Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Pengawal Spiritual: Penakluk Loka Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Penyeberangan Dunia Lain / Fantasi Isekai
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: PLEMIK

Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hutan Wanasari

Aroma tanah basah menyergap indra penciuman Galih jauh sebelum matanya sanggup terbuka penuh. Bau tanah bercampur daun busuk itu begitu pekat, jauh berbeda dari aroma debu kelas yang biasa ia hirup setiap pagi. Ada juga bau lembap khas kayu lapuk dan sesuatu yang tajam, mirip getah, menempel di lidahnya. Di sela kesadarannya yang masih kabur, sebuah geraman rendah, aneh, dan tidak seperti suara binatang mana pun yang pernah ia dengar, menggema entah dari arah mana.

Ia mengerang pelan, mencoba menggerakkan jari-jarinya. Tanah di bawah punggungnya terasa lembap dan dingin, bercampur akar-akar kasar yang menonjol tajam menusuk kulitnya. Galih memaksakan diri membuka mata.

Yang pertama ia lihat bukan langit-langit kelas, bukan pula plafon kamarnya. Yang menyambutnya adalah kanopi pepohonan raksasa yang menjulang entah sampai berapa puluh meter, daun-daunnya begitu lebat sampai cahaya matahari hanya menembus dalam bentuk garis-garis tipis keemasan. Kabut putih tipis mengambang setinggi lutut, merayap pelan di antara akar-akar pohon yang besarnya melebihi tubuh manusia dewasa.

Galih terduduk, kepalanya masih berdenyut. Ia meringis pelan saat merasakan nyeri di sekujur punggungnya, bekas benturan keras yang entah bagaimana tidak sampai mematahkan tulangnya. Ia mengedarkan pandangan, mencoba mencari sesuatu yang familiar, gedung sekolah, tiang bendera, apa saja. Tidak ada. Hanya hutan lebat sejauh mata memandang, sunyi kecuali suara serangga yang tidak ia kenali jenisnya dan gemericik air entah dari mana. Sesekali terdengar suara kepakan sayap besar di kejauhan, sesuatu yang jelas bukan burung biasa.

"Ini di mana," gumamnya, suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan hutan yang terasa terlalu hidup untuk disebut sunyi.

Ia mencoba mengingat kejadian terakhir yang ia alami. Pusaran hitam. Jeritan teman-temannya. Kakek tua yang berdiri tenang di tengah badai. Semuanya berputar cepat di kepalanya seperti potongan mimpi yang menolak tersusun rapi. Galih meraba lengannya sendiri, memastikan dirinya benar-benar nyata, bukan sekadar mimpi buruk yang belum juga berakhir. Kulitnya dingin, denyut nadinya nyata, dan rasa sakit di punggungnya terlalu jelas untuk sebuah mimpi.

Baru saja ia hendak berdiri, semak-semak di sisi kirinya bergemerisik kencang.

Galih membeku. Suara itu terlalu kencang untuk sekadar angin, terlalu teratur untuk binatang liar yang berlarian sembarangan. Ia menoleh perlahan, jantungnya mulai berdegup lebih cepat dari seharusnya.

Dari balik dedaunan lebat, muncul sepasang mata merah menyala, kemudian sepasang lagi, dan sepasang lagi setelahnya. Sosok-sosok kerdil setinggi pinggang orang dewasa merangkak keluar satu per satu, kulit mereka kehitaman dan keriput, gigi-gigi runcing mencuat dari mulut yang menyeringai lebar. Di tangan mereka tergenggam senjata tumpul berkarat, ada yang berbentuk gada kecil, ada yang menyerupai pentungan kayu bengkok berlapis besi tua.

Galih tercekat. Tubuhnya menegang, kaki terasa berat untuk sekadar melangkah mundur.

Salah satu makhluk itu mendesis pelan, suara serak yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti tawa mengejek. Yang lain ikut mendesis, seolah saling memberi aba-aba tanpa kata.

"Ja... jangan mendekat," Galih berusaha bersuara, meski suaranya sendiri terdengar konyol di telinganya, gemetar dan nyaris tak berwibawa sama sekali.

Makhluk-makhluk itu tidak peduli. Tanpa aba-aba yang jelas, mereka melompat serentak, seperti digerakkan satu komando tak kasat mata yang menyatukan seluruh kawanan dalam sekejap.

Galih melompat mundur refleks, kakinya tersandung akar besar hingga ia hampir terjungkal. Sebuah gada kecil melesat tepat di sisi kepalanya, menghantam batang pohon di belakangnya hingga serpihan kulit kayu beterbangan. Ia berbalik, berlari tanpa arah yang jelas, hanya mengandalkan insting untuk menjauh sejauh mungkin dari kepungan mata merah itu.

Dahan-dahan rendah menampar wajahnya, akar-akar menjegal langkahnya berkali-kali. Napasnya memburu, jantungnya berdebar liar seperti hendak melompat keluar dari rongga dada. Sepatunya yang basah oleh lumpur membuat setiap pijakan terasa licin dan berat, dua kali kakinya nyaris terpeleset saat berbelok menghindari batang pohon tumbang. Di belakangnya, ia bisa mendengar derap kaki-kaki kecil yang berlari dengan kecepatan mengejutkan, jauh lebih cepat dari yang seharusnya dimiliki makhluk sekerdil itu.

Sebuah pukulan tumpul menghantam pundaknya dari samping, membuat Galih terhuyung ke tanah becek. Ia berguling cepat, menghindar dari hantaman kedua yang nyaris mengenai kepalanya. Belum sempat ia berdiri tegak, ujung gada lain menyambar rendah ke arah kakinya, memaksanya melompat kikuk sambil merasakan angin dingin senjata itu lewat hanya beberapa senti dari betisnya. Sesaat, ketika ia mendongak melihat lingkaran mata merah yang mulai mengepungnya dari segala sisi, sesuatu yang dingin merambat di tengkuknya.

Ini bukan serangan binatang liar yang menyerang secara acak.

Gerakan mereka terlalu terkoordinasi. Setiap kali Galih menghindar ke satu arah, dua atau tiga makhluk sudah menunggu di sana, seolah sudah memperhitungkan langkahnya sebelum ia sendiri memutuskan ke mana harus lari. Mereka tidak sekadar memburu mangsa yang kebetulan lewat. Mereka memburu dirinya, secara khusus, dengan cara yang jauh lebih cerdas daripada binatang buas mana pun yang pernah ia baca di buku pelajaran biologi.

Kesadaran itu membuat lututnya melemas seketika. Ia pernah membaca bahwa binatang buas menyerang karena lapar atau merasa terancam, lalu mundur begitu mangsanya melawan atau melarikan diri cukup jauh. Yang ia hadapi sekarang sama sekali tidak mengikuti aturan itu. Semakin jauh ia berlari, semakin rapat pula lingkaran yang mereka bentuk, seperti jarak hanyalah ilusi bagi makhluk-makhluk ini.

Napasnya kian memburu, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja seragam yang masih melekat di tubuhnya. Galih meraba pinggangnya, saku celananya, berharap menemukan apa saja yang bisa dijadikan senjata. Tidak ada. Hanya ponsel yang layarnya sudah retak dan tidak menyala sama sekali, sama sekali tidak berguna melawan gigi-gigi runcing yang kini semakin mendekat.

"Bukan, bukan, aku tidak punya apa-apa," bisiknya panik, tangannya terangkat gemetar, berharap bisa menghalau serangan hanya dengan telapak tangan kosong.

Kawanan makhluk kerdil itu semakin merapatkan lingkaran, mendesis serempak, seakan menikmati ketakutan yang terpancar jelas dari wajah pucat Galih. Punggungnya membentur batang pohon raksasa yang tadi ia lewati, tidak ada lagi ruang untuk mundur. Kabut tipis di sekelilingnya ikut diam mencekam, menunggu detik berikutnya tanpa suara.

Salah satu Tuyakra di depan, yang tubuhnya sedikit lebih besar dari yang lain, menyeringai lebar memperlihatkan gigi-giginya yang berkarat oleh warna kehitaman entah darah atau lumpur. Ia menekukkan kaki, bersiap melompat. Yang lain berhenti bergerak, memberi ruang bagi sang pemimpin kecil untuk melancarkan pukulan terakhir.

Galih hanya sempat menarik napas sekali sebelum tubuh makhluk itu melesat ke udara, cakarnya terbuka lebar mengarah lurus ke wajahnya, dan tidak ada satu pun celah tersisa baginya untuk lari.

1
quancyberx studio
untuk novel nya lumayan dan perlu peningkatan dari segi kata paragraf dan lain nya
quancyberx studio
semangat ya
PLEMIK: Kamu juga semangat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!