Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Menyelamatkan Ternak
Pernikahannya belum dimulai, tetapi ujian pertama sudah menunggu di kandang isolasi.
Begitu tiba, Laras melihat dua pekerja sedang menyeret seekor domba keluar dari kandang dengan tali pada lehernya. Hewan itu pincang, liurnya menetes panjang, dan kukunya menghentak tanah karena kesakitan.
"Jangan dibawa melewati kandang sehat!" Laras berlari menghampiri. "Kembalikan ke jalur isolasi."
"Pak Sutrisno menyuruh kami memindahkannya ke kandang ujung," jawab seorang pekerja.
"Lewat jalur ini, kotoran dan liurnya akan melewati tiga kandang lain. Cari panel portabel. Kita buat lorong terpisah."
Bram ikut mengangkat salah satu panel tanpa menunggu diminta. Setelah jalur sementara terbentuk, ia menerima panggilan dari satuan.
"Saya harus kembali," katanya kepada Laras. "Wahyu akan menjemput Bunda. Kalau kamu selesai malam, telepon nomor ini."
Ia menyerahkan secarik kertas berisi nomor kontak.
"Saya bisa kembali dengan Pak Yohanes."
"Simpan saja nomornya."
Bram pergi setelah memastikan gerbang isolasi tertutup. Ia tidak mencampuri keputusan medis Laras, sesuatu yang diam-diam dihargainya.
Pak Sutrisno, penanggung jawab koperasi, menunggu di depan kandang dengan wajah tegang. "Bu dokter, kemarin hanya tiga. Sekarang sebelas ekor demam, lima pincang, dua sapi mulai banyak mengeluarkan liur. Ada yang bilang harus diberi air garam dan dipaksa jalan supaya keringatnya keluar."
"Jangan lakukan itu. Kalau ada luka di mulut atau kaki, dipaksa jalan hanya memperparah kerusakan dan menyebarkan cairan dari kuku."
Laras mengenakan sepatu bot dan sarung tangan dari belanjaannya yang baru. Ia meminta daftar suhu, asal pakan, pergerakan ternak tujuh hari terakhir, serta catatan kendaraan yang masuk.
Pada domba pertama, ia menemukan luka kecil seperti lepuh yang pecah di gusi. Sapi di kandang kedua memiliki lesi serupa di lidah dan sela kuku. Demam, air liur berlebihan, pincang, serta penyebaran cepat pada hewan berkuku belah mengarah pada satu kemungkinan yang tidak boleh disepelekan.
"Kita harus memperlakukan ini sebagai suspek PMK sampai hasil pemeriksaan membuktikan sebaliknya," kata Laras.
Pak Yohanes mengembuskan napas kasar. "Penyakit mulut dan kuku? Kalau kabar itu keluar, peternakan bisa ditutup."
"Kalau kita sembunyikan dan penyakit menyebar ke desa lain, penutupannya akan lebih lama, kerugiannya lebih besar, dan kita bisa kena sanksi."
Pak Sutrisno menatap kandang yang riuh. "Apa yang harus kami lakukan?"
Laras mengambil papan tulis kecil dari kantor dan membagi peternakan menjadi tiga zona.
"Zona merah untuk ternak bergejala dan kontak dekat. Hanya dua pekerja yang boleh masuk, dan mereka tidak boleh menangani ternak sehat. Zona kuning untuk hewan yang belum bergejala tapi berasal dari kandang berdekatan. Zona hijau untuk yang masih bersih. Tidak ada ternak, pakan, alat, atau kendaraan keluar sebelum Dinas Peternakan memberi izin."
"Kalau pembeli datang?"
"Ditolak. Kita catat semua transaksi tertunda."
Seorang pekerja menyela, "Alat minum cuma cukup kalau dipakai bergantian."
"Gunakan ember cadangan dan beri tanda warna. Jangan ada alat berpindah zona. Siapkan bak disinfeksi di setiap pintu, bersihkan kotoran dulu baru semprot. Disinfektan tidak bekerja baik pada permukaan yang masih tertutup lumpur atau bahan organik."
Pak Yohanes mulai mencatat cepat.
Laras menelepon petugas Dinas Peternakan melalui kontak yang diberikan Pak Sutrisno. Ia melaporkan jumlah hewan, gejala, waktu kemunculan, dan tindakan sementara. Petugas menjanjikan tim surveilans membawa alat pengambilan sampel dan uji cepat.
Sambil menunggu, Laras mengatur air minum bersih dan pakan lunak untuk hewan dengan luka mulut. Ia melarang pekerja memberi antibiotik sembarangan.
"PMK disebabkan virus. Antibiotik bukan obat utamanya," jelasnya. "Obat hanya diberikan untuk mencegah atau menangani infeksi sekunder berdasarkan pemeriksaan. Yang paling penting sekarang adalah isolasi, cairan, kebersihan luka, dan pengawasan napas serta suhu."
"Vaksin saja semuanya sekarang," usul Pak Sutrisno.
"Ternak yang sedang sakit tidak divaksin sebagai pengobatan. Kita tunggu arahan Dinas untuk vaksinasi hewan sehat yang berisiko dan penelusuran stok vaksin. Vaksin juga tidak langsung membuat kebal hari ini. Biosekuriti tetap wajib."
Menjelang sore, tim Dinas tiba. Mereka mengambil usap lesi dan sampel cairan dari beberapa hewan. Hasil uji cepat pada dua sampel menunjukkan reaktif terhadap virus PMK. Sampel konfirmasi dikirim ke laboratorium, tetapi langkah pengendalian tidak boleh menunggu.
Gerbang peternakan ditutup untuk lalu lintas ternak. Ban kendaraan yang telanjur berada di dalam dibersihkan dan disemprot. Daftar orang yang keluar-masuk diperiksa. Pekerja yang tinggal di luar diminta mengganti pakaian dan membersihkan alas kaki sebelum pulang agar tidak membawa bahan tercemar ke ternak milik warga.
Seorang peternak yang telah membayar dua ekor sapi datang menuntut hewannya dikeluarkan sebelum gerbang resmi disegel. Ia membawa kuitansi dan bersikeras sapi pesanannya masih tampak sehat.
"Saya sudah bayar, Bu. Kalau dibiarkan di sini lalu sakit, siapa yang mengganti?"
"Kalau Bapak membawanya pulang saat masih dalam masa inkubasi, seluruh ternak di desa Bapak bisa tertular," jawab Laras. "Kuitansi tetap berlaku. Pak Sutrisno akan membuat berita acara penundaan. Kondisi sapi dicatat dan difoto hari ini. Kerugian serta kompensasi dibicarakan melalui koperasi dan Dinas, bukan dengan menyelundupkan hewan keluar."
Pria itu masih marah, tetapi Laras menunjukkan lesi di mulut salah satu domba dari jarak aman. Setelah petugas Dinas menjelaskan ancaman penularan antardesa, ia akhirnya menandatangani berita acara.
"Saya akan kembali setiap hari," ancamnya.
"Silakan. Bapak berhak mendapat laporan, tetapi tidak boleh masuk zona merah."
Pak Sutrisno segera menunjuk satu orang untuk mengirim pembaruan kepada semua pembeli. Laras menyetujui langkah itu. Karantina yang tidak transparan hanya akan mendorong orang mengambil ternaknya diam-diam.
Menjelang malam, suara panik mulai berubah menjadi gerak yang teratur.
"Suhu kandang tiga turun sedikit setelah dikompres dan diberi minum," lapor seorang pekerja.
"Catat jamnya. Periksa lagi dua jam lagi," jawab Laras.
Pak Sutrisno berdiri di sampingnya. "Kalau tadi kami ikuti saran memaksa ternak jalan dan mencampur alat, mungkin semua kandang sudah kena."
"Kita belum aman, Pak. Masa inkubasi berarti hewan yang tampak sehat hari ini masih bisa menunjukkan gejala beberapa hari ke depan. Karantina harus disiplin."
"Tetap saja, kamu membuat kami tahu harus berbuat apa." Ia mengulurkan tangan. "Mulai hari ini, kalau kamu bersedia, koperasi mempekerjakanmu sebagai dokter hewan sementara. Gajinya belum besar, tapi kami sediakan ruang kerja dan biaya transportasi."
Laras menatap tangan itu, lalu menjabatnya. "Saya bersedia, selama keputusan medis tidak ditutupi demi penjualan."
"Setuju."
Pak Yohanes datang membawa buku penerimaan ternak. "Bu drh., ada yang aneh."
Ia membuka halaman tiga hari sebelumnya. Tercatat enam domba masuk dari pemasok lokal, tetapi nomor tanda telinga salah satu hewan sakit tidak cocok dengan daftar itu.
Laras pergi ke kandang merah dan memeriksa tanda telinga domba jantan yang pertama mengamuk. Di balik lapisan lumpur, terlihat kode dari luar wilayah. Bekas ikatan pada lehernya juga masih baru.
"Hewan ini bukan bagian dari kiriman resmi," katanya.
Pak Sutrisno memucat. "Lalu siapa yang memasukkannya ke kandang kami?"
Laras menatap kode asing pada tanda telinga itu.
Wabah ini mungkin tidak datang secara kebetulan.