Bertahun-tahun setelah sebuah pembantaian menghapus keluarga Black Rose dari dunia mafia, Elena kembali dengan identitas sebagai seorang pelayan.
Tidak seorang pun tahu siapa dirinya atau alasan sebenarnya ia memasuki keluarga Bianchi.
Namun, putra pertama keluarga Bianchi, Leon mulai mencurigai wanita itu. Kebiasaan aneh dan tato yang wanita itu miliki, membangkitkan potongan ingatan dari masa lalu yang tidak pernah bisa ia pahami.
Sampai sebuah kesalahpahaman memaksa mereka untuk menikah.
Leon melihat kesempatan untuk mengawasi Elena lebih dekat. Sementara Elena menerima pernikahan itu demi satu tujuan yaitu membalas dendam.
Dua orang dengan tujuan tersembunyi terikat dalam satu pernikahan.
Dan, tanpa mereka sadari, pernikahan itu akan membuka rahasia yang menghubungkan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berdansa
Musik di dalam ballroom perlahan berubah.
Alunan piano yang sebelumnya lembut kini berpadu dengan dentingan biola, menciptakan irama romantis yang membuat beberapa pasangan mulai bergerak menuju tengah ruangan.
Elena berdiri di samping Leon sambil memegang gelas di tangannya. Sesekali ia memperhatikan para tamu yang mulai berdansa.
Namun, belum sempat ia mengalihkan pandangan, seorang pria tiba-tiba menghampirinya.
Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang rapi dengan senyum ramah saat berhenti tepat di depan Elena.
"Permisi, nona."
Elena menoleh. "Ya?"
Pria itu kemudian mengulurkan tangannya. "Maukah Anda berdansa dengan saya?"
Elena terdiam. Tatapannya turun pada tangan pria tersebut lalu, ia melirik Leon berdiri di sampingnya.
Wajah pria itu terlihat tenang, tetapi rahangnya mengeras. Tatapannya tajam tertuju pada pria yang berani mengajak Elana berdansa.
Elena hampir tersenyum. "Apa dia cemburu?" batinnya.
Lalu, muncul ide gila. Tanpa mengatakan apa-apa, Ia menatap pria itu dengan senyum manisnya.
Tangannya perlahan terangkat, hendak menerima ajakan tersebut. Tapi, sebelum jemarinya sempat menyentuh tangan pria itu, Leon lebih dulu menggenggam tangannya.
Elena terkejut. Ia menatap wajah Leon yang muram.
"Maaf, dia sudah punya pasangan dansa," ucap Leon dengan nada yang terdengar sopan, tetapi tatapannya sama sekali tidak bersahabat.
Pria itu mengernyit. "Pasangan dansa?"
Leon tidak menjawab. Ia justru menarik Elena mendekat dan memeluk pinggangnya erat.
"Leon, apa yang—"
Belum sempat Elena menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah membawanya ke tengah ballroom.
Elena tidak bisa menolak dan hanya pasrah mengikuti langkah pria itu.
"Leon, apa yang kamu lakukan?" tanya Elena setelah mereka berdiri di tengah-tengah ruangan.
"Berdansa," jawabnya singkat.
Elena memutar bola matanya. "Aku tidak mau." ia hendak berbalik, tapi Leon lebih dulu menarik lengannya hingga tubuh mereka saling merapat.
"Dan, aku tidak menerima penolakan."
Tangan Leon perlahan berpindah di pinggang Elena, sementara tangan mereka yang lain saling bertautan. Lalu, mereka mulai bergerak mengikuti irama.
Elena melirik sekitar sebelum kembali menatap Leon.
"Sejak kapan kamu berubah menjadi pemaksa?"
"Sejak hari ini," jawab Leon singkat.
Elena diam beberapa saat, lalu tersenyum tipis. "Kamu cemburu?"
Leon menatap lurus ke depan. "Tidak."
Elena terkekeh pelan. "Kalau begitu, kenapa kamu merebut ku dari pria tadi?"
Leon terdiam. Tapi, sedetik kemudian seringai tipis muncul di bibirnya.
"Kamu terlalu percaya diri, Elena. Aku tidak merebut mu dari siapapun. Aku hanya tidak mau kamu mempermalukan ku."
"Benarkah?” Tangan Elena perlahan berpindah, melingkar di leher Leon. "Tapi, yang aku lihat, kamu sedang cemburu."
Leon mengangkat sudut bibirnya. Senyum sinis yang sama sekali tidak menunjukkan kehangatan.
"Kamu memainkan peranmu dengan sangat baik, Elena. Bahkan, harus aku akui, kamu berhasil mengatur panggung sandiwara yang sempurna."
Tangannya bergerak merengkuh pinggang Elena. Hingga, dalam satu tarikan, tubuh wanita itu merapat ke tubuhnya.
"Dari seorang pelayan, kamu berhasil menciptakan skandal, mempermalukan ku di depan banyak orang, lalu perlahan memaksa dirimu sendiri menjadi bagian dari keluarga Bianchi."
Leon menundukkan wajahnya sedikit. Tatapannya menusuk ke arah mata Elena.
"Tapi… Apa kamu pikir sandiwara ini akan bertahan lama, hm?"
Senyum di wajah Elena perlahan memudar. Sorot matanya berubah tegang.
Hanya sesaat, tetapi Leon berhasil menangkap perubahan itu, membuat senyum kemenangan muncul di wajahnya.
Leon mendekatkan kepala, hingga bibirnya berada di dekat telinga Elena.
"Malam ini, kamu memakai gaun yang cukup terbuka," bisiknya terdengar rendah.
"Kalau Victor sampai melihat tato mawar di belakang bahumu, menurutmu, apa yang akan terjadi?"
Maria tersenyum senang melihat kedekatan keduanya.
"Lihat! Mereka serasi sekali," ucap Maria.
Victor hanya melirik sekilas, tanpa merespon. Sedangkan, Daniel terlihat menggertakkan rahangnya.
"Kenapa diam?" tanya Leon dengan senyum yang semakin lebar. "Kamu takut?"
Elena tidak menjawab.
Keduanya terus bergerak mengikuti alunan musik yang lembut. Langkah mereka begitu serasi, seolah pasangan itu benar-benar sedang menikmati sebuah dansa romantis.
Dan, mereka berhasil menjadi pusat perhatian di tengah pesta.
Sayangnya, tidak seorang pun menyadari bahwa di balik gerakan yang terlihat harmonis itu, keduanya sedang berperang. Bukan dengan senjata, melainkan dengan tatapan, ancaman, dan rahasia yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan satu sama lain.
"Aku bisa menolong mu, Elena." Suara Leon kembali terdengar di sela alunan musik.
"Tapi, kamu harus mengatakan kepadaku apa tujuanmu sebenarnya? Kalau tidak, anak buahku akan menangkap orang-orang mu. Dan, aku bisa memastikan mereka tidak akan keluar hidup-hidup dari markas The Raven."
Elena masih diam. Tatapannya tajam menembus mata Leon. Tapi, tidak ada kepanikan seperti yang seharusnya muncul dari seseorang yang sedang diancam.
Justru, perlahan bibirnya kembali melengkung membentuk senyum kecil.
"Apa kamu melihat ketakutan di wajahku, Leon?"
Ucapan itu berhasil membuat gerakan Leon sempat terhenti sepersekian detik.
Elena mendekatkan tubuhnya sedikit, lalu berbisik dengan nada mengejek.
"Apa kamu tahu kenapa aku menyeret mu ikut dalam sandiwara ini?" Senyum Elena semakin lebar.
"Karena kamu bodoh."
Kedua mata Leon membulat. Tangannya yang berada di pinggang Elena tanpa sadar mencengkeram lebih erat.
"Apa kamu bilang?"
Elena terkekeh pelan. "Aku tahu, kamu menyelidiki ku. Kamu mengawasi setiap gerak-gerik ku. Kamu bahkan tahu banyak tentang diriku."
Tatapan Elena berubah tajam. "Tapi, kamu memilih diam."
Leon tidak menjawab.
"Kamu tidak memberitahu Victor tentang tato mawar yang kamu lihat." Elena memiringkan kepalanya. "Kenapa? Kamu merasa kasihan kepadaku?"
Elena menggeleng pelan sambil tersenyum sinis. "Tidak, justru aku yang kasihan padamu, Leon."
"Apa maksudmu?"
Elena tidak langsung menjawab. Ia membiarkan beberapa detik berlalu, sementara tubuh mereka masih terus bergerak mengikuti irama musik.
"Baiklah. Aku akan memberitahumu."
Elena menarik napas pelan. Tatapannya berubah serius.
"Dulu, The Raven hanyalah organisasi kecil. Bahkan, kekuatannya tidak ada seujung kuku dibandingkan The Black Rose."
Leon mulai memperhatikannya dengan lebih serius.
"Victor gagal mengembangkan organisasinya. Banyak transaksi yang gagal. Dia sering ditipu, sehingga kehilangan uang, bahkan mengalami kerugian besar."
Sedetik kemudian, tatapan Elena berubah tajam.
"Tapi, semuanya berubah setelah The Black Rose musnah."
Leon terdiam.
"Setiap kali The Raven mengalami kerugian, mereka selalu mampu memulihkannya dalam waktu singkat. Kekayaan mereka bertambah. Wilayah mereka meluas. Pengaruh mereka semakin besar."
Elena mendekatkan wajahnya. "Terlebih, setelah kamu mulai ikut mengambil bagian dalam organisasi."
Leon menggertakkan rahangnya.
Elana menaikkan sebelah alisnya. "Kamu tahu artinya?"
Leon tidak menjawab.
Pikirannya mulai menyusun kepingan-kepingan yang selama ini tidak pernah ia pertanyakan. Ia tidak pernah benar-benar mengetahui sejarah The Raven.
Sejak ia remaja, satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanyalah menjadi kuat. Menjadi seseorang yang layak diakui Victor.
Ia rela melakukan apa pun untuk membuktikan dirinya. Bahkan, saat Victor melarangnya bergabung dalam organisasi, Leon tetap berusaha menunjukkan kemampuannya.
Sampai akhirnya ia berhasil.
Ia mengira sikap Victor yang membiarkannya berada di dalam organisasi adalah sebagai bentuk penerimaan.
Ia mengira, Victor akhirnya menganggapnya sebagai putranya.
Tapi ternyata, Victor hanya takut kehilangan semuanya. Ia bahkan di perlakukan seperti orang lain karena takut ia akan mengambil alih kursi kepemimpinan The Raven, kursi yang sebenarnya disiapkan untuk pewaris darah keluarga Bianchi.
"Sepertinya, kamu sudah sadar," ucap Elena memutus lamunannya.
Leon mengangkat wajah, membuat tatapan keduanya kembali bertemu.
"Aku tahu, Victor hanya memanfaatkan ku," ucap Leon akhirnya. "Tapi, dia tetap ayahku. Dia yang merawat ku sejak kecil.”
Elena memutar bola matanya. "Ya, ya, ya. Kamu memang anak yang sangat berbakti."
Leon mendengus kasar. "Kamu sendiri melakukan semua ini untuk balas dendam, bukan?”
Elena terdiam.
"Jangan hanya karena The Raven berkembang setelah keluargamu mati, lalu kamu menganggap Victor sebagai pelakunya."
Wajah Elena seketika berubah dingin.
"Kamu sengaja mengucapkan kata ‘mawar’ di depan Victor untuk melihat reaksinya, kan? Dengan begitu, kamu bisa mengetahui apakah Victor terlibat dalam tragedi yang menimpa keluargamu dua puluh tahun lalu."
Seringai tipis, muncul di bibir Elena.
"Kamu salah, Leon." Ia memiringkan kepalanya, menatap Leon dalam.
"Justru lebih dari itu."
Leon mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
"Coba tebak."
Belum sempat, Leon menjawab, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia melepaskan pelukannya lalu mengambil ponsel dari saku jas nya.
Ia sempat mengeryit, melihat nama Sean tertera di layar. Lalu, tanpa menunda, ia akhirnya menjawab panggilan tersebut.
"Ada apa?" tanya Leon.
"Tu-tuan, ada penyusup."
Leon melebarkan kedua matanya. "APA?"
💖💖💖
nyogok biar dobel up🤭
huh benalu menyusahkan👊