Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Jepit yang Dibuang

Pak Darto tidak tahan melihat dua rumah saling membanting pagar.

Ia mengundang keluarga Galih makan malam dengan alasan sisa ayam bakar harus dihabiskan, padahal semua orang tahu ia sengaja ingin mendamaikan Bu Yayuk dan Mbah Surti.

"Saya datang demi Pak Darto," kata Bu Yayuk begitu duduk.

"Saya juga masak bukan demi kamu," jawab Mbah Surti.

Laras meletakkan semangkuk sayur di antara mereka. "Kalau dua-duanya masih mau perang, makannya dipisah pakai tembok."

Pak Darto tertawa terlalu keras. Galih menunduk menahan senyum, sementara Rayhan membagikan piring dengan sikap paling santun di Gang Mawar.

"Tante, nasinya?"

Bu Yayuk menerima piring darinya, sedikit melunak. "Pintar dan rajin. Sayang mulutnya kadang ikut Mbahnya."

"Namanya juga keturunan," balas Mbah Surti bangga.

Makan malam berjalan lebih damai setelah semua orang sibuk mengunyah. Pak Darto membicarakan bengkel, Bu Yayuk membicarakan kuliah hukum Galih, dan Mbah Surti kembali menyelipkan ITB setiap ada jeda.

Galih duduk berhadapan dengan Laras. Bekas lebam di pipinya hampir hilang.

"Jepit yang gue kasih gimana?" tanyanya.

Laras berhenti menyendok sambal. "Jepit?"

"Yang mutiara. Masih cocok?"

Ia baru teringat kotak krem kosong di tas kerjanya. Setelah malam hujan, Galih bilang jepit itu jatuh di mobil dan belum ketemu.

"Bukannya hilang di mobil lo?"

"Gue sudah cari di bawah kursi. Nggak ada. Gue pikir mungkin sudah lo ambil waktu turun."

Rayhan mengangkat kepala. "Jepit? Laras nggak suka barang begitu. Mending dipakai buat masang mur."

Galih menatapnya. "Gue tanya Laras."

"Aku bantu jawab. Dia sendiri lupa barangnya."

"Nggak usah bantu," kata Laras. "Dan jepit bukan buat mur."

"Berarti lo suka?" tanya Galih.

"Gue belum sempat pakai. Hilang duluan."

Rayhan menyuap nasi dengan tenang. Jepit itu berada di saku jaketnya, dibungkus tisu agar tidak tergores.

Galih kelihatan kecewa, tetapi ia mengangguk. "Kalau ketemu, simpan aja."

"Kalau nggak ketemu, ya sudah," sela Rayhan.

Kaki Laras menendang tulang keringnya di bawah meja.

"Makan," bisiknya.

Rayhan tersenyum sopan kepada Bu Yayuk, seolah tidak terjadi apa-apa.

Pak Darto buru-buru mengalihkan topik. Ia menanyakan rencana magang Galih dan menawarkan tempat di bengkel kalau mahasiswa hukum itu perlu mencari pengalaman menghadapi pelanggan yang suka menawar.

"Kalau magang di sini, saya belajarnya hukum apa, Pak?" tanya Galih.

"Hukum kunci sepuluh. Hilang satu, semua orang dituduh."

Bu Yayuk tertawa. Mbah Surti ikut tertawa beberapa detik kemudian, lalu keduanya tersadar sedang menikmati lelucon yang sama dan kembali memasang wajah datar.

Rayhan menuangkan teh untuk Pak Darto. Galih memperhatikan tangannya.

"Lo sudah balik asrama setelah kejadian kemarin?"

"Sudah."

"Dapat hukuman?"

"Tambahan tugas piket sama laporan tertulis."

Laras menoleh. Rayhan belum menceritakan bagian itu kepadanya.

"Kenapa baru bilang?"

"Sudah selesai."

"Selesai bukan berarti nggak perlu ngomong."

Galih mengangkat gelas. "Dia memang pintar milih informasi."

"Daripada pintar nyari perhatian lewat hadiah," balas Rayhan.

"Kalian mau makan atau adu mulut?" Pak Darto akhirnya bertanya.

"Makan, Pak," jawab mereka hampir bersamaan.

Laras mengusap kening. Ia mulai curiga satu meja tidak cukup lebar untuk menampung ego dua orang itu.

Mbah Surti kemudian menyodorkan sepiring kerupuk kepada Bu Yayuk. Gerakannya kaku, seolah sedang menyerahkan dokumen perdamaian.

"Ambil. Daripada besok bilang saya pelit."

Bu Yayuk menerima satu. "Saya juga bawa puding. Nanti jangan bilang saya datang tangan kosong."

Pak Darto mengedip kepada Laras. Upaya damainya belum berhasil sepenuhnya, tetapi setidaknya malam itu tidak ada yang mengungkit selokan lagi.

Setelah hidangan utama habis, Nadia menelepon dari Surabaya. Laras mengangkat sambil membawa piring kotor ke dapur.

"Gue pulang beberapa minggu lagi," kata Nadia. "Kali ini lo harus dandan. Jangan tiap ketemu gue pakai kaus bengkel."

"Kenapa gue harus dandan buat lihat muka lo?"

"Karena gue mau kita foto bagus. Pakai jepit mutiara yang gue kasih, ya."

Laras melirik ke arah bengkel, tempat jepit lama Nadia tersimpan di laci. "Kalau belum ketutup debu."

"Bersihin. Terus cari baju yang bener."

Rayhan masuk membawa tumpukan mangkuk. Laras menjepit ponsel di bahu dan membuka keran.

"Taruh situ."

"Aku cuci."

"Tamu masih di luar."

"Biar Galih yang temenin."

Laras menutup mikrofon ponselnya. "Lo berhenti nyenggol dia malam ini."

Rayhan mengambil spons. "Aku cuma mau bantu."

"Bantu nggak perlu sambil pasang wajah menang."

"Aku belum menang."

Nada suaranya berubah serius. Nadia masih mengoceh di telepon, tetapi Laras berhenti membilas piring.

Rayhan berdiri di sampingnya, lengan seragam rumah digulung sampai siku. "Cukup aku yang sayang kamu, yang lain nggak usah."

Air terus mengalir di antara mereka.

"Itu bukan keputusan yang bisa lo buat sendiri," kata Laras.

"Aku tahu."

"Terus kenapa ngomong begitu?"

"Supaya kamu tahu aku nggak berubah pikiran."

Laras mematikan keran. Jantungnya berdetak terlalu cepat untuk kalimat sesederhana itu. Namun bersamaan dengan rasa hangat, muncul sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Rayhan akhir-akhir ini terlalu tenang. Terlalu mudah mengalah di depan, lalu selalu mendapat hasil yang ia mau dari arah lain.

Ia teringat foto dari Kelvin, perjalanan pulang mendadak, dan cara Rayhan menyembunyikan rencana rekening sampai keceplosan. Tidak satu pun terbukti sebagai kejahatan besar. Justru itu yang mengganggu. Semua tampak kecil, masuk akal, dan baru membentuk pola kalau dilihat dari jauh.

"Lo nggak nyembunyiin apa-apa lagi dari gue?" tanyanya.

Rayhan membilas sebuah mangkuk sebelum menjawab. "Soal rekening nanti aku jelasin."

"Bukan cuma rekening."

Jari Rayhan berhenti sesaat pada spons, terlalu singkat untuk disebut ragu. "Kalau ada yang perlu kamu tahu, aku bilang."

Itu bukan jawaban. Laras tahu, Rayhan pun tahu. Namun suara tamu di ruang depan memanggil mereka sebelum ia bisa mendesak lebih jauh.

"Jangan lakukan hal bodoh," katanya.

"Aku lagi cuci piring."

"Gue serius."

Rayhan menatapnya dengan wajah bersih. "Aku juga."

Malam berakhir tanpa Bu Yayuk dan Mbah Surti saling menyerang lagi. Keluarga Galih menjadi tamu terakhir yang pamit. Pak Darto sibuk membungkus sisa makanan, Laras mengantar piring ke dapur, dan Mbah Surti sudah masuk kamar.

Rayhan keluar lebih dulu ke teras.

Ia mengeluarkan jepit mutiara dari saku jaket. Permukaannya masih bersih, mengilap, dan nyaris baru. Galih pasti mengenalinya.

Rayhan meletakkan jepit itu di anak tangga yang harus dilewati Galih. Ia mendorongnya sedikit ke tepi lumpur dengan ujung sepatu, lalu menggesek satu sisi mutiara sampai terkena noda cokelat.

Tidak ada orang yang melihat.

Ia berbalik, mengambil tumpukan gelas kosong, dan kembali memasang wajah biasa.

Beberapa menit kemudian, Bu Yayuk keluar bersama suaminya. Galih berjalan paling belakang.

Di bawah lampu teras, langkahnya berhenti.

Sebuah jepit mutiara yang ia pilih lama-lama tergeletak di tanah, basah dan bernoda lumpur, tepat di ujung sepatunya.

1
Tuningsih Tuningsih
karyamu bgus thor, ditunggu lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!