu kerjanya.

"Terima kasih, Bi. Apa semuanya beres di rumah?"

"Beres, Non. Bibi sudah siapkan air hangat dan camilan sore kalau-kalau Tuan dan Non butuh istirahat," jawab Bibi cekatan.

Armand mengangguk sopan seraya melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa begitu sejuk dan menenangkan.

Setelah hari yang panjang dan melelahkan—mulai dari kesibukan di kantor hingga insiden tidak terduga di restoran tadi—pulang ke rumah ini terasa seperti tempat perlindungan paling sempurna.

Bersama Bibi yang setia dan Nadya di sisi-Nya, Armand tahu persis bahwa hidupnya kini telah berada di jalur yang benar dan penuh berkah.

Suasana kamar utama terasa begitu tenang begitu pintu tertutup dari kebisingan luar.

Armand berjalan pelan ke arah tempat tidur berukuran king-size di tengah ruangan, lalu merebahkan tubuhnya yang terasa penat.

Hari ini benar-benar menguras emosi dan tenaganya—dari memimpin produksi di kantor hingga insiden penuh drama di restoran siang tadi.

Ia memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk melepaskan sisa-sisa ketegangan yang masih tersisa di tubuhnya.

Sementara itu, Nadya melangkah ke lemari pakaian, mengambil setelan baju santai yang nyaman untuk dikenakan di rumah.

Tanpa membuang waktu, ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas di luar.

Suara gemercik air dari dalam kamar mandi terdengar samar-samar, berpadu dengan keheningan sore yang mulai merayap di luar jendela.

Armand membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan semasa hidupnya dulu.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar memiliki rumah dan tempat untuk pulang.

Ceklek.

Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Nadya yang baru saja selesai membersihkan diri.

Rambut hitamnya yang basah tergerai alami, memancarkan aroma harum sabun mandi yang lembut.

Ia mengenakan pakaian rumah berbahan satin longgar yang semakin menonjolkan aura elegan sekaligus menawan pada dirinya.

Armand, yang tadinya berbaring santai, sontak menegakkan tubuhnya.

Pria itu menatap wajah istrinya dengan lekat, terpaku seketika.

Tenggorokannya terasa kering, membuatnya reflek menelan salivanya saat melihat kecantikan Nadya yang begitu alami dan memukau di hadapannya.

Merasa diperhatikan begitu intens, Nadya menghentikan langkahnya di dekat meja rias.

Ia menoleh dengan alis terangkat sebelah, tersenyum kecil melihat ekspresi suaminya.

"Mas, ada apa? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Nadya lembut, menghampiri tempat tidur dengan langkah anggun.

Mendengar pertanyaan itu, Armand justru salah tingkah.

Pria yang tadi siang tampil begitu tegas dan berani menampar Sarah, kini justru menundukkan kepalanya dengan wajah malu-malu, merona merah seperti remaja yang baru jatuh cinta.

Nadya terkekeh pelan, merasa gemas melihat sisi lain suaminya yang begitu polos di balik ketegarannya sebagai seorang kepala produksi.

Sinar lampu tidur yang temaram memancarkan kehangatan di sudut kamar utama.

Napas keduanya masih terdengar menderu perlahan, menyisakan keheningan yang sarat akan keintiman setelah momen penuh cinta yang mereka lewati.

Armand membelai lembut rambut Nadya yang berhamburan di atas bantal, sementara sang istri berbaring nyaman dengan kepala bersandar di dada bidang suaminya.

Suasana terasa begitu damai, hingga pergerakan kecil mulai terasa.

Nadya perlahan mengangkat wajahnya. Pipinya tampak merona merah, jauh lebih pekat dibandingkan biasanya.

Ia menggigit bibirnya pelan, seolah sedang merangkai keberanian untuk mengatakan sesuatu yang membuat hatinya bergemuruh malu.

Melihat perubahan ekspresi istrinya, Armand tersenyum lembut. Ia merapikan sehelai anak rambut yang menutupi dahi Nadya.

"Ada apa, Dek? Masih ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Armand dengan suara serak yang menenangkan.

Nadya semakin menundukkan wajahnya, menyembunyikan rona merah di pipinya ke balik dada Armand.

Dengan suara yang begitu pelan dan ragu-ragu, ia berbisik, "Mas, ap boleh minta tambah?"

Armand sempat tertegun sesaat, mencerna kalimat singkat yang meluncur dari bibir wanita yang sangat dicintainya itu.

Keterkejutan itu seketika berganti dengan senyuman lebar yang tulus dan penuh kemenangan sebagai seorang suami.

Tidak menyangka bahwa istri mandiri dan tegas di kantor itu bisa bersikap begitu manis dan manja di hadapannya.

"Apapun untuk istriku tersayang," bisik Armand lembut.

Tanpa menunggu waktu lama, Armand kembali memeluk erat tubuh Nadya, membalas permintaan penuh cinta itu dengan kehangatan dan kelembutan yang membuat malam panjang mereka semakin larut dalam kebahagiaan yang sempurna.

Di tempat lain, jauh dari kehangatan dan kedamaian yang menyelimuti kediaman Armand dan Nadya, suasana kamar sebuah apartemen mewah justru terasa panas dan penuh amarah.

Sarah mondar-mandir di atas karpet tebal ruang tamunya dengan langkah gelisah.

Pipi kanannya masih terasa panas dan sedikit membiru—bekas nyata dari tamparan keras yang dilayangkan Armand siang tadi di restoran.

Setiap kali ia mengingat kejadian itu, seketika darahnya mendidih menahan rasa malu dan benci yang teramat sangat.

Ia melemparkan vas bunga kecil ke lantai hingga pecah berkeping-keping, melampiaskan frustrasi yang menyesakkan dadanya.

"Sialan! Beraninya dia!" desis Sarah penuh emosi, menggigit kuku jarinya sendiri dengan mata melotot tajam ke arah dinding.

Selama bertahun-tahun, Armand hanyalah bayangan tak berharga di matanya—pria penurut yang bisa diinjak, dihina, dan disuruh apa saja tanpa pernah melawan.

Namun hari ini, pria yang sama telah mempermalukannya di muka umum, menepis harga dirinya di hadapan para pengunjung restoran, dan yang paling membuatnya tidak terima: memilih wanita lain dengan begitu bangga.

"Kamu pikir kamu sudah menang, Armand? Kamu pikir dengan mendompleng kekayaan Nadya kamu bisa bertingkah seperti raja?!"

Sarah tertawa sinis, suaranya terdengar parau dan menyeramkan di tengah keheningan malam.

Kebencian yang berakar kuat di dadanya kini berubah menjadi sebuah obsesi gelap.

Sarah tidak akan tinggal diam dan membiarkan mantan suaminya hidup bahagia sementara ia menanggung malu yang luar biasa.

Ia merogoh saku gaunnya, menarik ponsel pintarnya dengan jemari yang gemetar karena marah, lalu membuka galeri foto yang berisi potret lama Armand saat masih berada di bawah kendalinya.

Sebuah senyuman licik dan penuh perhitungan terukir di bibirnya.

Jika dengan cara biasa Armand tidak bisa dihancurkan, maka ia harus mencari cara lain—cara yang jauh lebih kejam untuk meruntuhkan kesuksesan yang baru saja direngkuh oleh mantan suaminya itu.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!