Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 32
“Hei … kenapa kau langsung pucat begitu, Argono?” tanya Anne, manik sendu dengan bulu lentik alami menatap nanar wajah rupawan khas pemuda jawa di depannya, lalu kembali berpindah pada hamparan sawah. “Aku jarang sekali menceritakan ini pada orang lain, tak pernah malahan, bahkan pada dua sahabatku.”
“Lantas, mengapa kau menceritakan padaku?” sela Argono.
“Entahlah, sedari kita berdebat di kantor kepala desa aku merasakan hal berbeda dari dirimu. Mungkin karena kita sedarah. Jawa,” balas Anne.
Argono bergeser sejengkal, badan tegap dengan otot menonjol sedikit miring, tangan semula tergantung di depan berpindah ke belakang, menekan lantai gubuk.
“Kau memiliki sisi lembut juga ternyata, jauh berbeda dengan gadis angkuh yang ku ajak berdebat kala itu.” Senyum pada wajah hitam manis merekah, tatapan tak lepas dari wajah mulus. “Aku pikir kau seperti kebanyakan anak orang kaya pada umumnya, angkuh, jemawa, padahal hidup dari warisan orang tua.”
Anne terbahak pelan, tubuh mungil sengaja mundur ke belakang, menabrak tangan kekar yang diam-diam ingin menjadi sandaran. “Keadaan yang memaksaku harus angkuh. Aku memikul tanggung jawab besar, kalau tak memasang tameng bagaimana bisa tegas menentukan keputusan.”
Ia kemudian memutar badannya, dagu terangkat, manik sadari tadi di penuhi kabut sendu mengeras, menatap lurus ke dalam netra Argono. “Aku tak jauh beda dengan gadis desa pada umumnya, Argono.”
Tatapan Argono bergetar, jakun naik-turun menandakan betapa ia kesulitan mengatur napas dan detak jantungnya. Wajah Anne begitu dekat, bibir ranum, hidung mungil, bulu mata lentik dengan sorot sendu, alis tebal, semua melekat pada pandangnya.
Perlahan ia menundukkan kepala, tangan berada di belakang badan Anne melingkar pada pinggang ramping, sorot mata mengunci bibir ranum yang sedikit terbuka, baru ia hendak meluruhkan wajah, Anne berbalik badan, melangkah pelan ke pinggiran gubuk yang menjorok ke sawah.
Dalam hati Argono langsung mengumpat kasar sambil mengusap benda tumpul yang kian tak terkendali, berkedut ingin terlepas dari sangkarnya.
‘Damput tinggal sejengkal malah pergi. Asu. Sabar Jarwo, belum waktunya kamu beraksi.”
Di tempatnya, Anne terkikik dalam hati, tangan mengusap pelipis terdapat anak rambut yang menempel. ‘Bener-bener nurun sampe semesum-mesumnya.’
Gadis ayu itu kemudian kembali melangkah ke gubuk, mengambil sebatang kretek. “Aku harus pulang sekarang, ada pekerjaan di rumah. Kau pulanglah dengan temon, nanti lepaskan saja di hutan kecil tempat kita bertemu, dia tau jalan pulang ke kandangnya.”
Tanpa menunggu jawaban Argono, Anne melangkah menjauh, bersiul memanggil salah satu kuda, lalu pergi begitu saja, meninggalkan Argono yang masih terpaku di tempatnya.
Pemuda tak henti mengulum senyum itu langsung menjatuhkan badan kekarnya pada lantai gubuk, satu tangan menutupi wajah berseri.
“Sedikit lagi padahal. Sedikit lagi!” Ia kembali terduduk, menggelengkan kepala sambil berdecak kesal. “Bener-bener mulus, wangi. Huh! Seandainya tadi berhasil, bisa ndak tidur tujuh hari tujuh malam aku.”
“Tapi… kenapa ceritanya berbeda dengan yang dikatakan bune? Dan siapa tadi … Damar?” Argono terus bergumam, mengingat kembali cerita Anne. “Aku harus tanya pada bune secepatnya.”
Ia kemudian beranjak pergi dari gubuk, tak menaiki temon, memilih berjalan menyeberangi pematang sawah.
Ilustrasi visual Argono, jika kurang sesuai mohon gunakan imajinasi sendiri. 🙏
Di tempat yang berbeda, bunyi nyaring asbak aluminium menghantam dinding mengisi ruang tamu rumah dinas Maria, berada di lingkungan klinik milik keluarga Van Beek.
Gadis hanya memakai gaun satin tipis bercorak merah muda terlihat berkacak pinggang, rambut masih mengenakan rol kepala dibiarkan terurai berantakan.
“Kalian menunggu apalagi, hah! Kurang dari dua minggu padi-padi itu siap dipanen. Apa kalian mau melihat gadis angkuh itu kembali berhasil mengalahkanku?!” berangnya pada dua pria duduk bersila di lantai dingin.
“Kau!” Kaki dengan sandal rumahan berhias bulu-bulu, menendang lutut Kasman, jari telunjuk mengacung tajam. “Kowe bilang mudah membereskan ini semua. Mana buktinya?”
Kasman mendongak tajam, wajah hitam dengan sorot mata bengis membalas tatapan nyalang Maria. “Kita tak boleh gegabah dalam bertindak, Nona. Orang-orang Anne terus berkeliling siang malam, jika tak hati-hati kita bisa tertangkap tangan.”
“Alasan!” sahut Maria, lagi ia menendang badan Kasman hingga terjengkang. “Aku tak mau tau. Besok pagi semua padi-padi sudah harus mati. Kalau gagal … kepala kalian akan jadi gantinya.”
“Sekalipun kowe memaksa, padi itu tak kan mati esok pagi,” jawaban Kasman menghentikan langkah Maria yang hendak kembali masuk ke kamarnya.
Pria paruh baya berkumis tebal itu beranjak dari lantai dingin, tangan dengan kuku-kuku hitam, mengusap pelipis yang lebih dulu bocor terkena lemparan asbak kaca.
“Bocah itu dikelilingi orang-orang pintar, dia sendiri pun cukup cerdik, kowe bisa saja menghancurkan pertaniannya sekejap mata, tapi bersamaan dengan itu, aku pastikan kowe juga ikut hancur di dalamnya,” lanjutnya.
Maria berbalik cepat, tangan dengan hiasan kutek merah darah mencengkram erat kerah baju Kasman. “Berani kowe menakut-nakuti ku dengan ancaman kosongmu itu?!”
“Aku tak sedang menakut-nakuti mu. Kalau kowe mau berhasil ikuti caraku, atau silahkan lakukan sendiri,” sahut Kasman dengan suara tegas. Tangan sedari tadi mengepal kuat berbalik mencengkram lengan kecil Maria, menarik paksa sebelum berganti menghempaskannya.
“Jangan mentang-mentang kowe punya kuasa bisa seenaknya sendiri, Nona. Tanpa bantuanku, kowe tak kan pernah bisa mengalahkan bocah cerdik itu,” imbuh pria sedari dulu paling tak suka direndahkan apalagi di anggap hina.
Maria menegakkan bahu, mengangkat dagu, memaksa tatapannya tetap lurus. Jemari meremas ujung gaun satin, menyembunyikan gemetar yang perlahan menjalar. “Terserah kowe saja, yang aku tau Anne harus gagal dan terusir dari desa ini.”
Ia kemudian berbalik, tak lagi menoleh, buru-buru masuk ke kamar dan mengunci pintu. Di balik pintu yang sudah tertutup rapat, Maria menarik napas dalam-dalam, keringat mengembun di pelipis dan dahi mulusnya.
‘Sial. Kenapa tua bangka itu berbalik menyerangku,’ umpatnya dalam hati.
Sepeninggal Maria, kepalan pada tangan Kasman melunak, bibir hitam dengan kumis tebal, terangkat sebelah. Pria tak banyak bicara itu menoleh ke arah Rusli yang masih menunduk, tak berani sedikitpun mengangkat kepala. Kaki dengan tumit pecah-pecah menginjak kasar tengkuk Rusli hingga terjerembab ke lantai.
“Kuwi opah karena kowe berani menahan tawa saat londo gila itu membuatku terjengkang,” ucapnya sambil berkacak pinggang. “Balik kono, suruh istrimu yang banyak omong itu menyiapkan makanan, setelah itu pergi ke gubuk, ambil semua obat-obatan dan alat semprotnya.”
“Ba-baik, Pak,” jawab Rusli. Takut-takut dia menarik badan, sambil merangkak perlahan keluar dari rumah, lalu gegas berlari begitu sampai pelatarannya.
Kasman masih berdiri di tempatnya, menatap lurus pintu kamar yang tertutup rapat. Jempol tangan dengan kuku sedikit panjang, mengusap sudut bibir. “Anak londo itu akan menanggung semua perbuatannya, juga bapaknya.”
Bersambung
apakah vampire nya bakallan bangkitt
aku pencett sesuaii mandattt yooww🙏
jgn2 pakde broto berucap
istrine ruslii jadi teman penghangatt kasmaan donkk 🤣
ngertio ngunuu
di potong habisss burunge kasman sama pak dokter dlu
di kasih racun ibu mu wae langsung ditenggak kog,
mana punya pendapat km gono
spy argono paham ,harta yg di incar nya
padahal itu jebakan terselubung
marni cuma mau memperalat nya saja
demi mengeruk kekayaan kartijo
anne dgn gamblang menjelaskan ke kamu argono , fakta nyata yang tertimbun doktrin busuk mbok mu Dewe
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii