Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Jingga & Levin
Hari itu akhirnya tiba. Ballroom hotel mewah milik keluarga Alinka disulap menjadi lautan putih dengan kilauan emas. Ratusan bunga segar menghiasi setiap sudut ruangan, sementara cahaya lampu kristal menggantung anggun dari langit-langit. Nuansa hangat dan sakral terasa sejak para tamu undangan memasuki ruangan.
Jingga masuk ke ruangan didampingi Mozza, Grey, dan Arin. Semua mata menoleh padanya, terpesona dengan gaun elegan yang ia kenakan. Levin pun tak bisa menahan senyumnya saat menatap calon tunangannya.
MC naik ke panggung dan membuka acara.
Levin dan keluarganya berdiri, menyerahkan tanda lamaran berupa cincin dan seserahan yang sudah tertata rapi.
Thama, ayah Levin, memulai inti acara:
“Dengan niat tulus, kami keluarga Artama datang hari ini untuk meminang putri tercinta keluarga Ali dan Rika, Jingga Arletha Alinka, agar kelak menjadi pendamping hidup putra kami, Levin.”
Ali menjawab dengan suara bergetar penuh haru:
“Dengan rasa syukur, kami menerima niat baik ini. Semoga anak-anak kita hidup dalam kebahagiaan dan cinta.”
Ali nambahkan :
“Hari ini bukan sekadar lamaran. Ini juga penggenapan doa lama saya dan Thama. Kami bersahabat sejak muda, sering bercanda bahwa suatu hari anak-anak kami bisa berjodoh. Dan ternyata, Tuhan menjawab dengan cara yang terindah.”
Thama berdiri di samping sahabatnya, tersenyum haru.
“Benar kata Ali. Jadi mulai hari ini, bukan hanya dua anak kita yang bersatu… tapi juga persahabatan lama yang akhirnya resmi jadi keluarga. Semoga cinta Levin dan Jingga abadi, sekuat persahabatan kami.”
Air mata haru tak terbendung, terutama dari para ibu, Rika dan Wina, yang saling berpelukan.
Rika menyeka sudut matanya. “Akhirnya… anakku Jingga sudah menemukan pasangannya."
Levin berdiri tegap, menatap Jingga yang cantik dalam balutan gaun pastel. Ia menggenggam tangannya erat, memberi senyum penuh keyakinan.
Ruang ballroom bergemuruh tepuk tangan. Prosesi cincin berlangsung khidmat—Levin dengan tangan sedikit bergetar menyematkan cincin ke jari manis Jingga, sementara mata keduanya saling bertemu, penuh rasa.
Namun, tepat ketika acara hampir usai, tiba-tiba lampu ballroom meredup. Semua orang sontak menoleh ke sekeliling, bingung. Layar besar di panggung perlahan menyala.
Terdengar suara musik lembut mengiringi tampilan visual di layar. Gambar demi gambar muncul: bayi mungil Jingga yang baru lahir, ulang tahun pertamanya, potret masa kecil bersama Mozza dan Grey, momen remaja penuh tawa, hari kelulusan, hingga dirinya kini—seorang wanita dewasa, cantik, tangguh, sekaligus penerus perusahaan besar.
Jingga tertegun. Tangannya menutup mulut, matanya mulai berkaca-kaca.
Lalu, suara Levin menggema dari balik pengeras suara. Dalam nada lembut penuh perasaan, ia berkata:
"Jingga… sejak kecil kamu selalu jadi bintang dalam keluarga ini. Kamu tumbuh menjadi wanita yang kuat, pintar, dan luar biasa. Hari ini, di depan semua orang, aku ingin bilang… aku merasa terhormat bisa menjadi bagian dari hidupmu. Aku berjanji akan selalu menjaga senyummu, seperti keluargamu menjagamu selama ini."
Air mata Jingga jatuh tanpa bisa ia tahan.
Mozza memeluk Grey, Rika menggenggam tangan suaminya erat, dan Arin bersorak kecil sambil terisak.
Dan seakan belum cukup, lampu sorot kemudian menyorot panggung. Levin berdiri di sana dengan mikrofon di tangan. Musik berganti menjadi melodi romantis. Ia mulai bernyanyi—suara yang tulus, mungkin tak sempurna seperti penyanyi profesional, tapi justru itulah yang membuat semua tamu terharu.
Jingga menatapnya dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan senyum. Setiap bait lagu terasa menembus hatinya, seakan Levin menyanyi hanya untuknya seorang.
Ketika lagu berakhir, seisi ballroom berdiri memberi tepuk tangan meriah. Beberapa tamu bahkan terlihat menyeka air mata.
Levin turun dari panggung, langsung menghampiri Jingga. Ia berlutut sebentar, menggenggam tangan wanita itu erat.
“Jingga Arletha Alinka,” suaranya bergetar namun tegas,
“mulai hari ini, izinkan aku jadi rumahmu. Tempat kamu selalu bisa kembali, apa pun yang terjadi.”
Air mata Jingga jatuh deras. Ia mengangguk sambil tersenyum.
“Dan aku… siap menjadikanmu bagian dari hidupku selamanya.”
Wina menepuk bahu suaminya dengan senyum hangat. “lihatlah, Levin anak kita sudah dewasa.”
Mozza menepuk tangan Maminya. “Lihat, Ma… adik kecil kita akhirnya menemukan kebahagiaannya.”
Rika mengangguk, matanya basah. “Iya, Mozza. Ini… hari terindah.”
Ballroom kembali dipenuhi sorakan dan tepuk tangan. Malam itu, bukan hanya keluarga yang bersatu—tapi dua hati yang akhirnya menemukan tempatnya.
Grey maju dengan gaya MC dadakan.
“Ladies and gentlemen, izinkan saya, adik paling kece se-Nusantara mengumumkan: mulai hari ini, hati Kak Jingga resmi diikat oleh seorang Levin Putra Artama!”
Spontan semua orang tertawa dan bertepuk tangan. Mozza langsung mencubit lengan Grey.
“Grey! Bisa nggak sekali aja nggak bikin heboh?”
Grey terkekeh, “Lho, ini namanya ice breaker. Biar acaranya makin hidup, Kak.”
Jingga hanya bisa menahan tawa, sementara Levin menepuk pundak Grey sambil berbisik, “Thanks bro, udah ikut andil di dalam rencana ini .”
"Sama sama Vin" jawab Grey tersenyum penuh makna.
Suasana ballroom dipenuhi senyum dan haru. Para tamu satu per satu memberi selamat, sementara Jingga dan Levin berdiri berdampingan, menerima ucapan dengan hati yang berdebar namun bahagia.
Di sudut ruangan, Arin dan Roy duduk berdampingan sambil menatap megahnya acara lamaran. Musik lembut mengalun.
“Ya Tuhan…” Arin berbisik pelan, kedua tangannya refleks menutup wajah. Matanya sesekali melirik Roy yang berdiri santai di sampingnya. “Ini… gila banget romantisnya.”
Roy menoleh sekilas, senyum samar terukir di bibirnya. “Kamu juga terharu?”
“Banget!” jawab Arin cepat, pipinya langsung memerah.
Hening sejenak. Lalu, tiba-tiba Roy bertanya dengan nada tenang namun menusuk.
“Ngomong-ngomong… kenapa kamu datang sendirian?”
Arin terkejut. Ia menoleh cepat, tak menyangka Roy menanyakan hal itu.
“Hah? Ehm… ya mau sama siapa lagi? Aku kan jomblo.” Arin berusaha menahan grogi, tapi malah seperti ngasih kode tanpa sadar.
Roy hanya mengangguk kecil. “Oh, begitu.”
Arin menelan ludah, hatinya berdebar makin kencang. Ya ampun, cuma dua kata doang tapi kenapa efeknya segini besar?
Arin menatap Roy beberapa saat, memberanikan diri membuka suara meski jantungnya berdegup tak karuan.
“Roy… boleh kah aku mengenalmu lebih jauh?” ucapnya lirih, tapi jelas. “Entah kenapa… dari pandangan pertama kita bertemu, aku nggak bisa melupakanmu.”
Roy terdiam sejenak. Pandangannya lurus ke depan, lalu perlahan menoleh menatap Arin. Senyum tipisnya muncul.
“Tidak ada yang melarang,” jawabnya datar, tapi nadanya hangat.
Arin membeku di tempat. Hatinya seperti meledak. Kata-katanya singkat, tapi justru membuat pipinya makin panas. Ia buru-buru menunduk, sementara senyum tak bisa lepas dari wajahnya.
Roy menambahkan pelan, suaranya rendah namun penuh arti.
“Kita lihat saja… kemana pertemuan ini akan membawa kita.”
Arin nyaris pingsan saking bahagianya. Ia tahu, mungkin baru langkah kecil, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya berbunga-bunga.
Roy menoleh ke arah Arin, menatapnya sebentar. Lalu, dengan suara rendah namun jelas, ia berkata,
“Oh iya… hari ini kamu terlihat sangat cantik. Cocok dengan riasan sederhana itu.”
Arin spontan menatap Roy dengan mata melebar. “A-apa?!” suaranya setengah berbisik panik.
Roy hanya mengangguk ringan, ekspresinya tetap cool, seolah pujian barusan bukan hal besar.
“Mm. Cantik,” ulangnya singkat.
Arin buru-buru menunduk lagi, kedua pipinya sudah sepanas bara. Ia menggigit bibir, berusaha keras menahan senyum bodoh yang hampir pecah di wajahnya.
“Ya Tuhan… dia bilang aku cantik,” gumamnya lirih, hampir tak percaya.
Roy sempat melirik sekilas reaksi Arin yang kewalahan dengan perasaannya sendiri. Sudut bibirnya kembali terangkat tipis. Untuk orang yang biasanya dingin, malam itu entah mengapa ia merasa ingin membuat gadis itu terus tersenyum.