"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29. KATA YANG TAK BOLEH DIUCAPKAN
Bab 29. Kata yang Tak Boleh Diucapkan.
Pagi itu, pemilik vila datang membawa dua cangkir teh hangat. Setelah meletakkan benda yang dibawanya, Wanita paruh baya itu beberapa kali memperhatikan Hagia dan Kalandra bergantian sebelum akhirnya tersenyum canggung.
"Kenapa, Bu?" tanya Hagia.
"Enggak. Saya cuma... sempat khawatir."
"Khawatir kenapa?"
"Semalam, suami saya bilang... Bapak tidur di luar."
Hagia spontan menoleh kepada Kalandra.
"Saya takut kalian sedang bertengkar."
"Bertengkar?" Kalandra justru tertawa pelan. "Di tempat sedingin ini, rugi banget kalau suami istri bertengkar, Bu."
Hagia mengernyit. "Rugi? Kenapa?"
"Soalnya kalau bertengkar..." Kalandra sengaja menggantung kalimatnya sesaat. "Nanti nggak bisa pelukan."
Kali ini tawanya semakin lepas. Hagia langsung mencubit pinggangnya pelan. "Ish."
Pemilik vila ikut tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Syukurlah. Berarti dugaan saya salah semalam."
Setelah wanita itu kembali ke kafe, Hagia tidak menunggu lama. Pukulan kecil mendarat di lengan Kalandra beberapa kali.
"Sudah saya bilang jangan ngomong begitu."
"Yang mana?"
"Pura-pura enggak tahu lagi."
Kalandra masih menahan senyum.
"Maksudnya pelukan?" Mata Kalandra menatap jahil. " Atau.. yang kamu meluk saya semalam?"
Hagia kembali memukul lengannya.
"Terus aja terus," sindirnya. "Pagi-pagi sudah bikin keki." Dia memasang wajah pasrah.
Tawa Kalandra kembali terdengar memenuhi beranda kecil itu. Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang. Hagia memandang jalan setapak yang membelah kawasan vila. Cahaya matahari pagi mulai menyelinap di sela-sela pepohonan, mengundangnya untuk berjalan lebih jauh.
"Tuan."
"Hm?"
"Saya mau jalan-jalan sebentar."
Kalandra mengikuti arah pandang Hagia.
"Sayang banget kalau pagi secerah ini dilewatkan."
"Saya ikut."
Hagia mengangguk kecil. "Tapi mandi dulu, Tuan."
Kalandra menggeliat, meregangkan tubuhnya dari atas kursi teras yang didudukinya.
"Saya tunggu, tapi jangan lama-lama."
"Kalau lama emang kenapa? Teh kamu aja belum habis."
Hagia menunjuk ke arah langit.
"Nanti keburu tinggi mataharinya."
"Iya, sebentar."
Tanpa membantah, Kalandra mengambil handuknya lalu berjalan menuju kamar mandi luar.
Sementara itu, Hagia masih duduk di kursi sederhana di beranda. Sesekali ia memejamkan mata, menikmati ketenangan yang selama ini nyaris tidak pernah ia rasakan.
Tak lama kemudian suara pintu kamar mandi terbuka. Kalandra telah berganti pakaian dengan jaket lain yang dibawanya. Rambut hitamnya masih sedikit basah.
"Ayo."
Baru beberapa langkah meninggalkan vila, Kalandra tiba-tiba berhenti. Ia mengulurkan tangan ke arah Hagia. Wanita itu menatap telapak tangan tersebut dengan dahi berkerut.
"Apa?"
"Sini."
"Mau apa?"
"Biar enggak ada yang mengira kita habis bertengkar lagi."
Hagia mengembuskan napas pelan. "Ini pasti akal-akalan saja."
Meski begitu, ia tetap menyambut uluran tangan tersebut hingga jemari keduanya bertaut. Kalandra langsung melangkah seolah hal itu merupakan sesuatu yang biasa. Sementara Hagia hanya mampu menggeleng kecil sambil mengikuti langkah pria di sampingnya. Entah mengapa, semakin lama berada di tempat itu, semakin sulit pula ia menebak mana sikap Kalandra yang sungguh-sungguh dan mana yang sekadar bercanda.
Jalan setapak yang mereka lalui perlahan menanjak menuju sebuah bukit kecil di belakang kawasan vila. Semakin jauh meninggalkan deretan penginapan, suara percakapan manusia semakin jarang terdengar. Yang sesekali memecah keheningan hanyalah tawa anak-anak yang berlarian di padang rumput.
Hagia menghentikan langkahnya.
Di atas bukit yang lapang, belasan anak tampak berlarian mengejar layangan yang menari tinggi di langit. Ada yang berteriak gembira ketika layangannya berhasil terbang semakin tinggi, ada pula yang tertawa saat benangnya kusut tertiup angin.
Tanpa sadar, senyum Hagia ikut mengembang.
"Tuan."
"Hm?"
"Di mana kita bisa beli layangan seperti mereka?"
Kalandra menoleh. "Mau apa memangnya?"
"Ya, mau ikut main." Mata Hagia masih mengikuti layangan yang melayang di udara. "Seru kayaknya."
Kalandra menyapu pandangan ke sekeliling. Tidak ada warung ataupun pedagang mainan di sekitar bukit.
"Tunggu di sini."
Sebelum Hagia sempat bertanya, Kalandra sudah berjalan cepat menuju sekelompok anak laki-laki yang sedang memegang beberapa gulung benang. Dari kejauhan, Hagia melihat pria itu berjongkok agar tinggi badannya sejajar dengan mereka. Sesuatu dibicarakan beberapa saat. Salah seorang anak kemudian menyerahkan sebuah layangan bergambar burung beserta gulungan benangnya, sementara Kalandra memberikan sejumlah uang yang langsung membuat anak-anak itu bersorak gembira.
Tak lama kemudian, ia kembali.
Sebuah layangan kini berada di tangannya. Hagia langsung menyambutnya dengan mata berbinar.
"Dapat?"
Kalandra mengangguk. "Emangnya kamu bisa?"
Hagia menerima layangan itu sambil tertawa kecil.
"Enggak."
"Lalu?"
"Makanya..." Ia mengangkat layangan itu ke depan wajah Kalandra. "Anda harus bantu saya."
Kalandra menghela napas pelan, tetapi senyum tipis di wajahnya sulit disembunyikan.
"Baik."
Mereka berjalan menuju bagian bukit yang lebih terbuka. Angin berembus cukup kencang, membuat ekor layangan berkibar tanpa henti. Kalandra mengambil gulungan benang, sementara Hagia memegang badan layangan seperti yang dicontohkan anak-anak tadi.
"Begini?"
"Iya."
"Kalau jatuh?"
"Coba lagi."
Hagia mengangguk mantap. "Siap."
"Kalau saya bilang lari..."
"Saya lari."
Kalandra mengangkat layangan itu sedikit lebih tinggi. "Sekarang."
Hagia langsung berlari beberapa langkah. Kalandra melepaskan layangan sambil mengulur benang perlahan. Layangan itu sempat terangkat beberapa meter. Lalu... Berputar, miring dan jatuh tepat di atas rumput.
Hagia berhenti sambil menoleh.
"Gagal."
Kalandra hanya mengangguk tenang. "Coba lagi."
Tidak ada sedikit pun nada kesal dalam suaranya. Justru itulah yang membuat Hagia kembali bersemangat mengambil layangan yang terjatuh. Beberapa anak yang sejak tadi memperhatikan mulai tertawa kecil. Salah seorang di antara mereka bahkan berteriak memberi semangat.
"Ayo, Kak! Sekali lagi!"
Hagia mengangkat ibu jarinya ke arah mereka.
"Kali ini pasti bisa."
Entah karena angin mulai lebih bersahabat atau karena kerja sama mereka mulai menemukan ritmenya, percobaan berikutnya berjalan jauh lebih baik. Layangan itu perlahan naik, semakin tinggi mengikuti embusan angin. Hagia spontan bertepuk tangan kecil.
"Terbang!"
Wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan impiannya. Di sampingnya, Kalandra memandang layangan yang terus menanjak ke langit, lalu tanpa sadar pandangannya beralih kepada senyum Hagia.
Barangkali benar. Kadang-kadang, kebahagiaan itu sesederhana layangan dan angin yang bertiup pada waktu yang tepat.
Matahari sedikit condong ke barat ketika mereka akhirnya meninggalkan tanah lapang tempat anak-anak bermain layangan. Artinya, waktu sudah melewati tengah hari.
Setengah hari mereka berada di sana. Awalnya hanya ingin berjalan-jalan sebentar sebelum matahari benar-benar naik.
Namun, angin semilir yang menerbangkan layangan-layangan itu menggoda untuk dicoba. Satu kali layangan jatuh membuat mereka penasaran. Ketika berhasil terbang, mereka justru semakin ingin menerbangkannya lebih tinggi. Tanpa terasa, waktu berlalu begitu saja.
Kini keduanya berjalan santai menyusuri jalan setapak menuju vila. Wajah mereka sama-sama memerah terkena sinar matahari.
Hagia mengusap pipinya pelan.
"Harusnya tadi kita pakai sunblock."
Kalandra melirik sekilas. "Ya, niatnya kan pulang sebelum matahari naik."
"Eh, malah kebablasan."
Hagia tertawa sendiri mengingat bagaimana mereka berkali-kali mengejar layangan yang jatuh tersangkut rumput.
"Semakin susah diterbangkan, semakin penasaran."
"Itu memang sifat manusia."
"Maksudnya?"
"Kalau terlalu mudah didapat, pasti cepat bosan."
Hagia mengangguk pelan.
"Yang ini, saya setuju."
Mereka terkekeh pelan. Beberapa langkah kemudian, Kalandra kembali membuka suara.
"Besok kalau mau keliling lagi, pakai topi."
Hagia justru mengangkat kedua lengannya, membandingkan warna kulitnya di bawah cahaya matahari.
"Enggak apa-apa, kok." Ia tersenyum kecil. "Malah bagus, kan? Kulit saya jadi lebih eksotis."
Kalandra melirik perempuan di sampingnya yang masih tersenyum geli.
"Tuan."
"Hm?"
"Anda lebih suka perempuan berkulit putih atau sawo matang?"
Pertanyaan itu membuat Kalandra berhenti hanya untuk menatap Hagia beberapa saat. Tidak lama.
Namun, cukup membuat wanita itu mulai merasa salah bertanya.
"Saya..." Kalandra menjawab tenang. "Tidak suka kulitnya."
Hagia berkedip. "Lalu?"
"Tapi suka orangnya."
Hagia mendongak spontan.
"Siapa?"
Beberapa detik Kalandra hanya memandang wajah yang benar-benar sedang menunggu jawaban itu. Lalu ia menggeleng kecil. "Kamu aneh."
Ia kembali melangkah lebih dulu.
Hagia masih berdiri di tempatnya dengan dahi berkerut.
"Saya? Aneh? Bukannya sebaliknya."
"Bisa-bisanya dia nanya." Sambil terus berjalan, Kalandra memalingkan wajah ke arah lain. Sudut bibirnya terangkat tipis sebelum ia bergumam sangat pelan, nyaris tenggelam oleh langkah kakinya sendiri.
"Tidak semua laki-laki bisa menyukai perempuan selain istrinya."
Kalimat itu hanya didengar oleh dirinya sendiri. Di belakangnya, Hagia yang sama sekali tidak menyadari gumaman tersebut segera mempercepat langkah hingga kembali berjalan di samping Kalandra.
"Ayo cepat."
"Iya."
Mereka kembali berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak. Tawa yang sejak siang menemani permainan layangan itu masih tersisa, membuat langkah pulang mereka terasa jauh lebih ringan.
Next--->
perhatian" kecil kapada pasangan dan saling pengertian dari kedua nya membuat mereka nyaman menjalani bahtera rumah tangga..
d tunggu bab selanjut nya mbu' na 🤩🤩