Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31 - Sarapan Di Meja Nenek

Safira memilih kebaya biru muda untuk sarapan bersama Nenek Suryani.

Bukan warna yang terlalu mencolok. Bukan juga warna aman yang membuatnya tenggelam di antara perempuan-perempuan sosialita Jakarta. Ia menjahit kebaya itu beberapa bulan lalu untuk contoh koleksi pribadi, memakai potongan bersih dan detail bordir kecil di bagian pergelangan.

Arga menatapnya dari sofa hotel.

"Kamu sudah siap?"

"Secara pakaian, iya. Secara mental, aku sedang pura-pura."

"Kamu tidak harus ikut kalau tidak nyaman."

Safira menoleh. "Mas Arga, pesan semalam itu justru alasan aku harus ikut."

Wajah Arga mengeras sedikit.

Pesan anonim itu masih ada di ponselnya. Ia sudah meminta Bima melacak nomor, tetapi Safira melarangnya membahas hasil sebelum sarapan. Katanya, kalau ia memikirkan pesan itu terus, ia akan kalah bahkan sebelum duduk di meja.

Arga berdiri, mendekat, lalu berhenti di depannya.

"Saya di sampingmu."

"Aku tahu."

"Kalau kamu ingin pulang, bilang."

"Kalau aku ingin menendang seseorang?"

"Bilang juga. Saya cari cara legal."

Safira tertawa.

Ketegangan di dadanya sedikit turun.

Sarapan diadakan di restoran hotel yang menghadap taman. Meja Nenek Suryani berada di sudut, bukan ruang privat, tetapi cukup jauh dari keramaian. Beberapa perempuan sudah duduk di sana. Bu Laras ada di antara mereka, tersenyum saat melihat Safira.

Nenek Suryani melambaikan tangan. "Sini, Nak. Duduk dekat Nenek."

Safira mencium tangan Nenek. Arga duduk di sisi lainnya, tepat seperti janji.

"Ini teman-teman Nenek," kata Nenek Suryani. "Mereka semua cerewet, jadi kalau bertanya terlalu banyak, jawab saja seperlunya."

Seorang ibu berhijab abu-abu tertawa. "Suryani, kamu yang paling cerewet."

"Karena saya paling jujur."

Safira tersenyum sopan.

Pertanyaan datang satu per satu. Dari mana asalnya. Sudah berapa lama mendesain. Apa fokus Safa Atelier. Apakah menerima pesanan kebaya pengantin. Apakah bisa membuat busana untuk acara amal. Apakah benar ia menjahit sendiri kebaya yang dipakai.

Safira menjawab tenang. Awalnya suaranya sedikit kaku, tetapi ketika pembicaraan masuk ke kain, potongan, dan kenyamanan pemakai, ia menjadi lebih lancar.

"Saya tidak suka membuat pakaian yang hanya bagus saat berdiri," katanya. "Perempuan bergerak. Duduk, berjalan, salaman, naik mobil, kadang harus menggendong anak. Busana yang baik harus ikut hidup bersama tubuhnya."

Bu Laras mengangguk puas.

Seorang ibu bernama Bu Amalia mencondongkan tubuh. "Kalimat itu menarik. Banyak desainer muda hanya memikirkan foto."

"Foto penting, Bu. Tapi pemakai harus bisa bernapas setelah difoto."

Meja itu tertawa kecil.

Arga menatap Safira dari samping. Ia bisa melihat kapan istrinya mulai lupa takut. Matanya menjadi lebih hidup, tangannya bergerak saat menjelaskan pola, dan punggungnya tidak lagi terlalu tegang.

Sekar datang saat kopi kedua disajikan.

"Maaf terlambat," katanya.

Nenek Suryani menatapnya. "Kamu tidak ada di daftar sarapan Nenek."

Sekar tersenyum tanpa terganggu. "Saya bertemu Tante Amalia di lobi. Katanya semua berkumpul di sini."

Bu Amalia tertawa canggung. "Saya kira tidak apa-apa."

"Tentu tidak apa-apa," kata Nenek, tetapi nadanya jelas mengatakan sebaliknya.

Sekar duduk di kursi kosong, tepat di seberang Safira.

"Kebaya yang bagus," katanya.

"Terima kasih."

"Kamu membuatnya sendiri juga?"

"Iya."

"Menarik. Aku selalu kagum pada perempuan yang masih sempat menjahit sendiri setelah menikah."

Kalimat itu halus.

Terlalu halus untuk disebut serangan, tetapi cukup tajam untuk dirasakan.

Safira menyesap air putih. "Saya justru makin rajin setelah menikah. Suami saya cukup bisa mencuci piring, jadi waktu saya tidak habis di dapur."

Bu Laras langsung tertawa.

Nenek Suryani menepuk meja pelan. "Nah, itu baru benar."

Arga menunduk menyembunyikan senyum.

Sekar ikut tersenyum, tetapi matanya sedikit berubah. "Beruntung sekali."

"Iya," jawab Safira. "Saya mulai terbiasa tidak meminta maaf karena bekerja."

Meja itu hening sesaat, lalu Bu Amalia berkata, "Saya suka dia, Suryani."

Nenek Suryani mengangkat dagu. "Tentu. Cucu menantu saya."

Sekar mengaduk kopinya. "Arga memang berubah banyak."

Safira menatapnya. "Orang hidup berubah."

"Tidak semua."

"Mungkin yang tidak berubah hanya orang yang terlalu nyaman dengan tempat lamanya."

Arga menyentuh lutut Safira di bawah meja, sangat ringan. Bukan menghentikan. Lebih seperti mengingatkan bahwa ia mendengar.

Sekar menatap mereka.

Bu Laras mengalihkan pembicaraan dengan sangat anggun. "Safira, untuk acara bulan depan, saya punya teman yang membutuhkan busana formal. Kamu bawa kartu nama?"

Safira mengangguk cepat, mengeluarkan kartu nama dari tas.

Satu kartu berpindah ke Bu Laras. Lalu Bu Amalia meminta juga. Ibu lain meminta nomor atelier. Dalam lima menit, Safira yang semula datang sebagai istri Arga berubah menjadi perempuan yang dibicarakan karena pekerjaannya.

Sekar tidak bisa menghentikan itu.

Setelah sarapan selesai, Nenek Suryani menarik Safira ke samping.

"Kamu tahu kenapa Nenek mengajakmu?"

"Untuk memperkenalkan saya?"

"Untuk membuat mereka melihatmu sebelum mereka membuat cerita sendiri."

Safira terdiam.

Nenek menggenggam tangannya. "Dunia seperti ini suka mengisi ruang kosong dengan gosip. Jangan biarkan mereka hanya tahu kamu dari bisik-bisik."

"Terima kasih, Nek."

"Jangan terima kasih. Buat saja karya yang bagus. Biar mereka antre."

Safira tertawa kecil.

Saat mereka keluar restoran, Sekar menunggu di dekat lorong.

"Safira," panggilnya.

Arga langsung berhenti.

Sekar melihat Arga. "Boleh bicara sebentar dengan istrimu? Di sini saja."

Safira menatap Arga. "Tidak apa-apa."

Arga tidak bergerak jauh. Ia berdiri cukup dekat untuk terlihat, cukup jauh untuk memberi Safira ruang.

Sekar memandang Safira. "Kamu lebih kuat dari yang kukira."

"Terima kasih, mungkin."

"Tapi meja sarapan tidak sama dengan hidup Arga."

Safira tersenyum tipis. "Aku tahu. Hidup siapa pun tidak selesai di meja sarapan."

"Kamu akan menemukan banyak hal yang tidak kamu suka."

"Mungkin."

"Dan saat itu, kebaya bagus tidak akan cukup."

Safira menatapnya tenang. "Aku tidak pernah mengira kebaya bisa menyelamatkan pernikahan."

Sekar terdiam.

"Tapi tangan yang membuat kebaya ini sudah menyelamatkanku berkali-kali," lanjut Safira. "Jadi aku cukup percaya pada tanganku."

Arga mendengar kalimat itu.

Dadanya terasa penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan di lorong hotel.

Sekar tersenyum, lebih tipis dari sebelumnya. "Kita lihat."

"Silakan."

Sekar pergi.

Arga mendekat. "Kamu baik-baik saja?"

"Aku lapar lagi."

"Kamu baru sarapan."

"Bertarung secara sopan membakar kalori."

Arga tertawa pelan.

Safira menatapnya. "Mas Arga."

"Iya?"

"Aku tidak mau Sekar jadi hantu yang muncul setiap kita masuk dunia kamu."

"Tidak akan."

"Pastikan."

"Saya pastikan."

Di luar hotel, udara Jakarta terasa panas. Namun Safira berjalan dengan langkah lebih ringan daripada saat datang.

Pesan anonim semalam masih belum terjawab.

Sekar masih menyimpan sesuatu.

Dunia Arga masih luas dan penuh pintu tertutup.

Tapi pagi itu, setidaknya satu meja sudah tahu namanya.

Bukan sebagai perempuan kontrakan kecil.

Bukan sebagai istri yang kebetulan.

Sebagai Safira dari Safa Atelier.

Dalam perjalanan pulang, ponsel Safira kembali bergetar. Nomor tak dikenal mengirim foto meja sarapan yang baru saja ia tinggalkan. Fotonya diambil dari sudut jauh, cukup jelas untuk memperlihatkan Nenek Suryani yang sedang tersenyum kepadanya.

Pesannya singkat.

`Kamu cepat sekali merasa diterima. Hati-hati, meja orang kaya selalu punya kaki tersembunyi.`

Safira berhenti di depan mobil.

Arga membuka pintu untuknya, lalu melihat wajahnya berubah. "Siapa?"

Safira menyerahkan ponsel tanpa banyak bicara.

Arga membaca pesan itu. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak langsung marah. Ia menekan tombol panggil. Nomor itu sudah tidak aktif.

"Sekar?" tanya Safira.

"Mungkin."

"Masih mungkin?"

"Saya tidak mau menuduh tanpa bukti."

Safira tertawa pendek. "Lucu. Kalau tentang aku, semua orang berani menuduh tanpa bukti. Tapi kalau tentang Sekar, semua harus menunggu bukti."

Arga menoleh padanya.

Safira masuk ke mobil lebih dulu. Ia tidak membanting pintu, tetapi caranya duduk sudah cukup memberi tanda.

Arga masuk dari sisi lain. "Safa."

"Aku tidak minta kamu menghukum dia sekarang." Safira menatap lurus ke depan. "Aku hanya minta kamu jangan membuatku merasa harus berdebat setiap kali namanya muncul."

"Baik."

"Dan satu lagi."

"Apa?"

"Kalau dia memang orang di balik pesan ini, aku mau kamu yang bicara dengan dia. Bukan Bima. Bukan pengacara. Kamu."

Arga mengangguk pelan. "Saya yang bicara."

Safira memalingkan wajah ke jendela. Di kaca mobil, bayangannya terlihat tenang. Hanya tangannya yang mengepal di atas tas.

Pagi tadi ia masuk ke meja Nenek Suryani sebagai pemilik atelier kecil yang sedang berusaha berdiri. Sekarang, sebelum siang tiba, ia sudah diingatkan bahwa dunia itu tidak pernah memberi ruang tanpa menarik harga.

Namun kali ini, ia tidak ingin mundur.

Ia membuka kembali pesan Bu Laras dan membalas dengan sopan, meminta ukuran awal dan pilihan warna.

Arga melihatnya. "Kamu masih mau ambil pesanan itu?"

"Tentu."

"Setelah pesan tadi?"

Safira menekan tombol kirim, lalu menoleh. "Justru karena pesan tadi."

Arga diam.

"Kalau mereka ingin aku takut duduk di meja itu," kata Safira, "berarti aku harus belajar makan dengan tenang."

1
Rubi s handayani
safiraa.. Safira.. kesel deh
e²n
Dinda udah gak kerja di klinik lagi ya? tau2 ikut safa
e²n
ya udah ganti aja gak usah Bambang, Bambang nama suami saya 🤭
e²n
Jovan itu sebenarnya keponakan Reyhan atau anaknya? diawal blg keponakan, kok skrg panggil nya pa...
e²n
kok tau2 tinggal di apartemen ya?
Heny
Dari awal baca gk ada romantis nya msh jln di tempat
Ivan Sumampouw
setelah mencoba bertahan 59 episode ternyata memang cerita JELEK !!!
Heny
Cerita nya datar arga dan safira gk ada romantis nya
Akbar Nasution
bagus
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 masalahnya cuma nama tokoh yg bolak-balik salah😬
Ivan Sumampouw
sdh 51 episode,,, jauh dari judul,,, kenapa bukan Safira yg rahasia 🤣
Hariyanti
kenapa jg ga pake baby sitter 🤔🤔🤔
Hariyanti
dulu sebenarnya hubungan Rayhan dan nara seperti apa sih 🤔🤔 kok kesannya Nara yg paling bersalah padahal waktu bikin berdua
Imas Karmasih
thor kurang fokus aturan Bambangan bukan dimas
Hariyanti
Jovan itu hasil hubungan tanpa status kah🤔🤔karena Rayhan dan nara seperti dua orang yang tidak pernah dekat
Hariyanti
ibunya Rayhan sebenarnya siapa sih🤔Sinta atau Laras.byk betul yg namanya laras🤔🤔pelanggan Safa, mertua Safa jg Laras
Ayu Puput
udh eps 62 padahal pusing bacanya gitu² aja ceritanya, terlalu bertelew. tapi penasaran endingnya
Ratih magani
mmsh bingung ini do bdg ato jkt sih setting tempatnya?
Imas Karmasih
setuju
Hariyanti
kalo Safira bayi yg ditukar🤔apa maksudnya ditukar🤔🤔🤔kalo bayinya sendiri meninggal tapi ternyata masih hidup🤔semoga hasil tes Maya bukan keluarga santoso
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!