Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Dia?
Suasana di dalam restoran itu terasa begitu hangat dan tenang, berpadu dengan aroma masakan yang menggugah selera serta pencahayaan lembut yang menciptakan kenyamanan di setiap sudut ruangan.
Dimas berjalan di samping Rania, menuntun langkah gadis itu menuju ruang kerja di bagian belakang — ruangan yang luas, tertata rapi, dan di tengahnya berdiri sebuah meja kerja kayu jati yang kokoh, berkilau halus di bawah pantulan cahaya lampu gantung yang hangat.
Di belakang meja itu, di atas kursi kerjanya yang berputar elegan, duduk sosok wanita yang tetap memunggunginya, tidak sedikit pun berbalik — sepenuhnya membelakangi pintu masuk, sehingga wajahnya belum dapat dilihat oleh siapa pun yang baru datang. Punggungnya tegap namun lembut, seolah ada beban berat yang ia pikul namun tetap berusaha tampil tegar.
"Silakan duduk dulu, Rania" ucap Dimas lembut, menunjuk dua kursi empuk berwarna cokelat susu di hadapan meja itu.
"Aku permisi sebentar, kalian berdua bisa berbincang dulu"
Dimas tersenyum tipis, seolah menyampaikan pesan yang hanya ia dan wanita itu pahami, lalu melangkah mundur dan meninggalkan ruangan itu, menutup pintu perlahan hingga tertutup rapat. Bunyi pintu yang tertutup itu terdengar pelan namun jelas di ruangan yang kini hening itu. Kini hanya tersisa Rania dan wanita yang duduk memunggunginya di ruangan itu.
Rania duduk dengan sopan, tangannya diletakkan rapi di atas pangkuan, matanya tak lepas dari sosok wanita itu. Hati kecilnya berdebar — ada sesuatu yang begitu akrab dari punggung tegap itu, dari cara duduk yang tenang namun berwibawa itu, dari helai rambut hitam yang terurai rapi di bahu wanita itu.
Namun ia segera menepis pikiran itu. "Tidak mungkin... pasti hanya perasaan saja" batinnya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Ia yakin pemilik restoran itu adalah orang lain, seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya, seseorang yang berada jauh dari dunianya yang sederhana.
Wanita itu belum berbalik. Ia masih memandang ke luar jendela besar di sampingnya, di mana langit sore mulai berubah warna menjadi jingga keunguan yang lembut. Lalu perlahan terdengar suara yang lembut namun tegas — suara yang membuat jantung Rania seketika berhenti berdetak sejenak, meski ia tak berani menyimpulkan siapa pemiliknya.
"Selamat datang di restoran ini, Rania"ucap wanita itu.
Kalimat itu sederhana, diucapkan dengan nada yang tenang dan ramah, namun ada getaran halus di dalamnya, seolah pemilik suara itu menahan sesuatu yang mendalam di balik kata-katanya.
Bagi Rania, suara itu terdengar begitu akrab — sangat mirip dengan suara yang selama bertahun-tahun selalu ia dengar di rumah besar keluarga Wijaya, suara yang pernah menenangkannya saat ia kecil, suara yang kini hilang dan berganti dingin.
Namun ia segera menunduk, menyangkal dalam hatinya. "Tidak mungkin... itu pasti hanya kebetulan. Pemilik restoran ini pasti orang lain. Kak Rina tidak mungkin ada di sini, dan tidak mungkin pula memiliki restoran sebesar ini" batin rania.
"Kau terlihat terkejut" lanjut suara itu kembali, kali ini terdengar sedikit lebih lembut, seolah menyadari kebingungan yang melanda gadis di hadapannya.
"Duduklah dengan tenang. Aku tidak akan memakanmu. Di sini tidak ada yang perlu kau takuti"
Rania menelan ludah pelan, merasa dadanya semakin sesak oleh perasaan yang tak dapat ia jelaskan.
"Maaf... saya..." suaranya tercekat di kerongkongan.
"Saya hanya... merasa suara Anda... sangat saya kenal. Seperti seseorang yang saya kenal sejak lama, seseorang yang sangat saya rindukan."
Wanita itu tetap tidak berbalik, tetap duduk memunggunginya. Ia diam sejenak, hening yang terasa begitu panjang, seolah sedang menimbang setiap kata yang hendak keluar dari bibirnya. Lalu berbicara lagi dengan nada yang tenang namun tegas, namun kali ini terdengar lebih dekat, lebih tulus.
"Banyak orang mengatakan hal yang sama. Mungkin karena kita pernah berpapasan di suatu tempat tanpa kita sadari" jawabnya pelan, tidak mengonfirmasi maupun menyangkal, memilih untuk membiarkan waktu yang menjawab semuanya.
"Izinkan aku memperkenalkan diriku. Namaku Rosita Wijaya. Aku pemilik restoran ini"
Rania tertegun sejenak. Nama itu — Rosita Wijaya. Nama yang sama persis dengan nama yang dulu sering ia dengar di rumah besar itu, nama yang selalu dikaitkan dengan masa lalu keluarganya, nama yang kini perlahan terlupakan oleh semua orang di rumah itu. Namun ia hanya mengangguk sopan, tidak menyangka bahwa wanita yang duduk memunggunginya itu sebenarnya adalah kakaknya sendiri — Rina, yang menggunakan nama keluarga lama mereka sebagai identitas barunya, sebagai cara untuk kembali menjadi bagian dari sesuatu yang pernah hilang.
"Senang berkenalan dengan Anda, Bu Rosita"jawab Rania dengan sopan, meski hatinya masih berdebar aneh.
"Terima kasih telah memberi saya kesempatan. Saya tidak menyangka akan mendapat kepercayaan sebesar ini."
"Sebaliknya, Rania" lanjut Rosita Wijaya — yaitu Rina — dengan suara yang semakin lembut dan penuh perasaan, seolah setiap kata itu diucapkan dengan hati yang bergetar.
"Aku mendengar banyak hal baik tentangmu — tentang kerajinanmu, kesederhanaanmu, ketulusan hatimu, dan bagaimana kau selalu berusaha menjadi baik meski dunia tidak selalu bersikap baik padamu. Itulah sebabnya aku menginginkanmu bekerja di sini. Aku percaya, kau adalah orang yang tepat untuk tempat ini. Restoran ini bukan sekadar tempat makan, Rania. Ini tempat di mana orang-orang datang mencari kehangatan, dan kau membawa kehangatan itu sendiri"
Rania merasa terharu, air mata hangat mulai menggenang di pelupuk matanya. "Terima kasih banyak, Bu Rosita. Saya... saya sangat berterima kasih. Tidak ada yang pernah berkata begitu padaku selama ini. Saya akan berusaha sebaik mungkin, tidak akan mengecewakan kepercayaan yang Anda berikan. Saya janji"
"Aku tidak meragukan itu"ucap wanita itu lembut, namun tegas.
"Mulai besok pagi, jam delapan. Jangan terlambat. Dan ingat — di dalam restoran ini, panggillahku 'Bu Rosita' atau 'Bu Wijaya'. Kita harus tetap profesional saat sedang bekerja. Di sini, aku bukan siapa-siapa selain pemilik, dan kau bukan siapa-siapa selain bagian dari keluarga besar restoran ini"
"Baik, Bu Rosita" jawab Rania dengan sopan, tanpa sedikit pun menyadari siapa wanita yang ia ajak bicara itu, tanpa menyadari bahwa nama Wijaya itu adalah nama keluarga mereka sendiri, tanpa menyadari bahwa di balik punggung itu tersembunyi kasih sayang yang selama ini ia rindukan.
"Saya siap bekerja di sini. Terima kasih sekali lagi"
"Bagus. Sekarang, kau boleh pulang dulu. Istirahatlah dengan cukup, agar besok siap bekerja dengan semangat baru. Sampai jumpa, Rania"
"Sampai jumpa, Bu Rosita" Rania berdiri, membungkuk sopan ke arah punggung wanita itu, lalu berjalan keluar ruangan dengan perasaan campur aduk — bahagia karena mendapat pekerjaan, namun tetap merasa aneh dengan suara dan nama pemilik restoran itu yang begitu dekat dengan keluarganya sendiri. Setiap langkah yang diambilnya terasa ringan namun sekaligus berat, seolah ada benang halus yang mulai menariknya kembali ke sesuatu yang lama hilang.
Saat pintu tertutup dan Rania sudah pergi, barulah Rina — yang menyamar sebagai Rosita Wijaya — perlahan menoleh ke arah pintu yang tertutup itu. Matanya berkaca-kaca, senyum tipis namun penuh haru merekah di wajahnya yang tampak lebih pucat dari biasanya.
Ia menunduk pelan, menutup wajahnya dengan kedua tangan sejenak, membiarkan air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Ran... maafkan Kakak belum berani menampakkan wajahku sekarang.untuk saat ini biarlah kamu mengenalku dengan Rosita wijaya... dan Kakak berjanji, suatu hari nanti, saat waktunya tiba — kau akan tahu semuanya. Bahwa Rosita Wijaya itu... adalah bagian Kakak, dan bagian dari keluargamu sendiri. Tolong tunggu Kakak sebentar lagi, ya"
Sementara Rania melangkah keluar dari ruangan itu, menutup pintu perlahan di belakangnya dengan perasaan yang masih bercampur aduk. Jantungnya masih berdegup kencang — bukan karena takut, melainkan karena rasa heran yang tak kunjung hilang.
Suara Bu Rosita Wijaya itu... begitu akrab, begitu lembut, begitu mirip dengan seseorang yang selalu ia rindukan. Namun ia segera menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu.
"Pasti hanya kebetulan saja. Kak Rina tidak mungkin ada di sini, dan tidak mungkin pula memiliki restoran sebesar ini" batinnya meyakinkan diri sendiri, meski di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu bahwa kebetulan seperti ini jarang terjadi dua kali.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya, lalu memandang ke sekeliling ruangan utama restoran itu. Ruangan itu tampak begitu hangat dan nyaman — pencahayaan yang lembut berwarna keemasan, aroma masakan yang menggugah selera bercampur wangi bunga segar di setiap meja, serta tata letak meja yang tertata rapi dan tidak terlalu berdekatan.
Dan di sudut ruangan, di sebuah meja yang menghadap ke jendela besar, terlihat sosok pria yang sedang duduk menunggunya. Itu Dimas. Ia duduk dengan tenang, kedua tangannya bertautan di atas meja, dan tatapannya tertuju pada pintu ruangan kerja itu, seolah ia sudah menunggu kedatangan Rania sejak lama.
Rania segera melangkah mendekat, langkah kakinya yang sempat ragu kini terasa lebih ringan dan mantap. Begitu Dimas melihatnya berjalan mendekat, ia segera berdiri dari kursinya, menatap gadis itu dengan tatapan penuh harap dan senyum lembut yang tak pernah hilang. Ada kehangatan di matanya yang membuat hati Rania merasa semakin tenang, seolah pria itu adalah penunjuk jalan yang dikirimkan Tuhan untuknya.
"Bagaimana, Rania?" tanya Dimas pelan begitu Rania berdiri di hadapannya, suaranya lembut namun penuh perhatian.
"Bagaimana pertemuannya dengan Bu Rosita Wijaya?"
Rania tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia, cahaya keemasan sore hari memantul di matanya yang bersinar.
"Aku diterima, Kak Dimas! Aku akan bekerja di sini mulai besok pagi. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Terima kasih banyak"
Dimas tersenyum lega, matanya ikut bersinar bahagia melihat keceriaan di wajah gadis itu. "Syukurlah... aku sangat senang mendengarnya. Aku tahu kau pasti cocok di sini. Aku sudah yakin sejak awal" Ia menarik kursi di hadapannya, memberi isyarat agar Rania duduk sebentar.
"Mari duduk dulu sebentar. Kita bisa berbincang sedikit sebelum kau pulang. Ada beberapa hal kecil yang perlu kau ketahui sebelum mulai bekerja besok"
Rania mengangguk, lalu duduk dengan sopan di hadapan Dimas. Tangannya meremas ujung bajunya pelan, masih merasa tak percaya dengan segala hal yang terjadi sore ini.
"Kak Dimas..." ucapnya tiba-tiba, membuat Dimas menatapnya dengan penuh tanya.
"Ya? Ada apa, Rania? Ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku... Aku merasa Bu Rosita itu sangat aneh" ucap Rania pelan, menatap meja kayu di hadapannya, seolah mencari jawaban di sana.
"Suaranya... sangat saya kenal. Dan namanya juga Wijaya... sama seperti nama keluargaku. Padahal saya belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Apakah... apakah ada hubungannya dengan keluarga ku?"
Dimas terdiam sejenak, menatap wajah Rania dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa haru yang samar di matanya, namun ia berusaha menyembunyikannya di balik senyum tenangnya. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab dengan lembut, berusaha menjaga agar tidak mengungkapkan hal yang belum waktunya.
"Mungkin memang sudah takdir yang mempertemukan kalian berdua, Rania. Jangan terlalu dipikirkan ya. Yang penting kau sudah diterima bekerja di sini, dan kau akan berada di tempat yang baik dan aman...Percayalah pada prosesnya. Suatu hari nanti, semua akan jelas dengan sendirinya.. lagi pula nama wijaya itu ada banyak bukan" ucap dimas.
Rania mengangguk pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri. "Mungkin benar begitu. Tapi Kak Dimas, bagaimana kaka mengenalnya? Apakah Bu Rosita orang yang baik? Saya ingin tahu siapa yang akan menjadi atasan saya" tanya rania.
"Dia orang yang sangat baik, Rania" jawab Dimas mantap, tanpa ragu sedikit pun.
"Dia wanita yang tulus, bijaksana, sangat berhati lembut, dan sangat peduli pada orang lain. Dia adalah salah satu orang terbaik yang pernah aku kenal. Kau tidak akan menyesal bekerja di sini. Percayalah padaku. Dia akan membimbingmu dengan baik" ucap dimas meyakinkan.
Mendengar penegasan itu, hati Rania merasa semakin tenang. Ia tersenyum tulus pada Dimas, rasa syukur memenuhi dadanya hingga matanya kembali berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak, Kak Dimas. Tanpa kaka, aku tidak akan pernah sampai di sini. Terima kasih sudah mempercayai ku, terima kasih sudah membukakan jalan ini untukku . Aku tidak tahu harus membalas dengan apa" ucap rania.
Dimas menggeleng pelan, menatapnya dengan tatapan lembut yang penuh perhatian, tatapan yang lebih dari sekadar teman. "Jangan berterima kasih padaku, Rania. Kau pantas mendapatkan semua ini. Kerja keras, kesabaran, dan ketulusan hatimu yang membawamu ke sini. Aku hanya membantu membukakan pintu itu saja. Kau sendiri yang berani melangkah masuk."
Suasana di antara mereka hening sejenak, namun bukan hening yang canggung. Justru hening yang hangat, penuh dengan rasa syukur dan harapan baru. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela besar itu menyinari wajah mereka berdua, menciptakan suasana yang begitu damai dan menenangkan, seolah waktu berhenti berputar sejenak untuk membiarkan mereka menikmati momen itu.
"Sudah mulai siang, Rania"ucap Dimas pelan sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjuk ke arah jam lima sore.
"Sebaiknya kamu pulang sekarang. Mamamu pasti sudah menunggu di rumah. Jangan sampai ia khawatir menunggumu terlalu lama"
Rania mengangguk, segera berdiri dari kursinya, menyadari bahwa hari sudah mulai terik. "Iya, Kak..."
"Ayo.." ucap Dimas ikut berdiri, berjalan di samping Rania menuju pintu keluar restoran itu, langkah kakinya yang selaras dengan langkah gadis itu.
Saat mereka berjalan beriringan, Rania merasa hatinya penuh dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di belakangnya, di ruangan kerja yang tertutup itu, Rina — yang menyamar sebagai Rosita Wijaya — berdiri di balik tirai jendela, menatap kedua orang itu berjalan keluar dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia melihat bagaimana Dimas memperlakukan adiknya dengan begitu lembut dan hormat, dan hatinya merasa lega sekaligus haru.
"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kita, Rania. Kakak berjanji, suatu hari nanti kau akan tahu semuanya. Dan saat itu tiba... semoga kau masih mau memaafkan Kakak, dan masih mau menerima Kakak kembali" ucap rina.
Bersambung..