Indonesia
NovelToon NovelToon
The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

The Last Aether Knight: Ksatria Aura Yang Bangkit Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:369
Nilai: 5
Nama Author: Arian verse

Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.

Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.

Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Di mana legenda mati, seorang anak lahir

Darah membasahi tanah yang hangus. Langit yang dulu biru kini berwarna kelabu kelam, tertutup debu sisa ledakan kekuatan yang menggetarkan benua. Di tengah ribuan mayat yang berserakan, seorang pria berdiri tegak meski tubuhnya penuh luka parah. Jubah keperakan yang dulu megah kini sudah robek tak berbentuk, namun pedang di tangannya masih memancarkan cahaya samar berwarna keemasan.

Namanya Aster Valerius. Kesatria Terakhir. Raja Tanpa Mahkota dari kaum yang telah dirusak.

Di hadapannya berdiri puluhan penyihir terkuat yang mengenakan jubah bertanda lingkaran emas—organisasi yang kelak akan menghapus jejak keberadaannya dari sejarah. Napasnya berat, setiap tarikan terasa seolah ada pisau yang mengiris paru-parunya. Ia tahu, ini adalah akhir perjalanannya.

"Menyerahlah," ucap salah satu penyihir dengan suara dingin. "Kau dan kaummu sudah tamat. Dunia ini hanya butuh Mana, bukan tenaga kosong yang kalian sebut Aura itu."

Aster tersenyum tipis, matanya yang tajam menatap mereka satu per satu tanpa rasa takut. "Kalian bisa membunuhku... tapi kalian tidak akan pernah bisa memadamkan api yang ada di dalam jiwa ini. Suatu hari nanti... kekuatan ini akan bangkit kembali."

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Aster mengayunkan pedang itu sekali lagi. Cahaya keemasan membelah langit, menebas sebagian besar musuhnya sebelum akhirnya tubuhnya runtuh ke tanah. Kesadarannya perlahan menghilang, namun satu janji terukir kuat di dalam hatinya: Jika aku diberi kesempatan hidup sekali lagi... aku akan hidup dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai monster yang hanya tahu cara berperang dan membunuh, melainkan sebagai manusia seutuhnya—yang memiliki cinta, dan menggunakan kekuatan itu untuk melindungi apa yang berharga.

Ketika kesadaran itu kembali hadir, yang pertama Aster rasakan bukanlah dinginnya tanah peperangan, melainkan kehangatan yang lembut. Ia mencoba membuka matanya, namun penglihatannya kabur dan penuh warna-warna lembut. Ia ingin berbicara, namun yang keluar hanyalah suara tangisan bayi yang kecil dan serak.

Apa yang terjadi? Di mana aku?

Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun yang ia lihat hanyalah sepasang tangan kecil berkerut, berwarna merah muda pucat, dan sangat lemah. Kakinya pun tak berdaya sama sekali. Ia bukan lagi Aster Valerius yang berbadan tegap dan perkasa. Ia kini... seorang bayi yang baru lahir.

"Lihatlah dia, Cedric... dia sangat tampan," terdengar suara wanita yang lembut namun sedikit lelah dari dekat telinga.

Lalu terdengar suara pria yang berat namun hangat, "Dia akan tumbuh menjadi anak yang tangguh, elena. Lihat matanya... seolah ada kedalaman yang tak terlihat di sana."

Wanita itu mengangkat tubuh kecil itu, mendekapnya ke dada. Aster bisa merasakan detak jantung wanita itu yang tenang. Ia mengingat-ingat.

Tiga ribu tahun sudah berlalu sejak kematian Aster Valerius , kesatria terakhir.

Dunia telah berubah. Tidak ada lagi yang mengingat nama Aster Valerius. Tidak ada lagi yang mengingat Aura, kekuatan kuno yang pernah mengalir dalam darah para ksatria. Peradaban para penyihir telah bangkit dan melenyapkan sejarah kaum Aura dari semua buku, semua catatan, semua ingatan. Yang tersisa hanyalah dongeng anak-anak tentang "ksatria cahaya" yang dianggap karangan belaka.

Mana adalah segalanya. Mana adalah kekuatan. Mana adalah takdir.

Dan di tanah yang tandus dan gersang, di sebuah wilayah bernama Ashford yang bahkan tidak dianggap penting oleh peta kerajaan, seorang bayi bernama Arlen Ashford membuka matanya untuk pertama kalinya.

Rumah keluarga Ashford berdiri di tengah hamparan tanah kering yang retak-retak. Dulu, mungkin seratus tahun yang lalu, tanah ini subur. Tapi sekarang? Hanya semak berduri dan rumput kering yang tumbuh, dengan sesekali pohon zaitun kurus yang berjuang untuk bertahan hidup.

Tapi rumahnya sendiri... rumah itu megah, meskipun usang. Sebuah manor batu dua lantai dengan atap genteng merah yang sudah pudar. Dindingnya retak di sana-sini, jendelanya ada beberapa yang pecah dan ditambal dengan papan. Di halaman depan, terdapat patung batu seorang ksatria tanpa kepala—entah siapa, karena sejarahnya sudah lama hilang.

Ini adalah sisa-sisa kejayaan keluarga Ashford. Dulu, mereka mungkin adalah bangsawan sejati dengan pasukan dan tanah subur. Sekarang? Mereka hanyalah "bangsawan kecil"—gelar yang nyaris tak berarti. Mereka tidak memiliki prajurit, tidak memiliki desa untuk diperintah. Yang mereka miliki hanyalah beberapa hektar tanah tandus, sebuah kebun anggur yang hampir mati, dan satu sumur yang airnya hampir kering.

Tapi bagi Arlen—jiwa Aster Valerius yang terperangkap dalam tubuh bayi—ini adalah surga.

"Ayolah, Arlen. Coba lagi," kata ibunya, Lady elena Ashford, dengan sabar.

Arlen—yang baru berusia satu tahun—berguling-guling di atas permadani usang di ruang keluarga. Orang tuanya, Cedric dan elena, duduk di kursi kayu yang sudah dimakan rayap, menatapnya dengan penuh harap.

"Kau bisa melakukannya, Nak," kata Cedric. Wajahnya lelah, dengan kerutan di dahi yang tidak seharusnya dimiliki pria seusianya. Hidup di tanah tandus memang sulit. Tapi matanya penuh cinta.

Arlen mengerang. Aku pernah menunggang kuda perang dalam pertempuran. Aku pernah melompat dari tebing setinggi seratus kaki. Dan sekarang aku kesulitan BERJALAN?

Tapi ia mencoba. Ia mendorong tangannya ke lantai, mengangkat tubuh mungilnya. Kakinya gemetar. Dadanya berdegup kencang.

Keseimbangan, Aster, pikirnya. Seperti saat kau menyeimbangkan pedang di ujung jari. Rasakan pusatmu.

Ia melangkah. Satu langkah. Lalu jatuh.

Tapi kali ini, ia tidak jatuh ke lantai. Elena menangkapnya tepat waktu, memeluknya erat.

"Bagus, Nak!" seru elena dengan air mata bahagia. "Kau hampir berhasil!"

Cedric tertawa—tawa yang langka di rumah ini. "Anakku memang luar biasa. Dia pasti akan membawa nama Ashford kembali ke kejayaan!"

Arlen mendengkur dalam pelukan ibunya, hatinya hangat. Tapi di dalam, ada kegelisahan. Aura. Aku tidak merasakan Aura sama sekali. Apakah kekuatanku benar-benar hilang?

Ia menutup mata, mencoba mengingat sensasi Aura yang dulu mengalir di nadinya—seperti sungai emas yang hangat dan penuh kekuatan. Tapi yang ia rasakan hanyalah kelemahan tubuh bayi dan suara detak jantung ibunya.

Mungkin... mungkin sudah terlambat. Mungkin Aura benar-benar mati.

Usia tiga tahun.

Arlen sudah bisa berlari, memanjat pagar batu yang runtuh, dan berbicara dalam kalimat yang—menurut orang tuanya—"terlalu bijak untuk anak seusianya." Tapi ada satu hal yang ia sadari dengan cepat: di dunia ini, semua orang bisa menggunakan Mana. Kecuali dia.

Suatu sore, saat duduk di halaman depan rumah manor yang usang, Arlen melihat ibunya menggunakan Mana untuk menghidupkan api di tungku dapur. Jari-jari elena berkilau biru, dan dalam sekejap, kayu-kayu kering itu menyala.

"Keren, Bu!" seru Arlen, matanya berbinar. "Apakah aku bisa melakukan nya!"

Mira tersenyum sedih. "Kau akan bisa, Nak. Semua orang bisa. Tapi..." ia menatap tangannya sendiri. "Keluarga Ashford... kita memang memiliki bakat Mana yang kecil. Itu sebabnya kita jatuh miskin. Mana adalah kekuatan, dan kekuatan adalah uang. Kita tidak punya cukup."

Tidak. Bukan itu masalahnya, pikir Arlen. Keluarga ini tidak punya Mana karena... mungkin karena nenek moyang kita adalah pengguna Aura. Darah kita masih membawa jejak zaman dulu.

Tapi ia tidak bisa mengatakannya. Orang tuanya tidak akan mengerti. Mereka tumbuh di dunia di mana Aura adalah dongeng, Mana adalah segalanya.

"Aku akan tetap bisa, Bu," kata Arlen dengan tekad yang membuat elena terperangah. "Aku janji. Aku akan membuat keluarga kita bangkit kembali."

Elena mengusap kepalanya, matanya berkaca-kaca. "Kau anak yang baik, Arlen. Tapi jangan terlalu berharap. Kadang... hidup memang tidak adil."

Arlen menggeleng. Tidak, Ibu. Hidup ini adil. Aku hanya perlu menemukan jalanku.

Usia lima tahun.

Arlen mulai membantu ayahnya di kebun—jika tanah kering yang ditanami beberapa pohon zaitun dan anggur kurus itu bisa disebut kebun. Cedric mengajarinya cara menggali tanah, menyiram dengan hemat, dan berdoa agar hujan turun.

"Tanah ini sudah mati, Nak," kata Cedric suatu hari, menatap hamparan tanah retak. "Kakek buyutku dulu bilang, dulu tempat ini subur. Ada sungai kecil yang mengalir. Tapi entah kenapa, airnya menghilang. Dan sejak itu, semuanya mulai buruk."

Arlen mengamati tanah di bawah kakinya. Ia menyentuhnya, merasakan tekstur kering dan keras. Tidak ada kehidupan di sini. Tapi di dalam tanah yang dalam, di suatu tempat, ada sesuatu. Arlen bisa merasakannya—samar, seperti bisikan yang hampir tak terdengar.

Air, pikirnya. Di bawah sini ada air. Tapi kenapa tidak ada yang menemukannya?

Ia ingat keterampilan kuno yang diajarkan para Tetua di zamannya—cara membaca tanah, merasakan aliran air bawah tanah, memahami denyut nadi bumi. Itu bukan Mana. Itu adalah pengetahuan yang lebih tua, pengetahuan yang datang dari hubungan manusia dengan alam, bukan dari sihir.

"Ayah," kata Arlen tiba-tiba. "Aku ingin mencoba sesuatu."

Cedric menatapnya heran. "Apa maksudmu?"

Arlen mengambil sebatang ranting kering. Ia menancapkannya di tanah, lalu berlutut, meletakkan telinganya ke tanah. Ia menutup matanya, mengosongkan pikirannya seperti yang diajarkan para Tetua dahulu.

Dengarkan, pikirnya. Bumi berbicara. Kau hanya perlu mendengar.

Ia mendengar debu berhembus. Ia mendengar akar tanaman berjuang mencari air. Dan di bawah semua itu, jauh di bawah... tetesan. Samar. Tapi pasti.

Arlen membuka matanya. "Ayah. Di sini. Gali di sini."

Aldric mengerutkan dahi. "Nak, kita sudah mencoba menggali di banyak tempat. Tanah ini keras. Tidak ada—"

"Percayalah padaku, Ayah," potong Arlen dengan nada yang terlalu dewasa. "Aku merasa ada air di sini."

Aldric menatap putranya lama. Ada sesuatu di mata Arlen—sesuatu yang membuatnya percaya. "Baiklah. Tapi kau bantu aku."

Mereka menggali. Dan menggali. Dan menggali. Selama tiga hari penuh, di bawah terik matahari, mereka menggali lubang sedalam tiga meter.

Pada hari ketiga, ketika Aldric hampir menyerah, sekopnya mengenai sesuatu yang basah.

Air.

Bukan air payau dari sumur tua. Air jernih yang segar. Air yang mengalir dari bawah tanah, dari mata air yang tersembunyi selama entah berapa generasi.

Cedric menatap putranya dengan tak percaya. "Arlen... bagaimana kau tahu?"

Arlen tersenyum. "Aku mendengarnya, Ayah. Tanah ini berbicara padaku."

Dan untuk pertama kalinya, Cedric melihat sesuatu di mata putranya—cahaya samar berwarna keemasan, seperti kilatan yang menghilang secepat munculnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!