Di tengah kemegahan Kerajaan Hikari yang dipimpin oleh sang Ratu muda yang egois, Miyura, ketegangan sosial kian memuncak akibat pajak yang mencekik rakyat. Di balik dinding istana yang megah berbalut arsitektur barok, Miyura hidup berdampingan dengan pelayan setianya, Aragoto, yang selalu menuruti setiap titahnya. Di sisi lain, di perbatasan kota pelabuhan Fushi yang kumuh, hiduplah Jesslyn, seorang gadis berjiwa bebas yang hari-harinya diwarnai oleh melodi musik. Di kota yang sama, Liini White hidup dalam pengucilan dan kesendirian, hanya bisa menatap Jesslyn dari kejauhan seperti menggapai sesuatu yang mustahil ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IΠD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Son of Evil
Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan tidak sengaja di alun-alun kota Fushi, sebuah pesan singkat dari Aragoto menuntun langkah Jesslyn untuk mengatur sebuah janji temu. Melalui secarik kertas kecil yang dikirimkan, Aragoto meminta agar mereka bisa bertemu di suatu tempat yang tenang di luar hiruk-pikuk kota.
Mendapat permintaan itu, Jesslyn sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya menyarankan sebuah lokasi yang menurutnya paling pas dan tersembunyi dari keramaian. Ia lantas mengirimkan balasan kepada Aragoto agar mereka bertemu di taman pribadi milik Pangeran Yoshi, dengan alasan tempat tersebut sangat sepi dan asri untuk berbincang tanpa gangguan.
Aragoto, yang menerima saran tersebut tanpa mengetahui bahwa taman itu adalah milik sang pangeran yang sedang diselidikinya, menyetujuinya dengan anggukan kepala.
Sore hari yang tenang pun tiba di dalam kawasan taman klasik tersebut. Jesslyn datang lebih awal dari waktu yang disepakati. Sambil menunggu kedatangan Aragoto, ia duduk dengan sabar di pinggir sumur tua berukir batu yang dikelilingi rimbunnya tanaman hias. Untuk menghabiskan waktu luangnya, gadis berambut hijau itu mulai bersenandung kecil dengan suara yang merdu, menciptakan suasana damai yang menyatu dengan semilir angin sore.
"La-la-la... de-de-dum..." senandung Jesslyn mengalun pelan, jemarinya dengan santai memainkan ujung pita gaunnya sementara matanya menatap keindahan kelopak bunga di sekitarnya.
Tak lama berselang, suara derap langkah kaki mendekat dari arah jalan setapak berbatu. Aragoto, dengan balutan kacamata dan topi flat cap kesayangannya, muncul dari balik barisan semak mawar. Begitu melihat sosok wanita yang sedang duduk di pinggir sumur, langkah Aragoto terhenti sejenak.
"Jesslyn," panggil Aragoto dengan suara tenangnya begitu ia cukup dekat.
Mendengar suara itu, Jesslyn langsung menghentikan senandungnya. Ia menoleh dengan cepat, lalu berdiri dari tempat duduknya sambil tersenyum lebar menyambut kedatangan pria yang beberapa minggu lalu sempat menabraknya di alun-alun.
"Ah, Tuan! Kau sudah datang," sapa Jesslyn ramah, sedikit membungkuk sopan. "Maaf membuatmu menunggu lama. Aku baru saja sampai beberapa menit yang lalu."
Aragoto berjalan mendekat, menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku juga baru saja tiba. Tempat ini... cukup sunyi dan tersembunyi. Kau yakin tidak apa-apa kita berada di sini?" tanya Aragoto sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman mewah nan asri tersebut, merasa ada aura aristokrat yang kental dari arsitektur tempat itu.
Jesslyn tersenyum manis, mengangguk antusias untuk meyakinkan pria di hadapannya. "Iya, tempat ini sangat tenang, kan? Jangan khawatir, Tuan. Ini adalah taman pribadi milik seseorang yang dermawan. Beliau pernah mengizinkanku datang ke sini kapan pun aku mau, dan tempat ini selalu sepi, jadi kita bisa mengobrol dengan leluasa tanpa ada yang mengganggu."
Aragoto menatap lurus ke dalam mata zamrud Jesslyn, merasa sedikit terhanyut oleh kehangatan senyuman gadis itu. Ia lantas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, lalu membalas dengan nada bicara yang sedikit melunak.
"Begitu ya... kalau begitu, pilihan tempat yang bagus," ucap Aragoto pelan, sedikit melengkungkan sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain. "Lalu... apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan denganku sampai kita harus membuat janji temu seperti ini, Jesslyn?"
Jesslyn kembali duduk di tepi sumur, mempersilakan Aragoto untuk berdiri di dekatnya. "Sebenarnya tidak ada hal yang terlalu serius, Tuan. Hanya saja, sejak hari di mana kita tidak sengaja bertabrakan di alun-alun, aku merasa penasaran karena kita berpisah begitu cepat tanpa sempat berkenalan secara layak. Aku pikir... memiliki teman baru di luar desa adalah hal yang menyenangkan."
Mendengar kejujuran yang polos dari Jesslyn, Aragoto tertegun sejenak. Di balik kehidupannya yang kelam sebagai bayangan sang Ratu di istana Hikari, perkataan sederhana itu terasa begitu asing sekaligus menenangkan di dalam dadanya.
Aragoto menelan ludah, berusaha menahan gejolak emosi dan debaran asing yang tiba-tiba bergemuruh di dalam dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir keterkejutannya, lalu melangkah pelan mendekati bibir sumur tempat gadis berambut hijau itu duduk.
Jesslyn memandang Aragoto dengan tatapan polos, matanya yang berwarna hijau zamrud berkedip-kedip penuh rasa ingin tahu, menanti reaksi dari pria misterius di hadapannya.
"Ah, benar juga! Waktu itu kita berpisah terlampau cepat sampai aku bahkan belum sempat tahu siapa nama pria yang sudah menolongku," ucap Jesslyn dengan nada riang, lalu ia merapikan duduknya dan tersenyum tulus. "Namaku Jesslyn. Senang bisa berkenalan denganmu secara layak hari ini, Tuan."
Aragoto hanya diam membisu. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan, sementara kepalanya terus menunduk, menghindari tatapan langsung mata zamrud Jesslyn yang terlalu terang dan hangat untuk dunianya yang gelap. Di balik kacamata dan topinya, ia meremas jemarinya sendiri di dalam saku, bergulat dengan keraguan yang melanda pikirannya—antara rasa asing yang nyaman dan rasa bersalah karena menyembunyikan identitas aslinya.
"Aku..." bisik Aragoto tertahan, suaranya terdengar begitu berat dan rendah. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Jesslyn, masih dengan posisi kepala yang menunduk ke arah tanah. "Namaku... Aragoto."
Jesslyn mengerjap beberapa kali, menikmati pengucapan nama itu di lidahnya sebelum kembali mengukir senyuman lebar di bibirnya. "Aragoto... nama yang bagus. Senang berkenalan denganmu, Aragoto!" ujar Jesslyn tanpa beban, sama sekali tidak menyadari badai rahasia besar yang sedang disembunyikan oleh pria pendiam di depannya itu.
.
.
.
.
.
.
Suasana di taman yang tadinya terasa damai seketika membeku. Aragoto perlahan merogoh saku jasnya yang dalam. Dari balik lipatan kain tersebut, ia mengeluarkan sekuntum bunga melati putih yang sudah sedikit layu. Namun, bukan bunga itu yang ia genggam erat, melainkan sebilah belati kecil bermata tajam yang tersembunyi di balik tangannya.
Jantung Aragoto berdegup kencang, napasnya memburu. Di dalam benaknya, bayangan titah mutlak Putri Miyura berputar bagaikan kutukan yang tak bisa dihindari—perintah keji untuk melenyapkan seorang gadis desa bernama Jesslyn yang dianggap sebagai ancaman bagi sang ratu.
Sebelum Jesslyn sempat menyadari apa yang terjadi, Aragoto bergerak dengan kecepatan kilat. Ia maju menerjang, lalu dengan cepat merengkuh tubuh Jesslyn ke dalam dekapannya. Namun, pelukan itu bukan pelukan hangat; di detik yang sama, tangan kanan Aragoto menghujamkan belati tajam itu tepat ke dada Jesslyn.
Waktu seakan berhenti. Aragoto tetap mematung dalam posisi memeluk tubuh gadis itu, sementara air mata hangat langsung menetes deras dari balik kacamatanya, jatuh membasahi bahu pakaian Jesslyn. Seluruh tubuh Aragoto bergetar hebat.
Jesslyn terdiam seribu bahasa, matanya membelalak lebar karena rasa terkejut yang teramat sangat. Napasnya seketika tercekat, merasakan sakit yang luar biasa menjalar di dadanya saat cairan merah mulai merembes membasahi gaunnya.
Namun, di tengah kesadaran yang perlahan meredup dan rasa sakit yang menusuk jiwa, Jesslyn tidak berteriak ataupun meronta. Dengan sisa-sisa tenaganya yang sangat rapuh, tangan gemetar Jesslyn perlahan terangkat, lalu membalas pelukan Aragoto. Ia menyandarkan kepalanya di dada pria yang baru saja merenggut nyawanya itu.
"A-Aragoto..." bisik Jesslyn sangat lemah, suaranya nyaris tak terdengar di antara desau angin sore. Ia bahkan masih menyunggingkan senyuman tipis yang tulus di bibirnya meski darah segar mengalir dari sudut mulutnya. "Jangan... jangan menangis..."
Aragoto terpaku, air matanya terus mengalir deras mendengar kelembutan suara itu.
"Aku... sama sekali tidak membenci... darimu," lanjut Jesslyn terbata-bata, napasnya semakin memburu dan tersengal-sengal. "Terima kasih... sudah mau menjadi... temanku..."
Itu adalah kalimat terakhir yang mampu diucapkan oleh Jesslyn. Detik berikutnya, tangan yang melingkar di punggung Aragoto terkulai lemas, dan tubuh gadis berambut hijau itu benar-benar tak bernyawa di dalam pelukan sang pembunuh.
Aragoto hanya terdiam mematung, menelan mentah-mentah setiap kata terakhir yang diucapkan oleh korban kebaikannya sendiri. Dadanya terasa hancur berkeping-keping. Di saat yang bersamaan, ingatan tentang titah kejam Putri Miyura—singkirkan wanita itu, pastikan tidak ada jejak yang tersisa—kembali menghantam kesadarannya, mengingatkannya pada rantai tak kasat mata yang mengikatnya sebagai pelayan bayangan.
Dengan tangan yang masih bergetar hebat dan air mata yang terus menetes, Aragoto perlahan merenggangkan pelukannya. Ia menatap wajah tenang Jesslyn yang telah tiada, lalu dengan dorongan pelan namun pasti, Aragoto melepaskan pegangannya dan mendorong tubuh tak bernyawa itu hingga jatuh terjun ke dalam sumur tua yang kering di hadapan mereka.
Bruk.
Suara benturan tubuh yang jatuh ke dasar sumur yang gelap itu menggema pelan, menenggelamkan seluruh kenangan manis tentang senandung dan tawa yang pernah singgah di taman tersebut. Aragoto berdiri terpaku di bibir sumur, menatap kosong ke bawah dalam keheningan malam yang mulai merayap.