Ketika Jiang Chen terbangun di dunia kultivasi, ia mendapati dirinya mewarisi takhta Ketua Sekte Pedang Bintang—sebuah sekte yang dulunya agung namun kini berada di ambang kehancuran absolut. Pilar utama sekte, sang guru, telah tewas terbunuh. Para tetua berkhianat dan membawa lari seluruh harta benda, sementara musuh bebuyutan telah mendobrak gerbang depan untuk merampas wilayah mereka.
Dengan tingkat kultivasi dasar yang sangat lemah dan hanya ditemani oleh satu adik seperguruan yang masih setia bertahan, ajal seolah sudah menanti Jiang Chen di depan mata.
Namun, di saat maut dan keputusasaan memuncak, sebuah suara mekanis yang dingin bergema di benaknya: [Sistem Pembangunan Sekte Abadi berhasil diikat!]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Benturan Para Jenius
Udara di Koloseum Grand Ibukota terasa seolah disedot habis. Semua mata tertuju pada sosok remaja yang berdiri di tepi paviliun Sekte Pedang Bintang, menantang jenius nomor satu ibukota dengan pedang raksasa yang menunjuk lurus ke arahnya.
Su Yue yang berada di Arena Nomor 1 mengangguk pelan. Ia menarik Pedang Bulan Beku-nya, meninggalkan patung es Lei Jian yang masih membeku, lalu melesat ringan kembali ke paviliun. Panggung kini sepenuhnya diserahkan kepada sang Iblis Pedang.
BOOOM!
Lin Mo tidak melayang dengan gemulai. Ia melompat dan mendarat di tengah arena layaknya sebuah meteor batu, meretakkan lantai Berlian Bintang di bawah kakinya. Debu mengepul, dan saat debu itu tersapu oleh angin dari pedangnya, aura kultivasi Lin Mo akhirnya meledak tanpa ditahan-tahan lagi.
Cahaya qi berwarna perak menyelimuti tubuhnya, memancarkan ketajaman yang membuat kulit para penonton di barisan depan terasa perih.
Ranah Pembentukan Fondasi Tingkat 1!
"S-Surga! Remaja itu... usianya paling banter baru tujuh belas tahun, tapi dia sudah mencapai Pembentukan Fondasi?!"
"Sekte Pedang Bintang benar-benar sarang monster! Pantas saja mereka berani bersikap seangkuh itu!"
Di paviliun Sekte Langit Ungu, wajah Zi Lingtian berkedut hebat. Kesombongannya terasa ditusuk-tusuk. Namun, sebagai jenius yang berada di Pembentukan Fondasi Tingkat 3, ia tidak mengizinkan dirinya merasa gentar terhadap seseorang yang ranahnya berada dua tingkat di bawahnya.
"Hanya karena kau baru menembus Pembentukan Fondasi, kau pikir kau memiliki kualifikasi untuk memandang rendahku?"
Zi Lingtian melangkah ke udara. Berbeda dengan Lin Mo yang mengandalkan tenaga fisik, Zi Lingtian melayang turun dengan elegan menggunakan qi anginnya, mencoba mempertahankan wibawa Sekte Langit Ungu.
Begitu kakinya menyentuh arena, ia langsung mencabut pedang pusakanya—Pedang Awan Ungu (Senjata Tingkat Bumi Kelas Bawah). Cahaya ungu yang menyilaukan beriak dari bilahnya, membawa tekanan spiritual yang langsung mencoba menindas Lin Mo.
"Hari ini, aku akan mengajarimu arti dari keputusasaan, anjing kampung!" Zi Lingtian meraung.
Lin Mo memiringkan kepalanya, menyeringai hingga deretan giginya terlihat. "Anjing yang menggonggong terlalu keras biasanya tidak punya gigitan yang tajam. Majulah!"
"Seni Pedang Langit Ungu: Tarian Bayangan Kematian!"
Zi Lingtian tidak menahan diri. Tubuhnya pecah menjadi tujuh bayangan ungu yang bergerak dengan kecepatan kilat, mengelilingi Lin Mo dari segala arah. Setiap bayangan mengayunkan pedang yang memancarkan qi setajam silet. Ini adalah teknik andalan yang membuatnya tak terkalahkan di generasi muda ibukota!
Serangan dari segala arah itu mengunci titik buta Lin Mo. Bagi kultivator biasa, ini adalah jebakan maut yang tidak bisa dihindari.
Namun, Lin Mo adalah pemilik Tubuh Pedang Kuno. Insting bertarungnya telah diasah hingga ke tingkat yang tidak masuk akal.
Ia menutup matanya.
"Terlalu banyak gerakan sia-sia," gumam Lin Mo.
Tepat saat ketujuh pedang itu berjarak satu jengkal dari tubuhnya, Lin Mo membuka matanya. Pupilnya sepenuhnya berubah menjadi warna perak. Ia memegang gagang Pedang Meteor Darah dengan kedua tangannya dan memutar tubuhnya dalam satu sapuan brutal.
"Pedang Penakluk Bintang: Sapuan Penghancur Bulan!"
WUUUUUSSHH!! CRAAAST!!
Gelombang qi pedang perak berbentuk bulan sabit meledak dari Lin Mo, menyapu ruang di sekitarnya dengan radius sepuluh meter.
Enam bayangan ungu hancur berkeping-keping layaknya ilusi asap. Pedang raksasa Lin Mo berbenturan keras dengan tubuh asli Zi Lingtian yang mencoba menusuk dari arah belakang.
TANGGGG!!!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema. Bunga api memercik ke udara.
Zi Lingtian merasakan tangannya mati rasa seketika. Matanya melotot tak percaya. Tenaga fisik dari pedang remaja ini terasa seperti hantaman gunung baja! Gaya dorong yang mengerikan itu memaksa Zi Lingtian meluncur mundur sejauh belasan meter, meninggalkan jejak sepatu yang terbakar di lantai arena.
"Bagaimana mungkin?! Qi logamku berada di Tingkat 3, tapi ketajamannya dipatahkan oleh Tingkat 1?!" Zi Lingtian membatin dengan panik. Ia tidak tahu bahwa Seni Bintang Nirwana yang dilatih Lin Mo adalah teknik Tingkat Surga yang memurnikan qi hingga sepuluh kali lipat lebih padat dari kultivator biasa.
"Hei, jenius nomor satu. Kenapa kau mundur?" Lin Mo tertawa mengejek, meletakkan pedang besarnya di atas bahu. "Bukankah kau mau mengajariku keputusasaan?"
Wajah Zi Lingtian memerah padam. Harga dirinya sebagai penguasa ibukota benar-benar diinjak-injak.
"JANGAN MEREMEHKANKU, BOCAH!!"
Zi Lingtian menggigit ujung lidahnya, membakar beberapa tetes esensi darahnya untuk memompa kultivasinya hingga menyentuh batas Tingkat 4 untuk sementara waktu. Energi ungu pekat meledak ke langit, membentuk pusaran awan gelap di atas koloseum.
"Teknik Rahasia: Kehancuran Matahari Ungu!"
Zi Lingtian mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Seluruh qi di tubuhnya tersedot ke dalam bilah pedang, membentuk sebuah bola pedang qi raksasa berwarna ungu yang menyerupai matahari kecil. Hawa panas dan ketajaman yang dipancarkan teknik ini membuat udara di arena terdistorsi.
Para penonton menjerit ketakutan, beberapa bahkan berlari mundur. Jika serangan itu meleset dari pembatas, separuh koloseum bisa hancur!
Di paviliun Sekte Pedang Bintang, Han Feng dan Su Yue menatap dengan ekspresi serius. "Serangan itu cukup mematikan. Apakah Lin Mo akan baik-baik saja?" bisik Han Feng.
Jiang Chen, yang masih mengamati dari kursinya, hanya tersenyum tipis. "Sebongkah arang yang dibakar hingga merah tetaplah arang. Ia tidak akan pernah bisa melelehkan berlian murni."
Di tengah arena, menghadapi "Matahari Ungu" yang siap menghancurkannya, Lin Mo tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, senyum liarnya semakin lebar. Darah di dalam nadinya mendidih kegirangan. Inilah pertarungan yang ia cari!
Lin Mo menancapkan Pedang Meteor Darah-nya ke lantai. Ia menarik napas dalam-dalam, menyedot energi spiritual di udara. Di belakangnya, sebuah bayangan ilusi berbentuk pedang raksasa kuno yang memancarkan cahaya bintang perlahan muncul.
Itu adalah manifestasi murni dari Tubuh Pedang Kuno!
"Matahari ungu? Biar kutebas hingga pudar!"
Lin Mo mencabut pedangnya, menggabungkan bayangan pedang kuno di belakangnya ke dalam bilah Pedang Meteor Darah. Seluruh aura peraknya memadat menjadi satu garis lurus yang tak terhentikan.
"Pedang Penakluk Bintang: Tebasan Pemutus Langit!!"
Zi Lingtian menurunkan pedangnya, melemparkan "Matahari Ungu" raksasa itu ke arah Lin Mo. Pada saat yang sama, Lin Mo mengayunkan pedang raksasanya ke atas, melepaskan pilar cahaya perak yang membelah arena.
BOOOOOOOOOOMMMMM!!!!!
Ledakan energi yang membutakan mata terjadi di tengah arena. Lapisan pelindung formasi koloseum bergetar hebat, mengeluarkan bunyi retakan yang membuat utusan Gubernur memucat.
Cahaya ungu dan perak saling memperebutkan dominasi. Namun, perlawanan itu hanya berlangsung selama dua tarikan napas.
SRAAAAATTT!!
Pilar cahaya perak milik Lin Mo membelah "Matahari Ungu" itu dari tengah, membelahnya layaknya selembar kain tipis. Qi perak yang liar terus melaju tanpa hambatan, langsung menghantam Zi Lingtian yang sedang berada dalam posisi terbuka.
"T-Tidaaaakk—!"
KRAAAK! SHATTER!
Pedang Awan Ungu tingkat Bumi yang digunakan Zi Lingtian untuk menahan sisa serangan itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan besi. Dada Zi Lingtian terkena hantaman telak.
Tubuh pemuda yang dijuluki jenius nomor satu ibukota itu terlempar bagaikan layang-layang putus, menghantam dinding pembatas energi dengan sangat keras hingga memuntahkan kabut darah.
Ia jatuh berdebum ke lantai arena, seluruh pakaiannya robek, meridiannya kacau balau, dan Dantiannya meredup—tanda bahwa fondasinya telah retak parah. Ia masih hidup, tetapi untuk pulih sepenuhnya ia akan membutuhkan keajaiban pil tingkat Surga yang mustahil dimiliki oleh Sekte Langit Ungu.
Arena Nomor 1 kembali hening. Asap pertempuran perlahan menipis, menampakkan Lin Mo yang masih berdiri tegap, pedangnya ditancapkan ke tanah, napasnya memburu keras dengan keringat membanjiri wajahnya.
Namun, ia menang. Menang telak dari ahli yang dua tingkat di atasnya!
"BOCAH KEPARAT! KAU MENGHANCURKAN MASA DEPAN SEKTEKU!!"
Sebuah raungan murka yang menggetarkan jiwa meledak dari paviliun Sekte Langit Ungu.
Ketua Sekte Langit Ungu—seorang pria tua berpakaian emas-ungu—berdiri dengan mata memerah penuh darah. Energi spiritual dari Ranah Inti Emas Tingkat 1 meledak dari tubuhnya! Ia tidak peduli lagi pada aturan turnamen. Jenius utama mereka hancur, dan kehormatan mereka diinjak-injak.
Pria tua itu melesat turun dari paviliun layaknya sambaran petir gila, tangannya berubah menjadi cakar energi raksasa yang mengarah langsung ke kepala Lin Mo yang sedang kelelahan!
Penonton menjerit panik. Seorang ketua sekte turun tangan langsung untuk membunuh generasi muda!
Namun, Lin Mo tidak bergeming. Ia bahkan tidak repot-repot mengangkat pedangnya. Karena ia tahu, dewa kematian yang sebenarnya ada di belakangnya.
"Menyerang muridku dari belakang lagi?"
Sebuah suara sedingin dasar neraka menggema di seluruh koloseum, mengalahkan riuhnya teriakan penonton.
Dari paviliun Sekte Pedang Bintang, tidak ada sosok yang melompat turun. Jiang Chen masih duduk dengan santai memegang cangkir tehnya. Namun, ia hanya menatap tajam ke arah Ketua Sekte Langit Ungu yang sedang melayang di udara.
Kesadaran Spiritual Inti Emas Tingkat 1 milik Jiang Chen—yang dikompresi sepuluh kali lipat lebih padat karena fondasi murninya—diubah menjadi sebilah pedang tak kasat mata, dan ditembakkan langsung ke lautan jiwa pria tua itu.
JLEB!
Di tengah udara, Ketua Sekte Langit Ungu tiba-tiba menghentikan serangannya. Matanya membelalak lebar, urat-urat di kepalanya menonjol. Ia memegangi kepalanya dan memuntahkan seteguk besar darah hitam.
"A-AARRGHH!!"
Pria tua itu terhempas jatuh ke lantai arena, berguling-guling memegangi kepalanya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas. Niat membunuhnya sirna, digantikan oleh teror primitif.
Hanya dengan satu tatapan, jiwa seorang ahli Inti Emas terluka parah!
Seluruh koloseum, termasuk utusan Gubernur, membeku dalam kengerian yang absolut. Tatapan mereka perlahan beralih ke paviliun Sekte Pedang Bintang, menatap pemuda berjubah putih yang sedang meniup pelan teh panas di cangkirnya.
Jiang Chen menyesap tehnya, lalu bersuara pelan, namun terdengar di telinga setiap jiwa di koloseum itu:
"Sekte Langit Ungu... apakah kalian semua bosan bernapas hari ini?"