Indonesia
NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35

Dua Desain, Semua Dipakai

Laras menahan napas.

"Sanggup, Pak, selama jadwal dan revisinya disepakati tertulis."

"Bagus. Kami memakai kedua desain."

Bu Ratna mengepalkan tangan tanpa suara.

Pak Joko menjelaskan honor untuk setiap kemasan, biaya tambahan kotak paket, dan pembayaran muka sebelum revisi. Angkanya lebih besar daripada dugaan Laras, tetapi ia tetap membuka catatan.

"Pembayaran empat puluh persen setelah kontrak, sisanya setelah file final disetujui," kata Pak Joko. "Untuk kotak paket, kami menunggu ukuran dari bagian produksi."

"Saya setuju untuk pembayaran bertahap. Tapi persetujuan final harus tertulis, supaya perubahan setelah cetak tidak dianggap revisi gratis."

"Masuk akal. Berapa putaran revisi?"

"Dua putaran kecil per desain. Kalau nama produk, ukuran kemasan, atau arah konsep berubah, jadwal dan biaya dihitung ulang."

Pak Joko tertawa ringan. "Ibu lebih tegas daripada beberapa agensi."

"Saya pernah rugi karena kata `sedikit perubahan` ternyata berarti mengulang semuanya."

"Baik. Saya minta staf menuliskannya."

"Hak penggunaan hanya untuk produk yang tercantum. Varian baru dibicarakan lagi," katanya.

"Setuju. Nama Ibu dicantumkan dalam kontrak, bukan pada kemasan."

"Tidak masalah. Saya membutuhkan hak kerja yang jelas, bukan nama besar di bagian depan."

Pak Joko menawarkan dua pilihan lanjutan: posisi tetap di tim pemasaran atau kerja lepas dengan pesanan berkala.

"Posisi tetap memberi penghasilan bulanan," katanya. "Namun Ibu perlu hadir di pabrik empat hari seminggu."

Laras memandang ruang kecil, kain, dan mesin jahit yang belum lunas.

"Saya memilih kerja lepas."

"Yakin?"

"Saya ingin membangun usaha pakaian sendiri. Saya bisa memberi jadwal yang pasti dan hadir saat rapat penting, tetapi tidak mau menjanjikan waktu penuh."

"Posisi tetap juga mencakup tunjangan makan dan transportasi. Saya tidak ingin Ibu menolak sebelum mempertimbangkan keamanan penghasilan."

Laras menghargai keterbukaan itu. Ia meminta waktu lima menit, lalu menuliskan dua kolom. Pendapatan tetap memang lebih aman, tetapi waktu perjalanan, empat hari hadir, serta larangan menerima proyek sejenis akan menghambat konveksi. Kerja lepas lebih tidak pasti, namun ia bisa membagi risiko dengan beberapa klien.

"Saya sudah mempertimbangkannya," katanya. "Kalau Bapak bersedia memberi jadwal pesanan minimal satu minggu sebelum mulai, saya tetap memilih lepas. Saya tidak ingin seluruh penghasilan bergantung pada satu perusahaan."

"Baik. Saya justru senang Ibu tidak memutuskan karena gengsi."

"Saya memilih risiko yang bisa saya ukur, bukan sekadar kebebasan."

"Kejujuran itu justru memudahkan. Kami kirim draf kontrak malam ini."

"Saya baca dulu sebelum menandatangani."

"Tentu."

Setelah panggilan berakhir, Bu Ratna langsung memeluk Laras.

"Dua-duanya! Mereka mengambil dua-duanya!"

Laras tertawa, lalu matanya panas. "Saya hampir menerima angka pertama tanpa bertanya hak varian."

"Tapi kamu bertanya."

"Karena tulisan Bu besar sekali."

Bu Ratna mengangkat kertas `JANGAN MURAH KARENA SUNGKAN`. "Ini akan saya bingkai."

Mereka membuka draf kontrak bersama ketika surel masuk. Laras menandai jadwal pembayaran, jumlah revisi, kepemilikan file kerja, dan batas penggunaan. Ia meminta satu perubahan agar pabrik tidak otomatis memiliki semua konsep yang ditolak.

Bu Ratna membaca setiap halaman dengan kening berkerut. "Bagian ini bilang pabrik bisa mengubah desain sesuai kebutuhan. Bukankah terlalu luas?"

"Betul. Kalau warna disesuaikan untuk mesin cetak, tidak masalah. Tapi kalau mereka menambah gambar atau slogan tanpa persetujuan, hasil buruk tetap bisa dianggap karya saya."

Laras menulis usulan: perubahan teknis boleh dilakukan setelah pemberitahuan, sedangkan perubahan visual utama harus mendapat persetujuan kedua pihak.

"Ternyata desain bukan cuma menggambar," kata Ratna.

"Justru menggambar bagian yang paling menyenangkan. Sisanya menjaga agar pekerjaan tidak berubah menjadi masalah."

Pak Joko menyetujuinya malam itu.

Uang muka masuk setelah tanda tangan elektronik dan faktur sederhana dikirim. Laras menatap notifikasi bank cukup lama.

"Ini uang pertama yang saya terima atas nama sendiri sejak datang ke Malang."

Bu Ratna duduk di sebelahnya. "Kamu mau memberi tahu Bram sebelum membaginya?"

"Saya akan memberi tahu sebagai pasangan, bukan meminta izin. Kami sudah sepakat penghasilan usaha tetap milik saya dan keputusan rumah besar dibicarakan bersama."

"Bagus. Banyak perempuan mengelola uang semua orang kecuali uangnya sendiri."

Laras memindahkan uang muka ke rekening usaha terpisah agar tidak bercampur dengan gaji Bram atau biaya rumah. Nominalnya belum besar, tetapi pemisahan itu membuat setiap rupiah punya tujuan yang dapat ditelusuri.

"Mau dipakai apa?"

Laras membagi catatan menjadi empat: pajak dan biaya kerja, tabungan, kebutuhan rumah, serta modal usaha.

"Mesin jahit cicilan. Meja potong. Bahan awal. Tapi saya tidak akan menghabiskan semuanya."

"Nama usahanya?"

"Untuk bengkel awal, Konveksi Laras. Rumah Mode Laras nanti, kalau kualitas dan pasarnya sudah pantas."

Bu Ratna duduk di seberangnya. "Saya ingin membantu."

"Sebagai teman atau rekan kerja?"

Pertanyaan itu membuat Ratna berpikir.

"Rekan kerja. Saya bisa mencatat pesanan, menghitung kebutuhan, dan bicara dengan ibu-ibu."

"Kalau begitu nanti ada pembagian tugas dan nilai kerja. Jangan membantu gratis hanya karena kita tetangga."

Ratna tersenyum perlahan. "Kamu serius."

"Sangat."

Laras membuat simulasi tugas di halaman baru.

`Laras: desain, pola, kontrol mutu.`

`Ratna: catatan pesanan, pembelian, komunikasi pelanggan.`

"Kita belum punya pelanggan konveksi," kata Ratna.

"Karena itu belum ada gaji tetap. Saat ada proyek, biaya tenaga kerja masuk HPP, bukan diambil dari sisa keuntungan."

"HPP?"

"Harga pokok produksi. Bahan, benang, listrik, ongkos orang, penyusutan mesin. Kalau semua itu tidak dihitung, usaha terlihat untung padahal pemilik bekerja gratis."

Ratna mengambil buku sendiri. "Ajari saya."

Mereka berlatih dengan contoh sepuluh blus. Ratna menghitung kebutuhan kain terlalu banyak, Laras mengoreksi berdasarkan lebar bahan dan susunan pola. Sebaliknya, Ratna menemukan Laras lupa memasukkan ongkos antar.

"Satu sama," kata Ratna puas.

"Bagus. Berarti saya tidak salah memilih rekan."

Malam semakin larut. Laras mengirim pesan kepada Bram berisi foto kontrak dan dua kata: `Aku berhasil.`

Balasan baru datang dua jam kemudian.

`Saya tahu kamu bisa. Simpan ceritanya untuk saya dengar lengkap.`

Laras menempelkan ponsel ke dada, lalu kembali menyusun rencana produksi.

Selama dua hari berikutnya, ruang kerja berubah menjadi pusat kecil yang sibuk. File logo datang dalam ukuran salah. Laras meminta versi vektor, memeriksa teks izin edar, dan menemukan berat bersih tidak konsisten antara data pemasaran dan produksi.

Ia tidak menebak. Ia menahan file sampai Pak Joko mengirim konfirmasi tertulis.

Sampel cetak pertama membuat warna hijau terlalu gelap. Laras membandingkannya di bawah cahaya siang, mengirim foto acuan, lalu menurunkan campuran warna. Pada sampel kedua, nama merek tetap terbaca bahkan dari layar ponsel kecil.

Pak Joko menyetujui produksi awal terbatas. Toko daring mengganti foto produk, sementara beberapa reseller menerima paket uji.

Laras dan Ratna memantau komentar pembeli tanpa membeli ulasan palsu. Banyak orang menyebut kemasan mudah dikenali dan pantas dijadikan oleh-oleh.

Beberapa hari setelah kemasan baru diluncurkan, Pak Joko menelepon lagi. Suaranya bergetar.

"Bu Laras, stok kami ludes."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!