Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Anya menatap jam dinding di kamarnya yang kini menunjukkan pukul dua belas malam.

Tik. Tok. Tik. Tok.

Suasana rumah utama klan Bratadikara sudah benar-benar sunyi senyap.

Anya menggenggam erat kunci perak kuno di tangan kanannya.

Rasa penasaran di dalam dadanya sudah tidak bisa ditahan lagi.

"Aku harus tahu apa yang disembunyikan Kenji di sana," batin Anya penuh tekad.

Anya membuka pintu kamarnya dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara decitan.

Cklek.

Dia melongokkan kepalanya ke luar, lorong lantai dua terlihat kosong dan hanya diterangi lampu temaram.

Anya melangkah keluar tanpa menggunakan alas kaki agar langkahnya tidak bersuara.

Dia berjalan mengendap-endap menyusuri lorong panjang itu.

Napasnya terasa sesak karena jantungnya berdebar terlalu kencang.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat dari arah tangga utama.

Tap. Tap. Tap.

[Peringatan: Penjaga patroli malam sedang mendekat dari arah jam tiga.]

Anya tersentak panik dan buru-buru bersembunyi di balik sebuah vas bunga keramik raksasa.

Dua orang pria berseragam hitam berjalan melewati tempat persembunyian Anya sambil mengobrol pelan.

"Kau dengar soal pelayan yang diinterogasi Tuan Muda siang tadi?" tanya salah satu penjaga.

"Ya, kabarnya tangannya dipatahkan karena tidak mau mengaku siapa yang menyuruhnya," jawab penjaga lainnya.

Anya menahan napasnya dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan.

Pria itu benar-benar monster yang sangat kejam.

Setelah suara langkah kaki kedua penjaga itu menjauh, Anya kembali melanjutkan perjalanannya.

Tujuannya hanya satu, yaitu pintu kayu ek gelap di perbatasan sayap barat.

Sepuluh menit kemudian, Anya akhirnya berdiri tepat di depan pintu terlarang tersebut.

Gembok perak besar masih menggantung kokoh mengunci gagang pintunya.

Anya memasukkan kunci dari sistem itu ke dalam lubang gembok dengan tangan gemetar.

Klak.

Gembok itu terbuka dengan sangat mudah seolah kunci itu memang pasangannya.

Anya melepaskan gembok itu perlahan dan menaruhnya di lantai.

Kriet.

Pintu kayu itu berderit pelan saat Anya mendorongnya ke dalam.

Bau obat-obatan yang sangat menyengat langsung menyapa indra penciumannya.

Ruangan di balik pintu itu ternyata adalah sebuah lorong pendek yang berujung pada satu kamar besar.

Anya berjalan masuk dan menyelinap ke dalam kamar besar yang pintunya sedikit terbuka itu.

Lampu di dalam kamar itu sangat redup.

Anya memicingkan matanya untuk melihat apa yang ada di tengah ruangan.

Terdapat sebuah ranjang medis lengkap dengan tiang infus dan alat monitor detak jantung.

Tit. Tit. Tit.

Suara mesin monitor itu memecah kesunyian ruangan dengan tempo yang lambat.

Seorang wanita paruh baya berbaring di atas ranjang itu dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Tubuhnya sangat kurus kering seperti tinggal tulang pembalut kulit.

Wajahnya pucat pasi dan terdapat banyak bekas luka bakar memudar di leher dan lengannya.

"Astaga," bisik Anya tidak percaya melihat pemandangan menyedihkan itu.

Ini sama sekali bukan monster seperti yang digosipkan oleh para pelayan rumah.

Wanita paruh baya itu tiba-tiba menggerakkan kepalanya dengan lemah.

"Air... tolong air..." rintih wanita itu dengan suara yang sangat serak.

Anya buru-buru mencari sumber air dan menemukan sebuah teko di atas meja nakas.

Dia menuangkan air ke dalam gelas lalu perlahan mendekati ranjang medis tersebut.

"Biar saya bantu, Nyonya," ucap Anya sangat pelan sambil mengangkat kepala wanita itu sedikit.

Wanita itu meminum air dari gelas dengan rakus namun kesulitan menelannya.

Glek. Glek.

Setelah meminum setengah gelas, wanita itu kembali merebahkan kepalanya di bantal.

Mata wanita itu perlahan terbuka, menatap Anya dengan pandangan yang sayu dan kosong.

"Siapa kau?" tanya wanita itu pelan.

"Kau bukan perawat yang biasa datang kemari."

"Namaku Anya, Nyonya," jawab Anya ragu-ragu.

"Aku... aku tinggal di rumah ini."

Wanita itu tiba-tiba tersenyum miris mendengar jawaban Anya.

"Gadis malang, kenapa kau mau tinggal di neraka ini?" kekeh wanita itu pelan.

"Kau harus lari sebelum Haris meracunimu juga seperti dia meracuniku."

Anya melebarkan kedua matanya karena sangat terkejut mendengar nama Paman Haris disebut.

"Paman Haris yang melakukan semua ini pada Anda?" tanya Anya meminta kepastian.

Wanita itu mengangguk lemah sambil meneteskan air mata dari sudut matanya.

"Dia membunuh suamiku, lalu meracuniku pelan-pelan agar putraku kehilangan pijakannya."

"Putraku Kenji sangat menderita karena aku menjadi kelemahannya."

Jantung Anya seakan berhenti berdetak seketika mendengar pengakuan tersebut.

Wanita malang di depannya ini ternyata adalah ibu kandung Kenji.

Dan Paman Haris adalah dalang di balik semua penderitaan keluarga ini.

Pantas saja Kenji sangat membenci keluarganya sendiri dan bersikap sangat dingin pada semua orang.

Pria itu menyimpan dendam dan rasa sakit yang luar biasa besar sendirian selama ini.

"Kenji menyembunyikanku di sini agar Haris berpikir aku sudah mati," lanjut wanita itu dengan napas tersengal.

"Tolong jaga putraku, Nona Anya, dia sebenarnya adalah anak yang berhati lembut."

Anya merasakan matanya memanas dan setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

"Saya berjanji akan membantunya, Nyonya," ucap Anya tulus dari dalam hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari arah luar sayap barat.

Tap. Tap. Tap.

Langkah kaki itu terdengar sangat berat dan familier.

[Peringatan Kritis: Target Kenji sedang menuju ke ruangan ini.]

Anya tersentak panik dan langsung meletakkan gelas air ke atas meja nakas.

"Nyonya, saya harus pergi sekarang, saya akan kembali lagi nanti," bisik Anya cepat.

Wanita itu hanya tersenyum lemah dan memejamkan matanya kembali.

Anya berlari keluar dari kamar medis itu menuju pintu utama sayap barat.

Dia mengintip dari celah pintu dan melihat siluet Kenji baru saja berbelok di ujung lorong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!