Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Segalon

Cinta Segalon

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: wabula

Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 galon sebelum siang

Jam lima pagi, Gilang Nararya udah dorong gerobak galonnya keluar dari gudang kecil depot air minum tempat dia kerja, roda gerobak yang salah satu bearingnya udah aus bikin suara berdecit tiap kali belok. Dia nggak sempet mikirin buat ganti—prioritasnya sekarang jelas: dua puluh galon harus abis diantar sebelum jam dua belas siang, biar dia bisa buru-buru ke kampus buat kelas malam.

"Lang, ini rute lo hari ini," ujar Pak Darto, pemilik depot, nyerahin secarik kertas berisi daftar alamat pelanggan. "Ada tambahan satu alamat baru, komplek elite di ujung jalan. Rumahnya gede banget, lo pasti nemu gampang."

Gilang ngambil kertas tersebut, ngeliat alamat yang emang belum pernah dia datengin sebelumnya. "Oke, Pak. Langsung caw."

Dia naikin empat galon ke gerobak dorongnya, mulai jalan nyusurin gang sempit menuju rumah-rumah pelanggan tetap yang udah dia hapal luar kepala—Bu Aminah yang selalu ngasih kerupuk sisa gorengan, Pak Yusuf yang tiap kali bayar selalu ngutang lima ribu "besok ya, Dek", dan beberapa rumah kos mahasiswa yang galonnya cepet abis karena dipake rame-rame.

Menjelang jam sembilan, Gilang udah abisin dua belas galon, keringatnya udah bikin kaos oblongnya basah kuyup meski matahari belum terlalu terik. Dia berhenti sebentar di warung kelontong, beli air mineral dingin buat ngademin badan sebelum lanjut ke rute berikutnya.

"Capek banget ya, Lang?" tanya Yoga, temen sesama tukang galon yang kebetulan lewat, ikut berhenti buat istirahat bareng.

"Biasa aja, Yog. Yang penting duitnya jalan," jawab Gilang sambil senyum, meski pundaknya udah kerasa pegel dari dorong gerobak sejak subuh tadi.

"Lo masih kuliah malem kan? Kapan lulusnya tuh?"

"Tinggal setahun lagi, Yog. Doain aja lancar," jawab Gilang, ngelap keringat pake ujung kaosnya. Kuliah ekonomi yang dia ambil di kelas malam tersebut jadi satu-satunya harapan buat ngubah nasib—buat dia sendiri, dan terutama buat ibunya yang selama ini banting tulang jahit baju orang demi nyekolahin dia sejak SD.

Selepas istirahat singkat tersebut, Gilang lanjut ke alamat baru yang dikasih Pak Darto tadi pagi. Komplek elite tersebut jauh beda dari gang-gang sempit yang biasa dia lewatin—jalanannya mulus, pagar-pagar rumahnya tinggi dan berukir, beberapa mobil mewah terparkir rapi di halaman.

Dia dorong gerobaknya pelan-pelan, ngecek nomor rumah satu per satu sampe akhirnya nemu alamat yang dimaksud—sebuah rumah bergaya modern minimalis dengan pagar besi hitam yang cukup tinggi, jauh lebih megah dari rumah-rumah lain yang udah dia lewatin.

Dia pencet bel yang terpasang di samping pagar tersebut, nunggu beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara dari interkom. "Iya, siapa ya?"

"Selamat pagi, saya anter galon dari depot Pak Darto," jawab Gilang.

Pintu gerbang tersebut terbuka pelan, dan dari dalamnya muncul seorang perempuan muda berpakaian kasual namun tetap keliatan mahal, rambutnya diikat asal, wajahnya nunjukin sedikit kebosanan yang aneh buat ukuran orang yang tinggal di rumah semewah itu.

"Taruh di sini aja," ujarnya sambil nunjuk ke arah dapur kecil di samping rumah, suaranya datar tapi nggak terkesan angkuh.

Gilang angkat galon tersebut, bawa masuk ke area yang ditunjuk, ngeganti galon kosong yang udah nunggu di dispenser. "Ini yang kosong ya, Mbak?"

"Iya," jawab perempuan tersebut singkat, berdiri agak jauh sambil merhatiin Gilang kerja dengan tatapan yang sulit diartiin—bukan curiga, tapi juga bukan sekadar acuh.

Selesai ganti galon, Gilang nyerahin nota pembayaran. Perempuan tersebut ngambil dompet dari saku celananya, bayar pas tanpa banyak bicara, terus balik masuk rumah tanpa sepatah kata pun lagi.

Gilang cuma ngangkat bahu, nggak terlalu mikirin sikap dingin tersebut—toh dia udah biasa ketemu berbagai macam pelanggan, ada yang ramah, ada yang cuek. Dia dorong gerobaknya balik keluar gerbang, lanjut ke alamat berikutnya di daftarnya.

Yang dia nggak tau, perempuan tersebut—Anindita Prameswari, atau biasa dipanggil Nindi—berdiri di balik jendela dapurnya, ngeliatin kepergian tukang galon tersebut lewat celah gorden dengan perasaan yang dia sendiri nggak sepenuhnya paham. Ada sesuatu dari cara pemuda tersebut kerja—sederhana, nggak banyak omong, tapi keliatan begitu tulus dalam ngerjain hal sekecil apa pun—yang bikin hari Nindi yang biasanya kosong dan membosankan, terasa sedikit berbeda hari itu.

Dia nggak tau kalau minggu depan, galonnya bakal abis lagi, dan tukang galon yang sama bakal balik dateng ke rumahnya.

Selepas dari rumah Nindi, Gilang lanjutin rutenya buat sisa hari tersebut, ngelewatin beberapa alamat lagi yang lokasinya masih di sekitar komplek elite tersebut. Ada satu rumah yang penghuninya selalu marah-marah kalau galon telat sedikit aja, ada juga yang penjaganya baik banget sampe sering ngasih minuman dingin gratis tiap kali Gilang dateng.

Menjelang jam dua belas siang, dia berhasil ngabisin seluruh galon di daftarnya, sebuah pencapaian yang bikin dia bisa langsung pulang buat siap-siap ke kampus tanpa harus buru-buru kejar sisa orderan. Dia dorong gerobak kosongnya balik ke depot, keringatnya udah mengering jadi bekas garam putih di kaosnya.

"Udah abis semua, Pak," lapor Gilang ke Pak Darto begitu sampe depot.

"Bagus, Lang. Istirahat dulu sana, makan siang," jawab Pak Darto sambil ngasih upah harian yang udah jadi haknya, sebuah amplop kecil berisi lembaran uang yang meski nggak seberapa, cukup penting buat nambahin tabungan yang lagi dia kumpulin buat biaya kuliahnya sendiri, mengingat beasiswa yang dia dapet cuma nutup setengah dari total biaya semester.

Gilang duduk sebentar di bangku depan depot, makan nasi bungkus yang dia beli dari warung sebelah, sambil ngebayangin gimana rasanya kalau suatu hari nanti dia bisa punya usaha air minum sendiri, nggak lagi cuma jadi pekerja yang gaji hariannya pas-pasan. Sebuah mimpi sederhana yang selalu jadi bahan bakar semangatnya tiap kali badan udah kerasa begitu lelah.

1
Dewi Kasinji
ijin baca kaj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!