Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 — Jejak yang Ditinggalkan
Begitu mereka balik ke markas, Mei sama Amagi langsung nyerbu nanya-nanya begitu liat ekspresi Kaito, Rin, sama Souma yang keliatan beda dari biasanya.
"Ada apa? Muka kalian aneh banget," kata Mei, natap mereka bergantian.
Souma dengan gaya khasnya yang selalu bisa nyeritain hal berat jadi lebih ringan, ngejelasin semua yang kejadian di gerbang, suara misterius, penjelasan soal keseimbangan, sampe reveal soal koneksi Rin ke sistem itu.
Dia cerita sambil sesekali pake gestur tangan berlebihan, coba nirunin gimana cahaya biru itu menyala, yang entah kenapa malah bikin suasana jadi sedikit lebih ringan di tengah beratnya topik yang dibahas.
"Jadi kayak... dewa keberuntungan gitu?" tanya Mei, matanya melebar.
"Bukan dewa juga, lebih kayak... kekuatan purba yang nggak punya bentuk pasti, pokoknya intinya, ini beneran serius, bukan cuma teori kita doang lagi." Souma nyoba jelasin ulang.
Mei diem sebentar, ekspresinya campuran antara takjub dan khawatir. "Itu... berat banget. Rin, lo oke?"
"Gue oke, cuma butuh waktu buat nyerna semuanya." kata Rin, walau senyumnya keliatan agak dipaksain.
Amagi yang dari tadi diem sambil nyatet sesuatu di panelnya, akhirnya nyeletuk. "Kalo boleh saran, mungkin ada baiknya kita simpen info ini di antara kita berlima aja dulu. Ini terlalu sensitif buat dibocorin, apalagi di tengah situasi kita yang udah dapet perhatian banyak orang."
"Setuju," kata Rin, ngangguk.
"Aku bakal jaga rahasia ini kayak jaga password akun sendiri," kata Mei sok serius, walau berhasil ngestrip sedikit ketegangan dari suasana.
Malemnya setelah Souma, Mei, dan Amagi udah logout satu-satu, Kaito sama Rin masih duduk berdua di markas, nggak buru-buru pulang.
"Lo kepikiran soal partner lo, kan?" tanya Kaito, langsung ke inti.
Rin diem sebentar, terus ngangguk. "Udah lama gue nggak denger kabar dia. Terakhir kita ngobrol, dia bilang mau berhenti main total. Gue coba hubungin beberapa kali setelah itu, tapi nggak pernah dibales."
"Lo tau nama akunnya?"
"Tau. Tapi udah dua tahun gue nggak pernah cek lagi. Terlalu sakit buat diinget."
Kaito diem sejenak, mikirin kata-kata yang tepat. "Lo mau coba cari tau lagi? Sekarang, setelah kita tau ini semua ada hubungannya sama sistem yang lebih besar?"
Rin natap dia lama, matanya penuh keraguan yang jelas keliatan. "Gue takut, jujur aja. Takut nemuin sesuatu yang lebih buruk dari yang gue bayangin. Tapi juga takut kalo nggak nyoba, gue bakal nyesel seumur hidup."
"Kalo lo mau nyoba, gue bakal nemenin. Apa pun hasilnya." kata Kaito.
Rin natap dia lama, terus akhirnya ngangguk pelan. "Oke. Bantu gue cari."
Mereka mulai dari yang paling sederhana, nyari nama akun lama itu di sistem pencarian pemain. Hasilnya muncul, tapi status akunnya nunjukin "Tidak aktif selama 743 hari."
"Itu dia, Kazenagi. Nama itu... gue inget banget dulu kita mikirin nama itu berdua, semalaman, sampe ketawa-ketawa sendiri saking konyolnya proses mikirnya." gumam Rin, natap nama itu dengan ekspresi yang susah dibaca.
Kaito diem, ngebiarin Rin nyerap momen itu sebelum lanjut nanya. "Ada info lain soal terakhir dia aktif?"
Rin klik profil publiknya kosong, cuma nunjukin statistik lama yang udah nggak update, dan satu baris status terakhir yang dia tulis sebelum berhenti main:
"Mungkin ini emang bukan dunia buat gue. Makasih buat semua yang pernah main bareng. Khususnya buat orang yang selama ini paling sabar nemenin gue jatuh bangun."
Rin baca kalimat itu, tangannya sedikit gemeteran. "Itu... itu buat gue. Gue tau itu buat gue."
Kaito ngerasa dadanya sesak ngeliat Rin coba nahan emosinya. "Lo nggak harus kuat-kuatin diri sekarang."
Rin nutup mulutnya sebentar, napasnya agak berat, sebelum akhirnya ngebiarin dirinya nangis pelan, bukan tangisan keras, lebih ke air mata yang akhirnya lepas setelah ditahan cukup lama.
Kaito nggak ngomong apa-apa, cuma duduk di sampingnya, ngasih ruang buat Rin ngerasain apa yang dia rasain tanpa buru-buru disuruh berhenti.
Setelah beberapa menit, Rin ngelap matanya, ketawa kecil agak malu. "Maaf, gue nggak biasanya kayak gini di depan orang."
"Nggak apa-apa, gue seneng lo percaya cukup sama gue buat nunjukin ini." kata Kaito.
Rin natap dia, senyumnya kali ini lebih tulus walau matanya masih merah. "Makasih."
Mereka lanjut nyari info lebih jauh, forum lama, grup chat lama yang mungkin masih nyimpen jejak Kazenagi, sampe akhirnya nemu satu thread lama dari dua tahun lalu, di mana beberapa pemain lain sempet ngebahas soal dia sebelum akhirnya obrolan itu mati sendiri karena nggak ada update lagi.
Rin scroll pelan-pelan, matanya berhenti sesaat di tiap nama yang dia kenal, kayak lagi buka kembali album foto lama yang udah lama nggak disentuh.
"Ini dia yang gue maen bareng waktu itu," gumamnya, nunjuk salah satu screenshot lama yang keupload di thread itu, dua karakter berdiri di depan boss besar, pose kemenangan khas yang biasa diambil pemain setelah clear dungeon susah. "Itu momen pertama kali kita clear dungeon high-level bareng. Gue inget banget kita ketawa-ketawa sampe lupa waktu."
Kaito natap screenshot itu, ngeliat versi Rin yang lebih muda, lebih ceria, berdiri di samping karakter lain yang keliatan sama semangatnya.
"Dia keliatan seneng banget di situ," kata Kaito pelan.
"Iya, itu sebelum semuanya berubah." Rin senyum tipis, walau matanya sendu.
Salah satu komen di situ, dari pemain lain yang ngaku kenal Kazenagi secara personal, nulis: "Gue denger dia sekarang tinggal di Osaka, kerja biasa, udah nggak nyentuh VR sama sekali. Katanya butuh 'istirahat panjang.'"
"Osaka, itu... nggak terlalu jauh dari sini." gumam Rin.
Kaito ngeliat Rin, ngeliat gimana matanya mulai berbinar sama harapan kecil yang tadinya udah lama dia kubur. "Lo mau coba hubungin dia? Di dunia nyata?"
"Gue nggak tau caranya, gue cuma punya nama akun game-nya, bukan kontak asli." kata Rin.
"Kita bisa coba kirim pesan ke akun ini, walau nggak aktif, siapa tau dia masih ngecek notifikasi sesekali." saran Kaito.
Rin natap kolom pesan yang kosong itu lama, jarinya ragu-ragu di atas keyboard virtual.
"Gue nggak tau harus nulis apa," katanya pelan.
"Tulis aja apa yang lo rasain, nggak usah dipikirin kesempurnaan kata-katanya." kata Kaito.
Rin narik napas panjang, terus mulai ngetik pelan-pelan, kayak tiap kata butuh usaha ekstra buat keluar:
"Hei. Udah lama banget ya. Gue nggak tau apa lo masih pernah buka ini atau enggak, tapi gue mau bilang, gue nggak pernah nyalahin lo buat berhenti waktu itu. Gue cuma... kangen. Dan belakangan ini, gue nemuin sesuatu yang mungkin bisa jelasin apa yang kejadian ke lo dulu. Kalo lo pernah baca ini, dan kalo lo mau, gue di sini. Kapan pun."
Dia klik kirim sebelum sempet mikir dua kali lagi, terus nutup layarnya cepet, kayak takut liat pesan itu kekirim beneran.
"Udah, sekarang tinggal nunggu." katanya, suaranya pelan.
Kaito ngerangkul pundaknya lagi, kali ini lebih lama dari sebelumnya. "Apa pun hasilnya, lo udah berani ngelakuin sesuatu yang lo takutin selama dua tahun ini. Itu udah luar biasa."
Rin nyender ke bahunya sebentar, ngebiarin dirinya lemah buat sesaat tanpa perlu jaga image kuatnya kayak biasa.
"Makasih, Kaito, buat selalu ada." katanya pelan.
Mereka duduk gitu buat beberapa menit, nggak ngomong apa-apa lagi, cukup ditemenin sama keheningan malam virtual dan cahaya bintang buatan yang berkelip pelan di atas mereka, dua orang yang tanpa mereka sadari sepenuhnya, udah jadi tempat pulang satu sama lain di tengah dunia yang penuh sama misteri yang belum sepenuhnya mereka pahami.
Sebelum logout, Kaito sempet nanya sekali lagi. "Lo bakal kasih tau Souma sama yang lain soal ini?"
"Belum, biar ini jadi urusan kita berdua dulu. Kalo emang ada balesan nanti, baru gue cerita ke mereka." kata Rin sambil geleng pelan.
"Oke, gue tunggu kabarnya." kata Kaito.
Rin natap dia sebentar, terus sebelum bener-bener logout, nambahin satu kalimat pelan yang hampir nggak kedengeran. "Makasih udah jadi orang yang bikin gue berani nyoba lagi."
Kaito nggak sempet jawab apa-apa sebelum layarnya berkedip, tanda Rin udah logout duluan. Dia duduk sendirian sebentar di markas yang sekarang sepi, natap kolom pesan yang udah terkirim itu, ikut berharap entah buat siapa, kalo pesan itu bakal nyampe ke orang yang tepat.
Di luar sana, di suatu tempat yang mereka bahkan nggak tau persis di mana, ada kemungkinan kecil kalo seseorang bakal buka notifikasi itu, dan buat pertama kalinya dalam dua tahun, ngerasa ada orang yang masih inget dan peduli sama dia.