“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa saja?
"Ngapain gue perlu bukti untuk ide yang gue gagas sendiri?."
Siska menatap Aluna berusaha membuatnya untuk merasa terintimidasi, tapi Aluna malah membalas tatapan Siska seolah menantang wanita tersebut.
"Berarti mbak Siska gak ada bukti kan?."
Desak Aluna tetap ingin mempertahankan sesuatu yang ia buat.
"Untungnya saya ada."
Ucapnya tersenyum miring seolah meledek Siska.
"Masih juga yah lo, Lo tuh anak baru disini, jangan banyak tingkah!."
Benar saja, emosi Siska seketika naik dan langsung mendorong bahu Aluna hingga membuat Aluna mundur selangkah, untungnya ia bisa menyeimbangkan dirinya agar tidak tersungkur.
"Saya bilang saya cuma mempertahankan ide saya yang di klaim sama orang lain! Mbak pikir mikirin ide itu gampang?."
Emosi Aluna ikut naik saat mendapatkan perlakuan kasar dari Siska.
"Tapi gue gak pernah yah pakai ide lo."
Elak Siska tidak mau mengakui hal tersebut.
"Kalau gitu buktikan kalau ide tadi memang keluar dari isi pikiran mbak Siska."
Tantang Aluna menunggu bukti.
"Ngapain gue harus buktikan ke anak baru kek lo. Baru hari pertama kerja lo udah punya ide? gue aja ragu lo kemungkinan masuk ke perusahaan ini karena orang dalam."
Kesabaran Aluna yang tadi berusaha ia tahan seketika habis saat mendengar tuduhan Siska.
Aluna maju selangkah mendekati Siska yang refleks mundur saat melihat wajah garang Aluna.
"Mbak bilang apa? Maksud mbak apa bilang saya masuk kesini jalur orang dalam? Apa mbak tau apa yang saya lalui sampai saya bisa ditempat ini sekarang?."
Rasanya Aluna sangat ingin menyumbat mulut perempuan yang ada didepannya ini, ia tidak tau saja bagaimana nekat dan effort nya agar bisa bekerja di perusahaan ini.
"Jaga yah mulut mbak!."
Tegur Aluna sembari menunjuk Siska dengan jari telunjuknya memperingatkan.
Dari arah luar, beberapa orang masuk secara berombongan.
"Ada apa ini ribut-ribut?." Tegur Bu Sinta yang refleks membuat mereka berbalik ke sumber suara.
"Pak Kairav."
Seluruh karyawan yang ada disana dibuat begitu terkejut dengan kemunculan CEO perusahaan mereka disana.
"Kalian ini apa-apaan sih? Kenapa kalian berdebat di jam kerja seperti ini." Bu Sinta pun mendekat ke arah mereka berdua untuk mencari penjelasan.
Sedangkan atasan mereka masih berdiri dibelakangnya menunggu jawaban.
"Anak baru ini masih gak mau terima Bu kalau ide saya sama persis sama idenya yang dia bilang tadi waktu rapat." Jawab Siska mencoba menyudutkan Aluna.
"Karena itu memang ide saya, saya yang buat perencanaan pemasaran itu dan mbak dengan santainya mempresentasikan perencanaan itu seolah-olah itu milik Mbak!."
Kata-kata demi kata yang keluar dari mulut Aluna disertai dengan berbagai penekanan disetiap katanya.
Suara Aluna dan wajahnya yang tidak asing membuat Direktur utama tersebut langsung maju beberapa langkah menghampiri Aluna.
"Sebentar." Ucapnya
Ia memperhatikan baik-baik wajah yang tidak asing itu diingatannya
"Kamu." Seketika Kairav teringat siapa gadis itu.
"Mati aku, kenapa teman kak Abra ada disini?."
Batin Aluna merutuki dirinya merasa sangat gugup
"Ngapain kamu disini?." Tanya Kairav yang ternyata adalah sahabat kakaknya.
"Dia karyawan baru pak yang lolos seleksi."
Bukannya Aluna, malah Bu Sinta yang memperkenalkan Aluna pada atasan mereka.
"Karyawan baru?."
Batin Kai masih berusaha mencerna kejadian pagi menjelang siang ini.
"Kai.."
Baru saja Aluna terkejut dengan kehadiran Kai, kini ia dibuat terkejut dua kali saat mendengar suara yang begitu tidak asing ditelinganya memanggil nama Kai.
"Suara itu?...suara kak Abra."
Dengan cepat Aluna melepas id card yang menggantung dilehernya.
Abra mendekat ke arah mereka berdua yang masih berdiri bersebelahan.
"Abra adek lo..." Kai tidak melanjutkan kata-katanya karena Aluna sudah menarik lengan kemejanya pelan duluan.
"Adek gue? Kenapa?.."
Tanya Abra bingung.
"Eh bentar gue ke toilet dulu yah." Ucapnya lalu berbalik menuju ke toilet.
"Semuanya bubar, kembali bekerja!."
Bu Sinta pun membubarkan keramaian pagi ini didekat meja kerja Aluna.
Aluna sendiri masih mematung tidak mempercayai jika sahabat kakaknya ini adalah seorang direktur pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
"Lo ngapain disini?." Tanya Aluna setengah berbisik, masih berharap Kai hanya salah satu klien mereka.
"Lo yang ngapain? Ini perusahaan gue." Jawab Kai sewot.
"HAH?? Perusahaan Kai? kenapa aku gak tau."
Batin Aluna sudah kalang kabut duluan karena hal tak terduga ini.
"Gue mohon bantuin gue please. Jangan sampai kak Abra tau gue kerja disini, tolong." Pinta Aluna setengah berbisik, sedangkan beberapa pasang mata masih memantaunya berbicara berbisik-bisik pada Direktur mereka.
Ia memohon kepada Kai agar ia tidak memberitahu Kakaknya masalah ini.
"Ke ruangan saya sekarang!" Perintah Kai
Ia tidak mau jika karyawan lain terganggu kerjanya karena mereka berdua masih berdebat disana.
"Dimana?." Tanya Aluna dengan cepat
"Udah ikut aja." Bisik Kai lalu berjalan duluan
Aluna pun mengikuti Kai dari belakang.
"Lihat, dia dipanggil ke ruangannya pak Kairav. Gue yakin dia pasti langsung di pecat, masih baru belagunya minta ampun." Cibir Siska merasa diatas awan karena merasa tidak akan ada yang mempercayai Aluna sebagai karyawan baru.
"Tapi kenapa bukan Bu Sinta yah yang disiplinkan dia?." Gumam Rani merasa ada yang aneh.
***
"Kai..."
Belum sempat Kai dan Aluna masuk ke dalam ruang eksekutif, Abra sudah muncul dari ujung lorong, alisnya bertaut saat melihat perempuan yang tidak asing itu berdiri disamping Kai.
"Please tolong...gue mohon jangan sampai kak Abra tau gue kerja disini." Pinta Aluna dengan suara berbisik, benar-benar terlihat putus asa.
"Yah pasti ketahuan lah." Ucap Kai merasa tidak masuk akal.
"Bantuin gue tolong yah yah, tolong. Gue janji, gue bakal lakuin apa aja buat Lo asal Lo gak bilang sama kak Abra gue kerja disini."
Aluna sudah sangat putus asa, ia pun menawarkan apa yang bisa ia tawarkan, apalagi jarak Abra sudah sangat dekat dengan mereka.
"Apa aja?." Tanya Kai terlihat tertarik
Ada rasa lega dalam diri Aluna saat menyadari Kai tertarik dengan tawarannya.
"Apa aja, gue janji." Jawab Aluna mantap
Saat itu pula Abra sudah berdiri didepan mereka berdua.
"Loh Al, kok kamu ada disini?." Tanyanya terkejut melihat adiknya ada di perusahaan sahabatnya
"Kak Abra sendiri ngapain disini?." Bukannya menjawab kakaknya, ia malah bertanya balik.
Sebuah strategi untuk mengulur waktu mempersiapkan dirinya dengan alasan lain agar terlihat tidak menyembunyikan sesuatu.
"Mau ketemu Kai, ini perusahaan dia dan kakak mau bahas kerjasama sama dia." Jawab Abra menjelaskan tujuannya ada disana.
"Ohiya? Aku baru tau." Aluna tersenyum kikuk
"Terus kamu ngapain ada disini? Tiba-tiba banget ada disini."
Abra yang tidak sabaran karena penasaran, terus mendesak adiknya dengan pertanyaan yang sama, menanyakan apa tujuan adiknya di perusahaan sahabatnya itu.