Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Terperangkap Muslihat

Kicau burung gereja di bumbungan rumah dan gurat sinar matahari pagi yang menembus celah ventilasi kamar membangunkan Intan dari tidurnya.

Biasanya, pagi hari Intan dipenuhi oleh rasa canggung dan enggan untuk beraktivitas.

Namun, pagi ini berbeda. Ada binar kebahagiaan yang tak biasa memancar dari sudut matanya.

Ia melirik jam dinding berkerangka plastik di atas meja belajar. Jarum pendek menunjukkan angka tujuh.

Masih ada waktu dua jam sebelum pukul sembilan—waktu yang dijanjikan Rian untuk mentransfer balik uang tabungannya dan mengabarkan jadwal keberangkatannya ke desa.

Dengan perasaan membuncah, Intan bergegas merapikan tempat tidur, menyapu halaman rumah, hingga membantu ibunya menyiram tanaman di belakang.

Ibunya sampai keheranan melihat anak gadisnya yang biasanya pendiam kini bergerak begitu lincah dengan senyuman yang tak henti mengembang.

"Tumben anak Ibu rajin sekali pagi ini?"

"Seperti sedang menunggu kabar baik saja."

Goda ibunya sambil menyapu selasar teras.

Intan hanya menunduk malu, menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Iya, Bu. Sebentar lagi ada pria yang mau datang melamar Intan, bisiknya dalam hati, tak sabar ingin memberikan kejutan besar bagi kedua orang tuanya.

Waktu berjalan merambat. Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, Intan sudah duduk di tepi kasurnya.

Ponsel retak itu tergenggam erat di kedua telapak tangannya yang dingin dan berkeringat. Ia terus menatap layar yang masih terkunci, menunggu notifikasi yang dijanjikan.

Pukul delapan lewat lima puluh sembilan menit.

Jantung Intan berdegup kencang, seirama dengan detikan jarum jam.

Pukul sembilan tepat.

Ponselnya tetap hening. Tidak ada bunyi dering panggilan, tidak ada getaran pesan masuk.

Mungkin Mas Rian masih mengurus transaksi di bank, batin Intan menenangkan dirinya sendiri.

Ia mencoba bersabar, menunggu lima menit, ten menit, hingga setengah jam berlalu.

Namun, benda persegi di tangannya tetap membisu tanpa tanda-tahun kehidupan dari pria itu.

Rasa cemas yang samar-samar mulai merayap di celah-celah dadanya.

Mual yang asing mendadak menyerang perut Intan.

Jemari lugunya yang gemetar akhirnya memberanikan diri membuka aplikasi pesan singkat. Ia mengetikkan sebuah pesan sederhana.

> Intan: Selamat pagi, Mas Rian... Apakah urusan di bank sudah selesai?

>

Pesan itu terkirim. Namun, ada sesuatu yang aneh.

Indikator pesan yang biasanya langsung menunjukkan dua centang abu-abu atau biru, kini hanya menampilkan satu centang abu-abu.

Intan mengernyitkan dahi.

"Mungkin sinyal di tempat Mas Rian sedang jelek."

Gumamnya, mencoba mencari pembenaran logis untuk menutupi ketakutan yang kian membesar.

Ia menunggu lagi sepuluh menit. Pesan itu masih berstatus centang satu. Foto profil Rian yang biasanya menampilkan wajah tampan berkat kemeja putih rapi itu mendadak hilang, berganti menjadi ikon gambar abu-abu polos.

Napas Intan mulai memburu. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.

Dengan dada yang bergemuruh liar, ia mencoba menekan tombol panggilan suara langsung ke nomor telepon Rian.

Tuut... tuut...

Panggilan tidak terhubung. Sebuah suara operator wanita yang bernada datar dan dingin memotong harapan Intan.

"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."

"Tidak... tidak mungkin."

Bisik Intan, suaranya parau dan bergetar hebat.

Ia mencoba menelepon kembali. Sekali, dua kali, lima kali, hingga belasan kali.

Hasilnya tetap sama. Suara operator yang monoton itu seolah menjadi suara eksekusi mati bagi seluruh impian indahnya.

Dalam kepanikan yang membuncah, Intan bergegas membuka aplikasi pencari jodoh—tempat pertama kali ia membajak takdirnya dan bertemu dengan sosok Rian.

Namun, begitu ruang obrolan mereka terbuka, sebuah notifikasi sistem berwarna merah menyala di bagian bawah layar:

> 'Pengguna ini telah menghapus akunnya atau tidak lagi tersedia.'

>

Bagaikan disambar petir di siang bolong, dunia Intan serasa runtuh seketika.

Seluruh sendi di tubuhnya mendadak lolos, membuat ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh terhempas ke lantai kamar.

Dengan tangan yang gemetaran parah, Intan memungut ponselnya kembali dan membuka aplikasi mobile banking. Ia menekan menu riwayat transaksi dan mengecek saldo.

Rp 102.500,00.

Angka itu tidak berubah. Tidak ada transferan masuk sebesar empat juta rupiah, tidak ada pengembalian uang dua juta rupiah milik Intan.

Uang hasil jerih payahnya selama setahun penuh melayang tanpa sisa.

Saat itulah kenyataan pahit menghantam kesadarannya tanpa ampun.

Perhatian manis saban pagi, pujian tentang wajahnya yang awet muda, cerita tentang proyek bangunan, hingga janji manis untuk datang melamar ke rumah... semuanya hanyalah panggung sandiwara.

Sebuah muslihat beracun yang dirancang rapi untuk menjebak seorang gadis desa yang lugu, haus akan kasih sayang, dan ketakutan tidak menikah.

Rian tidak pernah ada. Yang ada hanyalah seorang predator tanpa nurani yang telah mengeksploitasi kepolosan dan kerapuhan jiwanya.

"Hah... hah..."

Intan terengah-engah, mencoba meraup udara yang rasanya mendadak langka di dalam kamarnya.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah, meleleh deras membasahi pipinya yang pucat.

Ia meremas dadanya yang terasa sangat sesak, seolah-olah ada belati tumpul yang menusuk dan meremukkan jantungnya berkali-kali.

Rasa sakit itu begitu dahsyat. Bukan karena kehilangan uang dua juta rupiah—meski uang itu sangat berarti baginya—melainkan karena penghianatan dan kehancuran harga dirinya.

Kepolosannya yang tanpa prasangka dibalas dengan kecurangan yang amat kejam.

Ketakutannya akan masa depan justru dimanfaatkan untuk menjatuhkannya ke dalam jurang tergelap.

Ia merangkak ke sudut kamar, memeluk kedua lututnya erat-erat, dan menyembunyikan wajahnya di sana.

Tangisannya pecah tanpa suara, diredam oleh dinding-dinding kamar yang bisu.

Di luar kamar, terdengar suara ibunya yang sedang bernyanyi kecil sambil memasak di dapur.

 Suara kehangatan rumah yang kini terasa sangat asing bagi Intan. Gadis itu merasa begitu kotor, bodoh, dan sangat malang.

Bagaimana bisa ia sebegitu mudahnya percaya pada janji manis di layar kaca?

Bagaimana bisa ia menyerahkan segalanya hanya karena sebuah harapan semu untuk dicintai?

Hari itu, di sudut kamar yang remang-remang, air mata Intan mengalir bukan lagi sekadar meratapi nasibnya yang malang.

Air mata itu membasahi jiwa lama seorang Intan Saputri—gadis lugu, penakut, dan naif yang selama ini hanya bisa bersembunyi dari dunia.

Di tengah kesedihan yang membakar dada, sebuah rasa baru yang belum pernah dirasakannya perlahan tumbuh dari puing-puing hatinya yang hancur: kemarahan yang teramat sangat.

Bagaimana dengan emosi dan ketegangan di Bab 4 ini? Jika suka dengan ceritanya, ayo terus lanjut ke Bab 5: Hilang Tanpa Jejak untuk melihat bagaimana Intan menghadapi fase mati rasa sebelum berubah menjadi wanita yang tangguh!

Jangan lupa like, komen dan subscribe 😇

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!