Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Keluarganya

Alhamdulillah, pemeriksaan santri hari ini akhirnya selesai. Aku kembali ke meja dan menyelesaikan data-data santri yang sudah diperiksa. Satu per satu hasil pemeriksaan kucatat dengan rapi, mulai dari keluhan, hasil pemeriksaan, obat yang diberikan, hingga beberapa catatan yang perlu diperhatikan oleh pengurus.

Selain mengajar di pondok ini, aku juga dipercaya menjadi dokter pribadi pondok.

Biasanya, satu minggu sekali aku menyediakan waktu khusus untuk pemeriksaan santri yang sedang sakit. Namun, jika ada keadaan darurat, mereka bisa menghubungiku kapan saja.

Setelah selesai mencatat seluruh data santri, aku menyandarkan tubuh di kursi. Rasanya cukup melelahkan setelah sejak tadi memeriksa satu per satu santri yang datang. Aku pun memutuskan untuk rebahan sebentar sebelum meninggalkan klinik pondok.

Baru beberapa menit memejamkan mata, terdengar ketukan di pintu.

“Ustadz Alam, antum dipanggil Ustadz Syaiful ke rumah beliau,” ujar salah seorang ustadz yang berdiri di ambang pintu.

Aku segera bangkit.

“Baiklah, aku segera ke sana.”

Ustadz itu mengangguk lalu pergi.

Aku terdiam sejenak.

Ada apa Ustadz Syaiful memanggilku?

Kalau hanya sekadar berbincang biasa, biasanya beliau tidak perlu memanggilku secara khusus ke rumah. Apalagi setelah pemeriksaan santri selesai seperti ini.

Rasa penasaran mulai muncul.

Aku segera membereskan berkas-berkas pemeriksaan, memasukkan beberapa barang ke dalam tas, lalu memastikan klinik sudah dalam keadaan rapi. Setelah semuanya selesai, aku mengunci pintu dan beranjak meninggalkan klinik.

Langkahku mengarah menuju rumah Ustadz Syaiful.

Sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi berbagai kemungkinan. Semoga saja tidak ada sesuatu yang serius.

Sesampainya di rumah Ustadz Syaiful, aku melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah beliau. Sepertinya beliau sedang kedatangan tamu.

Aku melangkah mendekati pintu yang terbuka.

“Assalamu’alaikum,” ucapku sambil mengetuk pintu.

“Alam, sini. Duduk!” perintah Ustadz Syaiful.

Aku masuk dan duduk di tempat yang beliau tunjuk. Namun, pandanganku langsung tertuju kepada beberapa orang yang ada di ruang tamu.

Aku sama sekali tidak mengenal mereka.

Ada seorang laki-laki yang mungkin sebaya dengan Ustadz Syaiful. Di sampingnya duduk seorang perempuan yang sepertinya adalah istrinya. Sementara seorang anak laki-laki duduk tidak jauh dari mereka. Usianya mungkin lebih muda dariku.

Entah kenapa, suasana di ruangan itu terasa berbeda.

Ada sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman. Seolah-olah kedatanganku ke sini bukan sekadar untuk berbincang biasa.

“Ini Ummu Aisyah, ibunya Ustadzah Aisyah,” kata Ustadz Syaiful memperkenalkan perempuan yang duduk di hadapanku.

Aku sedikit terdiam.

Oh… ternyata beliau adalah ibunya Ustadzah Aisyah.

Aku menatap beliau sekilas, kemudian menundukkan pandangan. Aku tahu bahwa ibunya Aisyah sudah menikah lagi. Namun, aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengannya di rumah Ustadz Syaiful seperti ini.

Aneh.

Kenapa suasana tiba-tiba terasa semakin tegang?

“Sedangkan ini suami beliau, Ustadz Ilham.”

Ustadz Syaiful menunjuk laki-laki paruh baya yang duduk di samping Ummu Aisyah.

Aku segera berdiri dan menyalaminya.

“Alam,” kataku memperkenalkan diri.

Beliau tersenyum dan mengangguk.

“Kalau ini Ikhsan, putra beliau,” lanjut Ustadz Syaiful sambil menunjuk anak laki-laki yang duduk di sebelahnya.

Aku kembali mengulurkan tangan.

“Alam.”

“Ikhsan,” jawabnya singkat sambil menjabat tanganku.

Setelah itu aku kembali duduk.

Namun, pikiranku justru semakin dipenuhi tanda tanya.

Kenapa Ustadz Syaiful mempertemukanku dengan keluarga Ustadzah Aisyah?

Aku melirik sekilas ke arah beliau.

Ustadz Syaiful hanya tersenyum tipis, seolah mengetahui apa yang sedang berputar di kepalaku.

“Ummu ke sini alasan utamanya memang mau berobat,” jelas Ustadz Syaiful akhirnya. “Sebenarnya dari dulu sudah pernah kutawari untuk berobat ke sini, tapi beliau selalu tidak mau. Namun, tatkala kukabari kalau aku hendak menjodohkan Aisyah denganmu, Ummu langsung setuju berangkat ke sini.”

Aku terdiam.

Jadi… itu alasannya?

Ustadz Ilham yang sejak tadi duduk di samping Ummu Aisyah tiba-tiba tertawa kecil.

“Iya, memang sepertinya menunggu Aisyah menikah dulu baru mau berobat,” tambah beliau sambil terkekeh.

Aku hanya tersenyum canggung.

Entah harus tertawa atau bagaimana.

“Sebenarnya sudah ada rencana untuk berobat,” kata Ummu Aisyah kemudian. “Tapi kebetulan saja waktunya bertepatan dengan kabar yang disampaikan Ustadz Syaiful.”

Aku melirik sekilas ke arah beliau.

Ummu Aisyah tersenyum tipis. Wajahnya terlihat tenang, seolah kedatangannya ke tempat ini memang sudah direncanakan sejak awal.

Sementara itu, kepalaku justru semakin penuh dengan pertanyaan.

Jadi kedatangan mereka ke sini bukan hanya untuk berobat.

Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang berkaitan denganku dan Aisyah.

Aku kembali menatap Ustadz Syaiful. Beliau terlihat santai, seolah tidak sedang mengatakan sesuatu yang mampu membuat pikiranku berantakan.

“Ustadz…” aku akhirnya membuka suara.

“Kenapa?”

“Jadi… saya dipanggil ke sini karena ini?”

Ustadz Syaiful tersenyum.

“Bukan hanya itu, Lam.”

Jawaban singkat itu justru membuatku semakin penasaran.

Aku menarik napas pelan.

Sepertinya ada pembicaraan yang jauh lebih serius setelah ini.

“Ya, sebenarnya saya ingin minta tolong kepada kamu untuk membantu Ummu berobat,” jelas Ustadz Syaiful. “Kan kamu dokter, jadi kamu tentu lebih paham bagaimana menangani kondisi beliau.”

Aku mengangguk pelan.

Kalau hanya soal membantu pengobatan, sebenarnya tidak ada yang aneh. Itu memang bagian dari tanggung jawabku sebagai dokter.

Namun, kalimat berikutnya membuatku kembali terdiam.

“Sekalian,” lanjut beliau sambil tersenyum, “agar kalian bisa lebih dekat.”

Aku menatap beliau.

“Lebih dekat?”

Ustadz Syaiful hanya terkekeh.

Aku menghela napas pelan. Rupanya benar dugaanku. Pertemuanku dengan keluarga Aisyah hari ini memang bukan sekadar kebetulan.

Beliau sengaja mempertemukanku dengan mereka.

Aku melirik Ummu Aisyah. Beliau hanya tersenyum, sementara Ustadz Ilham terlihat santai seolah pembicaraan ini adalah sesuatu yang sudah mereka ketahui sebelumnya.

Aku kembali menatap Ustadz Syaiful.

“Ustadz ini bagaimana…” gumamku sambil tersenyum canggung.

“Kenapa?” beliau justru balik bertanya.

“Bukankah kalau memang ingin saya membantu pengobatan Ummu, tinggal bilang saja? Tidak perlu sampai membuat suasananya seperti ini.”

Ustadz Syaiful tertawa kecil.

“Kalau cuma soal berobat, mungkin iya. Tapi kalau soal Aisyah, kamu harus mulai belajar mengenal keluarganya juga.”

Aku terdiam.

Nama itu kembali disebut.

Aisyah.

Entah kenapa, hanya mendengar namanya saja sudah cukup membuat pikiranku kembali pada berbagai hal yang belakangan ini terjadi.

Ustadz Syaiful menatapku beberapa saat sebelum melanjutkan.

“Saya tidak mau kalian hanya saling mengenal dari cerita orang lain. Kalau memang ada niat menuju pernikahan, kenali juga keluarganya. Lihat bagaimana keadaan mereka. Begitu juga sebaliknya.”

Aku mengangguk perlahan.

Kali ini aku tidak bisa membantah.

Mungkin memang inilah bagian dari proses yang harus kulalui.

Aku melirik kembali ke arah Ummu Aisyah dan keluarganya.

Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa urusan ini perlahan mulai menjadi lebih nyata.

Bukan lagi sekadar nama seorang perempuan yang pernah dibicarakan Ustadz Syaiful kepadaku.

Melainkan keluarganya sudah ada di hadapanku.

Dan aku sendiri yang duduk di tengah-tengah mereka.

1
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!